Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir saja
Emma ngga akan menyerah untuk mendapatkan Arsen. Kalo dia tidak bisa mendapatkannya, perempuan lain pun tidak boleh mendapatkan Arsen, tekatnya dalam hati.
Walaupun Arsen sudah menolaknya dengan kejam, Emma akan terus memperjuangkan Arsen.
Sekarang dia sudah berada di ruangan Ananta. Mama suaminya memintanya menjemput anak kakak Sudrajat yang bersekolah di kindergarten yang ngga jauh dari rumah mertuanya yang letaknya memang strategis. Yang mengejutkan nama guru kindergartennya Ananta.
Flashback on
"Ananta?" Emma mengulang.perkataan mama mertuanya dengan nada penuh tanya.
"Iya, Ananta. Gadis itu akan menikah dengan Arsen Angkasa, rekan bisnis suamimu beberapa hari lagi," jelas mama mertuanya ketika dia berusaha memastikan.
Emma tertegun mendengarnya.
Jadi calon istri Arsen hanyalah guru TK?
Hampir saja Emma tergelak.
Arsen, standarmu turunnya jauh banget. Masa kamu menggantikan aku hanya dengan seorang guru TK?.decaknya dalam hati.
Pasti dia trauma dengan model atau artis, hinanya lagi dalam hati.
Dia mendapatkan kesempatan dua kali dari semesta untuk menggagalkan pernikahan Arsen dan Ananta. Semesta saja tidak menginginkan kedua orang itu bersama.
Tentu saja kesempatan kedua ini ngga akan dia sia siakan. Kesempatan pertamanya tadi sudah tidak ada harapan.
"Baik, ma." Senyum bahagianya terkembang lebar.
Flashback off
Karena itu sekarang ini dia sudah berada di sini. Emma memperhatikan ruangan yang dindingnya hampir polos bersih. Hanya ada foto presiden, wapres.dan burung garuda.di sana.
Di meja kerjanya pun tidak ada bingkai foto untuk dipamerkan. Hanya ada beberapa buku dan pulpen.
Kalo dia yang jadi Ananta, foto Arsen berdua dengannya akan dia pajang. Akan dia pamerkan, agar semua orang tau siapa pemilik laki laki itu.
Dasar bodoh, umpatnya penuh ejekan.
Rupanya kamu hanya gutu TK? decihnya meremehkan.
Terdengar suara pintu ruangan yang terbuka dan suara derap halus sepatu yang memasuki ruangannya.
Emma menunggu dengan tidak sabar.
"Maaf menunggu lama, Satya sedang ke kamar mandi," ucap Ananta bermaksud duduk di kursinya. Tapi tidak jadi dia lakukan karena tatapnya kini bertemu dengam Emma yang.sedang tersenyum manis.
"Halo kita ketemu lagi. Masih ingat saya, kan? Biar saya perjelas kalo saya mantan Arsen."
Tubuh Ananta bergeming. Pertemuan yang tiba tiba dan kata kata yang diucapkan istri orang di depannya ini membuatnya tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya.
"Oh iya. Mantan dan sudah jadi istri orang lain, ya," ucap Ananta setelah bisa mendapatkan kembali ketenangannya.
Emma kali ini yang gantian merasa terkejut dengan balasan berani Ananta. Dia pikir guru ini akan insecure padanya.
"Begitulah." Dia mencoba tetap angkuh.
"Anda bukan ibunya Satya, kan?" Ananta menatap tajam. Dia pernah bertemu dengan orang tua anak didiknya.
Emma menggelengkan kepalanya.
"Saya tantenya."
"Ya, tadi ibu mertua anda sudah menelpon ke pihak sekolah." Ananta sudah tau, hanya tidak menyangka terjadi kebetulan seperti ini.
"Pertemuan ini seolah sudah direncanakan semesta, ya. Sepertinya ini pertanda kalo rencana pernikahan anda tidak akan berhasil."
Ananta tersenyum mendengarnya.
"Anda terlalu sering nonton sesi paranormal," sindir Ananta datar.
Emma mencoba tetap tenang mendengar perkataan Ananta yang menyindirnya. Mumpung keponakannya masih berada di kamar mandi, dia akan memprovokasi Ananta sebisanya.
"Dulu calon suami anda pernah saya tolak. Saya tau dia mencintai saya selama bertahun tahun hingga tidak punya kekasih selama itu. Sekarang pernikahan anda berdua adalah murni dijodohkan. Saya yakin di dalam hatinya masih ada saya."
Ananta menghela nafas panjang. Dia teringat kata kata Arsen kalo sudah melupakan wanita ini.
