NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Duel di Lembah Setan

Lembah Setan bukanlah nama resmi di peta Jianghu, melainkan nama yang diberikan oleh para pedagang dan pengembara karena tempat itu terletak di celah sempit antara dua tebing hitam yang tinggi seperti taring, tempat angin berteriak sepanjang hari dan tanahnya berwarna merah karena terlalu banyak darah yang tumpah di sana selama ratusan tahun pertikaian antar sekte, sehingga ketika surat tantangan dari Sekte Iblis tiba di Klan Tang dan menyebutkan nama tempat itu sebagai lokasi duel antara Tang Hyun dan "Jari Besi" Han Luo, semua Tetua langsung terdiam karena mereka tahu bahwa siapa pun yang masuk ke lembah itu dan keluar hidup-hidup, biasanya bukan lagi manusia biasa, melainkan monster yang sudah meninggalkan sebagian jiwanya di antara batu-batu.

Tang Hyun berangkat tiga hari sebelum duel, hanya ditemani Tang So-yeon dan dua pengawal yang ditugaskan hanya untuk membawa barang dan tidak diizinkan ikut bertarung, karena aturan duel di Lembah Setan adalah satu lawan satu tanpa campur tangan, tanpa wasit, dan tanpa ampun, sebuah aturan yang ditulis dengan darah di batu besar di pintu masuk lembah oleh pendiri Sekte Iblis sendiri.

Perjalanan menuju lembah memakan waktu lima hari melalui jalan pegunungan yang berbahaya, dan sepanjang jalan Tang Hyun tidak banyak bicara, dia hanya duduk di atas kuda sambil memutar-mutar botol kecil berisi "Senandung Kematian" yang sudah dia modifikasi, menambahkan tiga jenis racun baru ke dalamnya agar efeknya lebih cepat dan lebih sulit dideteksi, karena dia tahu bahwa Han Luo bukan orang bodoh, pria itu adalah jenderal Sekte Iblis yang sudah membunuh lebih dari seratus orang dengan tangan kosong dan yang tubuhnya dikatakan sudah kebal terhadap setengah jenis racun yang ada di Jianghu.

"Kau gugup?" tanya Tang So-yeon di malam keempat ketika mereka berkemah di bawah pohon pinus.

"Tidak," jawab Tang Hyun, "aku hanya berpikir."

"Berpikir tentang apa?"

"Tentang apa yang terjadi jika aku kalah," jawab Tang Hyun jujur, "dan tentang apa yang terjadi jika aku menang."

Tang So-yeon melemparkan ranting ke api, "Jika kau kalah, maka Klan Tang akan kehilangan wajah. Jika kau menang, maka Sekte Iblis akan memburumu sampai mati."

"Lalu kenapa Nona masih ikut?" tanya Tang Hyun.

"Karena aku penasaran," jawab Tang So-yeon sambil tersenyum tipis, "aku ingin melihat monster seperti apa yang bisa lahir dari anak luar Klan Tang."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menatap api sampai fajar.

Pagi hari duel, kabut tebal menyelimuti Lembah Setan, dan di pintu masuk sudah menunggu ratusan orang, bukan hanya dari Sekte Iblis, tetapi juga dari sekte netral yang datang untuk menonton, karena duel antara "Anak Racun" dan "Jari Besi" sudah menjadi gosip terbesar di Jianghu selama sebulan terakhir.

Di tengah lembah ada lingkaran batu dengan diameter dua puluh meter, dan di luar lingkaran itu tidak ada seorang pun yang boleh masuk, karena darah yang tumpah di dalam lingkaran adalah milik orang yang kalah.

Han Luo sudah menunggu di tengah, tubuhnya setinggi dua kepala Tang Hyun, ototnya seperti batu, dan tangannya dibalut kain hitam yang sudah mengeras karena darah kering, dan ketika dia melihat Tang Hyun masuk, dia tertawa keras sampai gema di tebing terdengar seperti petir.

"Anak kecil," kata Han Luo, "kau berani datang ke sini?"

"Aku datang karena kau menantang," jawab Tang Hyun tenang sambil melepas jubah luarnya, memperlihatkan jubah ungu gelap dan sepuluh jarum yang terselip di lengan.

