S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.
"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"
Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. MJ
...~•Happy Reading•~...
Bagas berdiri agak menjauh dari Enni, sebab khawatir pembicaraan mereka menyangkut Enni dan terdengar olehnya.
"Hallo, dr Kiran..." Sapa Bagas setelah merespon panggilan Kirana.
"Hallo, Pak Bagas. Ada dengan Enni?" Tanya Kirana dengan suara agak cemas dan buru-buru.
"Iya, dok. Kami ada di taman rumah sakit. Saya sengaja ajak untuk minta keterangan, sambil Enni bisa menghirup udara pagi yang segar." Bagas menjelaskan inisiatifnya, mengajak Enni. Da jadi khawatir Enni belum boleh keluar oleh Kirana.
Tadi ia melihat kondisi Enni yang sudah lebih baik, jadi berinisitif untuk mengajak Enni keluar cari udara segar. Bagas baru ingat, harus konsultasikan dulu dengan dr Kirana. Dia mengusap wajah dan merasa tidak enak terhadap Kirana.
"Pak, segera balik ke kamar. Pria kekar itu ada datang ke rumah sakit. Mungkin dia sedang cari Enni lagi." Kirana menjelaskan apa yang dikatakan perawat Keni, ketika mereka melihat pria kekar itu di lobby rumah sakit.
Kirana sudah hubungi ke perawat di bagian mawar untuk menanyakan tentang Enni, tapi perawat memberitahukan bahwa Enni sedang keluar diajak oleh pengacaranya. Sebagaimana yang dikatakan dr Kirana sebelum pulang dari tugas jaga, bahwa pengacara Enni akan datang.
Mendengar penjelasan perawat di mawar, Kirana segera hubungi Bagas untuk mengamankan Enni. Ia meminta Bagas berkoordinasi dengan Enni dan segera kembali ke kamar.
"Baik. Trima kasih infonya, Dok. Minta tolong perawat atau security lindungi kami saat kembali ke kamar, ya." Bagas berkata cepat dan waspada dengan melihat orang-orang di sekitar taman.
Setelah selesai bicara dengan Kirana, Bagas berjalan cepat mendekati Enni dan berbicara dengannya. Agar mereka bisa bekerja sama mengelabui pria kekar yang dikatakan, mungkin sedang mencari Enni.
"Tidak usah panik. Kita bersikap biasa saja saat kembali ke kamar." Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan. Enni mengangguk pelan, tapi jantungnya berdetak cepat. Dia memegang kursi roda dengan tangan bergetar.
"Tenang. Jangan menarik perhatian." Ucap Bagas sambil membuka jacketnya lalu menutupi pundak Enni. Kemudian Bagas mendorong kursi roda pelan dan hati-hati, sambil memperhatikan sekitar.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Di sisi lain ; Setelah berbicara dengan dr Kirana, Keni segera berbicara dengan perawat dan suster jaga yang ada di bagian informasi.
Kirana minta dia berkoordinasi di sana, agar bisa bantu meloloskan Enni kembali ke kamarnya, tanpa diketahui oleh pria kekar itu.
Keni berusaha tidak terlihat oleh Bahsu, sebab dia yakin pria kekar itu masih mengingatnya. Jadi dia berjalan cepat untuk menghindari berpas-pasan dengannya, saat melihat dia ke arah tempat informasi.
Keni berjalan cepat untuk membantu Enni yang ada di taman sesuai permintaan Kirana. Agar dia berkoordinasi dengan pengacara Bagas.
"Selamat pagi, Suster. Saya minta tolong informasi pasien yang bernama Winda. Saya dari luar kota, dan dapat info dia dirawat di sini." Bashu berkata dengan sopan dan pelan.
"Sebentar, ya, Pak. Pasien bernama Winda, ya." Suster bersikap seperti biasa mencari nama pasien di komputer.
"Bapak siapanya, pasien?" Tanya suster untuk mengulur waktu.
"Saya keluarga jauh, sudah lama ngga bertemu. Jadi ingin bertemu, sebab dengar dia sakit." Bashu berusaha tenang untuk meyakinkan suster, agar suster tidak curiga padanya.
"Baik. Saudara bapak bernama Winda Wenitko?" Suster bertanya sambil melihat Bashu untuk memastikan. Bashu mengangguk, tapi ragu. Sebab dia tidak tahu nama belakang Winda.
Walaupun begitu, dia merasa senang Winda ada dirawat di rumah sakit tersebut. Di bayangan Bashu, bossnya akan senang mendengar informasinya.
