Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertindas
Selina menatap perilaku perhatian suaminya pada mantannya, namun suasana yang belum terkondisikan membuat ia menahan amarah.
Setelah Davin pergi mengikuti Deon dan Anne, barulah Selina mendekati ibunya.
"Ma, kenapa mama malah mengundang dia?"
"Hei, justru mama ingin mempermalukan
nya. Lihat saja nanti apa yang akan mama lakukan!" Evelyn tersenyum licik.
Saat kursi roda yang di gunakan Anne memasuki rumah itu, seluruh mata memandangnya, dia langsung menjadi pusat perhatian di tengah-tengah tamu, ada yang langsung mengenalinya namun ada juga yang terus bertanya-tanya.
Anne memerhatikan seisi ruangan juga beberapa orang yang tampak familiar, mereka semua adalah kerabat ayahnya dulu.
"Ternyata gadis itu sudah kembali?" Seseorang yang mengenali Anne.
"Bagaimana dia bisa ada disini?" sahut yang lainnya lagi.
"Dulu melakukan hal gila sampai membuat ayahnya murka, sekarang dia masih berani menunjukan wajahnya? Benar-benar tak tahu malu!" tambah yang lainnya lagi.
"Anne!" teriak paman Wilson suami dari bibi Evelyn, pria itu tampak tersenyum sumringah dan berjalan mendekat untuk
menyambutnya.
"Bagaimana kabarmu Anne?" tanyanya lagi dengan nada yang terdengar tulus.
"Aku baik-baik saja, terimakasih paman,"
balas Anne.
Gadis itu menatapnya sambil tersenyum,
seolah ingin mencari ketulusan di matanya, sebab dahulu saat ayahnya masih sehat dan bugar, dia selalu menemani ayahnya, menjadi saudara dan sahabat yang amat penurut, namun setelah ayahnya mengalami kecelakaan semua seolah berubah, pamannya menghindar tak tahu kemana, hingga beberapa saat kemudian terdengar kabar bahwa perusahaan beralih di pimpin olehnya.
"Apa yang sedang terjadi padamu? Mengapa kamu duduk di kursi roda?" tanya paman Wilson seolah dia memang betul-betul perhatian padanya.
"Hanya cidera ringan saja, paman." balas Anne.
"Jika tahu kamu sedang terluka, paman
pasti akan menjemputmu, oh ya kamu tinggal di mana sekarang? Tinggal disini saja, kita akan merawatmu."
"Ya!" bibi Evelyn menyahut dan mendekat.
"Aku akan membersihkan beberapa kamar di rumah ini, kamu dan anak-anakmu bisa tinggal disini," imbuhnya.
"Anak-anak?" paman Wilson memandangi
istrinya dengan tatapan menyipit.
Semua orang juga tampak terkejut, dan bertanya-tanya tentang apa maksud mereka.
"Ah, yaa ampun aku lupa," bibi Evelyn pura-pura merasa bersalah dan buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan.
"Maafkan aku pa, aku lupa memberimu tahu jika Anne punya tiga anak kembar." Imbuhnya.
Anne tercengang mendengar bibinya malah mengatakan ini di depan semua orang.
"Mama!"
Teriakan terdengar menggema menyahuti ucapan bibi Evelyn, Anne menoleh ke sana melihat Davin yang sedang bersuara.
Mereka kini saling memandang dengan tatapan yang begitu rumit.
"Davin!" Selina yang melihat suaminya kembali berperilaku untuk membela mantannya pun mendekat, "sayang, tolong bawa anak kita ke lantai atas, dia tertidur di mobil." ujar Selina ingin membuat suaminya pergi dari sana.
Davin terjebak pada pilihan, ia tak bisa membiarkan putranya ketika Selina menyuruh nya di hadapan seluruh orang.
"Ma, ayo kita ke atas sekalian aku ingin bicara padamu." pinta Davin.
"Biar ayahmu saja yang mewakiliku untuk
bicara padamu," sahut bibi Evelyn.
Davin betul-betul terjebak oleh kelakuan ibu dan anak ini, ia juga tak bisa bernegosiasi di depan banyak orang seperti ini.
Pada akhirnya Davin pun pasrah dia berlalu dari sana untuk menjemput putranya menuju lantai atas diikuti Wilson ayah mertuanya.
Bibi Evelyn melengkungkan senyum jahatnya saat melihat mereka sudah naik ke lantai atas.
