NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Dokter Tanpa Jawaban

Kondisi Pertiwi kian memburuk seiring bergantinya hari. Rumah sakit umum di pusat kota Madiun terasa begitu asing dan dingin saat Galang memapah adiknya menyusuri lorong beraroma karbol.

Galang terpaksa meminjam uang tabungan daruratnya sendiri untuk membawa Pertiwi keluar dari rumah, memanfaatkan celah waktu ketika Pak Sapta sedang pergi mengurus perizinan warung dan Bu Retno sibuk di dapur belakang yang tak pernah berhenti berasap.

Pertiwi kini hampir tak sanggup melangkah. Tubuhnya yang semula segar dan berisi mendadak menyusut drastis dalam kurun waktu tiga hari saja.

Kulit pipinya kempot, matanya cekung dengan lingkaran kehitaman yang makin pekat, dan bibirnya pecah-pecah memutih. Setiap kali anak gadis itu membuang napas, bau anyir tanah basah merembes samar dari rongga mulutnya—aroma busuk yang coba ditutupi Galang dengan baluran minyak kayu putih.

Di dalam ruang periksa berpendingin udara, Dokter Dananjaya—seorang dokter senior berkacamata tebal—menatap layar monitor dan berkas hasil laboratorium dengan dahi berkerut dalam.

Ia berkali-kali memeriksa ulang lembaran kertas di tangannya, lalu memandang Pertiwi yang terbaring lemah di atas ranjang periksa.

"Aneh sekali," gumam Dokter Dananjaya seraya melepas kacamatanya, mengusap wajahnya yang tampak bingung luar biasa.

Galang yang duduk kaku di kursi kayu langsung menegakkan punggungnya.

"Gimana hasil tesnya, Dok? Kenapa demam saudari saya nggak turun-turun? Dan ruam di lehernya itu penyakit apa?"

Dokter Dananjaya menghela napas panjang, menunjukkan lembaran hasil analisis darah kepada Galang.

"Secara medis, adikmu ini sehat sempurna, Mas Galang. Sel darah putihnya normal, tidak ada infeksi bakteri atau virus. Tes tifus, demam berdarah, malaria, hingga uji alergi berat ... semuanya negatif."

"Negatif?!" Galang hampir melompat dari kursinya. "Dokter bisa lihat sendiri! Badannya panas membara, badannya makin kurus kering cuma dalam hitungan hari! Bagaimana bisa dikatakan sehat?!"

"Saya mengerti kekhawatiranmu, Mas," sahut dokter itu dengan nada mencoba menenangkan, walau matanya tak sanggup menyembunyikan kebingungan yang sama. "Tapi fungsi organ dalamnya—hati, ginjal, paru-paru—semuanya tercatat berfungsi seratus persen normal. Soal ruam kehitaman di leher dan lengannya ...." Dokter Dananjaya mendekati ranjang, menyingkap sedikit kerah baju Pertiwi.

Dokter itu menyentuh bercak hitam yang menjalar seperti akar pohon tua di kulit Pertiwi. Namun, begitu jari sang dokter menekan ruam tersebut, ia mendadak menarik tangannya kembali dengan wajah terkejut.

"Kenapa, Dok?" cecar Galang gencar.

"Kulitnya ... tidak ada tanda peradangan," bisik dokter itu ragu-ragu. "Jaringan pigmennya normal. Secara biologis, warna hitam ini seperti bukan berasal dari sel kulit ... tapi seperti ada endapan zat asing di bawah aliran pembuluh darahnya. Tapi hasil pemindaian tidak menunjukkan adanya racun kimia."

Dokter Dananjaya menggeleng-gelengkan kepala. Selama tiga puluh tahun berpraktik, ia belum pernah menemukan kasus medis sesat seperti ini.

Secara matematis dan sains, Pertiwi adalah manusia sehat tanpa kelainan. Namun secara kasat mata, fisik anak gadis itu tampak sedang digerogoti oleh sesuatu yang menyedot habis cairan kehidupan dari dalam tubuhnya.

