Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Pagi hari setelah kejadian besar di Verion Group. Zevanna terbangun dengan tubuh yang masih terasa lelah. Namun, pikirannya kini jauh lebih tenang karena teka-teki kasus kematian Zoyya akhirnya menemukan titik terang dan selesai.
Ia mengucek matanya pelan lalu beranjak menuju kamar mandi. Sekitar sepuluh menit kemudian, Zevanna keluar dari kamar mandi dan mulai memilih pakaian untuk bersiap pergi bekerja.
Saat sedang merapikan penampilannya, ponsel Zevanna mendadak berbunyi terus-menerus karena dibanjiri notifikasi.
Ting! Ting!
Zevanna meraih ponsel di atas meja. Matanya membelalak begitu melihat jajaran artikel berita online yang mulai tersebar luas di media sosial. Berita utama hari ini menyiarkan tentang penangkapan Bisma dan Hesa.
Ia membuka salah satu portal berita populer yang secara terang-terangan menyebut nama perusahaannya:
[METRO NEWS ONLINE]
Skandal Verion Group Terkuak: Dua Karyawan Verion Group Resmi Diamankan sebagai Tersangka Kasus Kematian dan Jaringan Peredaran Narkotika.
Jakarta—Publik dihebohkan dengan penangkapan mendadak dua karyawan Verion Group, Bisma dan Hesa, oleh pihak kepolisian pada malam hari tadi. Kedua tersangka diduga kuat terlibat dalam jaringan peredaran narkotika serta diduga terlibat dalam kasus kematian Zoyya yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa penangkapan ini berhasil dilakukan setelah ditemukannya bukti baru yang krusial di area gudang perusahaan. Saat ini, proses hukum sedang berjalan dan Verion Group menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak berwajib.
Zevanna membaca kalimat demi kalimat di layar ponselnya dengan saksama. Ia menyadari bahwa insiden menegangkan yang menimpanya semalam ternyata sudah menjadi sorotan panas publik.
Ting!
Pesan masuk.
Tisha: WOI ZEVANNA, ITU DI BERITA BENERAN?
Zevanna: Iya beneran.
Tisha: Gila, nggak nyangka banget ternyata pelakunya mereka berdua.
Zevanna: Sama gue juga nggak nyangka banget, Tis.
Tisha: Terus gimana ceritanya mereka bisa ditangkap, Zev?
Zevanna: Nanti gue ceritain ke lo kalau gue udah sampai sana.
Tisha: Yahhh padahal gue penasaran banget sama ceritanya:(
Zevanna: Sabar, bentar lagi gue otw ini.
Tisha: Lo kalau bilang otw pasti masih dandan kan?
Zevanna: Kok lo tau? Dukun ya lo?
Tisha: Bukan, gue dewi kecantikan wkwkwk.
Zevanna: Dih mana ada dewi modelan monyet kayak lo.
Tisha: Anjir lo.
Zevanna mendengus lalu mematikan layar ponselnya. "Dewi apaan coba dia? Dewi persik apa?" gumamnya menggeleng-gelengkan kepala.
Ia pun buru-buru bersiap untuk berangkat kerja. Namun, baru saja tangannya hendak menggapai kunci mobil di atas meja, Zevanna mendadak teringat sesuatu.
"Anjir, mobil gue kan masih di perusahaan." Zevanna menepuk jidatnya sendiri. "Aduh ini gimana gue? Masa gue minta dianter sama bokap gue sih?"
Ketika Zevanna sedang melamun memikirkan nasib mobilnya, pintu kamarnya mendadak diketuk dari luar.
Tok. Tok. Tok.
"Zevanna, kamu udah bangun belum?" Tanya Liona dari balik pintu.
Zevanna menoleh. "Iya, Ma. Udah bangun ini."
"Kalau udah bangun, turun sarapan dulu."
"Iya, Ma." Zevanna segera meraih tasnya dan keluar kamar menuju meja makan.
Liona melirik ke arah anak gadisnya itu. "Ayo sarapan dulu, Nak. Jangan bilang nggak mau sarapan lagi kamu."
Zevanna cuma menyengir polos. "Hehe, iya, Ma. Ini aku mau sarapan." Ia pun mengambil posisi duduk dan mulai sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Papa tadi udah liat berita. Kamu udah liat?" kata Yovandra membuka percakapan sambil menatap Zevanna lekat.
Zevanna mengangguk. "Udah, Pa."
"Mama masih nggak nyangka banget kalau masalah kematian Zoyya di sengaja," kata Liona dengan raut wajah masih sedikit syok.
Zevanna menatap ibunya tenang. "Udah lah, Ma. Sekarang semua udah selesai. Mereka berdua udah ditangkap, aku juga masih nggak nyangka kalau mereka berdua pelakunya."
