NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang Mulai Salah Arah 13.

Suara detak jam dinding di kamar Ulfa terdengar luar biasa bising pagi ini. Di atas kasur, Ulfa meringkuk di balik selimut tebal. Seluruh tubuhnya menggigil, sementara dahinya justru terasa membakar. Setiap kali dia mencoba mengembuskan napas, udara yang keluar dari hidungnya terasa panas dan berat.

Ulfa memejamkan mata rapat-rapat, merutuki sistem imun tubuhnya yang begitu payah. Semua ini gara-gara kejadian kemarin sore.

Sepulang sekolah, awan gelap mendadak tumpah tanpa ampun. Sialnya, Langit yang berstatus sebagai suaminya —menolak berteduh. Dengan motor sport-nya, Langit membelah jalanan yang banjir, mengabaikan fakta bahwa Ulfa hanya mengenakan seragam putih abu-abu tipis tanpa jaket.

Pagi itu di lantai bawah, Langit berdiri di depan cermin ruang tamu. Ia sudah rapi dengan kemeja flanel longgar dan sepatu kets terbaiknya.

Hari ini adalah tanggal merah. Sejak seminggu lalu, ia sudah berjanji untuk membawa Zara ke sebuah galeri seni di pusat kota.

Zara sudah mengirim pesan singkat sepuluh menit lalu, mengatakan bahwa ia sedang bersiap-siap.

Namun, langkah kaki Langit tertahan di undakan tangga pertama. Rumah sepi sekali. Langit menoleh ke arah koridor lantai dua, menuju kamar Ulfa. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menggores dinding dadanya.

Kemarin sore, saat mereka sampai di garasi dalam keadaan basah kuyup, Langit melihat bibir Ulfa sudah memutih. Perempuan itu bahkan tidak memprotes atau memarahinya. Ulfa hanya berjalan pelan masuk ke rumah, memeluk lengannya sendiri yang gemetar. Saat itu Langit terlalu abai. Ia hanya memikirkan ego dan ponselnya yang takut rusak terkena air.

Langit mengembuskan napas kasar. Ia berjalan menaiki tangga, mencoba meyakinkan diri bahwa Ulfa hanya sedang malas bangun pagi. Namun, begitu tangannya mendorong pintu kamar Ulfa yang tidak terkunci, pemandangan di depannya langsung meruntuhkan semua pembelaan diri di kepalanya.

Ulfa tampak sangat kecil di balik selimut besar itu. Napasnya pendek-pendek dan terdengar berat. Langit melangkah mendekat, lalu berlutut di samping ranjang. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Ulfa.

"Sial, panas banget," bisik Langit spontan.

Sentuhan dingin tangan Langit membuat Ulfa mengerang pelan. Ia membuka matanya yang berair dan merah. Butuh waktu beberapa detik bagi Ulfa untuk memfokuskan pandangan pada wajah Langit yang berada tepat di atasnya.

"Langit...?" suara Ulfa parau, nyaris habis. "lu... belum berangkat?"

Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah pucat di depannya dengan kilat bersalah yang coba ia sembunyikan rapat-rapat. "Kenapa nggak bilang kalau lu sakit?" tanyanya, nadanya terdengar ketus, padahal itu hanya caranya untuk menutupi rasa panik.

"Cuma pusing sedikit. Nanti juga sembuh kalau dibawa tidur," kata Ulfa pelan, lalu memalingkan wajah, mencoba menahan batuk yang menyiksa tenggorokannya.

Langit berdiri. Ia melihat pakaian rapinya sendiri di cermin lemari Ulfa. Tiba-tiba saja, rencana kencannya dengan Zara terasa hambar, bahkan terasa salah. Bagaimana mungkin dia bisa bersenang-senang di luar, tertawa bersama perempuan lain, sementara perempuan yang secara sah hidup di bawah tanggung jawabnya sedang bertaruh dengan rasa sakit akibat kecerobohannya sendiri?

Langit mengambil ponsel dari saku celananya. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengetikkan pesan untuk Zara.

Zara, sori banget. Hari ini aku nggak bisa pergi. Ada urusan keluarga mendadak yang nggak bisa ditinggal. Nanti aku ganti hari lain ya. Hari minggu.

Langit meletakkan ponselnya ke meja tanpa menunggu balasan. Ia tahu Zara pasti akan marah atau kecewa, tetapi untuk pertama kalinya, prioritas Langit bergeser tanpa perlu ia perdebatkan di dalam kepala.

