Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBUKAAN HUTAN
Berkat dorongan tenaga gaib para jin laut, perjalanan yang seharusnya memakan waktu satu bulan berhasil dipangkas menjadi jauh lebih singkat. Kapal kayu agung itu akhirnya bersandar dengan mulus di dermaga kayu sederhana di pesisir Ujung Medini.
Di tepi pelabuhan, beberapa orang penduduk lokal dan seorang tetua desa sudah berdiri menunggu dengan raut penasaran. Begitu aku melangkah turun dari tangga kapal, tetua desa itu segera mendekat dan membungkuk hormat.
"Tuan... apakah Anda orang yang diceritakan oleh Raja Sriwijaya dalam suratnya?" tanyanya hati-hati.
Aku bergumam pelan dalam hati, *Sriwijaya, ya? Mungkin orang-orang di pelosok pesisir ini belum tahu perubahan politik luar bahwa pengaruh Sriwijaya sudah digantikan oleh Dharmasraya. Ya baguslah, tidak perlu repot menjelaskan.*
"Iya, saya Arya Sena," jawabku tenang namun berwibawa. "Ini istri saya, Rimbu, Putri Kerajaan Singhasari, beserta empat abdi wanitanya. Sisanya adalah rombongan dan pengawal saya."
Mendengar gelar bangsawan tersebut, mata tetua desa membelalak. "Oh, selamat datang, Tuan! Selamat datang di tanah kami!" ucapnya penuh rasa hormat, lalu berbalik memandu jalan.
Sementara para prajurit veteran, Mpu Sura, dan para pandai besi mulai bahu-membahu menurunkan perbekalan serta peralatan tempa dari kapal, aku berjalan di belakang sang kepala desa sembari mengamati lingkungan sekitar.
Dari penjelasan sang kepala desa sepanjang jalan, wilayah ini masih berupa pemukiman pesisir yang bersahaja. Jumlah penduduknya hanya sekitar 300 orang, didominasi oleh kaum wanita jika anak-anak dan para sepuh tidak dihitung—dampak dari konflik laut dan perang era sebelumnya yang menipiskan populasi pria.
Kepala desa berhenti di depan sebuah area dengan beberapa bangunan kayu yang cukup luas.
"Tuan, mulai sekarang Anda dan rombongan bisa tinggal di sini. Maaf kalau tempatnya terlalu sederhana..." ucapnya agak sungkan.
Aku menatap sekeliling pemukiman, mengamati potensi besar yang tersembunyi di balik kesederhanaan ini. Aku lalu menepuk pundaknya dengan senyum tipis.
"Tenang saja," ucapku mantap. "Sebentar lagi, kalian dan tempat ini akan membuka era baru."
Tetua desa itu hanya mengangguk bingung, mengumbar tawa kaku, lalu meminta izin untuk pamit.
Setelah tetua desa berlalu, aku meminta Rimbu, para abdi, dan pelayan wanita untuk beristirahat di dalam rumah terlebih dahulu. Sementara itu, aku mengumpulkan Mpu Sura, tiga pandai besi, serta sepuluh prajurit veteran di halaman luar.
Aku membentangkan selembar kain di atas meja kayu yang memperlihatkan peta berdasarkan ingatanku—pengetahuan modern tentang struktur geografis wilayah ini.
"Lihat ini," ujarku sambil menunjuk gambar di kain. "Pesisir Ujung Medini yang kita tempati sekarang baru permukaannya saja. Di belakang wilayah ini, masih tersembunyi bentangan tanah datar yang sangat luas dan subur. Kita akan membuka hutan itu, lalu mendirikan pemukiman baru dan pusat pemerintahan kita di sana."
Mpu Sura mengelus janggutnya yang memutih, menatapku dengan kening berkerut.
"Yang benar saja kau, Sena? Kita ini cuma berapa orang?" cetus Mpu Sura sambil menggeleng-geleng. "Kau pikir membangun rumah dan membuka lahan seluas itu bisa selesai dalam sehari?"
Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Sehari, ya? Terima kasih, Mpu. Aku jadi dapat ide," ucapku santai.
Mpu Sura dan para veteran saling pandang dengan wajah makin bingung. Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, aku bergegas melangkah menuju pedalaman hutan perawan di belakang desa.
Makin jauh melangkah, vegetasi makin lebat dan udara berubah dingin membeku. Aura gaib di hutan yang belum terjamah manusia ini terasa makin pekat dan mengerikan—penuh entitas penguasa hutan tua yang mengintai dari balik kegelapan pohon-pohon raksasa.
Namun, siapa peduli?
Aku sengaja melepaskan tekanan aura milikku yang selama ini kupendam rapat-rapat. Pendar energi sakti memancar kuat dari tubuhku, menerjang ke segala penjuru hutan bagai gelombang guncangan. Ini adalah pernyataan tegas: **penguasa baru telah datang, dan seluruh isi hutan harus tunduk.**
Begitu tekanan auraku menyapu belantara, pepohonan raksasa bergetar hebat. Dari balik bayang-bayang dedaunan lebat dan semak belukar, belasan penunggu gaib mulai menampakkan diri. Ada yang hanya mengawasi dari kejauhan dengan mata bersinar misterius, tetapi ada pula yang nekat menerjang hendak menyerang.
Tanpa membuang waktu, sekali sabetan gelombang energi dari tanganku langsung meratakan mereka yang bertindak gegabah. Debu dan asap gaib membumbung di udara.
Aku berdiri tegak di tengah hutan lalu berteriak nyaring, menggema menembus pelosok belantara, "Siapa penguasa di sini?! Keluar dan temui aku!"
Tanah bergetar. Langkah kaki berat terdengar memecah keheningan, disusul munculnya sosok raksasa tinggi besar berwajah mengerikan dengan dua mata merah membara. Tangan berototnya menggenggam erat sebuah gada besi raksasa. Ia meraung dahsyat tepat di hadapanku.
"Apa maumu, manusia?!" gertaknya dengan suara berat memekakkan telinga.
"Apalagi kalau bukan mengusir kalian," jawabku tenang tanpa gentar sedikit pun.
"Lancang sekali kau!" balasnya murka, menggetarkan pepohonan sekitar.
"Memang," ujarku santai, lalu menatapnya lurus. "Baiklah, perkenalkan, aku adalah penguasa baru daerah ini. Kalau kalian masih mau menetap, kalian harus patuh dan tunduk di bawah aturanku. Kalau tidak, terpaksa aku harus mengusir kalian. Atau... kalau nekat melawan, nasib kalian bisa seperti mereka yang mencoba menghalangiku sejak tadi."
Kemerahan mata raja hutan itu kian menyala. Merasa harga dirinya terinjak-injak, ia meraung memberi perintah kepada puluhan anak buahnya untuk mengeroyokku.
Pertarungan sengit pun pecah di tengah hutan. Namun, makhluk-makhluk ini sudah terlalu lama hidup di zona nyaman mereka tanpa pernah melatih kekuatan tempur secara sungguh-sungguh. Gerakan mereka lambat dan tidak terarah.
*SREEEKKK! TRASH!*
Hanya dengan beberapa ayunan kilat Pedang Naga Bharadasura, kilatan pendar emas membelah kegelapan hutan. Satu per satu anak buah raksasa itu tumbang dan musnah menjadi buih hitam. Pertempuran yang mereka kira akan seimbang justru berubah menjadi pembantaian singkat.
Melihat seluruh pasukannya dibantai dalam hitungan detik, kemurkaan sang raja hutan mendadak surut, berganti dengan rasa gentar yang luar biasa. Ia mundur dua langkah, mencoba menurunkan gadanya.
"T-tunggu! Ayo kita buat perjanjian untuk tidak saling mengganggu!" serunya mencoba bernegosiasi.
Aku menyarungkan sedikit hulu Bharadasura, menatapnya dingin.