"Tidak ada aturan," lanjut Han Luo sambil meretakkan buku jarinya, "yang mati kalah. Yang hidup menang."

Tang Hyun mengangguk, "Setuju."

Sinyal dimulai adalah ketika burung gagak terbang di atas lembah, dan begitu burung itu terbang, Han Luo langsung bergerak, kecepatannya tidak masuk akal untuk tubuh sebesar itu, dan dalam satu detik dia sudah berada di depan Tang Hyun dengan tinju yang diarahkan ke dada.

Tang Hyun menghindar dengan berguling di tanah, dan tinju itu menghantam batu di belakangnya dan menghancurkannya menjadi debu, membuat seluruh penonton berteriak karena mereka belum pernah melihat kekuatan sebesar itu.

"Kau licin," kata Han Luo sambil menyerang lagi, "tapi licin tidak akan menyelamatkanmu dari racun yang masuk ke paru-parumu."

"Siapa bilang aku tidak pakai racun?" jawab Tang Hyun sambil melemparkan bubuk merah ke udara.

Han Luo tertawa dan menahan napas, lalu dia mengayunkan tangannya dan menciptakan angin kencang yang meniup semua bubuk itu kembali ke arah Tang Hyun, memaksanya untuk mundur dan menggunakan jubahnya untuk menutupi wajah.

Pertarungan itu berlangsung brutal, tidak ada jurus indah, tidak ada Qi yang berkilau, hanya ada pukulan, tendangan, jarum, dan racun, Han Luo mengandalkan kekuatan dan daya tahan tubuhnya, sementara Tang Hyun mengandalkan kecepatan, kelicikan, dan racun yang dia sebarkan di setiap sudut lingkaran.

Lima menit berlalu dan keduanya belum terluka, tetapi tanah di sekitar mereka sudah penuh dengan lubang dan bercak darah, dan penonton mulai sadar bahwa ini bukan duel biasa, ini adalah perang antara dua filosofi, kekuatan melawan kelicikan, terang melawan bayangan.

Di menit ketujuh, Han Luo berhasil menangkap pergelangan tangan Tang Hyun dan melemparkannya ke udara, lalu dia melompat dan menghantam Tang Hyun ke tanah dengan lututnya, membuat tulang rusuk Tang Hyun retak dan membuatnya memuntahkan darah.

"Akhiri saja," kata Han Luo sambil mengangkat tinjunya untuk pukulan terakhir.

Tapi Tang Hyun tersenyum, darah masih di sudut mulutnya, "Terlambat."

Dan pada saat itu, Han Luo merasakan dadanya panas, panas yang mulai dari dalam dan menyebar ke seluruh tubuh, karena tanpa dia sadari, dia sudah menghirup racun yang Tang Hyun sebarkan sejak awal pertarungan melalui pori-pori kulitnya setiap kali dia berkeringat.

"Senandung Kematian... versi baru," gumam Han Luo dengan mata melebar, "tidak mungkin... kau..."

"Aku bilang, licin tidak akan menyelamatkanmu," kata Tang Hyun sambil berdiri dengan susah payah, "tapi racun pasti bisa."

Han Luo meraung marah dan mencoba menyerang lagi, tetapi tubuhnya sudah mulai lumpuh, langkahnya goyah, dan pukulan terakhirnya meleset sejauh satu meter dari kepala Tang Hyun dan menghantam tanah, menciptakan kawah besar.

Tang Hyun tidak memberinya kesempatan kedua, dia melangkah maju dan menusukkan jarum ke tiga titik di leher Han Luo, titik yang akan mempercepat kerja racun dan menghentikan jantungnya dalam waktu sepuluh detik.

Han Luo jatuh berlutut, lalu jatuh telentang, matanya masih terbuka, dan di wajahnya ada ekspresi tidak percaya bahwa dia, "Jari Besi" yang terkenal, mati di tangan anak berusia dua puluh tahun dari Klan Tang.

Keheningan, lalu sorakan dari pihak Klan Tang dan keheningan mematikan dari pihak Sekte Iblis.