Di saat itu ia kembali mengalihkan fokusnya pada Anne.
"Oh ya ampun Anne, kenapa diam saja? mari bibi bantu kamu berjalan,"
Anne tetap diam, di bola matanya sudah terkumpul cahaya pekat penuh kemarahan.
Tidak lama setelah itu, Evelyn mendorong kursi roda Anne ke arah para tamu, bahkan sengaja menempatkan Anne di tengah-tengah semua orang.
Di sisi kanan dan kiri, Evelyn dan Selina berdiri mengapitnya.
Mereka berdua terlihat ramah juga baik, namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk menjerumuskan Anne.
"Evelyn, apa maksudmu tadi? Anne sudah memiliki anak, dan tiga anak kembar? Apakah Anne sudah menikah?" seorang tamu kembali bersuara, untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Semua orang kembali fokus pada topik
pembicaraan ini, mereka semakin penasaran dengan kehidupan Anne selama dia menghilang.
"Jika sudah mempunyai anak, tentu saja sudah menikah dong!" sahut tamu yang
lainnya lagi menanggapi pertanyaan wanita tadi sambil melirik wajah Anne yang muram.
"Wah, tidak menyangka ya ... Anne yang
dulu masih kecil, ternyata sekarang sudah punya anak saja," sahutnya lagi.
"Benar, Anne sudah memiliki tiga anak,"
sahut bibi Evelyn.
"Oh iya Anne, kenapa kamu tidak mengajak anak serta suamimu kesini?" tanya Evelyn menatap sinis ke arah Anne.
Anne bergeming, dia tak menanggapi perkataan bibinya melainkan berusaha untuk meredam amarah dalam dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa sejak kejadian di sekolah kemarin, ketika Selina bertemu dengan anak-anaknya, maka dia tak akan membiarkan rahasia ini terjaga lagi.
Yang gadis itu khawatirkan saat ini ialah,
jika bibinya akan menebar berita ini ke sebuah media hingga rahasia yang Anne
sembunyikan akan mencuat ke publik, ia tak dapat membayangkan kehidupannya kelak jika semua itu terjadi, anak-anaknya pasti akan berhenti sekolah akibat menahan malu ulah teman-temannya yang mengejeknya, dan ia juga begitu akan di kucilkan di kantor.
"Yaa mpun ... kenapa kamu tega tak mengundang kami saat kamu menikah Anne?" sahut paman Sam.
"Oh iya, orang mana suamimu? Dia bekerja apa?" sahut Selina, seakan-akan ingin Anne membuka mulut bahwa ketiga anaknya adalah anak dari pria di malam itu.
"Ini adalah hal privasi, tidak ada hubungannya dengan kalian." ujar Anne
akhirnya membuka suara.
"Tidak ada hubungannya denga kami katamu? Hei Anne, kami adalah saudaramu bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu!" sahut paman Sam lagi.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya bibi Hilda istri paman Sam.
"Apakah ada yang sudah kamu sembunyikan dari kami Anne?" bibi Evelyn memancing keadaan.
"Jangan sampai kamu hamil duluan, dan
memiliki anak dari seorang pria beristri yang tak bertanggung jawab, sehingga kamu berpura-pura seolah kamu sudah menikah." imbuh Selina berlagak curiga, namun senyum licik di bibir nya terbit.
Anne tertegun, ia benar-benar seolah akan di adili.
Brak!
Tiba -tiba sebuah suara gebrakan meja terdengar, paman Sam sudah menggebrak meja penuh emosi.
Dia menatap Anne dengan nyalang saat ini.
"Anne kamu sangat keterlaluan, empat tahun yang lalu kamu sudah melakukan hal yang konyol dengan bermalam bersama seorang gigolo di sebuh club malam hingga membuat ayahmu marah, lalu kini kamu malah hamil dengan pria beristri!" serunya berapi-api.
"Aku kira selama kamu pergi, kamu akan berubah dan merenungkan diri, ternyata
kamu malah semakin liar." imbuhnya lagi.
"Benar-benar memalukan keluarga! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ayahmu baru saja sadar dan tahu kelakuan anaknya seperti ini!"
"Ini pasti karena tidak ada didikan dari
seorang ibu, jadi tidak tahu malu. Coba lihat Selina, sangat berbeda denganmu! Dia adalah anak yang baik dan patuh, memiliki hubungan yang jelas, lalu menikah dan memiliki anak, tidak seperti mu!" murka orang-orang di sana.
