NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017: Masalah Serius

Kevin tidak langsung mengangkat telepon.

Matanya masih berada pada Meilin, seolah kalimat yang belum selesai tadi tertahan di antara mereka dan ponsel yang terus bergetar di meja. Meilin juga tidak bergerak. Jantungnya masih memukul terlalu cepat.

Kamu mau...

Mau apa?

Pertanyaan itu belum sempat menjadi bentuk.

Ponsel kembali bergetar.

Supervisor: Kev, ini soal dashboard klien besar. Kalau gagal malam ini, kontrak proyek bisa batal.

Wajah Kevin berubah.

Semua kelembutan yang tadi hampir muncul langsung dilipat rapi. Bukan hilang, hanya disimpan. Dia mengambil ponsel.

"Aku harus angkat."

Meilin mengangguk, meski dadanya seperti baru ditinggalkan di tengah kalimat.

"Angkat."

Kevin menerima telepon. Suaranya berubah menjadi sangat tenang.

"Apa yang rusak?"

Meilin duduk di tepi kasur, mendengarkan separuh percakapan. Dari nada supervisor yang samar di speaker, dia menangkap kata client demo, data live, error, dan malam ini. Kevin tidak banyak bicara. Dia hanya bertanya singkat, meminta akses, lalu membuka laptop.

"Aku butuh tiga puluh menit," kata Kevin. "Jangan ada yang refresh dashboard sampai aku bilang."

Telepon diputus.

Meilin melihat wajahnya. "Kamu harus ke kantor?"

"Mereka minta."

"Pergi."

Kevin menoleh. "Kamu baru pulang dari rumah sakit."

"Aku sudah makan, sudah minum obat, dan aku akan duduk diam seperti pasien teladan."

Kevin tidak terlihat percaya.

Meilin mengangkat tiga jari. "Aku janji. Kalau perutku sakit, aku pesan Grab ke rumah sakit atau telepon kamu. Tapi kalau proyek itu penting, kamu harus pergi."

"Aku bisa remote."

"Bisa lebih cepat kalau di sana?"

Kevin diam.

Itu cukup sebagai jawaban.

Meilin mengambil map obat dan meletakkannya di meja. "Aku punya jadwal obat. Kamu punya jadwal menyelamatkan dashboard."

"Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda. Aku serius."

Kevin menatapnya lama. Kemudian dia mengambil jaket.

"Kunci pintu. Jangan gambar lebih dari satu jam."

"Iya."

"Makan kalau lapar."

"Iya."

"Kalau ada nyeri..."

"Aku kabari."

Kevin berhenti di depan pintu. Untuk sesaat, Meilin pikir dia akan melanjutkan kalimat yang tadi terputus. Tapi dia hanya berkata, "Aku pulang secepatnya."

Pintu tertutup.

Kos itu terasa sunyi lagi, tapi kali ini sunyinya berbeda. Dulu, setiap kali Kevin pergi, Meilin takut dia tidak akan kembali karena dunia novel penuh jebakan. Malam ini, dia takut karena mulai ingin menjadi orang yang dituju Kevin saat pulang.

Dia menepati janji.

Meilin makan sedikit, minum obat, lalu hanya mengerjakan revisi ringan selama tiga puluh menit. Setelah itu dia menutup buku sketsa, meski tangannya gatal ingin terus menggambar. Dia mengirim pesan ke Kevin.

Meilin: Aku sudah makan dan minum obat. Tidak gambar lagi.

Balasan datang sepuluh menit kemudian.

Kevin: Bagus. Tidur sebelum jam sepuluh.

Meilin: Kamu terdengar seperti aplikasi pengingat kesehatan.

Kevin: Aplikasi itu lebih patuh dari kamu.

Meilin tersenyum sendiri di kamar sempit.

Malam merambat. Pukul sepuluh lewat, dia belum tidur. Bukan karena menggambar. Dia duduk di kasur, menunggu suara langkah Kevin sambil sesekali melihat ponsel.

Pukul sebelas, Kevin mengirim foto layar laptop.

Kevin: Sudah jalan.

Di foto itu, grafik yang tampak rumit berubah menjadi garis naik yang bersih. Meilin tidak memahami angkanya, tapi dia memahami satu hal: Kevin baru saja menyelamatkan sesuatu yang penting.

Meilin: Hebat.

Kevin: Tidur.

Meilin: Kamu juga.

Kevin tidak membalas.

Dia pulang hampir pukul satu.

Meilin yang sebenarnya sudah berbaring langsung duduk ketika kunci berputar. Kevin masuk dengan wajah lelah, tapi matanya hidup. Ada lelah yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lelah karena diperas sampai habis, melainkan lelah setelah memenangkan sesuatu.

