Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Kontrak Garuda
"Boleh?"
Pertanyaan itu membuat Bunga menatap ponsel lebih lama daripada judul beritanya.
Rangga sedang marah. Ia bisa merasakannya dari udara dingin di kepala, dari cara suaranya menjadi terlalu rapi. Namun ia tetap bertanya. Setelah Bab 030, satu kata kecil itu lebih penting daripada semua strategi.
"Boleh," kata Bunga.
Ia membuka berita.
Artikel itu menampilkan foto Jenderal Hartono Prakoso berdiri di samping pejabat proyek, tersenyum tipis dengan jas gelap dan tongkat di tangan. Di bawahnya tertulis: PT Garuda Perkasa dipercaya menangani pengamanan terpadu proyek infrastruktur energi dan logistik berskala nasional.
Bunga membaca keras-keras beberapa bagian.
"Pengamanan terpadu. Manajemen risiko sosial. Dukungan distribusi. Pemulihan aset. Koordinasi lapangan."
"Itu bukan bahasa kontrak keamanan biasa," kata Rangga.
"Aku saja yang bukan orang kantor merasa ini seperti bubur semua lauk dicampur."
"Tepat. Terlalu luas."
Bunga memperbesar angka nilai kontrak. Jarinya berhenti.
"Sebesar ini untuk keamanan?"
"Bukan hanya keamanan. Lihat bagian dukungan distribusi dan pemulihan aset."
"Maksudnya?"
"Kalau kontrak keamanan mencakup distribusi, transportasi, pengelolaan konflik warga, dan aset, uangnya bisa dialirkan ke banyak vendor kecil. Vendor logistik, konsultan sosial, penyedia tenaga lapangan, perusahaan transportasi. Sebagian nyata, sebagian bisa hanya nama."
Bunga menatap ruang office barunya. Rak bekas, meja lipat, scarf S-001, dan bau kopi bubuk. Baru semalam ia bangga punya sistem sederhana agar barang titipan tidak hilang. Di layar ponselnya, Hartono punya sistem untuk membuat uang menghilang sambil terlihat resmi.
"Jadi uang pemerintah masuk ke Garuda Perkasa," katanya perlahan. "Lalu keluar lagi lewat vendor yang mungkin cuma kertas."
"Ya."
"Uang kotor juga bisa dimasukkan sebagai pembayaran palsu?"
"Bisa. Atau proyek resmi dipakai untuk membersihkan biaya operasi ilegal yang sudah berjalan."
Bunga merasakan perutnya mengeras. "Tambang."
Rangga tidak langsung menjawab. Itu sudah cukup.
Ia membuka artikel lain, lalu portal pengadaan yang disebut di berita. Tidak semua dokumen bisa diakses, tetapi ringkasan proyek muncul. Bunga membaca setiap kata dengan alis berkerut.
"Kenapa perusahaan keamanan mengurus 'pemulihan aset lahan'?"
"Karena frasa itu bisa berarti mengusir orang dari tanah yang dianggap mengganggu proyek."
Kata mengusir orang membuat ruangan kecil itu kehilangan udara.
Desa Kemuning muncul di kepala Bunga, bukan sebagai gambar jelas, tetapi sebagai debu, teriakan, dan tangan Nenek Ratna yang mendorongnya lari.
"Dia akan melakukannya lagi," bisik Bunga.
"Mungkin dia sudah melakukannya."
Di tempat lain, pada malam yang sama, Aditya Nugraha juga membaca berita itu di mobilnya.
Ia baru keluar dari kantor ketika notifikasi muncul. Begitu melihat nama PT Garuda Perkasa, wajahnya berubah. Ia membuka laptop di kursi belakang, mencari arsip lama yang pernah ditandai Rangga sebelum gala.
Ada catatan pendek di salah satu memo kepatuhan:
Model kontrak terlalu luas. Risiko: pencucian dana melalui vendor berlapis. Perlu audit jalur distribusi dan konflik lahan.
Aditya menutup mata sebentar.
"Sial, Rangga," gumamnya. "Kamu benar lagi."
Ia menelepon Arjuna.
"Garuda Perkasa dapat kontrak baru," kata Aditya begitu panggilan tersambung.
"Saya lihat."
"Strukturnya mirip memo Rangga."
Hening di ujung sana. Lalu Arjuna berkata, "Kalau Rangga sadar, dia akan mengejar ini."
"Kalau Rangga sadar, dia sudah membuat tiga orang kementerian sakit kepala sebelum makan malam."
