NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan

Cahaya keemasan matahari musim panas menembus tirai tipis chalet kayu di kawasan Hönggerberg, membiaskan pendar hangat di atas tempat tidur. Suara rintik embun yang menetes dari dedaunan pohon cemara di luar jendela menciptakan simfoni alam yang begitu menenangkan.

Rory terbangun perlahan. Matanya menyesuaikan pendar sinar matahari yang menerobos masuk. Di sampingnya, Julian masih tertidur lelap dengan posisi miring menghadapnya. Satu lengan tegap pria itu melingkar protektif di pinggang Rory, menarik tubuh gadis itu tetap dekat dalam kehangatan.

Rory menatap wajah Julian yang tenang. Tanpa raut tegang dari tekanan keluarga atau beban rahasia akademis, wajah Julian tampak sangat muda dan penuh kedamaian. Jemari halus Rory terangkat, menyapu lembut helai rambut hitam Julian yang jatuh di dahinya.

Julian bergerak tipis. Mata hazel-nya perlahan terbuka, memantulkan pendar cokelat hangat begitu mendapati Rory sedang menatapnya. Senyuman tipis dan manis mengembang di bibirnya.

"Selamat pagi, Dr. Vance," bisik Julian dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat dalam.

"Selamat pagi, Mr. Radcliffe," jawab Rory tulus, menyentuhkan hidungnya di hidung Julian. "Ini hari pertama kita secara resmi memulai eksperimen tahap satu di laboratorium baru."

Julian menarik Rory lebih rapat, mendaratkan ciuman lembut di bibir Rory sebelum akhirnya melepaskannya dengan enggan. "Laboratorium bisa menunggu satu jam lagi, tapi waktu bersamamu di pagi hari seperti ini adalah prioritas mutlak."

Rory tertawa renyah suara tawa yang selalu menjadi melodi favorit Julian sejak hari pertama mereka bertemu di Oxford.

Pukul 09.00 pagi.

Kompleks Laboratorium Independen Helios di Hönggerberg mulai beraktivitas. Dua asisten peneliti muda lulusan ETH Zurich yang baru direkrut Lukas dan Elena sudah berdiri rapi di ruang kerja utama saat Julian dan Rory melangkah masuk.

"Selamat pagi, Dr. Radcliffe, Dr. Vance," sapa Lukas hormat sambil menyerahkan berkas kesiapan alat.

"Selamat pagi," jawab Julian tegas namun ramah. "Hari ini kita fokus pada verifikasi stabilitas molekul kiral dalam larutan penyangga uji klinis. Pastikan suhu instrumen NMR berada di minus tujuh puluh derajat Celsius."

Dengan presisi yang terlatih, Julian dan Rory memimpin tim kecil tersebut. Tidak ada lagi rasa canggung atau ketakutan akan intervensi pihak luar. Setiap langkah eksperimen dilakukan dalam koordinasi yang sangat solid. Rory mengendalikan pemurnian sampel kimia, sementara Julian memvalidasi kalkulasi komputasi kuantum di layar monitor raksasa.

Di sela-sela kerja keras mereka, Gemma yang memilih tetap tinggal di Oxford untuk menyelesaikan gelar masternya melakukan panggilan video ke layar komputer kerja Rory.

"Rory! Julian!" seru Gemma dari layar komputer dengan latar belakang kantin St. Jude’s yang riuh. "Kalian harus tahu berita terbaru hari ini di London!"

Julian melangkah mendekati Rory, berdiri di samping kursinya sambil merangkul bahu gadis itu. "Ada kabar apa dari Oxford, Gemma?"

"Arthur Radcliffe resmi mengundurkan diri dari seluruh posisi eksekutif hari ini!" kata Gemma bersemangat sambil menunjukkan halaman depan koran The Times ke arah kamera. "Dewan komisaris mengambil alih Radcliffe Corp dan membatalkan semua gugatan hukum terhadap Helios Foundation. Dan Victoria? Dia memblokir seluruh akun media sosialnya setelah rumor pembatalan pertunangan itu membuat reputasi keluarganya di bursa saham jatuh drastis!"

Rory menatap layar monitor sejenak, lalu melirik Julian. Tidak ada nada dendam atau kepuasan yang berlebihan di wajah Julian hanya sebuah kepastian bahwa keadilan telah menemukan jalannya sendiri.

"Terima kasih atas kabarnya, Gem," kata Julian tenang. "Tapi dunia itu bukan lagi urusan kami. Bagaimana dengan persiapan ujian akhi rmu?"

