NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Keraguan

 Gazebo itu menjadi tempat paling sempurna untuk menikmati makan siang. Cuaca yang cerah membuat seluruh panorama pegunungan terlihat jelas tanpa selimut kabut yang terkadang menyembunyikan keindahannya.

 Di tengah hidangan hangat dan pemandangan yang menenangkan itu, tak banyak percakapan yang mereka butuhkan. Keheningan justru terasa nyaman, seolah alam ikut menjadi saksi kebahagiaan sederhana yang mereka nikmati bersama.

 "Mas, kalau setiap hari makan dengan pemandangan seperti ini, rasanya jadi ingin nambah terus." Ucap Niken dipertengahan makan, "udara di sini bikin perut cepat lapar."

 "Itu juga yang sering dikeluhkan tamu. Mereka bilang baru satu jam di sini sudah ingin makan lagi."

 Niken tertawa kecil. "Pantesan, aku juga rasanya begitu."

 Danendra mengambil sendok saji, lalu meletakan sepotong ayam bakar ke piring niken. "Ini favoritku."

 Niken menatap piringnya, kemudian menghela napas kecil sambil tersenyum. "Kalau begitu, biar adil Mas juga harus nambah lagi," ucapnya sambil memindahkan sepotong ayam lagi ke piring Danendra.

 Danendra sudah merasa sedikit kenyang, namun juga tak ingin menolaknya. Ia menatap piringnya, kemudian menatap Niken.

 "Kenapa melihatku begitu?" tanya Niken.

 "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa, kalau ternyata makan berdua sama kamu itu menyenangkan."

 Pipi Niken memerah, entah karena ucapan Danendra atau karena udara yang terlalu dingin. Akhirnya ia memilih menunduk sambil memulai memenyuapkan sisa nasi, agar pipi merahnya tidak semakin terlihat oleh Danendra yang terlalu sering meperhatikannya.

 Danendra tersenyum melihat tingkah istrinya, "kok jadi diam?"

 Niken mengunyah pelan sebelum menjawab. "Kalau Mas terus bicara seperti itu, aku jadi bingung mau lanjut makan atau tetap dengan rasa maluku."

 Danendra akhirnya tertawa pelan. "Baik, kalau begitu untuk lima belas menit kedepan, aku tidak akan mengoda istriku."

 Niken mengangkat wajah sambil membulatkan matanya. "Hanya lima belas menit?"

 Danendra menyadarkan punggungnya ke kursi. "Iya, setelah itu aku lihat situasinya."

 Niken menggeleng pelan sambil tertawa yang membuat Danendra juga ikut tertawa.

 Di teras Vila Mahitala itu, tawa mereka berpadu dengan semilir angin yang berhembus lembut. Makan siang sederhana jadi terasa lebih dari sekedar mengenyangkan perut, namun juga menghadirkan suatu kebahagiaan dengan senyum yang selalu ingin dipandang lebih lama.

 * *

 Sementara itu, suasana di rumah keluarga Pradipta terasa sedikit sepi. Ratih tengah membantu Bi Inah menyusun beberapa perabotan yang baru saja dibersihkan di dapur.

 "Sudah sini, Bi. Yang itu biar saya saja." Kata Ratih.

 "Aduh, Bu. Nanti tangan ibu pegal."

 Ratih tersenyum tipis, "tidak apa-apa, lagi pula hari ini tidak banyak pekerjaan."

 Bi Inah akhirnya mengangguk, ia lalu melanjutkan pekerjaan yang lainya.

 Tidak lama kemudian suara bel rumah berbunyi yang membuat Ratih langsung menghentikan aktivitasnya.

 "Bi, saya lihat dulu." Ucap Ratih sambil melangkah menuju ruang tamu.

 Sesaat setelah membuka pintu, wajahnya langsung berubah cerah. "Mbak Ria?"

 Perempuan paruh baya yang berdiri di depan pintu tersenyum lebar. "Boleh kan, berkunjung ke rumah adik tanpa memberi tahu dulu?"

 Ratih terkekeh kecil sebelum memeluk kakaknya. "Tentu boleh. Ayo masuk, Mbak."

 Ratih mengajaknya masuk, kemudian mereka duduk di ruang tamu bersama dua cangkir teh panas. Lalu tidak lama kemudian, Bi Inah meletakan sepiring kudapan di atas meja, kemudian pamit kembali ke dapur.

 Ria mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. "Sepi sekali. Danendra belum pulang kerja?"

 Ratih tersenyum lembut, "hari ini Danendra tidak bekerja."

 "Lho, kenapa?"