Senyum di bibir Selina pun kini terbit, kala mendengar orang-orang menyanjungnya.
"Tolong jangan berbicara seperti itu di depan Anne, aku mendidik Selina dengan keras sejak kecil, jadi hal yang wajar, sementara Anne ia nasibnya sangat malang." sahut bibi Evelyn pura-pura simpati terhadap Anne.
"Jadi kita sebagai orang yang lebih tua bertanggung jawab untuk mendidikny ..."
"Sudah bicaranya?!" di saat bibi Evelyn
belum selesai bicara Anne menyelanya.
Hingga bibi Evelyn pun menatap ke arah Anne.
"Kenapa kalian berbicara seolah kita memang saudara?"
"Setahuku, setelah ayahku bangkrut
hingga kecelakaan dan koma ayahku tidak punya saudara lagi? Bahkan tidak ada yang menjenguknya saat dia di rawat di rumah sakit." seru Anne dengan kemarahan yang tertahan.
"Kamu berani?" paman Sam yang menggebrak meja tadi bersuara sambil menunjuk ke arah Anne dengan tatapan nyalang, seolah gadis itu sedang menambah minyak di dalam api.
"Dahulu, ketika ayahku masih sehat dan
berjaya, kalian mendekat seperti penjilat
bahkan rela di suruh-suruh. Tapi setelah itu kalian pergi seperti di telan bumi, dan sekarang kalian berlagak ingin mengajariku?" Seru Anne berusaha bersikap tenang.
"Apa yang kamu katakan Anne?" wajah pria itu memerah di penuhi amarah.
"Anak keparat, bicaramu benar-benar menunjukan bahwa kamu tidak beri
pendidikan oleh ibumu!" sahut bibi Hilda.
Anne benar-benar tidak dapat menahan
emosinya lagi, sungguh tubuhnya memanas seolah terbakar emosi.
Dia segera meraih sebuah gelas di depan mejanya dan melemparkannya keras ke belakang tubuh pria itu.
Pyarr!
Seluruh orang langsung terdiam seketika, Selina berlari menjauh, sementara bibi Evelyn terkena percikan kaca itu, berteriak kaget.
"Ah. "
Paman Wilson yang mendengar suara itu
buru-buru turun ke bawah, "apa yang sudah terjadi?"
"Gadis ini benar-benar kurang ajar, lihat lah yang sudah dia lakukan!" ucap paman Sam sambil menunjukan kekacauan yang Anne buat di lantai.
"Kalian yang sudah memulai dahulu! Tidak masalah jika kalian hanya mengataiku, tapi jangan membicarakan soal ibuku!" Anne berseru dengan emosi meletup.
"Sudah lah, sudah .., tidak baik seperti
ini," paman Wilson menengahi.
Paman Sam beserta istrinya tampak kehilangan selera makannya, "Wilson, maafkan aku hari ini sepertinya aku tidak jadi makan malam di sini, aku akan kesini lain waktu saja." mereka berdua lalu berjalan menjauh menuju pintu.
Dari arah lain juga tamu yang lain, tampak ingin pulang, mereka pun berjalan beriringan mengikuti pria tadi keluar.
"Hei, kalian ingin kemana? Kita bahkan
belum jadi makan malam." cegah bibi Evelyn.
"Sudahlah biarkan mereka pergi, obatilah
lukamu di atas, aku akan membereskan
kekacauan ini," sahut paman Wilson.
"Apa maksudmu membiarkan mereka pergi?" bibi Evelyn lalu menatap Anme
dengan tajam lalu menunjuk wajahnya dengan jarinya, "kamu sudah mengacaukan acara makan malam keluarga, kamu benar-benar tidak punya malu,"
"Bukankah ini tujuan bibi mengundang
ku untuk mempermalukan ku?" Anne membalasnya dengan tatapan mencibir.
"Lalu kenapa bibi tak suka? Bibi membuat drama ini dengan rapi, bagaimana aku bisa menolaknya?"
"Apa yang kamu katakan itu?" Selina ikut
bersuara.
"Ibuku mengundang makan malam denganmu dengan niat baik, tapi kamu malah mengacaukannya, dan malah berbicara seperti ini? Kamu benar-benar tidak punya malu." lanjut Selina.