"Aduh, jangan ingatkan aku soal ujian!" keluh Gemma dramatis, membuat Rory dan Julian terkekeh bersama. "Aku cuma kangen kalian. Tempat ini sepi banget tanpa pasangan peneliti paling genius se-UK!"

Setelah berbincang hangat beberapa menit, panggilan video berakhir.

Rory menyandarkan kepalanya di dada Julian. "Rasanya seperti beban masa lalu benar-benar telah menguap sepenuhnya."

"Karena kita memang sudah meninggalkannya di belakang, Rory," jawab Julian lembut, mengepalkan jemarinya di atas bahu Rory.

Sore harinya, setelah menyelesaikan putaran pertama eksperimen sintesis, Julian dan Rory mengunjungi Pusat Rehabilitasi Medik Zurich yang berjarak sepuluh menit dari laboratorium.

Di taman rehabilitasi yang dikelilingi bunga-bunga lavender, Ethan Vance tampak sedang mencoba melangkah tanpa menggunakan tongkat penyangga, didampingi oleh Dr. Helene dan ibu Rory.

"Satu langkah lagi, Ethan, bagus!" puji Dr. Helene.

Ethan melangkah perlahan, menapakkan kaki kanannya dengan stabil di atas rumput hijau. Ketika ia mendongak dan melihat Rory serta Julian berjalan mendekat, wajah remaja itu berbinar gembira.

"Mbak Rory! Mas Julian!" seru Ethan, berhasil melangkah tiga pijakan penuh tanpa bantuan sebelum akhirnya duduk di bangku taman.

Rory berlari kecil dan merangkul adiknya dengan rasa haru yang tak terhingga. "Ethan! Kamu hebat sekali!"

"Dokter bilang dalam satu bulan lagi Ethan sudah bisa berjalan normal ke sekolah," ujar ibunya dengan air mata kebahagiaan yang menggenang di sudut mata. Ibunya memandang Julian dengan tatapan penuh rasa syukur yang tak pernah berkurang.

Julian duduk di samping Ethan, menepuk bahu remaja itu hangat. "Kerja kerasmu luar biasa, Ethan. Teruslah berlatih."

"Mas Julian," panggil Ethan pelan, menatap calon kakak iparnya itu dengan mata jernih. "Terima kasih, karena waktu itu Mas tidak menyerah untuk menyelamatkanku."

Julian menatap Ethan, lalu beralih menatap Rory yang berdiri di samping ibunya.

"Aku tidak pernah menyerah, Ethan," jawab Julian pelan namun mantap, "karena seni terbesar dari sains dan kehidupan adalah memperjuangkan apa yang paling berharga di dunia ini."

Malam harinya, matahari terbenam memancarkan warna jingga keemasan di atas langit Zurich.

Julian dan Rory duduk di teras kayu chalet mereka, menikmati dua cangkir teh hangat sambil menatap hamparan bukit dan pendar lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan.

Rory menyandarkan kepalanya di bahu Julian, membiarkan jemari pria itu mengusap lembut tangannya. Cincin platinum di jari manisnya memantulkan pendar cahaya bulan yang baru terbit.

"Julian," panggil Rory pelan.

"Ya, Aurora?"

"Jika kamu bisa kembali ke masa lalu ke hari pertama kita berdebat di laboratorium St. Jude’s... apakah ada hal yang ingin kamu ubah?"

Julian terdiam sejenak. Ia memutar ingatan ke masa ketika ia masih menjadi pria yang dingin, tertutup, dan dibayangi oleh ketakutan akan kendali ayahnya. Pria yang memandang dunia dengan sinisme murni sebelum seorang gadis beasiswa bertekad baja masuk ke dalam hidupnya dan meruntuhkan seluruh pertahanannya.

Julian menoleh, menatap mata cokelat jernih Rory mata yang menjadi kompas jiwanya.

"Tidak ada satu hal pun yang ingin kuubah, Rory," jawab Julian dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan tulus. "Setiap perdebatan, setiap rasa sakit, bahkan setiap pengorbanan yang kita lalui, semuanya membawaku ke tempat ini. Bersamamu. Bebas, dicintai, dan memiliki masa depan yang sepenuhnya milik kita."

Rory menyunggingkan senyum paling indah yang pernah terukir di wajahnya. Ia mendongak, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman hangat yang dipenuhi rasa cinta yang abadi dan tak tergoyahkan.

Di bawah naungan langit malam Zurich yang tenang dan megah, dua jiwa yang dulunya asing dan terpisah oleh perbedaan kelas sosial itu kini telah bersatu sepenuhnya melangkah mantap menyongsong fajar baru yang akan mereka lukis bersama selamanya.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!