NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMBUN PAGI DAN SENYUM DI MEJA MAKAN

Sinar fajar menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, membiaskan pendar keemasan di atas ranjang king size yang berantakan. Udara pagi terasa begitu sejuk, bercampur dengan sisa-sisa kehangatan malam yang penuh gelora dan rasa cinta.

Ammar terbangun lebih awal. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada kepala ranjang, menyibak selimut tebal sebatas dada. Mata cokelat mewahnya yang teduh menatap lurus pada sosok wanita yang terlelap pulas di sampingnya.

Aisyah masih tertidur sangat lelap. Wajah mulusnya tampak begitu polos dan damai dalam dekapan mimpi, dengan beberapa helai rambut hitamnya yang terurai menutupi pelipis. Kelelahan yang luar biasa terpancar jelas dari raut wajahnya usai menyerahkan seluruh diri dan cintanya dalam perpaduan asmara yang intens semalaman.

Ammar mengulurkan jemari tegapnya. Dengan gerakan yang teramat pelan dan lembut, ia mengusap anak rambut dari wajah Aisyah, lalu mengelus pipi mulus istrinya yang merona tipis. Senyuman tampan dan penuh kehangatan mekar sempurna di bibir Ammar. Penyesalan, rasa syukurnya, dan dorongan cinta yang kini merajai dadanya melebur menjadi satu.

Goresan merah keunguan (hickey) di ceruk leher Ammar sendiri menjadi saksi bisu betapa luar biasanya malam yang telah mereka lewati.

Sentuhan lembut jemari Ammar membuat pelupuk mata Aisyah bergerak pelan. Aisyah menguap kecil, lalu perlahan-lahan membuka matanya. Pandangan matanya yang masih agak kabur beradu lurus dengan tatapan mata Ammar yang sedang menatapnya dari jarak sangat dekat.

DEG!

Kesadaran menghantam Aisyah. Bayangan adegan panas, bisikan doa, serta perpaduan rasa semalaman seketika berputar hebat di kepalanya! Pipi Aisyah membara merah padam dalam sekejap. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke dalam selimut, menutupi dadanya karena rasa malu yang mendadak menyeruak hebat.

"M-Mas Ammar..." bisik Aisyah parau, tidak berani menatap mata suaminya lurus-lurus. "Sudah... sudah pagi ya?"

Ammar terkekeh pelan sebuah tawa rendah khas pria dewasa yang teramat merdu dan seksi di telinga Aisyah.

Ammar memajukan tubuhnya, menopang berat badannya dengan satu siku di atas ranjang. Ia meraih jemari Aisyah yang gemetar di balik selimut, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.

"Terima kasih untuk semalam, Aisyah," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang sangat dalam, lembut, dan penuh ketulusan.

Aisyah makin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah bagaikan udang rebus.

Ammar mengulurkan tangan satunya, mengangkat chin Aisyah pelan agar mata bulat mereka saling bertatapan. Pria itu menatap dalam-dalam ke manik mata Aisyah, memancarkan ketegasan seorang suami yang siap memasang badannya.

"Aisyah... dengarkan saya," tutur Ammar mantap. "Lupakan semua kata-kata perceraian atau perasaan bahwa kamu tidak pantas yang kamu katakan semalam. Kamu adalah istri saya, satu-satunya wanita yang memegang kunci di hati saya."

Aisyah menahan napasnya, menatap Ammar dengan mata yang berkaca-kaca haru.

"Beri kesempatan kedua untuk pernikahan ini," lanjut Ammar dengan senyuman hangat yang mengunci jiwa Aisyah. "Kita ulang semuanya dari awal. Sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai, tanpa ada kebohongan, rasa canggung, atau ketakutan lagi."

Air mata kebahagiaan menetes di sudut mata Aisyah. Dinding kekhawatiran yang selama ini menghantuinya runtuh tak berbekas. Aisyah mengangguk mantap dengan senyuman manis yang mekar di bibirnya.

"Iya, Mas... Kita ulang dari awal," balas nya tulus.

Satu jam kemudian, usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian rumah yang rapi berupa daster panjang bermotif bunga yang longgar dan jilbab instan, Aisyah perlahan membuka pintu kamar.

Namun, baru saja mengayunkan langkah pertamanya turun menuju lantai bawah...

"Aww..." ringis Aisyah pelan.

Rasa pegal dan nyeri di area paha serta pinggulnya akibat 'perjuangan' semalaman membuat cara berjalan Aisyah menjadi agak kaku dan sedikit megar (ngangkang). Aisyah memegangi pegangan tangga kayu, berusaha melangkah seme normal mungkin, walau usahanya tetap terlihat aneh.