"Berhasil?" tanya Meilin.

Kevin melepas sepatu. "Client demo aman."

"Kontrak proyek?"

"Tidak batal."

"Lalu?"

Kevin meletakkan amplop dokumen di meja. "Besok aku diminta tanda tangan addendum. Gaji baruku mulai bulan ini, bukan bulan depan. Ada advance juga."

Meilin menatapnya, lalu amplop itu, lalu wajah Kevin lagi.

"Ko..."

"Jangan turun dari kasur terlalu cepat."

Dia baru sadar tubuhnya sudah bergerak ingin berdiri. Meilin langsung duduk kembali, tapi senyumnya tidak bisa ditahan.

"Aku senang."

"Aku tahu."

"Kamu juga senang?"

Kevin membuka kancing lengan kemejanya dengan gerakan pelan.

"Aku lega."

Untuk Kevin, mungkin lega sudah sangat dekat dengan senang.

Meilin menepuk sisi kasur, lupa bahwa itu bukan tempat yang biasa Kevin duduki. "Sini. Cerita."

Kevin melihat tempat itu.

Meilin baru sadar. "Maksudku, kalau kamu mau."

Kevin tidak duduk di kasur. Dia mengambil kursi plastik dan duduk di depan meja. Namun jaraknya tidak sejauh dulu.

Dia bercerita singkat tentang dashboard yang gagal membaca data real time, tentang klien besar dari sektor retail, tentang tim yang panik, dan tentang bagaimana perbaikan malam itu membuat direksi startup akhirnya yakin mempertahankannya sebagai karyawan inti.

Meilin mendengarkan dengan mata berbinar.

"Jadi kamu menyelamatkan proyek besar."

"Aku memperbaiki format data."

"Versi kamu selalu membosankan."

"Versi kamu terlalu dramatis."

"Aku penulis takdir baru. Dramatis sedikit boleh."

Kevin menatapnya.

Kalimat itu hampir membuat Meilin menggigit lidah. Dia terlalu santai. Terlalu dekat dengan rahasia.

Untungnya Kevin hanya mengira itu candaan.

"Kalau begitu tulis takdir yang tidak tinggal di kos bocor," katanya.

Meilin terdiam.

Kevin mengeluarkan ponsel dan menunjukkan beberapa listing apartemen.

"Aku sudah cari di jalan pulang."

"Apartemen?"

"Kemang. Dekat akses ke kantorku, tidak terlalu jauh untuk kirim barangmu kalau nanti pesanan bertambah. Studio kecil dulu, tapi bersih. Ada air panas. Listrik token tidak mati tiap dua hari."

Air panas.

Kata sesederhana itu hampir membuat Meilin menangis.

"Kita pindah?"

"Kalau kamu setuju."

Meilin menatap layar. Foto apartemennya tidak mewah seperti dunia konglomerat yang kelak akan menunggu Kevin. Hanya studio sederhana di Jakarta Selatan, dengan jendela besar, dapur kecil yang bersih, dan kamar mandi yang benar-benar punya pemanas air.

Tapi bagi Meilin, itu terlihat seperti istana.

"Aku setuju."

Kevin menyimpan ponsel. "Besok sore kita lihat unitnya. Kalau cocok, booking."

"Secepat itu?"

"Kos ini tidak sehat untuk kamu."

"Untuk kamu juga."

Kevin tidak membantah.

Mereka saling menatap di bawah lampu kos yang redup. Kalimat yang tadi terputus seperti kembali berdiri di antara mereka. Meilin tahu Kevin juga mengingatnya.

"Tadi," ucapnya pelan, "sebelum telepon masuk..."

Kevin mengangkat mata.

Ponselnya kembali berbunyi.

Meilin langsung menatap benda itu dengan kesal.

Namun kali ini bukan supervisor.

Pesan dari agen properti masuk ke layar Kevin.

Agen: Unit Kemang yang Bapak tanya masih available. Besok jam 4 sore bisa viewing?

Kevin membaca pesan itu, lalu menatap Meilin.

"Jam empat?"

Meilin mengembuskan napas, setengah kesal, setengah tertawa.

"Jam empat."

Kevin mengetik balasan.

Di kamar kos yang catnya mengelupas, dengan obat lambung di meja dan buku sketsa di sampingnya, Meilin menatap foto apartemen kecil di layar Kevin.

Untuk pertama kalinya, masa depan tidak hanya terasa seperti sesuatu yang harus dia hindari.

Masa depan terlihat seperti pintu yang mungkin bisa mereka buka bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!