"Sungguh niat yang benar-benar baik, kalian bahkan mengundang banyak orang untuk memeriahkan drama kalian! Juga supaya Davin bisa melihat keburukan ku, lelucon macam apa ini?" sahut Anne.
"Lelucon katamu? Kamu di lahirkan memang untuk menjadi lelucon, ibu mu pergi setelah melahirkanmu, dan ayahmu
membesarkanmu sendiri sekuat tenaga, tapi saat kamu besar kamu malah menjadi jalang yang tidak tahu malu!" balas bibi Evelyn.
"Siapa maksudmu yang jalang? dan tidak
tahu malu?" Anne bertanya.
"Kalian sudah lupa, empat tahun yang
lalu?" lanjutnya.
Selina mulai panik, "jelas-jelas kamu yang jalang, kamu yang bermalam dengan gigolo dan melahirkan anaknya, tapi masih tak terima dan menuduhku yang melakukannya?"
"Siapa yang mengajakku ke bar? Memesankan minuman untukku dan aku
harus pura-pura kencan dengan temanmu yang tak lain adalah gigolo itu, dengan tujuan untuk mencari perhatian Davin lagi, supaya dia bisa membicarakan pernikahan itu? Itu semua kamu Selina, Kamu yang sengaja melakukan itu padaku untuk menyingkirkan ku agar kamu bisa menikah dengan Davin, dan kamu masih tak mau mengakuinya?"
"Aku yakin bibi terlibat di dalamnya untuk
mengacaukanku!"
Plak!
"Jaga mulutmu!"
Satu tamparan keras mendarat di pipi Anne dari telapak tangan Evelyn, hingga sudut bibir Anne terluka dan mengeluarkan darah.
Anne terdiam wajahnya menunduk dalam.
"Evelyn! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu menamparnya?" paman Wilson menahannya.
"Pergilah!" Evelyn mendorong suaminya, meminta pria itu untuk menjauh dan tak ikut campur.
Dia kemudian mengalihkan tatapan tajamnya pada Anne dan menguliti gadis itu dengan sorot matanya, "kamu sendiri yang sudah melakukan hal memalukan itu tapi masih tak terima dan menyalahkan orang lain? Dengarkan aku, aku mengundangmu kesini untuk membuatmu sadar bahwa Davin dan Selina sudah menikah. Jadi kamu harus tahu diri, seandainya kamu masih berani merayu Davin lagi, maka kamu akan tahu akibatnya."
Anne menyipitkan matanya, tak terfikirkan bahwa ini lah tujuan lain bibinya, ia sama sekali tak pernah berniat untuk menggoda Davin lagi, bahkan perasaan yang dulu pernah dimilikinya untuk pria itu sudah
hilang tak berbekas.
"Kalian akan membayar semua yang kalian lakukan hari ini!" Anne berucap.
"Lucu sekali, beraninya kau mengancamku.." Evelyn ingin mendorong
kursi roda Anne saat tangannya sudah terulur mendekatinya.
"Berhenti!" tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan menghentikan langkah Evelyn
yang belum terjadi.
Semuanya menoleh kebelakang dan melihat Davin, Anne juga tercengang jika Davin lagi-lagi menyelamatkannya.
"Davin."
Davin menatap Anne dengan dalam dan perasaan iba, "Deon, tolong antar Anne pulang." perintahnya kemudian pada Deon.
"Baik, tuan!" Deon yang mengikuti Davin itu pun berjalan mendekati Anne dan mendorong kursi rodanya keluar dari rumah itu.
Paman Wilson kemudian ikut mengantarnya keluar.
"Davin, kita tidak bermaksud mempermalukan Anne." kata Evelyn menjelaskan, "aku dan Selina itu peduli dengan nya dan bertanya tentang kondisinya. Tapi dia malah marah, memecahkan gelas, dan melukai tanganku." ungkap Evelyn seolah menjelaskan keburukan Anne agar membuat pria itu membenci gadis itu.
Namun Davin mengacuhkannya lalu pergi.
***
Anne tiba di luar rumah, dia lalu meminta Deon untuk berhenti.
"Berhenti sampai sini saja!"
"Anne maafkan bibimu di dalam tadi, ya!"
ujar pama Wilson yang ternyata mengikutinya di belakang.
Anne terus saja terdiam, dia sudah jengah mendengarkan lagi tentang mereka, apa yang bibi dan sepupunya lakukan sangatlah keterlaluan.
"Nona Anne,"
Di saat ia termenung, sapaan dokter Stella terdengar.