Yovandra menatap Zevanna lebih intens, seolah bisa membaca isi kepala anaknya. "Apa kamu kerja di perusahaan Verion Group buat cari tau pelaku kakak kamu?"
Zevanna seketika terdiam. Ia menoleh ragu ke arah Yovandra. "K-kok Papa ngomong gitu sih? Aku kan udah bilang waktu itu, mau belajar mandiri kayak kak Zoyya."
"Nggak usah pura-pura nggak tau kamu," kata Yovandra menembak langsung.
"Zevanna, apa benar yang dibilang papa kamu? Kamu kerja disana karena itu?" Ucap Liona ikut menuntut penjelasan.
Zevanna bungkam. Otaknya berputar cepat, bingung harus menjawab apa.
Aduh gimana ini? Jujur nggak ya? Tapi gue takut diamuk sama papa. Tapi kalau nggak jujur malah tambah curiga.
Liona mengangkat alisnya karena Zevanna tak kunjung bersuara. "Zevanna?"
Zevanna tersentak dari lamunannya. "Iya, Ma."
"Kenapa diem? Bener yang dibilang papa kamu?" Ulang Liona memastikan.
"Aku—"
Tin!
Tiba-tiba ucapan Zevanna terpotong saat suara nyaring klakson mobil terdengar dari arah luar gerbang.
Zevanna buru-buru berdiri dan melangkah keluar rumah untuk mengecek. Matanya membelalak begitu mendapati mobil mewah Ravenzo sudah terparkir rapi di depan rumahnya.
Pria itu turun dari mobil dengan setelan rapinya, wajahnya tenang seperti biasa.
"Pagi."
Zevanna mengerutkan kening, bingung setengah mati. "Bapak ngapain ke rumah saya?"
Ravenzo menatapnya datar. "Kenapa kalau saya dateng ke rumah kamu?"
"Malah balik nanya Bapak, oh ya Pak. Mobil saya masih di parkiran perusahaan," kata Zevanna sebal.
"Makanya saya jemput," jawab Ravenzo santai tanpa beban.
Zevanna melongo mematung di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau bos dinginnya itu ternyata sudah memikirkan nasib mobilnya sampai sejauh ini.
"Zevanna, itu siapa yang dateng?" kata Liona berjalan keluar dan menatap Ravenzo. "Loh? Pak Ravenzo? Ngapain Bapak ke sini?"
Ravenzo menatap Liona sopan. "Saya mau menjemput Zevanna karena mobil dia ketinggalan di perusahaan saya tadi malam."
"Oh gitu, kirain ada apa dateng ke sini. Ya udah nggak apa-apa, kamu bareng aja sama Pak Ravenzo." Ucap Liona lembut sambil menatap Zevanna.
"Tapi, Ma—"
"Udah sana pergi, itu liat Pak Ravenzo udah nungguin kamu."
Zevanna mendengus kecil dan mengerucutkan bibirnya. "Iya, Ma. Aku berangkat kerja dulu."
Liona tersenyum kecil. "Iya, kalian berdua hati-hati ya."
Ravenzo hanya mengangguk pelan lalu berbalik, berjalan menuju mobilnya.
Zevanna mencium punggung tangan Liona lalu buru-buru menyusul langkah Ravenzo.
"Pak."
Ravenzo berhenti dan menoleh. "Kenapa?"
"Anu itu, Pak," kata Zevanna sambil menggaruk pelipisnya ragu.
Ravenzo mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Saya baru sadar tadi saya mesen taksi online buat berangkat kerja." Zevanna buru-buru membatalkannya di aplikasi.
Beberapa detik kemudian, muncul pemberitahuan biaya pembatalan di layarnya.
"Yahhhh! Rugi dong saya kena denda cancel taksi." Omel Zevanna dengan bibir cemberut.
Ravenzo menatapnya datar. "Tinggal ganti aja. Berapa?" Katanya santai. Ia bahkan sudah mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja untuk mengganti biaya tersebut.
Zevanna tersentak dan melongo melihat respons bosnya. "Eh, Pak... saya cuma ngomel, bukan minta diganti."
"Saya bisa bayar sendiri, lagian juga nominalnya kecil kok, Pak." Lanjutnya sambil menyengir canggung.
Ravenzo memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Kalau begitu anggap selesai."
Zevanna terdiam. Ia masih heran dengan cara berpikir bosnya yang terlalu praktis dan serba cepat.
Ini dia kesambet apa ya? Heran gue.
Ravenzo menatap Zevanna yang mendadak melamun. "Zevanna!"
Zevanna tersentak dari pikirannya. "Iya, Pak?"
"Kamu kenapa diam? Soal masalah tadi?"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak kok, Pak."
"Ya udah masuk mobil, kita berangkat," kata Ravenzo singkat.