"Kalau begitu, selamat ya, Pak. Bu Winda sudah melahirkan tadi malam. Bapak bisa ke ruangan ini." Suster memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor kamar wanita yang bernama Winda.
Bashu sangat terkejut mendengar penjelasan suster tentang Winda yang dicarinya. Tetapi sudah tidak bisa mundur. Dia mengambil kertas dari tangan suster lalu berjalan pelan ke arah lift.
Dia menerima tanpa protes, sebab dia tahu pasien itu bukan Winda yang dicari. Suster berusaha mencegah dengan mau ajak bicara, tapi Bashu sudah meninggalkan tempat itu, sebab merasa malu dan takut ketahuan berbohong.
~**
Di sisi lain ; Perawat Keni yang menuju taman, menolong Bagas untuk menutupi Enni dengan berjalan di sampingnya.
Ketika melihat pria kekar berjalan ke arah lift, Keni menahan Bagas untuk berhenti mendorong kursi roda. Lalu berdiri di depan Enni, seakan sedang berbicara dengan pasien. Bagas ikut membantu dengan memegang pundak Enni untuk menenangkan.
Setelah beberapa waktu berlalu, Keni perlahan meninggalkan Enni untuk melihat situasi. Melihat kondisi aman, dia mengajak Enni lewat lift pasien, agar tidak bertemu dengan pengunjung yang tidak di harapkan atau pria kekar yang ada di lift pengunjung.
Setelah berada dalam lift pasien, mereka bertiga menarik nafas panjang dan lega. "Trima kasih." Enni mengucap terima kasih kepada perawat yang sudah menolongnya.
"Sama-sama, Mba." Ucap Keni, pelan.
"Pak, saya tidak antar ke kamar lagi." Ucap Keni kepada Bagas yang sedang mendorong kursi roda Enni keluar dari lift. Bagas mengangkat tangan ke arah Keni untuk tunggu.
Keni jadi ikut keluar dari lift, lalu menunggu Bagas yang sedang mengunci roda agar Enni tetap di tempat. Bagas mendekati Keni lalu berbicara serius dengannya. Keni mendengar dan mengangguk mengiyakan lalu segera kembali masuk lift.
Setelah berada di kamar Enni, Bagas menuang air mineral ke gelas lalu berikan kepada Enni. "Minum dulu ini, upaya lebih tenang. Untuk sementara, jangan keluar dari kamar." Bagas berkata tegas, setelah Enni selesai minum. Kemudian Bagas mengambil botol minumnya dari dalam tas untuk minum. Dia sendiri agak panik, saat Enni melihat pria kekar itu dan tangannya agak gemetar.
Bagas khawatir Enni tiba-tiba turun dari kursi roda lalu berlari, menjauh. Sehingga ia tetap memegang pundak Enni sambil berbicara dengan perawat Keni yang berusaha menghalangi Enni dari pandangan mata Bashu dengan berdiri di depannya.
"Sudah lebih tenang?" Tanya Bagas setelah Enni kembali duduk di atas ranjang lalu menutupi kakinya dengan selimut yang dipakai sebelumnya.
Enni mengangguk pelan walau memegang dadanya untuk mengurangi detak jantungnya yang tidak teratur. Dia melepaskan jacket Bagas yang menutupi pundaknya, lalu berikan kepada Bagas sambil mengucapkan terima kasih.
"Kalau begitu, tolong tanda tangan surat penunjukan kami sebagai pengacaramu. Agar kami lebih mudah bekerja mewakili dan melindungimu." Bagas mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya.
"Setelah tanda tangan ini, silahkan makan rotinya." Bagas mengingatkan sambil melihat Enni menanda tangani surat penunjukan mereka sebagai pengacaranya.
Kemudian Bagas menghubungi dr Kirana untuk beritahukan informasi selanjutnya tentang kondisi mereka yang sudah aman di kamar. Agar Kirana bisa tenang dan tidak khawatir.
"Enni, saya tinggal dulu. Ada yang mau saya selidiki. Anda bisa istirahat, sambil tunggu dr Kiran." Bagas berkata sambil memakai jacket dan mengangkat tas kerjanya.
Dia telah minta tolong perawat Keni untuk mengawasi Bashu yang datang mencari Enni. Kalau bisa Keni dan teman-temannya bisa menahan dia di lobby, agar Bagas bisa mengikuti dia.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...