"Justru karena sudah lama, jadi saya ngga akan merasa khawatir. Lebih baik anda memikirkan rumah tangga anda saja dari pada cerita masa lalu yang sudah usang." Ananta masih tetap berusaha tersenyum manis. Dia ngga mau saat muridnya masuk, melihatnya sudah menjambak rambut tantenya.
Satya bisa ketakukan dan citra baik yang sudah dibangunnya dengan penuh kesabaran dan susah payah akan hilang.
"Apa salahnya saya mencemaskan anda. Anda guru keponakan saya, jadi kinerja anda harus optimal sebagai guru, jangan sampai terganggu akibat hubungan anda dengan calon suami yang bermasalah."
Saat Ananta akan membalasnya, terdengar suara ketukan. Guru yang mendampingi Satya ke kamar mandi, kemudian membuka pintu ruangan Ananta.
"Bu, Satya menunggu di tempat biasa," lapornya sopan setelah mengangguk pada Emma.
Emma segera berdiri.
"Baiklah saya pergi dulu. Ohya, tadi saya menemui Arsen. Saking kangennya saya menunjukkan dada saya padanya," bisiknya dengan kerling penuh arti. Emma kemudian berbalik pergi meninggalkan Ananta yang nasih mematung.
Sabar Ananta. SABAR. Ananta masih menatap wanita yang merupakan istri orang itu tanpa mengatakan apa apa hingga pintu ruangan tertutup dan hanya menyisakan dirinya dan rasa panas di dalam hatinya.
Hampir saja Ananta menjambak rambut Emna dan membuatnya menjerit dramatis. Pasti itu yang diharapkan istri orang itu untuk menjatuhkan reputasinya.
*
*
*.
Ananta hanya diam saja saat Arsen menjemputnya. Kata kata Emma masih membekas di dalam hatinya.
Sejak kepergian wanita itu Ananta tidak bisa lagi konsentrasi. Dia selalu berpikir apa yang sudah dilakukan Arsen dengan dada Emma.
Tapi dia juga sangsi dengan kebenaran yang dikatakan istri orang itu. Dia ngapain ke perusahaan Arsen. Arsen hanya berurusan dengan suaminya.
"Ada apa?" tanya Arsen masih memegang ponselnya dan di tangan yang lain dia memegang kertas kertas yang ada di pangkuannya.
Ananda merasa dejavu dengan keadaan ini.
Dia ingat kemarahan Arsen karena masalah yang sama. Kecemburuannya pada Emma Celeste.
Tapi kali ini dia sulit mengendalikan pikiran buruknya. Biarlah dia dikatakan overthinking. Tapi dia ngga yakin kalo menanyakan pada Arsen, calon suaminya akan menjawab jujur.
Tapi kalo dia tetap mempertahankan kemarahannya, Arsen akan melakukan hal mengerikan seperti kemarin.
Ananta bingung. Haruskah dia pura pura percaya dengan penjelasan Arsen?
Ananta menghembuskan nafas panjang. Kalo itu yang dia lakukan, dia pasti akan punya ganjalan itu seumur hidupnya
"Kamu masih kecapean?" Arsen berusaha sabar melihat sikap Ananta yang berubah jadi pendiam.
Ananta menganggukkan kepalanya.
Arsen tersenyum sambil mengusap puncak kepala Ananta.
Perlakuan lembut Arsen sedikit meredamkan hawa cemburu di dalam hatinya.
Arsen tiba tiba meletakkan ponselnya ke sampingnya. Dia mengambil ipad keluaran terbaru dari dalam tasnya. Dia mengutak atiknya sebentar.
"Aku ingin menunjukkan kejadian hari ini di ruanganku padamu." Arsen memberikan ipad itu pada Ananta yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.
Pupil mata Ananta membesar saat melihatnya.
Gila, istri orang ini nekat sekali beneran datang ke ruangan suaminya.
Jantung Ananta berdebar mengingat soal dada yang dia bisikkan tadi padanya. Yang membuat Ananta cemburu setengah mati. Dia ingin tau, ingin secepatnya tau.
"Di ruanganku ada kamera cctv. Aku menunjukkan padamu karena aku ngga ingin menyembunyikan apa pun padamu," jelas Arsen ketika melihat Ananta sangat serius menatap layar ipadnya
Ananta hanya mengangguk. Dia sedang menunggu adegan dada yang membuatnya tadi hampir saja menghancurkan karirnya dan image papanya.
Dia ingin mempercepat adegan omong omong tak berarti ini tapi ngga enak sama Arsen.
Akhirnya adegan itu tiba juga. Ananta tercengang sesaat. Tapi ngga lama kemudian sekelumit senyum hadir di bibirnya
Hampir saja, batinnya penuh syukur dan kelegaan, karena tidak memperturutkan amarahnya akibat hasutan Emma.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?