"Perjanjian hanya ada untuk mereka yang setara," tegasku. "Pilihan kalian cuma tiga: tunduk dan patuh padaku, pergi dari hutan ini, atau dimusnahkan oleh pedang ini."
Mendengar ketegasan itu dan melihat aura membunuh yang terpancar dari Bharadasura, ketakutan melanda penghuni gaib hutan tersebut. Sebagian besar dari mereka memilih melarikan diri, berhamburan meninggalkan wilayah Ujung Medini secepat yang mereka bisa. Namun, ada pula beberapa yang memilih bertahan dan berlutut.
Tiba-tiba, dari balik kegelapan muncul sesosok jin yang cukup kuat. Tubuhnya menyerupai manusia bersayap dengan wajah menyerupai elang, mengacungkan sebilah golok tajam. Ia melompat menerjangku dengan serangan angin yang presisi.
Aku melayaninya dengan santai, melangkah menghindar sambil menangkis setiap tebasannya. "Lumayan juga," gumamku.
Ketika aku mulai serius, aku menambah kecepatan dan merampas senjatanya, mematahkan bilah golok itu menjadi dua dengan telanjang tangan. Jin berwajah elang itu sangat gigih; meski kehilangan senjata, ia tetap mengepakkan sayap dan menyerang menggunakan cakarnya.
Dengan satu gerakan cepat, aku mengepakkannya ke tanah, merobek salah satu sayapnya hingga ia terkapar melengking kesakitan dan tak berdaya.
Aku beralih menatap Raksasa Bermata Merah yang masih ragu-ragu di belakang. "Sekarang giliranmu, Raksasa. Tunduk, pergi, atau mati?"
"Lebih baik aku mati!" raungnya memaksakan sisa tenaga. Ia mengangkat gada besinya dan nekat menerjang, meski tubuhnya sudah gemetar hebat.
Aku melirik jin berwajah elang yang sayapnya baru saja kurobek. "Hei, kau. Kalau mau hidup, buktikan kau berguna."
Jin berwajah elang itu menengadah, menatapku dengan mata bulatnya yang sarat akan pertanyaan.
"Bunuh dia. Buktikan kalau kau berguna," perintahku dingin.
Tanpa menunggu instruksi kedua, jin bersayap itu membangkitkan naluri bertahan hidupnya. Dengan sisa patahan golok di tangannya dan cakar yang masih utuh, ia bergerak secepat kilat menerjang leher sang raksasa sebelum gumpalan besi itu sempat terayun.
*CRASH! TRASH!*
Meski sayapnya terkulai bercucuran darah gaib dan tubuhnya penuh luka, ia mengeluarkan serangkaian jurus tebasan liar bertubi-tubi. Dalam hitungan detik, ia mencincang dan merobohkan Raksasa Bermata Merah hingga tak bernyawa, lalu jasad raksasa itu hancur musnah menjadi debu di tanah belantara.
*Hah... hah... hah...*
Napas jin berwajah elang itu terengah-engah. Tubuhnya gemetar, berdiri di atas sisa-sisa jasad sang raksasa sembari menundukkan kepala dalam-dalam di hadapanku. Cakar dan badannya bernoda darah, namun matanya memancarkan ketundukan mutlak. Ia telah membuktikan loyalitas barunya dengan membunuh rajanya sendiri.
Aku menyarungkan kembali Pedang Naga Bharadasura dengan bunyi berdenting pelan.
"Bagus," ucapku dingin sembari melangkah mendekat. "Mulai hari ini, kau dan sisa entitas yang bertahan di hutan ini berada di bawah komandoku. Siapkan seluruh anak buahmu karena kalian yang akan meratakan pohon-pohon ini dan membuka lahan pusat pemerintahan baru dalam waktu satu malam."
Jin berwajah elang itu menyembah rendah hingga paruh dan dahinya menyentuh tanah. "Hamba tunduk dan siap menjalankan perintah, Tuanku Penguasa Baru..."
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!