Zevanna mengangguk dan akhirnya masuk ke mobil mewah Ravenzo. Mereka pun berangkat menuju kantor Verion Group.
Di dalam mobil, Zevanna mulai menyadari bahwa pagi ini ia benar-benar berangkat kerja bareng bos dinginnya itu.
Mimpi apa coba tadi malem? gue bisa berangkat kerja bareng nih cowok.
Di tengah perjalanan, Ravenzo meraih sebuah paperbag dari jok belakang lalu menyodorkannya kepada Zevanna.
"Nih."
Zevanna menoleh bingung. "Apaan ini, Pak?"
"Sarapan." Jawabnya singkat.
Zevanna mengangkat alisnya. "Tapi, Pak... saya nggak minta ini deh."
"Saya nggak suka karyawan saya pingsan pas jam kerja," kata Ravenzo enggan menatapnya dan tetap fokus ke jalan.
"Berarti kalau saya bukan karyawan Bapak, nggak dikasih?" Celetuk Zevanna iseng.
Ravenzo terdiam sejenak. "Makan saja."
"Tapi Pak, saya udah sarapan tadi di rumah," ucap Zevanna.
"Sarapan lagi."
"Loh? Kok saya disuruh sarapan lagi sih, Pak?" Kaget Zevanna menatap Ravenzo heran.
Ravenzo meliriknya sekilas. "Makan saja kalau kamu masih lapar."
Zevanna terdiam sejenak lalu menyeringai. "Iya sih, saya masih lapar. Tadi makannya cuma dikit, makasih ya, Pak. Hehe."
Ravenzo meliriknya sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
Zevanna membuka paperbag itu. Isinya ternyata roti dan sebuah minuman hangat. Tanpa pikir panjang, ia langsung memakannya.
"Pak, Bapak nggak sarapan juga?" tanya Zevanna dengan mulut terisi makanan.
"Saya sudah makan tadi." Jawab Ravenzo dingin.
"Makan di mana, Pak?"
"Di mansion."
"Mansion siapa, Pak?" tanya Zevanna masih terus mengunyah.
Ravenzo menatapnya sebentar. "Kamu kalau makan banyak bicara. Apa nggak bisa diam dulu?"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak bisa, Pak. Mulut saya ini udah secara otomatis pas makan banyak bicara."
"Jangan jadi kebiasaan, nanti tersedak," kata Ravenzo pelan.
"Ya nggak—uhuk! Uhuk!" Zevanna langsung meraih botol air dan meminumnya terburu-buru.
"Tuh, apa saya bilang tadi," ucap Ravenzo dingin tanpa berpaling.
Zevanna cuma cengengesan menahan malu. "Hehe, maaf, Pak. Nggak sengaja keselek ini."
Ravenzo menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah karyawannya itu.
Zevanna mengambil tisu di atas dashboard lalu mengelap mulutnya. "Udah selesai, Pak sarapannya. Makasih banyak, Pak."
"Hm, sama-sama."
Saat perjalanan berlangsung, sebuah mobil lain tiba-tiba berpindah jalur sembarangan sehingga Ravenzo harus mendadak menekan rem.
Ckiiitt!
Zevanna terkejut setengah mati. Ravenzo secara refleks mengulurkan tangan kirinya untuk menahan bahu Zevanna agar tubuh gadis itu tidak terdorong menabrak dashboard.
Keduanya seketika terdiam mematung.
Ravenzo yang sadar langsung menarik tangannya cepat dan kembali memegang kemudi seolah tidak terjadi apa-apa.
Zevanna mengerjapkan matanya bingung. Ia membetulkan posisi duduknya sambil membuang muka menatap keluar jendela. Wajahnya seketika memanas karena kaget dan canggung.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang membahas kejadian barusan.
Karena tidak tahan dengan suasana bising di dalam kepalanya yang mendadak canggung, Zevanna akhirnya membuka suara.
"Pak... tadi itu refleks, kan?" Tanyanya hati-hati.
"Iya." Jawab Ravenzo singkat.
Zevanna mengangguk-angguk. "Oh."
Hening lagi.
"Kirain Bapak panik tadi," kata Zevanna memancing.
Ravenzo meliriknya sekilas. "Saya nggak panik."
"Iya, Pak. Saya tahu kok, Bapak nggak panik cuma refleks aja." Zevanna membuang muka sambil menggigit bibirnya menahan senyum.
Ravenzo menghela napas pelan lalu kembali melajukan mobilnya.
***
Beberapa menit kemudian, mobil mewah itu akhirnya memasuki area gedung Verion Group. Namun, suasana di sekitar perusahaan jauh berbeda dari biasanya. Area parkiran depan sangat ramai dan puluhan wartawan tampak sudah berkerumun di depan gedung.
