NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sinar matahari pagi di akhir pekan biasanya menjadi momen favorit Naya untuk bermanja-manja di bawah selimut. Namun hari ini, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar palung Mariana.

Naya duduk memeluk lututnya di atas kasur, menatap kosong ke arah dinding kamar tamu. Kepalanya masih terus memutar ulang rentetan kejadian semalam seperti kaset rusak yang menolak dimatikan. Mulai dari pengakuan Kafka di restoran Jepang, sentuhan ibu jari pria itu di bibirnya, hingga kecupan hangat di keningnya sesaat sebelum mereka turun dari mobil.

"Berhenti melihatku sebagai adik sahabatmu. Lihat aku sebagai seorang pria yang sedang berusaha memenangkan hatimu."

Kalimat itu terus berdengung di telinganya, membuat ritme jantung Naya berantakan sejak semalam. Ia tidak bisa lagi berlindung di balik alasan 'Kafka hanya bersikap protektif layaknya seorang adik'. Kafka telah menghancurkan batas itu hingga tak tersisa. Pria itu secara terang-terangan mengibarkan bendera perang untuk menaklukkan hatinya, dan celakanya, dinding pertahanan Naya sudah mulai retak sejak hari pertama.

Naya menghela napas panjang, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia butuh pelarian. Ia harus segera mencari tempat tinggal baru. Berada di bawah satu atap dengan Kafka saat ini sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam kandang singa yang sedang lapar.

Setelah membasuh wajah dan mengganti piyamanya dengan kaus kebesaran berwarna abu-abu—yang tanpa ia sadari adalah kaus yang ia pinjam dari lemari Nessa, meski ukurannya terasa jauh lebih besar dari pakaian Nessa biasanya—Naya melangkah turun ke lantai satu.

Suasana lantai bawah terasa sepi. Dari arah ruang keluarga, terdengar suara tayangan Netflix yang dibiarkan menyala. Naya berjalan menuju dapur dan menemukan Nessa sedang sibuk mengolesi roti tawar dengan selai cokelat sambil bersenandung kecil.

"Pagi, Nes," sapa Naya dengan suara serak, menarik salah satu kursi bar dan duduk di sana.

Nessa menoleh, tersenyum lebar. "Pagi, Princess! Tumben lo udah bangun jam segini di hari Sabtu? Biasanya ngebo sampai jam sepuluh. Mau roti?"

"Boleh, satu aja," Naya menerima piring kecil berisi roti gandum berbalut cokelat dari Nessa. Ia menggigitnya pelan, mengunyahnya sambil menata kalimat di kepalanya. "Nes... hari ini temenin gue keliling nyari apartemen atau kos-kosan eksklusif daerah Sudirman, yuk."

Gerakan tangan Nessa yang sedang menutup toples selai langsung terhenti. Sahabatnya itu menatap Naya dengan dahi berkerut dalam. "Hah? Buat apaan keliling nyari kosan? Kan lo udah gue suruh tinggal di sini aja, Nay."

"Gue nggak bisa terus-terusan numpang di sini, Nessa," Naya mencoba memberikan pengertian dengan nada selembut mungkin. "Kemarin itu kan statusnya darurat karena gue baru aja cabut dari tempat Reno. Tapi gue harus mulai nata hidup gue lagi. Nggak enak lah masa gue numpang di rumah orang tua lo lama-lama."

Nessa mendengus sebal, memutar bola matanya malas. "Orang tua gue itu menetap di London nemenin Oma, Nay. Balik ke Jakarta paling setahun sekali pas Lebaran. Rumah segede gaban ini cuma diisi gue, Bi Inah yang datang siang doang buat bersih-bersih, sama Kafka. Sepi banget tahu nggak! Lagian, lo mau pindah ke mana coba?"

