Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Dua hari setelah insiden Bryan, Mansion Tanuwijaya memasuki pagi yang terlalu hidup.
Keira turun ke ruang makan dengan tas kampus di bahu. Ia baru tidur empat jam di Grand Orchid, pulang subuh, mandi, lalu berusaha tampil seperti mahasiswa normal yang tidak baru saja menyelamatkan kakak keenamnya dengan air comberan.
Di meja makan, tiga pria sudah duduk seperti rapat perebutan proyek nasional.
Ko Darren memakai kemeja rapi, jam tangannya tepat mengarah pukul tujuh. Di sampingnya, Ko Kevin memegang kopi dengan ekspresi santai yang jelas palsu. Di ujung meja, Ko Brandon duduk tegak, lehernya masih ada bekas memar tipis, tetapi wajahnya bersinar aneh begitu melihat Keira.
"Kei!" Brandon langsung berdiri.
Keira berhenti di anak tangga terakhir.
Nada itu terlalu manis.
Mencurigakan.
"Pagi," katanya hati-hati.
Brandon menarik kursi untuknya. "Duduk sini. Gue ambilin susu."
Kevin hampir tersedak kopi.
Darren menatap Brandon seperti melihat bug di sistem yang selama ini ia kira stabil.
Keira duduk perlahan. "Lo demam?"
"Nggak."
"Kepala kebentur pas kemarin?"
"Nggak."
"Masih bau got?"
Wajah Brandon merah. "Udah mandi delapan kali."
Kevin mengangkat alis. "Pantes sabun kamar mandi habis."
Brandon pura-pura tidak dengar. Ia menuangkan susu ke gelas Keira, lalu mendorong piring roti. "Kei, makan dulu. Jangan kosong perut."
Keira menatap gelas itu.
Di kepalanya, suara Cincin Brandon terdengar sangat bangga.
"Majikan gue akhirnya punya fungsi selain main game. Terharu gue."
Keira menahan senyum.
Darren meletakkan garpu dengan presisi. "Karena semua sudah berkumpul, kita selesaikan topik utama."
Keira punya firasat buruk. "Topik apa?"
"Siapa yang mengantar kamu ke kampus," kata Darren.
Kevin langsung bersandar. "Jawabannya jelas gue."
Darren menatapnya. "Tidak jelas."
"Lo ada meeting jam delapan tiga puluh."
"Aku bisa menyesuaikan."
"Lo menyesuaikan berarti seluruh perusahaan ikut tegang."
Darren mengabaikannya dan menoleh ke Keira. "Gue punya Rolls-Royce. Naik yang nyaman."
Kevin menunjuk Darren dengan sendok. "Lo OCD, nanti dia harus duduk tegak sembilan puluh derajat. Biar gue aja, gue santai."
"Santai bukan indikator keselamatan."
"Tapi santai indikator penumpang nggak stres."
Brandon mengangkat tangan seperti murid paling rajin. "Kei, gue bawa motor aja! Lebih cepat, nggak kena macet."
Tiga pasang mata langsung menatapnya.
Kevin berkata pelan, "Leher lo baru hampir dipatahkan, Brand."
"Udah mendingan."
Darren menambahkan, "Kamu juga baru belajar menggunakan rem emosi."
Brandon menunduk. "Gue cuma mau nebus salah."
Kalimat itu membuat ruangan hening sesaat.
Keira mengambil roti, menggigit kecil, lalu berkata, "Gue pilih Ko Kevin."
Kevin langsung tersenyum menang. "Pilihan cerdas."
Darren menghela napas kecil. Brandon tampak seperti anak kecil yang es krimnya jatuh.
"Sore gue jemput?" Brandon bertanya cepat.
Darren menoleh. "Sore jadwal aku kosong."
Kevin mengangkat ponsel. "Sore gue masih bisa."
Keira berdiri. "Sore gue pulang sendiri."
"Tidak," kata tiga orang bersamaan.
Keira menatap mereka.
Tiga orang itu menatap balik dengan wajah tidak bersalah.
Ia tiba-tiba merasa rumah ini lebih berisik daripada semua benda yang pernah ia dengar.
Mei Lin yang baru masuk dari arah dapur berhenti di ambang pintu, memegang cangkir teh. Matanya bergerak dari Darren yang serius, Kevin yang pura-pura santai, sampai Brandon yang masih berdiri dengan ekspresi memohon.
"Kalian sedang rapat keluarga atau lelang hak asuh?" tanyanya lembut.
Kevin menunjuk Darren. "Dia mulai duluan."
Darren menjawab tanpa berkedip, "Kevin tidak memiliki bukti."
Brandon mengangkat tangan. "Aku cuma mau jemput."