Anne mengangkat wajahnya dan melihat mobil milik bosnya sudah terparkir di depannya, dokter Stella beserta para pengawal yang meninggalkan Anne sempat khawatir, mereka ingin masuk ke dalam untuk memastikan kondisi Anne, namun saat mereka tiba di depan teras, Anne sudah keluar.
"Apa yang sudah terjadi padamu nona?
Mengapa bibirmu terluka?" dokter Stella sangat khawatir, ia mengerutkan keningnya dan melihat itu adalah bekas luka tamparan.
"Siapa yang sudah menamparmu?" Anne masih enggan menjawab.
"Yasudah kalau begitu kita masuk ke dalam mobil dahulu, saya akan membantu mengobati luka di wajah nona," kata dokter Stella, para pengawal kemudian membantu memapah tubuh Anne masuk ke dalam mobil.
Deon dan paman Wilson hanya menatap
heran dari kejauhan.
Setibanya di dalam mobil, dokter Stella
pun mengobati luka di bibir Anne dengan kapas lembut untuk membersihkan darah yang keluar dari sana.
"Nona, tuan Viktor bilang supaya kita menuruti apapun permintaan nona, katakan siapa yang sudah melakukan ini?" seru dokter Stella.
Anne termenung, tawaran dokter Stella mengisyaratkan seolah ia siap membalas
perlakuan orang yang sudah membuat dirinya seperti ini.
Dan ia harus terkejut ketika Viktor menawarkan segala kebaikan untuknya, ia jadi kian gugup, apakah pria itu benar-benar menyukainya? la hanya karyawan bar namun Viktor memperlakukan dirinya berbeda.
"Nona, tidak perlu takut. Kekuasaan Davin bukan sebuah ancaman untuk tuan Viktor." ucap dokter Stella lagi.
"Terimakasih, tapi aku tidak mau merepotkan orang lain, dan melibatkan siapapun untuk masuk ke dalam urusan
keluargaku.
"
"Baiklah," dokter Stella terdiam.
Setelah luka Anne selesai di obati, mobil pun melaju pergi.
Namun di tengah perjalanan itu, dokter Stella diam-diam melaporkan kejadian malam ini pada Viktor.
Karena saat dokter Stella meminta izin pada Viktor pria itu mengizinkannya dengan memberi sebuah syarat bahwa ia harus melaporkan apapun yang terjadi pada Anne.
"Tuan, aku rasa sudah ada sesuatu yang
terjadi pada nona Anne saat ia berada di
dalam rumah keluarganya, aku melihat ada luka bekas tamparan di bibirnya, pasti pelakunya ada di antara Davin, paman dan bibinya, atau sepupunya yang merupakan istri dari Davin."
Viktor membaca isi pesan itu saat ia sedang duduk di ruang kerjanya, pandangannya seketika saja langsung menggelap.
Dia merasa sangat emosi.
Setelah pulang barulah dokter Stella menghadap Viktor di ruangannya.
Seketika ia langsung di hadapkan dengan sorot mata tajam dari wajah dingin pria itu.
Dokter Stella berdiri dengan degup jantung bertalu-talu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Viktor.
Tubuh gemetar dokter Stella berlangsung membaik kala pertanyaan yang di dengar bisa ia jawab.
"Nona Anne sudah istirahat di kamarnya,
saya sudah mengobati lukanya dan menyuapi dia makan." jawabnya.
Kini giliran Vin yang di buat naik darah, "bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa kamu membiarkan nona Anne masuk sendiri ke rumah itu? Dan di ganggu oleh mereka?"
"Maafkan aku ini salahku!" dokter Stella merasa bersalah, ia pun tertunduk dalam.
"Mungkin karena nona Anne tak ingin
mereka masuk dan mengganggu privasinya, ah ... aku rasa ada rahasia yang sedang di jaga nona," sahut Hugo bawahan Viktor yang lain ikut bersuara.
"Sepertinya kita harus selidiki." ucap Vin.
"Tidak perlu!" Viktor menggerakan telapak tangannya sebagai isyarat untuk sebuah penolakan.
Pria itu mengisap sesaat rokoknya dan
berkata lagi, "katakan pada Davin, dan juga keluarganya bahwa mereka di undang untuk menghadiri acara amal tiga hari ke depan." Perintah Viktor.
"Baik, tuan." Vin dan yang lainnya mengangguk patuh.