~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Beberapa bulan berlalu sejak Pustu baru diresmikan dan pesta pernikahan adat digelar. Kehidupan di Desa Hulu Rawa mengalir penuh kedamaian. Melani kini telah seutuhnya terbiasa dan menikmati ritme harinya sebagai seorang istri Ketua Adat sekaligus tenaga medis kepercayaan warga.
Pagi itu, rona keemasan fajar baru saja menyemburat di balik celah jendela Rumah Adat Utama. Melani terbangun lebih awal, melangkah pelan keluar dari dalam selimut tenun yang hangat agar tidak mengganggu lelapnya sang suami. Wajahnya merona merah halus saat melirik ke arah Rangga Wira yang masih terlelap gagah di peraduan. Seperti biasa, semalam suaminya itu kembali meluapkan kerinduan dan gairahnya yang seolah tak pernah ada surutnya, memanjakan Melani dalam pelukan hangat hingga menjelang dini hari.
Melani menyunggingkan senyum tipis, merapikan selendang tenunnya, lalu melangkah ke dapur kayu yang luas. Dengan gesit dan telaten, ia menyiapkan sarapan hangat: nasi gurih rempah, ikan sungai bakar kecap, serta rebusan daun pucuk paku segar kesukaan Rangga. Tidak lupa, ia menyeduhkan cangkir bambu berisi kopi hitam hangat dan merapikan pakaian kerja suaminya yang hendak berangkat meninjau lahan perkebunan sawit, ladang buah, serta batas wilayah hutan adat bersama para pemuda desa.
Saat matahari mulai meninggi, Rangga Wira yang sudah rapi dengan kemeja tenun lapang dan parang adat di pinggangnya mencium dahi Melani dengan kelembutan mutlak di ambang pintu.
"Saya berangkat ke ladang dulu ya, Dinda. Jangan terlalu lelah di Pustu," tutur Rangga penuh perhatian, mengusap lembut pipi mulus istrinya.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang yang sudah saya bawakan," balas Melani tersenyum manis, mencium punggung tangan kekar suaminya dengan penuh takzim.
Setelah melepaskan kepergian Rangga, Melani bergegas membawa tas medisnya menuju Pustu. Seperti hari-hari biasanya, tugas Melani tidak hanya melayani pemeriksaan kesehatan warga, tetapi juga mengajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak desa di teras samping Pustu.
Namun, ada yang berbeda dengan tubuhnya hari ini.
Saat berdiri di depan papan tulis kayu mengajar Bimo, Ratih, dan anak-anak lainnya, pandangan Melani mendadak berbayang. Kepalanya terasa berputar hebat, gumpalan mual yang aneh merayapi tenggorokannya, dan rasa mengantuk yang luar biasa berat menghantam pertahanannya.
"Anak-anak... sekarang coba tulis angka..." kalimat Melani terhenti. Tubuhnya mendadak limbung, jemarinya memegang tepi meja kayu dengan erat demi menahan keseimbangan.
"Bu Bidan! Eh, Ibu Pelindung!" jerit Ratih kaget melihat wajah Melani yang mendadak pucat pasi.
Mbah Salma dan Mak Senah yang sedang merapikan botol antiseptik di dalam ruangan langsung berlari keluar hearing jeritan anak-anak. Mbah Salma dengan sigap merengkuh tubuh Melani, membimbingnya duduk di atas kursi bambu yang empuk.
"Bidan Melani! Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali," pukas Mbah Salma cemas seraya mengusap dahi Melani yang dibasahi keringat dingin.
Melani menyandarkan kepalanya, memejamkan mata rapat-rapat seraya memegangi dadanya yang sesak oleh mual. "Ngg... Mbah... saya mendadak pusing sekali. Kepala saya berputar dan perut saya mual..."
Mbah Salma dan Mak Senah saling pandang sejenak. Kedua dukun beranak senior itu menyunggingkan senyum penuh arti yang teramat hangat. Mbah Salma meraih pergelangan tangan Melani, meraba denyut nadinya dengan telaten khas ilmu tradisional, lalu matanya berbinar-binar penuh haru.
"Mbah... kenapa tersenyum?" tanya Melani bingung, napasnya masih agak memburu.
Mak Senah tertawa renyah seraya mengusap lembut perut Melani yang masih rata. "Bidan Melani... kami ini sudah puluhan tahun membantu wanita melahirkan di hutan ini. Rona matamu yang redup, napasmu yang hangat, dan denyut nadimu ini... ini bukan gejala sakit biasa."