"Ya makanya gue mau nyari—"

"Nay, dengerin gue," Nessa memotong cepat, meletakkan pisau selainya dan menatap Naya serius. "Lo lupa sama situasi lo sendiri? Masa kontrak apartemen lo yang lama itu udah habis tepat di hari anniversary lo tiga hari yang lalu. Pemiliknya udah mulai renovasi buat penyewa baru. Rencana awal lo kan emang mau pindah permanen ke tempat si brengsek Reno itu begitu lo balik dari Surabaya."

Naya terdiam. Kata-kata Nessa menamparnya dengan realitas yang pahit. Benar. Rencananya memang begitu. Ia sudah mengemasi sebagian besar barangnya sejak minggu lalu. Ia berencana memulai lembaran hidup baru bersama pria yang ia pikir akan menjadi suaminya. Namun, takdir berkata lain.

"Sekarang lo pada dasarnya homeless, Nay," lanjut Nessa, suaranya sedikit melembut melihat raut wajah Naya yang berubah murung. "Apartemen atau kosan eksklusif di daerah Sudirman yang full-furnished dan aman itu susah dicari dadakan. Rata-rata ada waiting list, atau minimal butuh waktu buat survey dan ngurus deposit. Lo mau luntang-lantung bawa koper pindah-pindah hotel selama sebulan ke depan?"

"Tapi, Nes—"

"Udah, nggak ada tapi-tapian," Nessa menepuk punggung tangan Naya. "Lo tinggal di sini. Kamar tamu itu fasilitasnya udah kayak hotel bintang lima. Gue juga butuh teman ngobrol. Lagipula, ada Kafka yang bisa jagain kita berdua di rumah. Lo itu sahabat gue, Naya. Susah seneng kita bareng-bareng. Jangan merasa nggak enak gitu dong, kayak sama siapa aja."

Penjelasan Nessa begitu masuk akal hingga Naya tidak bisa menemukan celah untuk membantah. Realitas finansial dan logistik saat ini memang memaksanya untuk menelan gengsi. Namun, Nessa tidak tahu bahwa masalah utama Naya bukanlah rasa tidak enak karena menumpang, melainkan kehadiran adik laki-lakinya yang memancarkan pesona mematikan.

Tepat saat Naya membuka mulut untuk mencari alasan lain, suara pintu utama yang bergeser terbuka menghentikan perdebatan mereka.

Dari arah lorong, Kafka melangkah masuk. Pria itu baru saja kembali dari lari paginya. Ia mengenakan kaus tanpa lengan berwarna hitam yang sudah basah oleh keringat, mencetak jelas otot-otot dada dan perutnya, dipadukan dengan celana training pendek. Rambutnya yang berantakan dan basah karena keringat menempel di dahinya, sementara napasnya sedikit memburu.

Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi mint alami seketika menginvasi ruang makan, membuat Naya tanpa sadar menelan ludah dan menahan napas. Penampilan Kafka pagi ini terlalu, terlalu berbahaya untuk kewarasannya.

Kafka berjalan menuju dapur, matanya langsung tertuju pada Naya. Seulas senyum miring yang khas langsung terbit di wajah tampannya saat melihat Naya duduk di kursi bar. Namun, senyum itu sedikit memudar, digantikan oleh tatapan yang tiba-tiba menggelap saat matanya menyapu pakaian yang dikenakan Naya.

"Pagi, Kak," sapa Kafka. Suaranya terdengar lebih serak dan berat dari biasanya, bergetar di udara. Pria itu mengambil botol air dingin dari kulkas, namun matanya sama sekali tidak lepas dari Naya.

"P-pagi," cicit Naya, membuang muka, tiba-tiba merasa sangat gerah.

"Kaf, pas banget lo pulang," Nessa menunjuk adiknya itu dengan antusias. "Bantuin gue dong yakinin si Naya. Masa dia ngotot mau nyari kosan hari ini juga. Tolong kasih tahu dia kalau rumah ini terbuka lebar buat dia sampai kapan pun."

