Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DERIT SUARA DIPAN
Langit kembali berwarna keemasan. Arya pulang bersama kakek Lin. Sedangkan Julian. Pemuda itu sedang sibuk mengurus beberapa orang sakit di desa sebelah.
Aluna tersenyum menyambut kepulangan Arya dan kakek Lin. Di meja, Tersaji beberapa menu sederhana. Telur rebus, Sawi rebus. Ayam goreng dan nasi hangat.
"Siapa yang memasak ini?" Tanya Arya, Aluna membusungkan dadanya bangga. " Tentu saja aku." Jawabnya, Arya mengernyit tak percaya. " Benarkah?" Aluna cemberut. "Kamu tidak percaya?!" Kesalnya.
"Percaya, Hanya saja—" Arya berhenti berbicara, Kakek Lin hanya tersenyum. "Aluna, Kamu masak sendirian?" Tanyanya lembut. Aluna menggeleng cepat. "Di bantu dan di ajari oleh bu sari. Sebagai gantinya, Aku memberikan 2 butir telur ayam." Ucap Aluna. Arya tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala gadis itu. "Pintar."
"Sudah, Ayo makan." Ucap Aluna, Kakek lin dan Arya mengangguk. Setelah seharian menguras tenaga. Ternyata bertemu nasi hangat dengan beberapa menu sederhana terasa nikmat.
Di tengah makan malam, Aluna memberanikan diri."Arya, Ini." Aluna memberikan sebuah sapu tangan bergambar phoenix. Terlihat berantakan, Tetapi melihat luka di tangan Aluna, Hati Arya menghangat.
"Terima kasih, Sayang." Arya mengecup singkat pipi Aluna. Kakek Lin berdehem. "Khem!" Kedua pasangan itu tersenyum canggung. Suasana makan malam terasa hangat, Dan damai.
Setelah makan malam, Kakek Lin pamit untuk kembali ke dalam rumahnya. Rumah kakek Lin ada 2. Satu untuk istirahat, Lalu satunya untuk Julian mengobati orang. Dan kini, Arya dan Aluna menempati satu rumah milik kakek Lin, Yang biasanya Julian pakai untuk mengobati orang. Tetapi dengan uang 10 tael emas yang di berikan Arya, Julian dapat membuat satu gubuk lagi untuknya khusus merawat pasien.
Tinggallah Aluna dan Arya, Suasananya cukup sepi, Aluna yang kini sibuk menyalakan lilin untuk penerangan, Dan Arya yang sudah berbaring di atas dipan.
Terdengar suara geluduk di sertai angin dingin, Arya menatap atap jerami itu, Sepertinya akan turun hujan. Tak lama, Benar saja suara air jatuh mulai memenuhi atap jerami mereka, Hujan semakin deras. Sesekali suara petir menyambar. Beberapa air mulai menetes dari balik atap.
"Arya, Bocor!" Panik Aluna, Arya terlihat berpikir lalu mengangguk. "Besok akan aku perbaiki." Ucapnya, Aluna mengangguk. Gadis itu merebahkan tubuhnya di samping Arya.
"Arya, Tadi aku belajar menjahit dan menyulam." Ucap Aluna, Arya mengangguk dan tersenyum. " Kau hebat, Tapi aku khawatir dengan-mu." Ucap Arya menatap tangan aluna." Aku senang melakukannya, Apalagi. Tidak ada orang yang mengatai-ku bodoh di sini, Semuanya tersenyum hangat padaku." Ucap Aluna, Arya tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Aluna. "Istriku, Pintar." Pujinya.
Hujan semakin deras ,Suaranya begitu kencang berasal dari atap jerami, ada 3 titik yang bocor. Arya bangkit dan buru-buru menaruh baskom dan tempurung kelapa untuk nampung air. Ia menghela nafas berat. Sebelumya, Ia tak pernah ada di posisi ini. Bahkan menyentuh cangkir rusak pun ia tak pernah.
Aluna meringkuk di dipan, Selimutnya ditarik sampai dagu. Ia terlihat Kedinginan, Arya mendekat dan kembali berbaring di sebelah Aluna. "Maaf ya. Besok akan segera aku perbaiki atapnya." Bisiknya sambil tidur di sebelah Aluna.
Aluna geleng. "Engga apa-apa. Aku pernah kedinginan seperti ini, Hingga tidak tertidur." Arya menatap Aluna dengan mimik wajah sendu, Ia lupa, Bahwa Aluna sudah lebih dulu menderita. "Kau gadis yang kuat." Ucap Arya, Aluna tersenyum.
"Oh ya!" Aluna terbangun dengan wajah semangat. "Arya, Aku ingin punya anak!" Teriaknya. Arya hampir saja menjatuhkan mulutnya, Gadis itu serius?
"Mengapa kau tiba-tiba ingin punya anak?" Bingung Arya. Aluna tersenyum dan menjawab. "Kata bu sari, Kalau kita tidak punya anak di usia muda, Nanti kita bisa kesulitan punya anak." Ucap Aluna, Arya mematung.
Apa saja yang para wanita tua itu katakan padanya—Arya.