Tang Hyun berdiri di tengah lingkaran, tubuhnya penuh luka, tetapi dia tidak jatuh, karena dia tahu bahwa jika dia jatuh sekarang, maka Sekte Iblis akan menganggapnya lemah dan akan menyerang.

"Menang," katanya pelan, hanya cukup untuk didengar oleh dirinya sendiri.

Tang So-yeon adalah orang pertama yang masuk ke lingkaran, dia menggendong Tang Hyun dan membawanya keluar, sementara para pengawal menutupi mereka dengan perisai karena ada beberapa orang dari Sekte Iblis yang terlihat ingin membalas dendam.

Mereka kembali ke Klan Tang dalam waktu tujuh hari, dan berita kemenangan Tang Hyun menyebar lebih cepat daripada mereka, sehingga ketika mereka tiba, seluruh gerbang Klan sudah dihiasi lampion dan semua murid berbaris untuk menyambut "Pedang Klan Tang" yang baru saja mengalahkan salah satu dari Empat Jenderal Sekte Iblis.

Tetua Ketiga menyambutnya di aula utama, "Kau melakukan hal yang mustahil," katanya.

"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan," jawab Tang Hyun lemah karena kehilangan banyak darah.

"Kau sekarang resmi menjadi penerus," lanjut Tetua Ketiga, "mulai hari ini, kau adalah Wakil Kepala Klan Tang."

Pengumuman itu membuat aula gempar, karena belum pernah ada murid berusia dua puluh tahun yang naik setinggi itu, dan ada beberapa Tetua yang wajahnya langsung menjadi gelap karena iri.

Malam itu ada perayaan besar, tetapi Tang Hyun tidak ikut, dia langsung pergi ke kamarnya dan tidur selama dua hari penuh, karena tubuhnya akhirnya runtuh setelah menahan rasa sakit selama ini.

Ketika dia bangun, orang pertama yang dia lihat adalah Tang So-yeon yang duduk di samping tempat tidurnya, membaca buku.

"Kau menang," kata Tang So-yeon tanpa menoleh.

"Aku tahu," jawab Tang Hyun.

"Kau juga hampir mati," lanjut Tang So-yeon, "tulang rusukmu retak tiga, paru-parumu bocor sedikit, dan kau kehilangan terlalu banyak darah."

"Berarti aku masih hidup," kata Tang Hyun sambil tersenyum.

Tang So-yeon menutup bukunya, "Sekte Iblis mengirim surat lagi."

"Apa isinya?"

"Perang," jawab Tang So-yeon, "mereka menyatakan perang terbuka terhadap Klan Tang. Alasannya, kau membunuh Han Luo dengan cara curang."

Tang Hyun menghela napas, "Seperti yang kuduga."

"Dua minggu dari sekarang, mereka akan menyerang perbatasan Sichuan," lanjut Tang So-yeon, "dan mereka menuntut agar kau maju sebagai perwakilan Klan Tang."

Tang Hyun duduk, "Aku akan pergi."

"Kau belum sembuh," kata Tang So-yeon.

"Aku akan sembuh di jalan," jawab Tang Hyun, "karena kalau aku tidak pergi, maka anak-anak di desa perbatasan yang akan mati."

Tang So-yeon tidak membantah, karena dia tahu itu benar.

Tiga hari kemudian, Tang Hyun berangkat lagi, kali ini sebagai pemimpin pasukan kecil Klan Tang, lima puluh orang, semuanya ahli racun dan pembunuh, dan misinya adalah mempertahankan desa perbatasan bernama Desa Bunga Plum, desa yang menjadi jalur utama perdagangan Klan Tang.

Perjalanan ke desa itu berbahaya, karena di sepanjang jalan mereka diserang oleh kelompok kecil Sekte Iblis, tetapi Tang Hyun menggunakan taktik baru, dia tidak melawan langsung, dia meracuni sumber air musuh, membuat mereka lumpuh sebelum pertarungan dimulai, sebuah taktik yang membuat pasukannya kagum dan takut pada saat yang bersamaan.

Setibanya di Desa Bunga Plum, dia menemukan desa itu sudah setengah kosong, karena penduduknya sudah melarikan diri setelah mendengar kabar perang, dan yang tersisa hanya beberapa orang tua yang menolak pergi.

