Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Pemuda di Kursi Roda
"Kalau begitu, besok akan jadi hari yang menarik."
Kalimat Keira semalam masih tertinggal di kepala Hendrick sampai siang hari berikutnya.
Highland Resort berubah wajah dalam waktu kurang dari dua belas jam. Lorong yang tadi malam dingin dan penuh aib kini dipenuhi rangkaian bunga putih, staf wedding organizer yang berjalan cepat dengan headset, serta tamu keluarga yang mulai berdatangan sambil saling menahan rasa penasaran.
Di luar, halaman rumput sudah disiapkan untuk pemberkatan. Kursi-kursi berbalut kain putih menghadap panggung kecil. Nama Brandon Liem yang semalam masih tercetak di beberapa papan kecil telah diganti terburu-buru. Sebagian staf tidak tahu alasannya. Sebagian lagi tahu sedikit, lalu memilih pura-pura tidak tahu karena bekerja untuk keluarga konglomerat berarti mengerti kapan harus menutup mulut.
Di lantai dua, di ruang istirahat pengantin pria, Reynard Liem duduk di kursi roda dekat jendela.
Usianya belum terlihat seperti pria yang seharusnya membuat satu keluarga besar cemas. Wajahnya terlalu bersih, terlalu tenang, dengan garis rahang yang halus dan kulit pucat yang membuat sinar siang tampak lembut saat menyentuhnya. Di pangkuannya ada sebuah Rubik. Jari-jarinya bergerak pelan, memutar sisi merah, biru, kuning, lalu berhenti seolah ia lupa langkah berikutnya.
Siapa pun yang melihat dari pintu akan berpikir sama seperti semua orang selama tiga tahun terakhir.
Putra sulung Liem itu rusak setelah kecelakaan.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Engkong Liem Boen Hwa, meninggalkan luka bakar di tubuh Reynard, dan membuat kedua kakinya seolah tidak lagi mau patuh. Sejak hari itu, keluarga Liem menyimpan Reynard di Pavilion seperti menyimpan lukisan mahal yang retak. Masih bernilai karena nama, tetapi tidak lagi pantas dipajang di ruang utama.
Reynard memutar Rubik sekali lagi.
Klik.
Semua warna tersusun sempurna.
Ponsel di meja kecil bergetar. Nama Evan Lim muncul di layar.
Reynard mengangkatnya tanpa menoleh dari Rubik. "Bicara."
Di seberang, Evan tertawa pendek. "Bro Rey, kau benar-benar akan menikah hari ini?"
"Menurutmu?"
"Menurutku dunia makin gila. Semalam Bran ketahuan, pagi ini kau naik jadi pengantin pria. Ini bukan keluarga konglomerat, ini sinetron prime time."
Reynard tidak tersenyum. "Jangan terlalu menikmati."
"Sulit, Bro. Tapi serius, kalau kau tidak mau, bikin kekacauan saja di altar. Lempar Rubik, teriak, bilang tidak mau. Semua orang sudah percaya kau tidak stabil."
Jari Reynard berhenti di sisi hijau Rubik. Matanya yang tadi tampak kosong berubah dingin, sangat berbeda dari wajah lembut yang dipantulkan kaca jendela.
"Aku tidak suka disuruh."
Evan menghela napas. "Aku tahu. Tapi menikah dengan Keira Hartono juga bukan rencana awalmu."
"Tidak ada yang bilang aku akan menikah."
"Hendrick sudah menyiapkan jas. Christina hampir membanting gelas karena marah. Bran terlihat seperti mayat hidup. Dan perempuan Hartono itu..." Evan berhenti sebentar. "Dia menarik. Dia memilihmu saat semua orang menganggapmu beban."
Reynard menatap Rubik yang sudah rapi. "Itu yang membuatnya berbahaya."
"Atau pintar."
"Pintar dan berbahaya sering tinggal di rumah yang sama."
Evan tertawa lagi, kali ini lebih pelan. "Jadi? Kau mau menolak?"
Sebelum Reynard menjawab, pintu diketuk dua kali.
Suara pelayan terdengar gugup dari luar. "Tuan Muda, Nona Naomi datang."
Reynard mengubah posisi Rubik. Dalam satu gerakan kecil, semua warna yang rapi kembali acak. Matanya melembut, bahunya turun, dan jari-jarinya bergerak lebih lambat.