"Saya cuma bisa memberikan vitamin dan penurun panas dosis tinggi," kata dokter itu akhirnya, menuliskan resep dengan tangan bergetar pelan. "Saran saya, istirahat total. Kalau kondisinya makin memburuk, mungkin Mas Galang perlu membawanya ke rumah sakit yang lebih besar di Surabaya."

Galang meremas resep obat di tangannya dengan keputusasaan yang membakar dada. Ia tahu betul, membawa Pertiwi ke Surabaya atau bahkan ke ujung dunia sekalipun tidak akan pernah menyembuhkan adiknya.

Dokter dan ilmu medis modern tidak akan pernah menemukan jawaban atas ulah iblis pesugihan. Ruam hitam itu bukan penyakit, melainkan bekas cengkeraman ghaib yang sedang memeras darah dan nyawa Pertiwi demi melanggengkan kuali rawon di warung mereka.

Pukul tiga sore, Galang memapah Pertiwi kembali ke rumah.

Saat mereka melangkah melintasi halaman depan, aroma gurih masakan dan keriuhan ratusan pembeli langsung menyergap indera mereka. Antrean manusia masih mengular hingga ke pinggir jalan raya.

Orang-orang melahap piring-piring rawon dengan kesetanan, berteriak-teriak memesan porsi tambahan tanpa memedulikan sosok Pertiwi yang berjalan layu bagaikan mayat hidup di samping mereka.

Di balik meja kasir yang berada tepat di atas tanah kuburan terbungkus kain kafan, Pak Sapta berdiri tegap. Pria paruh baya itu tersenyum manis saat melihat Galang dan Pertiwi masuk.

"Bagaimana kata dokter, Galang?" tanya Pak Sapta dengan nada suara yang teramat halus, memamerkan perhatian palsu di depan beberapa pembeli yang sedang membayar.

Galang tidak menjawab. Ia terus memapah Pertiwi menuju kamar belakang, menatap Pak Sapta dengan kilatan mata penuh dendam.

Pak Sapta hanya terkekeh pelan. Ia merogoh laci kasir yang dipenuhi tumpukan uang kertas lima puluh ribuan dan seratus ribuan yang menggelembung tinggi. Tanpa rasa bersalah, Pak Sapta mengambil seikat uang tebal lalu melemparkannya ke atas meja di dekat Galang.

"Pakai uang itu untuk beli obat terbaik," bisik Pak Sapta saat Galang melintas di dekatnya. "Uang warung kita tidak akan pernah habis, Galang. Makin kering fisik gadis ini ... makin tebal tumpukan uang di dalam laci."

Galang menghentikan langkahnya sejenak. Ia memandang tumpukan uang di meja, lalu memandang wajah Pak Sapta.

"Uang ini adalah darah Pertiwi. Bapak sedang meminum darah saudari saya sendiri."

"Bukan saya yang meminumnya, Galang. Tapi 'Sesuatu' di dapur belakang. Dan ingat, resep dokter tidak akan pernah bisa membatalkan surat perjanjian yang sudah distempel dengan tanah kuburan." Pak Sapta mengukir senyuman dingin yang mengerikan di balik kacamatanya.

Galang mengepalkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya berbunyi, lalu meneruskan langkahnya memapah Pertiwi masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Ia meletakkan tubuh Pertiwi yang kian membatu di atas kasur. Botol-botol obat dan sirup penurun panas dari dokter ditatanya di samping tempat tidur.

Galang meminumkan obat-obatan itu satu per satu ke mulut Pertiwi. Namun, hanya dalam hitungan detik, tubuh Pertiwi memuntahkan kembali seluruh cairan obat tersebut—bercampur dengan lelehan lendir hitam pekat yang berbau amis menyengat.

Pertiwi menggigil hebat, dadanya naik turun secara tidak teratur.

"Mas ... Galang ... Tiwi takut ...," rintihnya dengan air mata darah yang membias tipis di sudut matanya. "Ada ... ada tangan-tangan hitam dari bawah kasur ... yang terus narik kaki Tiwi ...."