"Maksud Mak Senah?" Melani tersentak pelan.
"Darahmu membawa kehidupan baru, Nak," pukas Mbah Salma lembut, air mata bahagianya menggenang di sudut mata keriputnya. "Ada benih Ki Rangga Wira yang sedang tumbuh di dalam rahimmu."
Dada Melani berdesir hebat. Sebagai seorang bidan, ingatan akademisnya seketika berputar cepat. Ia mengingat kembali siklus haidnya yang ternyata sudah terlambat hampir dua minggu, ditambah dengan perubahan pada rasa sensitif penciumannya beberapa hari terakhir.
Melani segera bangkit pelan, melangkah masuk ke dalam ruang periksa pribadinya di Pustu. Ia membuka lemari steril, mengambil sebuah alat tes kehamilan (pack) medis yang tersimpan rapi. Dengan tangan gemetar oleh gejolak rasa takjub dan haru, Melani melakukan pemeriksaan mandiri di dalam kamar mandi.
Beberapa menit menunggu dalam keheningan yang mencekam... dua garis merah tegas muncul sempurna di atas layar alat tes tersebut.
Positif.
Airmata bahagia seketika menetes deras membasahi pipi ayu Melani. Ia meremas alat tes itu di dadanya, mengusap perutnya yang masih datar dengan rasa syukur yang meluap-luap kepada Tuhan.
Saat keluar dari kamar mandi, Mbah Salma dan Mak Salma sudah berdiri menanti dengan raut wajah berbinar.
"Bagaimana, Nak?" tanya Mbah Salma berbisik.
Melani mengangguk pelan seraya tersenyum paling indah di tengah lelehan air matanya. "Dua garis merah, Mbah... Saya... saya benar-benar hamil."
Mak Senah menepuk tangannya gembira. "Luar biasa! Puji syukur! Aku akan suruh Seno berlari ke ladang sekarang juga untuk memanggil Ki Rangga pulang!"
"Jangan! Jangan dulu, Mak!" pangkas Melani cepat, memegang lengan Mak Senah.
Mbah Salma mengerutkan dahinya heran. "Kenapa, Bidan Melani? Suamimu harus tahu kabar bahagia ini secepatnya!"
Melani menyapu air matanya, menatap kedua dukun beranak itu dengan pendar permohonan yang manis dan jenaka. "Saya mohon... Mbah Salma dan Mak Senah dirahasiakan dulu ya dari warga dan dari Mas Rangga. Jangan ada yang memberitahunya sekarang."
"Kenapa begitu, Nak?" tanya Mbah Salma terkekeh pelan.
"Saya ingin memberikan kejutan ini sendiri untuk Mas Rangga nanti malam di rumah," tutur Melani dengan pipi yang merona merah muda. "Saya ingin melihat wajahnya secara langsung saat menerima kabar ini."
Mbah Salma dan Mak Senah saling pandang, lalu tertawa renyah mengerti keinginan sang Ibu Pelindung.
"Baiklah, baiklah... janji kami akan tutup mulut rapat-rapat sampai nanti malam!" seru Mak Senah tersenyum lebar. "Tapi hari ini, kamu tidak boleh bekerja berat! Duduk dan istirahat saja di sini!"
Sore harinya, matahari perlahan tenggelam di balik lembah Hulu Rawa. Melani pulang ke Rumah Adat Utama lebih awal. Dengan rasa bahagia yang membuncah di dada, ia mandi hingga harum semerbak, mengenakan gaun sutra lavender yang dulu dibelikan Rangga saat berkencan di kota, serta menyiapkan hidangan makan malam favorit suaminya di atas meja kayu.
Alat tes kehamilan bertanda dua garis merah itu telah dibungkus rapi di dalam kotak kayu ukir kecil khas Hulu Rawa—kotak yang dulu digunakan Rangga saat melamarnya di kota.
Suara langkah kaki tegap yang mantap menghentak tangga kayu luar. Pintu utama terbuka, dan sosok Rangga Wira melangkah masuk. Sang Ketua Adat tampak sedikit lelah setelah seharian menembus hutan dan ladang, kemejanya agak basah oleh peluh. Namun, begitu pandangannya bertautan dengan Melani yang berdiri anggun menyambutnya, raut lelah di wajah gahar itu seketika sirnah tanpa sisa.
Rangga menyunggingkan senyum amat tampan, melangkah mendekat dan langsung merengkuh tubuh molek istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
"Kangen sekali rasanya seharian tidak melihat senyumanmu, Dinda," bisik Rangga mesra, mengecup dahi Melani dengan kelembutan mutlak.
