Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari pagi menyusup lembut melalui sela-sela tirai kamar utama kediaman Adrian dan Sasi, membiaskan cahaya hangat yang menenangkan.
Tidak ada lagi deru mesin monitor ICU, bau antiseptik yang menyengat, atau bayang-bayang ancaman yang mengintai.
Hanya ada keheningan damai di dalam rumah yang kini terasa utuh kembali.
Adrian bersandar di tumpukan bantal empuk di atas ranjang.
Meski fisiknya sudah jauh lebih segar, bekas luka jahitan di dadanya masih menuntutnya untuk bergerak perlahan.
Namun, alih-alih fokus pada pemulihannya sendiri, pandangan Adrian tak pernah lepas dari Sasi yang sedang merapikan cangkir teh herbal di atas meja samping ranjang.
"Sayang, sudah, jangan bawa yang berat-berat," panggil Adrian seraya mengulurkan tangannya, meminta perhatian.
Sasi menoleh lalu terkekeh pelan. "Mas, ini cuma cangkir kosong. Nggak berat sama sekali."
"Tetap saja," gumam Adrian seraya menarik lembut tangan Sasi begitu istrinya mendekat.
Pria yang biasanya tegas dan dingin di dunia bisnis itu kini menyandarkan kepalanya di pinggang Sasi, memeluknya erat seperti tak ingin dilepas.
Manjanya bertambah berkali-kali lipat sejak masa pemulihan di rumah.
"Kamu itu lagi hamil muda. Kata dokter harus banyak istirahat."
Sasi mengusap lembut rambut Adrian, menikmati kehangatan yang sempat hampir hilang dari hidupnya.
"Iya, Mas Adrian yang manja. Tapi yang harusnya istirahat total itu Mas, bukan aku."
Baru saja Sasi hendak mengecup dahi suaminya, perutnya mendadak bergejolak hebat.
Rasa mual yang teramat sangat tiba-tiba membakar tenggorokannya. Wajah Sasi seketika pucat, ia membekap mulutnya dan bergegas berlari menuju kamar mandi.
"Sasi?!"
Adrian yang melihat hal itu seketika panik setengah mati.
Lupa akan rasa nyeri di dadanya, ia langsung meloncat dari ranjang dan menyusul Sasi dengan langkah tertatih.
Di dalam kamar mandi, Sasi berlutut di depan wastafel, memuntahkan cairan bening akibat morning sickness pertamanya.
Tubuhnya gemetar dan lemas karena kelelahan khas trimester pertama.
"Sayang! Kamu kenapa?! Dada kamu sakit? Kepala kamu pusing?!" cecar Adrian panik berlebihan.
Pria itu berlutut di samping Sasi, memijat tengkuk istrinya dengan jemari yang gemetar, wajahnya sendiri tak kalah pucat karena ketakutan bayangan Sasi pingsan di rumah sakit terulang kembali.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya? Aku panggilkan dokter!"
Sasi yang selesai membilas mulutnya mendongak, menatap Adrian yang napasnya terengah-engah karena panik. Rona khawatir di wajah suaminya justru terlihat sangat menggemaskan.
"Mas, tenang," bisik Sasi lemas seraya mengulas senyum tipis.
"Ini cuma morning sickness. Wajar buat orang hamil muda."
"Tapi kamu pucat banget, Sasi! Kalau kamu drop lagi bagaimana?" potong Adrian dengan raut muka tegang, memapah tubuh Sasi dengan sangat hati-hati, seolah-olah istrinya terbuat dari kaca yang mudah pecah.
"Aku nggak apa-apa, Mas Adrian." kekeh Sasi pelan saat Adrian membimbingnya kembali ke ranjang dan menyelimutinya hingga batas dada.
Adrian mengambil minyak kayu putih, mengusapkannya ke telapak tangan Sasi, lalu mengelus perut Sasi yang masih rata dengan sorot mata protektif sekaligus penuh cinta.
"Mulai hari ini, kamu tidak boleh turun dari ranjang tanpa izin Mas," tegas Adrian penuh proteksi.
Sasi menggelengkan kepala seraya tersenyum hangat, mengusap pipi suaminya.
Di kamar yang tenang ini, di antara kepanikan manja Adrian dan rasa mual kehamilannya, Sasi tahu bahwa badai telah benar-benar berlalu.
Yang tersisa kini hanyalah kebahagiaan sederhana dari keluarga kecil mereka yang siap menyambut masa depan baru.
Sasi akhirnya hanya bisa pasrah menuruti perintah sang suami.
Ia bersandar di dada bidang Adrian yang terlindungi kaus longgar.
Detak jantung Adrian yang teratur di balik dadanya menjadi nada paling menenangkan yang menghapus sisa rasa mual di perut Sasi.
"Mas, dada Mas nggak sakit kan, gara-gara melompat bangun tadi?" tanya Sasi penuh penyesalan, mengusap pelan area bekas jahitan operasi di dada kiri Adrian.
Adrian menggeleng, lalu mengecup puncak kepala Sasi dengan mesra.
"Sedikit nyut-nyutan, tapi tidak terasa lagi begitu melihat kamu aman di samping Mas. Maaf ya. Mas cuma panik. Mas tidak sanggup kalau harus melihat kamu sakit atau pingsan lagi."