Di lantai bawah, suasana pagi terasa hangat. Ibu Aisyah sedang sibuk menata piring di meja makan dapur, sementara Awan adik laki-laki Aisyah yang ceroboh dan polos sedang duduk di meja makan sambil mengunyah pisang goreng.

Di ruang keluarga yang menyatu dengan dapur, Ammar yang sudah rapi mengenakan kemeja santai tampak duduk tenang di sofa kulit, baru saja menyesap cangkir kopi hitam panas buatan mertuanya.

Aisyah menghembuskan napas, melangkah pelan memasuki area dapur. "Pagi, Bu... Awan..."

Awan menoleh. Mata remaja itu menyipit heran menatap pergerakan kakinya Aisyah yang berjalan sangat lambat dengan tumpuan yang aneh.

Awan menghentikan kunyahannya, lalu bertumpu pada dagunya seraya menunjuk kaki kakaknya dengan polos dan tanpa dosa.

"Mbak Sya... kaki Mbak kenapa sih?" tanya Aisyah polos dengan suara yang cukup keras. "Kok jalannya agak megar gitu? Kayak orang baru selesai disunat!"

UHUK! UHUK! UHUK!

Suara batukan keras seketika membahana dari arah ruang keluarga!

Ammar yang baru saja menelan tegukan kopi hitamnya tersedak hebat! Pria yang biasanya selalu tenang dan berwibawa itu langsung menepuk dadanya sendiri dengan wajah memerah kaku, hampir menyemburkan kopi hangat itu dari mulutnya.

"Uhuk... khuk...!" Ammar memegang cangkirnya dengan tangan gemetar, berdeham berkali-kali untuk menetralkan tenggorokannya yang terkejut setengah mati.

Wajah Aisyah seketika membara merah padam dari ujung kepala hingga ujung kaki! Ia menatap Awan dengan mata membelalak galak, rasanya ingin rasanya menyumbat mulut adiknya itu pakai pisang goreng utuh.

"Awan! Kalau ngomong sembarangan banget sih!" semprot Aisyah histeris namun berbisik, memegang pinggangnya yang masih agak pegal. "Mbak... Mbak cuma pegal-pegal habis kepleset kemarin!"

"Lah, kepleset kok jalannya kayak Sunatan Massal?" celetuk Awan polos tanpa rasa salah.

Ibu yang sedang memegang sodet di depan kompor seketika berbalik. Sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman, mata Ibu melirik sekilas cara jalan Aisyah, lalu beralih menatap Ammar yang sedang salah tingkah mengusap lehernya di sofa di mana bekas tanda merah (hickey) di leher Ammar mengintip tipis dari balik kerah kemejanya.

Seketika itu juga, senyuman lega dan rasa syukur yang teramat dalam mekar di wajah Ibu.

Ibu tahu persis apa yang terjadi. Senyuman hangat terpancar dari matanya yang berkaca-kaca haru. Setelah sekian lama merasa cemas dengan dinginnya hubungan pernikahan rahasia anaknya, kini Ibu bisa bernapas lega melihat bahwa hubungan Aisyah dan Ammar benar-benar telah membaik dan menyatu sepenuhnya sebagai suami istri.

Ibu menepuk bahu Awan pelan dengan spatula. "Hush! Kamu ini kecil-kecil ngomongnya ngawur aja! Sudah, makan pisangmu jangan banyak tanyak!"

Ibu lalu berjalan mendekati Aisyah, merangkul bahu putrinya dengan kehangatan seorang ibu.

"Aisyah, kamu duduk aja ya di meja makan. Biar Ibu yang selesaikan masaknya," bisik Ibu lembut seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda. "Kasihan kamu pasti capek..."

Wajah Aisyah makin memerah bagaikan kepiting rebus. Ia melirik ke arah ruang keluarga, di mana Ammar juga sedang menatapnya dari sofa.

Mata cokelat Ammar beradu dengan mata Aisyah. Di balik rasa canggung dan wajah Ammar yang sedikit memerah bekas tersedak tadi, Ammar melemparkan sebuah senyuman tipis yang teramat manis dan penuh arti pada istrinya.

Aisyah menarik kursi makan dan duduk perlahan, menyembunyikan senyuman indahnya di balik jemarinya. Pagi itu, diiringi gelak tawa polos Awan dan aroma kopi hangat, kebahagiaan yang sesungguhnya akhirnya benar-benar bersinar di dalam rumah mereka.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!