 "Danendra sedang ke Lereng Mahitala bersama Niken, mereka akan menginap di sana malam nanti." Kata Ratih dengan gembira.

 "Menginap?"

 Ratih mengangguk cepat. "Iya. Danendra sendiri yang mengajaknya."

 Ria menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Wah, cepat juga berubahnya."

 "Maksud Mbak?"

 "Kemarin kamu sendiri yang bilang tidak suka sama menantu itu."

 Ratih terdiam beberapa saat. Tatapannya jatuh pada cangkir teh di tanganya, kemudian mengembuskan napas pelan. "Itu memang kesalahanku," kata Ratih yang membuat Ria menatap adiknya dengan heran.

 Kemudian Ratih melanjutkan. "Jujur, semakin hari aku semakin sadar kalau aku sudah menyakiti anak yang tidak bersalah. Dan menurutku, Niken perempuan yang baik."

 "Jadi kamu percaya padanya?"

 Ratih mengangguk. "Dia tidak membalas ucapan kasarku, bahkan setelah semuanya terjadi, dia tetap menghormatiku."

 Ria yang semula hendak mengomentari Niken, akhirnya mengurungkan niatnya. Ia belum pernah bertemu langsung dengan menantu adiknya itu. Namun melihat cara Ratih berbicara, ia tahu telah terjadi sesuatu yang mengubah cara pandang adiknya, setelah semua yang dia ceritakan beberapa hari yang lalu.

 Beberapa saat kemudian, Ria tersenyum tipis. "Kalau begitu, kapan aku boleh bertemu dengan menantumu?"

 Ratih ikut tersenyum, "mungkin minggu depan. Nanti akan kuajak dia makan bersama keluarga, supaya Mbak bisa mengenalnya sendiri."

 Ria akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku jadi penasaran, perempuan seperti apa yang menjadi istrinya Danendra itu."

 Ria mengaduk perlahan teh hangat di hadapannya. Tatapannya sesekali mengarah pada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Di sana ada foto Danendra dan Niken saat resepsi, keduanya tersenyum berdampingan.

 "Ratih."

 "Iya, Mbak?"

 "Soal yang pernah kamu katakan, tentang kehormatan Niken itu..." Ria tak melanjutkan ucapannya, ia merasa ragu namun juga penasaran akan kelanjutan cerita tersebut.

 Ratih menundukan pandangan, "itu hanya kesalahpahaman."

 Ria menghela napas pelan sambil menurunkan cangkirnya. "Maaf, tapi aku kaget. Soalnya waktu itu kamu cerita dengan begitu yakin, lalu tiba-tiba kamu bilang kalau Niken perempuan baik."

 Ratih tersenyum hambar. "Sebenarnya aku sendiri malu kalau mengingatnya, Mbak."

 "Jadi yang sebenarnya bagaimana? Kenapa kamu bisa tiba-tiba percaya?"

 "Aku diam-diam menemui dokter. Dari situlah aku sadar kalau ternyata aku mempercayai sesuatu yang tidak sepenuhnya benar." Kata Ratih yang membuat Ria semakin merasa heran.

 Ia sangat mengenal adiknya, Ratih bukan tipe orang yang mudah mengakui kesalahan. Oleh karena itu, pengakuannya terdengar sangat tulus.

 "Tapi orang-orang mungkin tidak tahu penjelasan itu, Ratih." Ucap Ria pelan, "kalau suatu saat ada yang membicarakan lagi—"

 Ratih menghela napas panjang. "Biarlah, lagi pula kita tidak mungkin bisa mencegahnya. Tapi kalau Niken butuh pembelaan, aku akan jadi orang pertama yang membelanya."

 Ria melihat kesungguhan di mata adiknya. Ia tersenyum sebelum akhirnya berkata, "aku tidak menyangka kamu bisa berubah sejauh ini."

 "Bukan aku yang berubah, Mbak. Tapi Niken yang mengajariku dengan sikap hormatnya." Ratih menatap foto Danendra dan Niken yang menempel di tembok, "anak itu memenangkan hatiku bukan dengan bantahan, tapi dengan sikapnya."

 Ria mengikuti arah pandang adiknya. Entah mengapa, rasa penasarannya terhadap sosok Niken semakin besar. Namun, jauh di dalam benaknya, tetap masih tersisa sedikit keraguan.

"Boleh aku bertanya?"

"Tentu, apa yang ingin Mbak ketahui?"

"Apa Danendra benar-benar sudah menerima Niken sepenuhnya?"

Ratih tersenyum kecil. "Kalau Mbak melihat mereka sekarang, Mbak pasti tahu jawabannya."

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!