"Kami tidak akan pergi," kata kepala desa, seorang pria tua berusia tujuh puluh tahun, "ini tanah leluhur kami. Jika kami pergi, maka kami mati."

Tang Hyun mengangguk, "Baiklah. Maka kita akan bertahan di sini."

Mereka memperkuat pertahanan selama tiga hari, menggali parit, menaruh jebakan racun, dan melatih para pemuda desa yang tersisa untuk menggunakan busur.

Di hari keempat, pasukan Sekte Iblis datang, seribu orang, dipimpin oleh dua jenderal baru yang menggantikan Han Luo, dan mereka membawa bendera hitam dengan tengkorak merah di tengahnya.

Pertarungan berlangsung selama satu hari penuh, dari pagi sampai malam, dan Tang Hyun bertarung di garis depan, menggunakan racun, pedang, dan juga darahnya sendiri untuk membuat kabut yang membuat musuh kebingungan.

Di tengah pertarungan, salah satu jenderal Sekte Iblis berhasil menerobos masuk dan hampir membunuh kepala desa, tetapi Tang Hyun memblokir serangan itu dengan tubuhnya dan menerima luka di punggung yang dalam.

"Kau bodoh," kata kepala desa sambil menangis.

"Ini tugasku," jawab Tang Hyun sambil tersenyum, "melindungi."

Berkat pengorbanan itu, moral pasukan Klan Tang naik, dan mereka berhasil memukul mundur Sekte Iblis, memaksa mereka mundur dengan meninggalkan ratusan mayat.

Setelah pertempuran, Tang Hyun pingsan karena kehilangan darah, dan dia dirawat selama seminggu oleh tabib desa dan Tang So-yeon yang datang membawa bala bantuan.

Ketika dia bangun, perang sudah berakhir, setidaknya untuk sementara, karena Sekte Iblis mundur ke pegunungan dan tidak menyerang lagi.

Berita tentang "Pertahanan Desa Bunga Plum" menyebar ke seluruh Jianghu, dan nama Tang Hyun sekarang tidak hanya dikenal sebagai pembunuh, tetapi juga sebagai pelindung, sebuah reputasi yang langka untuk seseorang dari Klan Tang.

Kembali di Klan, dia diangkat secara resmi sebagai Wakil Kepala Klan, dan upacara pengangkatannya diadakan dengan dihadiri oleh semua Tetua dan kepala cabang.

Dalam pidatonya yang singkat, Tang Hyun hanya berkata satu kalimat: "Aku akan melindungi Klan ini, dengan racun, dengan darah, dan dengan nyawaku."

Kalimat itu membuat banyak orang menangis, bahkan beberapa Tetua tua yang sudah keras hati.

Malam setelah upacara, dia kembali ke atap paviliunnya, dan Tang So-yeon datang seperti biasa.

"Jadi, Wakil Kepala," kata Tang So-yeon sambil menyerahkan secangkir teh.

"Jangan panggil aku begitu," kata Tang Hyun, "panggil aku Tang Hyun."

"Baik, Tang Hyun," kata Tang So-yeon sambil tersenyum, "lalu, apa rencana selanjutnya?"

Tang Hyun menatap bulan, "Istirahat. Lalu bersiap. Karena perang sesungguhnya baru akan dimulai."

"Perang dengan siapa?"

"Dengan semua orang," jawab Tang Hyun, "dengan Sekte Iblis, dengan istana, dengan dunia yang tidak ingin melihat Klan Tang berdiri."

Tang So-yeon mengangguk, "Maka aku akan berada di sampingmu."

Tang Hyun menoleh, "Kenapa?"

"Karena aku sudah bosan melihat orang baik mati," jawab Tang So-yeon, "dan karena... aku ingin melihat seperti apa dunia jika kau yang memimpinnya."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menggenggam cangkir tehnya erat.

Di kejauhan, suara genderang perang terdengar pelan, pertanda bahwa pasukan Sekte Iblis sedang berkumpul kembali di pegunungan.

Dan Tang Hyun tahu bahwa waktu damai mereka sudah habis.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!