"Nanti," katanya ke telepon.
"Bro Rey..."
Reynard memutus panggilan.
Pintu terbuka sedikit. Naomi Liem masuk dengan dress pastel dan wajah yang jelas tidak pandai menyembunyikan panik. Ia masih muda, terlalu jujur untuk keluarga seperti Liem, dan sejak kecil lebih sering menghindari konflik daripada menikmatinya.
"Koh Rey," panggilnya hati-hati.
Reynard tidak menjawab. Ia hanya memutar Rubik, sisi demi sisi, seolah benda itu lebih penting daripada apa pun.
Naomi mendekat, lalu berjongkok sedikit agar suaranya tidak terdengar keluar. "Mereka minta Koh Rey ganti baju. Wedding organizer sudah hampir menangis. Om Hendrick juga..."
Reynard menatap Rubik. "Tidak mau."
Naomi menekan bibir. "Aku tahu Koh Rey tidak suka dipaksa. Tapi Kak Keira sekarang sedang menuju ke sini."
Nama itu membuat jari Reynard berhenti sepersekian detik.
Naomi tidak menyadarinya. Ia melirik pintu, lalu berkata cepat, "Aku belum pernah bicara banyak dengan dia. Tapi semalam dia membuat semua orang diam. Bahkan Om Hendrick. Kalau dia datang dan Koh Rey tetap seperti ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Reynard memiringkan kepala. Wajahnya polos. "Kak Keira?"
Naomi menghela napas lega karena setidaknya ia merespons. "Iya. Calon istri Koh Rey."
"Istri?"
Kata itu keluar pelan, hampir seperti anak kecil yang mencicipi permen baru.
Naomi tampak semakin canggung. "Kalau pemberkatannya jadi, iya."
Di luar ruangan, langkah seseorang berhenti. Tidak cepat, tidak ragu. Dua ketukan terdengar di pintu yang masih setengah terbuka.
Naomi menoleh.
Keira berdiri di ambang pintu.
Ia sudah memakai gaun pengantin. Bukan gaun yang terlalu besar dan berlebihan, melainkan gaun putih sederhana dengan potongan bersih yang membuat lehernya tampak jenjang dan wajahnya semakin tenang. Rambutnya disanggul rendah. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah perempuan yang semalam baru saja kehilangan calon suami.
Ia terlihat seperti seseorang yang datang untuk mengambil keputusan, bukan meminta izin.
Naomi langsung berdiri. "Kak Keira..."
"Aku dengar pengantin prianya tidak mau ganti baju," kata Keira.
Naomi salah tingkah. "Koh Rey biasanya memang..."
"Tidak apa-apa." Keira melangkah masuk. Matanya tidak menilai kursi roda, tidak berhenti terlalu lama pada kaki Reynard, tidak pula menunjukkan rasa kasihan yang selama ini paling dibenci laki-laki itu. Ia hanya melihat wajahnya, lalu Rubik di pangkuannya. "Boleh aku bicara dengannya?"
Naomi ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Aku tunggu di luar."
Setelah Naomi keluar, ruangan menjadi tenang.
Keira berjalan mendekat. Dari jarak dekat, ia melihat bekas luka tipis di dekat pergelangan tangan Reynard, sebagian tertutup manset kemeja rumah sakit yang belum diganti. Ia juga melihat Rubik itu. Gerakannya lambat, tetapi posisi warnanya tidak asal. Beberapa sisi sudah hampir terbentuk.
Orang yang benar-benar linglung tidak bermain sehalus itu.
Keira menyimpan kesimpulan itu di dalam hati.
Reynard menunduk, seolah tidak sadar ia sedang diperhatikan. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi dahi. Di bawah cahaya siang Puncak, wajahnya terlihat terlalu indah untuk disebut menyedihkan. Seperti boneka porselen yang sengaja diletakkan di kursi roda agar semua orang lupa di dalamnya mungkin ada pisau.
"Rey," panggil Keira pelan.
Jari Reynard berhenti.
Ia tidak langsung menjawab.
Keira tidak berdiri di atasnya. Ia menekuk lutut, lalu berjongkok di depan kursi roda itu hingga mata mereka berada pada tinggi yang sama.
Baru saat itu Reynard mengangkat kepala.
Tatapan mereka bertemu.
Mata laki-laki itu lebih jernih dari yang pernah Keira bayangkan.