Kafka menghentikan tegukannya. Ia menurunkan botol airnya perlahan, berjalan memutari island table, lalu berdiri tepat di sebelah kursi Naya. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa merasakan hawa panas dari tubuh Kafka yang baru saja berolahraga.

Kafka mencondongkan tubuhnya, menumpukan sebelah tangannya di tepi meja, tepat di sebelah lengan Naya. Matanya menatap lurus ke arah Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya lemas seketika.

"Tentu saja," ucap Kafka perlahan, suaranya mengalun pelan namun penuh penegasan. "Kak Naya tidak akan pergi ke mana-mana. Kamar di atas, dan rumah ini, adalah tempatnya sekarang. Tidak ada yang akan membiarkannya tinggal sendirian di luar sana."

Kata-kata itu ditujukan untuk Nessa, namun cara Kafka mengucapkannya sambil menatap tepat ke manik mata Naya, seolah memberikan pesan tersirat bahwa 'tidak ada yang akan membiarkannya' berarti Kafka sendiri yang tidak akan membiarkan Naya lepas dari pandangannya.

"Tuh kan, bener kata gue!" seru Nessa bangga, sepenuhnya buta terhadap ketegangan romantis yang sedang mendidih di antara adiknya dan sahabatnya. "Udah ya, deal! Lo stay di sini minimal sampai lo bener-bener dapat apartemen baru yang sreg. Sekarang gue mau mandi dulu, jam sembilan ada janjian brunch sama klien dari luar kota."

Nessa berbalik dan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Naya berduaan saja dengan Kafka di dapur yang mendadak terasa kehilangan pasokan oksigennya.

Hening yang menyiksa turun menyelimuti mereka. Naya menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada remah-remah roti di atas piringnya. Ia tidak berani menatap pria di sebelahnya ini.

"Itu kausku."

Suara bariton Kafka yang tiba-tiba memecah keheningan membuat Naya terlonjak pelan. Naya menoleh, menatap Kafka dengan dahi berkerut bingung. "Hah? Apa?"

Kafka mengangkat tangan kanannya, menyentuh ujung lengan kaus abu-abu kebesaran yang sedang dikenakan Naya. Sentuhan jari Kafka di kulit bahu Naya yang terbuka dari celah kerah yang kebesaran itu seringan bulu, namun efeknya membakar.

"Kaus yang sedang kau pakai," Kafka mengulangi, memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyapu tubuh Naya yang tenggelam di balik kaus katun tersebut. "Itu milikku. Kak Nessa pasti salah memasukkannya ke keranjang bajumu saat mencuci minggu lalu."

Mata Naya terbelalak lebar. Ia menunduk menatap kaus abu-abu yang menjuntai hingga menutupi separuh pahanya ini. Ya Tuhan. Pantas saja aromanya tidak asing. Pantas saja ukurannya jauh lebih besar dari pakaian Nessa. Ia sedang memakai pakaian Kafka. Memakai aroma pria itu di sekujur tubuhnya.

Wajah Naya memerah padam hingga ke telinga. Ia segera bangkit berdiri dari kursi, panik luar biasa. "Ya ampun, Kaf! S-sumpah aku nggak tahu! Tadi aku ambil asal aja dari tumpukan baju bersih di lemari. A-aku ganti sekarang—"

Saat Naya hendak melarikan diri, Kafka dengan cepat meraih pergelangan tangannya. Tidak keras, namun cukup kuat untuk menahan Naya di tempatnya.

"Jangan diganti," tahan Kafka pelan.

Naya mendongak, matanya bertemu dengan lautan kelam di mata Kafka.

"Kenapa?" tanya Naya dengan napas tertahan.

Kafka menarik pergelangan tangan Naya dengan sangat lembut, membuat jarak di antara mereka terpangkas hingga hanya tersisa beberapa jengkal. Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Naya bisa menghirup aroma napasnya yang bercampur wangi mint.

