cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33_Kampung ghaib part2
Raka membeku.
Kabut putih yang mengelilinginya semakin tebal hingga ujung hidungnya sendiri hampir
tidak terlihat.
Jantungnya berdegup sangat keras.
"Ayah...!" teriak Raka panik. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara matanya bergerak liar mencari keberadaan keluarganya.
Tidak ada jawaban.
"Ibu! Siska!" teriaknya lagi. Wajahnya mulai pucat, sementara napasnya memburu tidak beraturan.
Yang menjawab hanyalah...
"Hehehe..."
Tawa anak-anak kembali terdengar. Namun kali ini...Tawa itu berubah menjadi tangisan.
"Hiks... hiks..."
"Hiks... Kak..."
"Hiks... Jangan tinggalin kami..."
Suara itu datang dari segala arah. Raka memejamkan mata sejenak.
"Ini tidak nyata..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara tubuhnya mulai gemetar hebat.
Tiba-tiba...
"Kak..."
Suara itu kembali terdengar. Sangat dekat.
Raka membuka mata perlahan. Anak kecil itu kini berdiri kurang dari setengah meter di depannya.
Tubuhnya masih dipenuhi lumpur. Namun kini lehernya patah hampir seratus delapan puluh derajat. Kepalanya menggantung miring.
Mulutnya terbuka terlalu lebar hingga terlihat gusi yang hitam membusuk.
"Kak..." ucap anak itu lirih. Senyumnya semakin melebar, sementara air hitam menetes dari sudut bibirnya.
Raka mundur perlahan.
"Jangan... jangan dekati aku!" bentaknya ketakutan. Wajahnya dipenuhi teror, sementara kedua tangannya bergetar hebat.
Anak itu tertawa.
"Hehehe...Lama sekali kami menunggu..." ucapnya pelan. Wajahnya tetap tersenyum lebar, sementara kedua matanya yang hitam pekat tidak pernah berkedip.
"A... apa maumu?" tanya Raka terbata-bata. Bibirnya bergetar, sementara tenggorokannya terasa tercekat.
"Kami ingin bermain..." jawab anak itu pelan. Suaranya terdengar sangat datar, sementara jemarinya mulai menunjuk ke arah belakang Raka.
Raka menoleh perlahan. Tubuhnya langsung membeku.
Di tengah kabut...Berdiri puluhan anak kecil. Semuanya mengenakan pakaian lusuh. Sebagian tanpa kepala. Sebagian lagi membawa anggota tubuhnya sendiri.
Ada yang menyeret usus. Ada yang memegang bola mata. Ada pula yang berdiri sambil memeluk boneka yang kepalanya telah terpenggal. Mereka semua tersenyum.
"Hehehe...Ayo bermain..." ucap mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka dipenuhi senyum mengerikan, sementara suara mereka bergema memenuhi hutan.
Raka menggeleng keras.
"Tidak! Aku mau pulang!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara air matanya mulai mengalir.
Seluruh anak kecil itu berhenti tertawa. Suasana mendadak sunyi.
Lalu...
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Mereka mulai berjalan mendekat. Namun langkah kaki mereka tidak terdengar. Yang terdengar justru...Suara tulang patah.
Krek...
Krek...
Krek...
Seolah seluruh tubuh mereka patah setiap kali melangkah.
Raka berbalik dan berlari sekuat tenaga.
"Ayah!! Tolong!!" teriaknya sekeras mungkin. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara kedua kakinya nyaris tak berhenti bergerak.
Di belakangnya...Puluhan suara tawa kembali terdengar.
"Hehehe..."
"Kakak lari..."
"Tangkap..."
"Jangan sampai lolos..."
Raka tidak berani menoleh.
Namun tiba-tiba...
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkah kaki terdengar tepat di sampingnya. Padahal tidak ada siapa-siapa.
Semakin lama...Suara langkah itu semakin banyak.
Tap...
Tap...
Tap...
Tap...
Seolah puluhan orang berlari sejajar dengannya di balik kabut.
"Aaaaah!" jerit Raka ketakutan. Wajahnya dipenuhi teror, sementara napasnya hampir putus.
Tiba-tiba...
Buk!
Tubuhnya menabrak sesuatu.
Raka terjatuh.
Saat mendongak...Ia melihat seorang nenek tua. Tubuh nenek itu sangat kurus. Rambutnya putih panjang menutupi wajah. Tangannya menggenggam lentera tua yang apinya berwarna hijau.