"Aku paham, Mas. Tapi Mas juga jangan berlebihan begitu, kasihan badannya belum pulih betul," bisik Sasi lembut, membalas pelukan Adrian tak kalah erat.
Pintu kamar yang sedikit terbuka mengetuk pelan.
Mbak Sum, pengasuh sekaligus asisten rumah tangga senior di rumah itu, masuk membawa baki berisi mangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh jahe manis.
"Permisi, Pak, Bu. Ini Mbak Sum buatkan bubur sama teh jahe hangat buat Bu Sasi, biar mualnya agak berkurang," sapa Mbak Sum ramah dengan senyum hangat.
"Taruh di sini saja, Mbak. Terima kasih ya," sahut Adrian.
Begitu Mbak Sum pamit keluar, Adrian langsung mengambil mangkuk bubur tersebut.
Tanpa memberi kesempatan Sasi memegang sendok, pria itu mengambil porsi kecil bubur, meniupnya perlahan, lalu menyuapkannya ke depan bibir Sasi.
"Ayo, buka mulutnya. Anak Mas pasti haus dan lapar," goda Adrian seraya tersenyum menggoda.
Sasi merona merah.
"Anaknya masih seukuran biji buah, Mas."
Meski begitu, Sasi tetap menerima suapan demi suapan dari Adrian dengan rasa bahagia yang meluap.
Rasa hangat dari bubur dan teh jahe perlahan mengusir rasa lemas di tubuhnya.
Matahari pagi kian meninggi, membiaskan sinar keemasan yang hangat ke seluruh sudut kamar mereka.
Tidak ada lagi intrik, keraguan, atau ketakutan. Hanya ada sepasang suami istri yang saling menguatkan, siap melangkah bersama menyambut kehidupan baru yang kini tumbuh di antara mereka.
Suara ketukan pintu dan derap langkah kaki di koridor depan mengalihkan perhatian Adrian dan Sasi.
Tak lama kemudian, Mbak Sum membukakan pintu kamar utama, memperlihatkan sosok Pak Broto yang melangkah masuk dengan senyum hangat membingkai wajah sepuhnya.
Di tangannya, terikat beberapa kantong buah segar dan penganan tradisional kesukaan Sasi.
"Ayah!" panggil Sasi berbinar. Ia hendak bangkit bergegas dari ranjang, namun Adrian lebih dulu menahan bahunya dengan lembut, memintanya bergerak pelan-pelan.
"Jangan meloncat begitu, Sasi. Ingat kata dokter," tegar Adrian protektif, membuat Pak Broto terkekeh melihat kehebohan menantunya.
"Sudah, Sasi, duduk saja. Ayah yang ke sana," ujar Pak Broto seraya meletakkan bawaannya di atas meja, lalu berjalan mendekati sisi tempat tidur.
Mata sepuh Pak Broto menatap Adrian dan Sasi bergantian dengan rasa haru yang membuncah.
Melihat Adrian yang sudah kembali sadar dan bugar, ditambah kabar kebahagiaan yang diterimanya tadi pagi, membuat beban berat di pundak sang ayah seolah luruh sepenuhnya.
Sasi meraih tangan ayahnya dan menyalinnya tulus.
Pak Broto mengelus lembut puncak kepala putrinya, lalu beralih menatap Adrian yang sedang berusaha menegakkan posisi duduknya untuk memberi hormat.
"Adrian, tidak usah dipaksakan bergerak banyak, Nak," tahan Pak Broto lembut seraya memegang kedua bahu menantunya.
"Ayah, maafkan Adrian ya, baru bisa menyapa Ayah dalam kondisi seperti ini," tutur Adrian tulus dengan suara yang penuh rasa hormat.
Pak Broto menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca saat menggenggam erat tangan Adrian.
"Justru Ayah yang harus berterima kasih sama kamu, Adrian. Terima kasih sudah bertaruh nyawa, menjadi pelindung yang luar biasa buat Sasi. Ayah tidak tahu apa jadinya kalau kamu tidak ada di sana waktu itu."
"Itu sudah kewajiban Adrian, Yah. Adrian akan selalu melindungi Sasi dengan seluruh hidup Adrian," balas Adrian mantap, menatap lurus ke dalam mata mertuanya.
Pak Broto tersenyum haru, menepuk-nepuk punggung tangan Adrian.
"Begitu juga sebaliknya, Nak. Sasi cerita bagaimana gigihnya kamu berjuang di rumah sakit, dan bagaimana Sasi menjaga perusahaan serta mendampingi kamu tanpa lelah. Kalian berdua sudah membuktikan bahwa cinta kalian jauh lebih kuat dari ujian apa pun."
Pak Broto lalu beralih menatap perut Sasi yang masih rata, mengusapnya penuh kasih sayang dan doa.
"Dan, sekarang. Tuhan memberikan hadiah terindah untuk perjuangan kalian berdua. Ayah benar-benar bangga pada kalian."
Ruangan kamar itu seketika diliputi kehangatan yang mendalam.
Adrian meraih jemari Sasi, menyatukannya di hadapan Pak Broto.
Di hadapan sang ayah yang menjadi saksi perjuangan mereka, kebahagiaan keluarga kecil itu kini terasa begitu utuh dan sempurna.