Galang memeluk tubuh lemah Pertiwi yang kian mengering dan panas membara, menyembunyikan wajahnya di bahu sang gadis seraya terisak tanpa suara.

Diagnosa medis telah buntu. Sains telah menyerah. Di luar kamar, suara gemerincing uang di meja kasir terus beradu nyaring dengan tawa puas Pak Sapta dan ibunya—menandakan bahwa malam penagihan untuk anak kedua keluarga Broto kini tinggal menghitung jam.

1
💜⃞⃟𝓛🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
Wahh congratulation akhirnya tamat juga kak, otewe New karya nya
𝐆𝐚𝐥𝐮𝐡 𝐊𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢𝐡: Terima kasih, Kak Asmara.
total 1 replies
kinoy
KK ni bnrn serius tamat kah
kinoy
hah tamat .KA Anna serius nih tamat
𝐆𝐚𝐥𝐮𝐡 𝐊𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢𝐡: Betul. Sengaja. 🤭
total 3 replies
kinoy
nah..ni dia..asal usul Galang msh misteri nih
kinoy
meng sedih ah baca y..kasian ma Pertiwi Mia Rian JD tumbal
kinoy: kasian jg KA..pa Broto jg wkw slh td brsh bt perbaiki wlw telat jg. g SK ma Bu Retno AQ mah dah MW metong jg ttp Weh ngurusin harta..bnr2 serakah
total 2 replies
Wina Yuliani
part yg bikin nangis....
Wina Yuliani
ih...ih..ih ... tegang nih, seriusan bagus ceritanya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
apakah selanjutnya akan dikisahkan soal Galang yang merupakan darah darah penawar dari pesugihan sengkolo??

Kenapa bisa Galang memiliki darah penawar?
kinoy
legaaaa
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kira kira masih ada rintangan ga selama perjalanan di pelabuhan merak nanti ???
Kan wadag pundennya udah hancur
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Akhirnya ........
Wadag punden hancur dan sampai juga di pelabuhan merak.

Tinggal tugas terakhir yang harus kau kerjakan, Galang.
Memutus dan benar benar menghancurkan Sengkolo dan pesugihannya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Dari awal munculnya Pakk Janitro sebagai supir ambulans yang akan mengantar Galang ke pelabuhan Merak, kepikir .....

"Ko Pakk Janitra ko mau yaa menjadi supir ambulans yang jelas nanti diperjalanan akan mengalami banyak hal ghaib 🤔🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
keluargamu?? keluarga Buu retno???
keluarga yang mana lagi?
bahkan hampir seluruh anaknya diambil tumbal pesugihan . bungsu dan anak angkatnya sedang perjalanan menyelamatkan diri lepas dari menjadi tumbal itu.

jadi keluarga Buu retno manalagi yang kau sebut itu, Pakk Sapta???
Itu mah Buu retno aja sendiri!
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Perjalanan keluar pulau Jawa ..... terasa sangat mencekammmmm👻
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Cahaya penawar yang dimaksud Habib Umar itu berasal. dari keris Pakk Broto yaa ?🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Membaca BAB ini degg deggan pisan 😄

Takut Galang ketahuan pass mencari kayu Ulin
Takut Galang ga bisa keluar dari rumah itu

Seru dan menegangkan BAB ini kalau di filmkan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Di surat itu hanya tertulis :
Selamatkan Gilang, Galang !

Seakan akan sebelum meninggal Pakk Broto tahu bahwa anak yang akan tersisa dari pesugihan itu adalah Gilang 🤔

Hhmmm.....
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
mengambil kayu Ulin tersebut kayaknya ga semudah seperti membalikkan telapak tangan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Waahhh ... perjuangan yang sangat berat dan sangat beresiko itu , Galang !

Kami harus kembali ke rumah Pakk Broto, otomatis Sengkolo tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu dan merusak pesugihan ini.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kenapa Galang disebut sebagai pasak penawar?
Apa yang dimiliki Galang Sampai dia disebut pasak penawar ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!