"Nek..." ucap Raka gemetar. Wajahnya dipenuhi harapan, sementara tubuhnya masih terduduk di tanah.
Nenek itu tidak bergerak.
"Nek... tolong saya..." pinta Raka putus asa. Air matanya terus mengalir, sementara kedua tangannya terulur memohon.
Beberapa detik kemudian...
Nenek itu mengangkat kepalanya perlahan. Rambut putihnya tersibak. Raka langsung membelalak.
Wajah nenek itu...Tidak memiliki mata. Hanya dua lubang hitam yang dipenuhi belatung. Sementara mulutnya robek hingga ke telinga.
"Kamu..." ucap nenek itu serak. Senyumnya melebar, sementara belatung mulai berjatuhan dari rongga matanya.
Raka mundur sambil merangkak.
"Ja... jangan dekat..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tubuhnya gemetar hebat.
Nenek itu tertawa.
"Hihihihi...Sudah lama tidak ada tamu..." katanya lirih. Kepalanya bergerak patah ke kanan dan ke kiri, sementara suara tulangnya terus berbunyi.
Krek...
Krek...
Krek...
Tiba-tiba...
Semua anak kecil tadi berhenti di belakang nenek itu. Mereka serentak menundukkan kepala.
"Nenek..." ucap mereka bersamaan. Wajah mereka tetap tersenyum, sementara suara mereka terdengar menyeramkan.
Nenek itu mengangguk pelan.
"Siapkan pesta..." perintahnya dingin. Senyumnya semakin lebar, sementara kuku-kukunya yang panjang menggores tanah hingga mengeluarkan suara mencicit.
"Baik, Nek..." jawab seluruh anak kecil itu bersamaan. Wajah mereka dipenuhi kegembiraan yang mengerikan, sementara tubuh mereka mulai melompat-lompat mengelilingi Raka.
Raka kebingungan.
"Pesta...? Pesta apa?" tanyanya gemetar. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan ketakutan, sementara napasnya tersengal-sengal.
Nenek itu menatap lurus ke arah Raka.
"Lima puluh tahun sekali..." ucapnya pelan. Senyumnya semakin mengembang, sementara suaranya terdengar seperti berasal dari dasar sumur. "Kampung ini membutuhkan keluarga baru..."
Raka membelalak.
"Apa maksudmu?!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara kedua tangannya mengepal kuat.
Nenek itu mengangkat satu jari yang dipenuhi kuku hitam panjang.
"Keluargamu..." bisiknya pelan. Senyumnya berubah semakin mengerikan, sementara lidahnya yang menghitam perlahan menjulur keluar. "...akan menjadi penghuni tetap Kampung Ghaib."
Belum sempat Raka berteriak... Dari balik kabut terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Raka... tolong Ayah..."
Suara Pak Hendra.
Disusul jeritan Bu Ratna.
"Raka! Selamatkan Ibu!" teriak Bu Ratna histeris. Wajahnya tidak terlihat, sementara suaranya dipenuhi rasa sakit.
Lalu terdengar tangisan Siska.
"Kak... mereka menarik aku... Kak... tolong..." jerit Siska ketakutan. Suaranya terdengar semakin menjauh, sementara isaknya membuat bulu kuduk Raka meremang.
"AYAH!! IBU!! SISKA!!" teriak Raka sekuat tenaga. Wajahnya dipenuhi keputusasaan, sementara ia berusaha menerobos kabut.
Namun sebelum sempat melangkah...Puluhan tangan pucat yang penuh lumpur tiba-tiba muncul dari dalam tanah.
Sret!
Sret!
Sret!
Tangan-tangan itu mencengkeram kedua kaki Raka dengan kuat.
"Aaaaah! Lepaskan aku!" jerit Raka histeris. Wajahnya dipenuhi teror, sementara ia meronta sekuat tenaga.
Tangan-tangan itu justru menariknya perlahan ke dalam tanah.
Di saat yang sama...
Seluruh penghuni Kampung Ghaib tertawa bersamaan.
"Hehehehehe..."
Suara tawa mereka menggema di seluruh hutan.
Sementara dari balik gerbang kayu tua...Perlahan muncul sosok raksasa berjubah hitam dengan tanduk melengkung di kepalanya.
Makhluk itu membuka kedua matanya yang menyala merah. Lalu menatap lurus ke arah Raka.
"Upacara... dimulai..." ucap makhluk itu berat. Wajahnya tidak terlihat di balik bayangan tudung, sementara suaranya mengguncang seluruh hutan hingga pepohonan bergetar hebat.