Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan berlauk hinaan
Pagi masih sangat murni, namun dapur rumah megah itu sudah terasa bagai neraka bagi Maya. Asap tipis membumbung dari penggorengan, beradu dengan deru napasnya yang kelelahan. Seperti biasa, dari sekian banyak penghuni rumah, tak ada satu pun yang sudi memiringkan badan untuk membantunya. Mereka semua sudah duduk manis di meja makan kayu jati, menanti Maya menyajikan hidangan bak seorang ratu yang menunggu dilayani hambanya.
"Cepatan dikit dong, Mbak! Aku ada kuliah pagi hari ini. Jangan lelet banget jadi orang!" celetuk Rara, adik ipar Maya, menghentakkan sendoknya ke meja dengan raut wajah gusar.
Bu Rika yang mendengar keluhan anak kesayangannya langsung menyambar panas, matanya mendelik tajam ke arah dapur. "Iya itu, Maya! Tanganmu bisa lebih lincah sedikit tidak, sih?! Dari tadi cuma menyiapkan sarapan sederhana saja lamanya minta ampun! Kasihan Rara itu mau menuntut ilmu, bukan seperti kamu yang otak dan pendidikannya tidak seberapa!"
Telinga Maya sampai panas mendengarnya. Dada Maya mengembang menahan napas, berusaha keras menyumbat emosi yang terus mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Pagi-pagi jangan teriak-teriak dong, Bu. Pusing aku dengarnya," tegur Mansur dari sudut meja sambil memijat pelipisnya.
Seketika itu juga, raut wajah Bu Rika berubah drastis. Wanita tua itu melempar tersenyum manis nan lembut pada anak sulungnya. "Eh... iya, Mansur sayang. Ibu cuma gemas saja sama wujud menantu yang satu ini. Nggak ada cekat-cekatnya."
Meski tak lagi berteriak, lidah Bu Rika justru makin tajam menyayat. Ia mengalihkan pandangan penuh penghinaan ke arah Maya yang sedang meletakkan piring-piring di meja.
"Lagian ya, kalau cuma numpang hidup di rumah ini, tidak bisa menghasilkan uang sepeser pun dan cuma jadi beban yang menggerogoti gajinya Arya, minimal kerjanya yang gesit! Coba kamu contoh Santi itu," ujar Bu Rika dengan nada membandingkan yang begitu gamblang. Tangannya dengan sigap mengisikan lauk terbaik ke piring Santi.
"Santi ini wanita karier berkelas! Desainer terkenal, punya penghasilan sendiri, dandannya selalu rapi dan wangi. Bikin bangga keluarga kalau dibawa keluar! Beda jauh sama kamu yang tiap hari cuma bau bawang, baju itu-itu saja, dan tidak ada prestasinya sama sekali selain ngabisin uang anakku!"
Sindiran itu dilontarkan Bu Rika tanpa beban, seolah-olah Maya hanyalah benda mati di meja makan itu. Santi hanya tersenyum tipis, meminum teh hangatnya dengan anggun tanpa berniat menyela. Ia menikmati statusnya yang selalu diratukan dan diagung-agungkan di rumah tersebut.
Arya yang duduk di samping Maya merasa makin terdesak. Ia berdehem pelan, mencoba menyuarakan sedikit rasa kasihan. "Bu... sudah Bu, Maya kan juga sudah berusaha bangun dari subuh..."
"Lho, Arya! Kamu kok malah ngebela?!" potong Bu Rika cepat dengan suara yang kembali melengking. "Ibu ini bicara fakta! Biar istri kamu itu sadar diri! Mana ada istri zaman sekarang cuma duduk manis menengadahkan tangan, sudah begitu tidak menghasilkan cucu pula?! Sudah untung kamu mau menampung dia di sini!"
Mendengar nada suara ibunya naik satu oktav dan membawa-bawa masalah keturunan, Arya seketika ciut. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapt, memilih menunduk dan berpura-pura sibuk mengaduk teh di cangkirnya.
Maya yang sudah kepalang malas meladeni hanya bisa diam. Namun, keputusannya untuk bungkam pun tetap menjadi kesalahan besar di mata mertuanya.
"Ditanya atau dinasihati orang tua itu menyahut, Maya! Jangan malah diam saja kayak orang tuli dan tidak punya sopan santun!" cetus Bu Rika lagi, menatap Maya dengan wajah berkerut jijik.
Maya menghela napas pendek tanpa bersuara. Ia menarik kursi lalu duduk di samping Arya untuk mulai makan. Maya memilih fokus pada piringnya sendiri, mencoba menutup telinganya rapat-rapat saat Santi mulai mengoceh menceritakan proyek busana terbarunya, tentang klien-klien kaya yang ia temui, dan lagi-lagi menyindir betapa membosankannya kehidupan wanita yang hanya berdiam diri di rumah seperti Maya.
Usai makan, Rara berdiri sambil merapikan tas kuliah mewahnya. "Mas Arya, antar aku kuliah sekarang ya. Udah agak telat nih."
"Iya, Ra," jawab Arya cepat, seolah mendapat jalan keluar dari atmosfer meja makan yang tegang. Ia berdiri, mengusap bahu Maya sebentar tanpa mengucap sepatah kata maaf pun, lalu melangkah keluar mengantar adiknya.
Maya menatap piring-piring kotor yang menumpuk di atas meja sisa-sisa santapan keluarga yang telah menginjak-injak martabatnya. Maya meremas kain sarungnya di bawah meja. Hinaan pedas Bu Rika dan perbandingan dengan Santi tak lagi membuatnya menangis. Rasa sakit itu telah berubah menjadi benteng dingin yang mengukuhkan niatnya untuk segera lepas dari keluarga parasit ini.