"Aditya."
"Saya tahu. Jangan bergerak sendirian. Kamu juga jangan mengurung informasi sampai busuk."
Arjuna terdengar lelah. "Kirim yang kamu punya. Jalur aman."
"Dan kamu cari tahu apakah ada orang di rumahmu yang mendorong kontrak ini diam-diam."
"Itu tuduhan besar."
"Itu pertanyaan kecil dengan bau busuk besar."
Aditya memutus panggilan lebih dulu, lalu menatap lagi alamat kos Bunga Lestari di catatannya. Nama gadis itu muncul di tepi kasus aneh. Kini Garuda Perkasa muncul lagi di pusatnya.
Ia tidak percaya kebetulan sebanyak itu.
Di office kecilnya, Bunga menempel kertas kardus bekas di dinding. Ia menulis dengan spidol:
GARUDA PERKASA
Kontrak pemerintah
Vendor
Lahan
Distribusi
Hartono
Tulisan itu miring, tetapi cukup jelas.
Rangga berkata, "Kita perlu dokumen tender lengkap, daftar vendor turunan, lokasi proyek, dan nama pejabat yang menandatangani."
"Kita?"
Ia berhenti. "Boleh saya terlibat menyusun daftar investigasi?"
Bunga mengambil napas. "Boleh. Tapi aku yang pegang spidol."
"Tentu."
Mereka bekerja hampir satu jam. Rangga menjelaskan pola kontrak. Bunga menerjemahkan ke bahasa yang bisa ia mengerti: siapa pegang uang, siapa angkut barang, siapa jaga pintu, siapa menekan warga, siapa pura-pura tidak tahu. Ia menggambar panah dengan spidol merah.
"Simpan semua halaman," kata Rangga setelah meminta izin lagi.
Bunga mengambil screenshot berita, ringkasan pengadaan, dan daftar istilah proyek. Ia memberi nama file dengan tanggal, bukan sekadar menyimpannya acak di galeri. Rangga mengajarinya menyalin tautan dan mencatat jam akses.
"Kalau nanti halaman hilang, kita punya jejak."
"Kalau ponselku hilang?"
"Cadangkan ke email baru yang khusus untuk bisnis dan investigasi. Jangan pakai email yang sama untuk jual beli."
Bunga menulis itu di pojok kardus: email investigasi.
"Kamu tahu, untuk orang yang mengaku cuma memberi saran, kamu banyak sekali memberi PR."
"Boleh saya mengakui bahwa saya memang menyebalkan?"
"Diterima sebagai fakta."
Pada satu titik, Bunga mundur dan melihat dinding.
"Rangga."
"Ya?"
"Hartono tidak cuma kuat karena punya uang. Dia kuat karena dari dulu orang membiarkan dia pakai bahasa resmi untuk menutupi kekerasan."
Rangga diam.
"Nenek tahu itu," lanjut Bunga.
Ia tidak tahu dari mana keyakinan itu datang. Mungkin dari cara Nenek Ratna selalu marah melihat orang berseragam memakai kata tertib untuk memukul yang lemah. Mungkin dari luka Desa Kemuning. Mungkin dari wayang kecil yang sekarang tergeletak di meja office, menghadap dinding penuh panah merah.
Bunga naik ke kamar dan mengambil kotak seng kecil peninggalan Nenek. Selama ini ia jarang membukanya. Isinya tidak banyak: kain tua, foto buram, kertas-kertas yang sudah menguning, dan beberapa catatan dengan tulisan tangan Nenek yang keras dan miring.
Di bagian bawah, terselip amplop tipis.
Tidak ada nama Bunga di depannya. Hanya satu kalimat.
Jika Hartono muncul lagi lewat proyek negara, cari Widya.
Tangan Bunga menjadi dingin.
"Widya," kata Rangga pelan.
Bunga membuka amplop itu. Di dalamnya ada nomor telepon lama, alamat di pinggiran Jakarta, dan selembar foto kecil yang sudah pudar.
Dalam foto itu, Nenek Ratna berdiri lebih muda, lebih tegak, memakai kemeja putih. Di sebelahnya ada seorang perempuan berkacamata. Di belakang mereka, terpampang papan bertuliskan rapat reformasi layanan publik.
Bunga menatap wajah muda Nenek seolah baru bertemu orang asing yang memakai mata orang yang ia cintai.
"Nenek," bisiknya, "kamu siapa sebenarnya?"