"Jadi ayo, Kita buat anak." Ajak Aluna, Arya menelan salivanya kasar. " Aluna, Untuk sekarang, Kau tidak akan kuat." Khawatir Arya, Aluna menunduk sedih.
"Jadi, Belum bisa? Memangnya bagaimana cara buatnya? Beritahu aku." Aluna menatap Arya serius, Pria cuek itu menarik nafasnya dalam, Dan menghembuskannya dengan berat. "Itu bisa menyakiti-mu. Kau tidak akan kuat."
"Aku kuat!" Potong Aluna, Arya semakin terlihat gelisah. "Kau tidak kuat." Tekan Arya. "Kuat, Sangat kuat!" Kekeh Aluna. Gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh Arya dengan kencang. "Ayo kita buat, Cepat!" Teriak Aluna, Arya menatapnya dalam.
"Kau yakin? Jika ingin melakukannya. Kau tak boleh berhenti dan menolak-ku jika kesakitan. Apakah kau siap?" Tanya Arya memastikan sekali lagi, Aluna mengangguk tegas. "Tentu saja!"
Arya berjalan menuju sebuah guci air minum, Aluna memiringkan wajahnya bingung. Ia ikut berdiri menatap apa yang sedang Arya lakukan. "Mengapa Arya menatap guci air lama sekali, Arya haus?" Bingung Aluna, Arya tersenyum. "Kita butuh banyak air, Karna melakukan hal 'itu' Perlu tenaga lebih." Ucap Arya, Aluna mengangguk.
"Apa airnya cukup?" Tanya Aluna, Arya mengangguk. "Sangat cukup, Ayo." Tatapan Arya menggelap. Suaranya juga terdengar berat. Tanpa sadar, Tubuh Aluna bereaksi seolah merasakan tanda bahaya yang ia tak tahu apa itu.
"Aluna."Serak Arya. " Aku menginginkan-mu." Arya menggendong aluna.
Kriett!
Dipan kayu itu berderit, Saat Arya dan Aluna naik. Suasana hujan yang dingin dengan cahaya lilin yang hampir redup itu menambah kesan mendebarkan. Aluna tak mengerti, Mengapa jantungnya berdetak hebat.
"A—Arya." Aluna terlihat gugup, Arya tersenyum tipis. Ia menarik dan mengunci kedua tangan Aluna di atas kepala mereka.
"Buka mulut-mu." Perintahnya, Tatapannya semakin gelap. Aluna menurut, Tak lama. Arya melumat bibirnya dengan cukup kasar, Sehingga bunyinya terdengar lumayan nyaring. Arya melumat dan menyesap lidahnya dengan nafas berat.
"Eumm!" Aluna mendorong pelan tubuh pria itu, Namun tak bergeser sedikit pun. Arya terlihat memejamkan kedua matanya sambil terus melumat bibir aluna. Semakin lama, Lidah Arya semakin masuk dan mengacak acak setiap rongga di dalam mulutnya.
Aluna menahan tubuh Arya sedikit, Wajahnya memerah. Membuktikan bahwa ia hampir kehabisan nafas. "Huh!" Aluna kembali bernafas, Menatap Arya yang masih menatapnya lurus.
Tangan Arya mulai bergerak melepas pakaian tipis Aluna, Gadis itu hanya diam dan menurut saja. Meskipun ia memiliki sedikit keraguan untuk melakukannya.
Untuk kesekian kalinya, Arya menatap wajah Aluna dengan kedua mata gelapnya." Kau yakin, Ingin melakukan lebih dari ini?." Tanya Arya, Aluna berdebar tak menentu. Meskipun ia tak mengerti, Tetapi ia merasa Arya sangat menginginkannya.
"Lakukan...lakukan saja." Ucap Aluna dengan gugup. Arya tersenyum, Kali ini Arya lebih gencar melepas satu persatu pakaian yang menutupi tubuh indah istrinya. Dengan bibirnya yang terus memangut bibir ranum Aluna. C*uman panas itu turun menuju leher, Meninggalkan bekas kemerahan yang sedikit perih. "Euh!" Eluh Aluna, Arya menatapnya sekilas, Setelah itu kembali melanjutkan aksinya.
Arya melepas jubah dan pakaian dalam tipisnya, Menyisakan tubuh atletis yang mampu membuat Aluna menelan salivanya kasar. Arya menatap Aluna lebih dalam, Tubuh besarnya mulai menindih gadis mungil itu. "Ini akan sedikit sakit, Menangis saja jika tidak kuat." Ucap Arya dengan serak. Aluna mengangguk cepat, Jantung keduanya memompa cepat.
Di luar, Hujan semakin besar. Atap yang bocor pun semakin banyak menjatuhkan air. Tetapi Aluna dan Arya seakan lupa bahwa mereka kini berada di dalam gubuk reyot yang kapan saja bisa rubuh.
Kriett...kriettt...
"Ah! Eumm!"
Derit suara dipan reyot itu terus berbunyi tertutup samar oleh suara hujan. Aluna menangis sambil menutup mulutnya. Arya bergerak cepat, Gerak tubuh Arya bersamaan dengan suara derit dipan kayu itu.
TBC
like dan komen
ditunggu kelanjutannya 🙏