Melani tersenyum manis, membalas pelukan suaminya seraya mengusap peluh di leher tegap Rangga. "Mas pasti lelah sekali. Mandilah dulu dengan air hangat, setelah itu kita makan malam bersama ya."
"Baik, Istriku," balas Rangga nurut, mengacak rambut hitam Melani dengan penuh kasih sayang.
Seusai mandi dan menikmati makan malam yang hangat dalam suasana bersenda gurau yang penuh tawa, suasana di ruang tamu Rumah Adat Utama perlahan berubah menjadi makin hening dan intim. Pendar lampu minyak memantulkan rona keemasan yang syahdu di atas sofa kayu yang empuk.
Rangga Wira duduk bersandar, merengkuh tubuh Melani ke dalam dekapan dada bidangnya. Melani menyandarkan kepalanya pelan di bahu tegap Rangga, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat.
"Mas..." panggil Melani pelan dengan suara yang amat lembut.
"Iya, Dinda?" balas Rangga penuh perhatian, mengusap punggung tangan istrinya.
Melani merogoh saku gaunnya, mengeluarkan kotak kayu ukir kecil yang indah itu, lalu meletakkannya di atas telapak tangan kekar Rangga.
Rangga Wira menatap kotak kayu itu dengan alis tebalnya yang bertautan tipis. Ia mengenali kotak ini—kotak lamaran mereka. "Ini... kotak kayu dari saya waktu di kota? Ada apa, Melani?"
Melani mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam suaminya dengan pendar cinta yang teramat dalam dan berkilau oleh air mata bahagia.
"Buka kotaknya, Mas..." bisik Melani lembut.
Dengan penasaran, Rangga Wira perlahan membuka tutup kotak kayu ukir tersebut. Di dalamnya, terbaring sebuah alat tes medis putih dengan dua garis merah tegas yang memancar jelas.
Rangga terpaku seketika. Pria tegap yang biasanya sangat tenang, tegas, dan tak pernah gentar menghadapi apa pun di tengah hutan itu... mendadak membeku total. Manik mata hitamnya menatap dua garis merah itu berulang kali, lalu berpaling menatap wajah istrinya dengan raut terperanjat luar biasa.
"Melani... i-ini..." suara bariton Rangga yang biasanya tegap dan mantap, kini terdengar bergetar hebat.
Melani mengangguk tulus, meraih jemari kekar Rangga dan membimbing telapak tangan suaminya untuk mengusap pelan perutnya sendiri.
"Ada calon buah hati kita di dalam sini, Mas..." pukas Melani dengan air mata bahagia yang akhirnya menetes manis di pipinya. "Saya hamil... Mas Rangga akan menjadi seorang ayah."
Deg!
Kata-kata sakral itu bagaikan dentang kebahagiaan paling megah yang pernah menghantam dada Sang Ketua Adat Hulu Rawa.
Rangga Wira menahan napasnya, matanya yang tajam seketika berkaca-kaca oleh gejolak rasa haru dan syukur yang tiada tara. Tanpa membuang waktu satu detik pun, pria tegap itu merengkuh tubuh Melani, mengangkat istrinya ke dalam pelukan dada bidangnya dengan sangat hati-hati, lalu mengecup seluruh wajah Melani bertubi-tubi.
"Dinda... Ya Tuhan... Terima kasih, Dinda! Terima kasih!" bisik Rangga Wira dengan suara serak yang sarat akan Isak bahagia.
Rangga berlutut di hadapan Melani, menyandarkan wajah tegapnya di atas perut Melani yang masih datar, mendengarkan dengan penuh rasa takzim keberadaan benih cintanya yang sedang tumbuh di sana.
"Terima kasih telah memberi saya kebahagiaan yang begitu sempurna, Istriku..." pukas Rangga penuh kelembutan mutlak, mendongak menatap mata Melani. "Saya berjanji di hadapan langit dan tanah ini... saya akan menjaga kalian berdua dengan seluruh darah, jiwa, dan raga saya seumur hidup saya."
Melani mengusap rambut hitam tebal suaminya, merengkuh kepala Rangga di dadanya dengan senyuman paling indah dalam hidupnya. Di dalam rumah kayu yang hangat itu, di bawah naungan keheningan malam Hulu Rawa, dua jiwa yang telah lebur dalam cinta sejati itu kini siap menyambut kehadiran penerus pimpinan mereka dalam kedamaian dan kebahagiaan yang abadi.
Bersambung....
dr. (dokter)
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
🤲