Mei Lin menatap Keira. Senyumnya hangat, sedikit geli, sedikit basah di tepi mata. Seolah pemandangan tiga putra berebut mengantar putrinya adalah sesuatu yang dulu tidak pernah berani ia minta dari hidup.
"Kei," katanya, "pilih yang membuatmu paling nyaman."
Kalimat itu membuat hati Keira melunak sedikit.
Perjalanan ke kampus dengan Kevin memang paling rileks. Ia menyetir Alphard hitam dengan satu tangan di setir, lagu lama pelan di radio, dan tidak banyak bertanya soal luka bahu Keira. Hanya sesekali ia melirik kaca spion.
"Brand semalam nggak tidur," katanya.
Keira menatap jendela. "Gara-gara Bryan?"
"Gara-gara lo."
Keira menoleh.
Kevin tersenyum tipis. "Dia baru sadar selama ini salah lihat orang. Prosesnya nggak enak. Tapi bagus."
Keira diam.
Kevin menambahkan, "Soal Seline, dia belum siap ngomong. Kasih waktu."
"Gue nggak buru-buru."
"Lo paling sabar kalau lagi pura-pura nggak peduli."
Keira memilih tidak menjawab.
Di gerbang Universitas S, Alphard berhenti. Wulan yang baru turun dari ojek online langsung melongo.
"Kei." Ia menunjuk mobil itu. "Tumben lo diantar Alphard? Biasanya naik Gojek."
Keira turun sambil merapikan tas. "Temen keluarga."
Kevin membuka kaca jendela. "Halo, Wulan."
Wulan otomatis berdiri lebih tegak. "Pagi, Ko Kevin."
Kevin tersenyum. "Titip Kei. Kalau ada yang ganggu, kirim lokasi."
Wulan mengangkat jempol. "Siap."
Begitu mobil pergi, Wulan langsung mencengkeram lengan Keira. "Temen keluarga lo detektif ganteng yang bisa bawa Alphard?"
"Jangan mulai."
"Aku belum mulai. Ini baru pemanasan."
Keira menyeretnya masuk kampus.
Di sisi lain halaman, Seline berdiri bersama Alvin di bawah pohon palem. Seline mengenakan blouse putih dan rok pastel, tampak lembut seperti biasa, tetapi matanya terus bergerak mengamati mobil-mobil yang masuk.
Alvin menunduk melihat ponselnya. "Papa bilang undangan pesta pengakuan Tanuwijaya mulai disebar minggu ini."
Seline merapikan rambut. "Kalau gue bisa kenal putri itu, gue bisa masuk ke lingkaran konglomerat tertinggi."
"Papa juga bilang, kalau bisa dekat dengan keluarga Tanuwijaya, bisnis kita bisa naik tiga level."
"Maka kita harus tahu dia siapa."
Mereka sama sekali tidak menoleh ke arah Keira yang baru berjalan melewati lorong seberang.
Orang yang ingin mereka dekati adalah orang yang selama ini mereka injak.
Ironinya terlalu terang sampai Keira nyaris ingin tertawa.
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperhatikan Seline dan Alvin. Setelah kemenangan Keira di Piala Gemilang, status Seline tidak lagi sekuat sebelumnya. Senyum lembutnya masih indah, tetapi ketika tidak ada yang langsung menyapa, ujung jarinya mencengkeram tali tas lebih keras.
Alvin tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk membaca rumor dari grup bisnis Gunawan.
Ponselnya bergetar.
Grup WhatsApp "Princess & Her Six Knights" muncul di layar.
Ko Brandon: Sore ini gue yang jemput Kei! Udah gue booking!
Ko Kevin: Booking ditolak. Keamanan belum lulus.
Ko Darren: Aku sudah mengatur supir.
Ko Brandon: Ko Darren curang! Pakai supir itu outsourcing cinta kakak.
Ko Kevin: Kalimat lo bikin gue pengen mute grup.
Ko Darren: Jangan spam saat jam kerja.
Ko Brandon: Kei, pilih gue. Gue janji nggak ngebut.
Keira mengetik satu balasan.
Keira: Gue kuliah dulu.
Tiga pesan masuk bersamaan.
Ko Darren: Fokus belajar.
Ko Kevin: Kalau ada apa-apa, kabari.
Ko Brandon: Jangan lupa makan siang.
Wulan mengintip layar dan menahan jerit. "Princess and her six knights? Kei, hidup lo diam-diam sinetron mahal."
Keira mematikan layar. "Jangan lebay."
Belum sempat Wulan membalas, suara Alvin dari dekat tangga membuat langkah Keira melambat.
"Sel, gue dengar dari relasi Papa, putri Tanuwijaya itu katanya mahasiswi di kampus kita."
Seline membelalak.
"Di kampus kita?!"
semangat thor💪