"Karena melihatmu memakai pakaianku di dapurku pada hari Sabtu pagi..." Kafka menjeda kalimatnya, ibu jarinya bergerak mengusap nadi di pergelangan tangan Naya yang berdenyut gila-gilaan. "...adalah salah satu hal paling berbahaya sekaligus paling indah yang pernah kulihat, Kak Naya."

Dada Naya naik turun dengan cepat. Ia merasa seperti sedang terhipnotis. Ia seharusnya menepis tangan itu. Ia seharusnya marah. Namun tubuhnya mengkhianatinya. Sentuhan Kafka memiliki semacam sihir yang melumpuhkan semua pertahanan rasionalnya.

"Kaf... jangan gini," bisik Naya lemah, mencoba menarik tangannya, namun usahanya sangat setengah hati. "Aku... aku masih hancur. Semuanya masih terlalu cepat."

Mendengar nada suara Naya yang bergetar penuh kerentanan, sorot mata Kafka seketika melembut. Pria itu mengurai genggamannya di pergelangan tangan Naya, namun alih-alih menjauh, kedua tangannya kini naik ke atas, bertumpu pada pinggiran meja dapur tepat di belakang punggung Naya. Gerakan itu membuat Naya sepenuhnya terkurung di antara island table dan tubuh tegap Kafka.

Kafka tidak menyentuhnya, namun kehadirannya yang melindungi mengelilingi Naya dari segala sisi.

"Aku tahu," balas Kafka, suaranya kembali berubah menjadi bisikan yang menenangkan, menghilangkan semua aura agresifnya. "Aku tidak memaksamu untuk berlari bersamaku hari ini, Kak. Aku tahu lukamu masih basah. Aku tahu kau butuh waktu untuk menyembuhkannya."

Kafka menundukkan kepalanya, menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Naya.

"Gunakan rumah ini selama yang kau mau. Gunakan aku sebagai tamengmu," lanjut Kafka, matanya menatap Naya dengan ketulusan yang membuat dada Naya berdesir perih. "Aku akan memberikanmu semua waktu yang kau butuhkan untuk sembuh. Tapi ingat satu hal..."

Kafka mengangkat sebelah tangannya. Dengan sangat hati-hati, ia menyelipkan helaian rambut Naya ke belakang telinga. Ujung jarinya mengusap lembut pipi Naya, menyapu sisa-sisa keraguan di sana.

"...aku tidak akan pernah mundur selangkah pun. Selama kau berada di sini, dalam jangkauanku, aku akan memastikan tidak ada satu pun memori tentang pria brengsek itu yang tersisa di kepalamu, selain diriku."

Naya memejamkan matanya, membiarkan kehangatan tangan Kafka mengalir ke wajahnya. Di tengah kekacauan hidupnya dan statusnya yang kini 'menumpang' dengan pakaian kebesaran milik pria ini, Naya menyadari bahwa Kafka benar-benar serius. Adik sahabatnya itu bukan sekadar menggodanya. Kafka menawarkan perlindungan, kesabaran, dan sebuah cinta yang sangat mengintimidasi namun terlalu manis untuk ditolak.

"Mandi dan bersiaplah, Kak," ucap Kafka pelan, menarik tangannya mundur dan melepaskan kurungannya, membiarkan Naya kembali bisa bernapas lega. Pria itu tersenyum hangat, aura mendominasinya melebur menjadi sosok pelindung yang sangat menenangkan. "Setelah Kak Nessa pergi, aku akan memasakkan pasta untuk makan siang kita."

Naya hanya bisa mengangguk pelan, masih terlalu linglung untuk memberikan jawaban verbal. Ia berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

Begitu pintu kamar tertutup, Naya menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia menutupi wajahnya yang masih terasa panas dengan kedua tangannya. Ia menunduk menatap kaus abu-abu yang membungkus tubuhnya, menghirup aroma maskulin Kafka yang menguar dari kain tersebut.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!