Langit melepas kemeja flanelnya, menyisakan kaus hitam polos. Ia melangkah keluar kamar Ulfa dengan senyap, turun ke dapur. Laki-laki yang biasanya tidak pernah menyentuh urusan rumah tangga itu kini berdiri bingung di depan lemari penyimpanan. Ia mencari kompres demam, obat, dan bahan makanan yang bisa diolah dengan mudah.

Setengah jam kemudian, Langit kembali ke kamar Ulfa membawa mangkuk berisi bubur instan yang ia buat seadanya, segelas air hangat, dan obat penurun panas. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi kasur.

"Bangun dulu. Makan, terus minum obat," perintah Langit lembut, kehilangan seluruh nada ketusnya yang biasa ia gunakan di sekolah.

Ulfa berusaha bangkit, tetapi kepalanya terasa berputar hebat hingga ia hampir terjatuh kembali. Dengan sigap, tangan Langit menahan pundak Ulfa, membantunya bersandar pada kepala ranjang. Jarak yang dekat itu membuat Ulfa bisa mencium aroma parfum Langit yang familier, bercampur dengan aroma obat-obatan.

"Lu nggak jadi kencan?" Ulfa bertanya lirih, matanya melirik ke arah pakaian santai Langit. Sebagai orang yang hidup satu atap, Ulfa tahu betul betapa antusiasnya Langit menyambut hari libur bersama Zara.

"Nggak usah banyak tanya. Habisin ini," jawab Langit sambil menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulut Ulfa.

Ulfa menatap sendok itu ragu. "Gue bisa sendiri, Lang."

"Ulfa, tangan lu aja gemeteran begitu. Jangan keras kepala bisa nggak?" sergah Langit, tatapannya lurus mengunci manik mata Ulfa. Ada ketegasan di sana, tetapi juga ada kecemasan yang nyata.

Akhirnya Ulfa menyerah. Ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari Langit. Suasana kamar mendadak hening, hanya menyisakan suara sendok yang berdenting pelan dengan mangkuk.

Interaksi ini terasa begitu asing bagi mereka. Di sekolah, mereka adalah dua orang asing yang sengaja menjaga jarak sejauh mungkin agar rahasia mereka tidak terendus.

Namun di kamar ini, dalam radius beberapa sentimeter, mereka terikat oleh realitas yang tidak bisa mereka sangkal.

Setelah bubur habis setengah, Ulfa menggelengkan kepala tanda tidak sanggup lagi. Langit tidak memaksa. Ia memberikan obat dan air putih, memastikan Ulfa meminumnya sampai tandas.

"Tidur lagi," kata Langit seraya mengambil alih gelas kosong dari tangan Ulfa.

Sebelum Langit berbalik untuk merapikan mangkuk, Ulfa menahan ujung kaus hitam Langit dengan ujung jarinya yang lemas. Langit menghentikan langkah, menoleh ke bawah.

"Makasih Lang... dan maaf ya, kencan lu batal gegara gue," bisik Ulfa jujur. Matanya mulai memberat karena efek obat yang bekerja cepat.

Langit terdiam melihat ketulusan di mata istrinya. Rasa bersalah di dadanya kian berdenyut nyeri. Ia meletakkan nampan kembali ke meja, lalu duduk di kursi sebelah ranjang.

Tangan kanannya terulur, perlahan merapikan anak rambut Ulfa yang basah oleh keringat dingin, lalu mengusap dahi perempuan itu dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tidak terasa.

"Bukan salah lu. Gue yang bego kemarin," jawab Langit dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. "Udah cepet merem. Gue di sini."

Ulfa tidak membalas lagi. Perlahan, kesadarannya ditarik oleh rasa kantuk yang hebat. Di ambang tidurnya, rasa hangat dari tangan Langit di kepalanya terasa begitu nyata, membuat dadanya yang semula sesak perlahan-lahan terasa sedikit lebih ringan.

Sementara itu, Langit tetap diam di tempatnya, menatap wajah tidur Ulfa di bawah temaram lampu kamar. Di luar, langit kota kembali mendung, memantulkan suasana hati Langit yang kini dipenuhi oleh banyak pertanyaan tentang perasaan yang mulai salah arah.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 makanya jangan selingkuh nyesel kan lu
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!