Zevanna memperhatikan beberapa karyawan berkumpul di luar sambil berbisik-bisik heboh. Ada yang membahas berita penangkapan Bisma dan Hesa, ada juga yang kaget karena kematian Zoyya ternyata kasus pembunuhan.
Beberapa wartawan bahkan terlihat sibuk mencecar pertanyaan kepada karyawan yang keluar masuk.
"Wahhh, ramai banget kayak pasar malam." Gumam Zevanna dari dalam mobil.
Ravenzo tetap berekspresi tenang. "Ayo turun."
"Iya, Pak."
Ravenzo keluar lebih dulu dari pintu kemudi. Zevanna menyusul keluar sambil mendekap tas dan paperbag bekas sarapannya.
Kedatangan mereka yang turun dari mobil yang sama langsung menyita perhatian beberapa karyawan di sekitar situ.
"Eh, itu Pak Ravenzo sama Zevanna kenapa berangkat bareng ya?"
"Mungkin kebetulan aja ketemuan di jalan?"
Bisik-bisik mulai terdengar. Zevanna mencoba tetap tenang dan berjalan seperti biasa. Namun, saat melangkah melewati area depan gedung yang agak licin, sepatu heels Zevanna tiba-tiba terpeleset.
"Eh—!"
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan dan tumbang ke lantai. Beruntung, dengan gerak cepat Ravenzo refleks memegang lengan Zevanna dan menahan tubuh gadis itu hingga kembali berdiri tegak.
Zevanna tertegun. Ravenzo juga sempat terdiam menatapnya beberapa detik sebelum melepaskan pegangannya.
Seketika, tatapan dari beberapa karyawan dan kerumunan wartawan yang berada di dekat mereka langsung tertuju pada mereka berdua. Semua orang memandang heran.
Zevanna yang sadar baru saja melakukan adegan memalukan di depan umum langsung merasa mukanya memerah panas seperti kepiting rebus.
"Saya nggak jatuh, kan, Pak?" Bisik Zevanna canggung.
"Hampir." Jawab Ravenzo datar.
"Bapak nggak usah jujur-jujur banget napa." Ucap Zevanna sewot pelan.
Melihat keberadaan sang CEO, para wartawan yang sejak tadi menunggu langsung berebutan menyerbu ke arah Ravenzo dengan kamera dan mikrofon yang mengudara.
"Pak Ravenzo! Bagaimana tanggapan Anda mengenai penangkapan Pak Bisma dan Mbak Hesa semalam?"
"Pak Ravenzo, apakah benar kasus kematian almarhumah Zoyya ada kaitannya dengan persaingan internal Verion Group?"
"Apakah pihak perusahaan sudah tahu mengenai jaringan narkoba ini sebelumnya, Pak?"
Ravenzo berdiri tegap, memasang raut wajah dingin tanpa celah. Ia mengangkat satu tangannya pelan, memberi gestur tenang kepada para wartawan.
"Harap tenang," suara Ravenzo terdengar tegas dan berwibawa. "Mengenai kasus yang melibatkan Saudara Bisma dan Saudara Hesa, pihak Verion Group menyerahkan sepenuhnya seluruh proses hukum kepada kepolisian. Kami akan kooperatif membantu penyidikan hingga tuntas."
"Lalu bagaimana dengan operasional perusahaan, Pak?" Tanya salah satu wartawan lagi.
"Semua kegiatan operasional berjalan normal dan kondusif. Keterangan lebih lanjut akan disampaikan oleh pihak juru bicara perusahaan. Terima kasih."
Jawabannya padat, singkat, dan tidak memberi ruang untuk rumor liar. Namun, beberapa wartawan sempat melirik curiga ke arah Zevanna yang berdiri kaku di samping Ravenzo dengan muka merah padam.
“Siapa cewek di sebelah Pak Ravenzo? Kenapa mereka bisa sampai bareng dan kelihatan dekat banget tadi?” bisik salah satu wartawan kepada rekannya.
Sebelum kejaran wartawan makin menjadi-jadi, Ravenzo langsung memberi kode pada petugas security dan mengajak Zevanna masuk ke dalam gedung.
Saat berhasil lolos dan berjalan di lorong lobby yang lebih tenang, Zevanna menunduk dalam-dalam sambil berbisik gemas. "Pak... hari ini saya malu banget, sumpah."
Ravenzo meliriknya datar dari samping. "Makanya kalau jalan pakai mata."
Zevanna mendelik tak terima. "Yang bikin saya malu sampai dipegangin di depan wartawan gitu siapa coba?!"
Ravenzo tidak menjawab lagi dan terus melangkah santai menuju lift pribadi.
Zevanna terpaksa mengikuti langkah bosnya dari belakang sambil cemberut dan manyun parah.
Di belakang mereka, beberapa karyawan yang melihat momen itu mulai saling berbisik, memendam gosip hangat yang baru saja tercipta pagi ini.
Bersambung…
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