"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Perisai Terakhir
Rangga berlari ke dalam asap.
Panas dari tangki nomor tiga masih menggigit kulit. Abu beterbangan seperti hujan hitam. Di belakangnya, Komisaris Yusman meneriakkan perintah mundur, tetapi suara itu tenggelam oleh alarm pabrik dan jeritan orang yang terperangkap.
Bayangan di dekat pintu samping bergerak lagi.
Seorang anggota polisi terbaring setengah tertindih panel logam. Perutnya robek memanjang, darah bercampur debu, napasnya cepat dan dangkal. Tangannya masih menggenggam radio, seolah tubuhnya sudah kalah tetapi tugasnya belum selesai.
"Dok... jangan masuk..."
"Diam. Hemat napas."
Rangga berlutut, menekan sumber perdarahan, lalu melihat sekeliling.
"Yoga!"
dr. Yoga muncul beberapa detik kemudian, batuk karena asap.
"Bang!"
"Kasa tekan. Cairan. Siapkan evakuasi. Jangan lihat lukanya terlalu lama."
Luka itu buruk. Rangga tetap bergerak, menutup robekan dengan balutan sementara dan menekan titik perdarahan. Ia lalu mengarahkan dua petugas pemadam untuk mengangkat panel logam dengan sudut yang tidak memperparah cedera.
"Pada hitungan tiga. Satu. Dua. Tiga."
Panel terangkat.
Anggota polisi itu mengerang, tetapi perdarahan tetap terkendali.
"Merah. Kirim ke rumah sakit. Bilang abdomen terbuka, butuh operasi segera."
Komisaris Yusman berlari mendekat begitu mereka mencapai zona aman. Ia melihat wajah anggotanya, lalu menatap Rangga.
"Dia hidup?"
"Untuk sekarang. Jaga jalurnya tetap terbuka."
Komisaris Yusman tidak lagi membantah.
"Semua ambulans prioritas kiri! Korban merah jalan sekarang!"
Belum sempat Rangga berdiri tegak, seorang petugas pemadam lain datang dipapah dua rekannya. Lengan dan bahunya terkena rangka besi panas. Kulitnya melepuh, seragamnya menempel sebagian pada luka.
Temannya panik. "Dok, bajunya harus dicabut?"
"Jangan tarik yang menempel. Gunting bagian yang longgar. Siram dengan cairan bersih. Tutup steril. Jangan oles apa pun."
Petugas itu menggertakkan gigi.
"Masih ada anak kecil di dekat gudang belakang."
Rangga menatapnya. "Kamu tahu lokasinya?"
"Saya lihat sebelum jatuh. Dia batuk terus. Mungkin kena asap."
Komandan pemadam yang sejak tadi mengatur selang mendekat dengan wajah hitam oleh jelaga.
"Gudang belakang hampir tertutup. Tangki nomor empat masih panas. Kami belum bisa pastikan aman."
"Kalau anak itu menghirup asap kimia terlalu lama, jalan napasnya menutup," kata Rangga.
"Saya tidak bisa membiarkan Anda masuk tanpa tim."
"Maka kirim tim."
Komandan pemadam menatapnya satu detik, lalu berteriak ke anak buahnya.
"Dua orang ikut dokter! Selang lindungi jalur masuk!"
Mereka bergerak.
Di antara reruntuhan, Rangga menemukan anak perempuan kecil itu meringkuk di bawah meja logam yang miring. Wajahnya penuh debu, bibirnya kebiruan, napasnya berbunyi seperti peluit rusak.
"Nak, dengar saya?"
Anak itu hanya batuk.
Rangga memeriksa cepat. Luka luarnya kecil, sementara iritasi berat telah menyerang jalan napas. Ia mengangkat anak itu, membungkus wajahnya dengan kain basah, lalu membawa keluar sambil memberi instruksi.
"Oksigen dosis tinggi. Siapkan nebulisasi kalau tersedia. Pantau edema jalan napas. Dia kuning menuju merah kalau napas makin berat."
dr. Yoga menerima anak itu dengan tangan gemetar, tetapi tindakannya tepat.
"Saya tangani, Bang."
Rangga mengangguk.
Saat itu, suara dari radio berubah lebih tenang.
"Api utama terkendali. Tangki nomor empat stabil sementara. Ulangi, tangki nomor empat stabil sementara."
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, beberapa orang berani menarik napas lebih panjang.
Tetapi bagi Rangga, pekerjaan baru setengah selesai.
Selama dua jam berikutnya, ia bergerak seperti mesin yang menolak rusak.
Korban luka bakar wajah.
Korban tertimpa beton.
Pekerja dengan tulang kaki remuk.
Petugas pemadam yang pingsan karena panas.
Satu per satu masuk ke zona merah dan kuning. Satu per satu diberi keputusan: siapa harus langsung operasi, siapa bisa menunggu, siapa harus diberi oksigen lebih dulu, siapa tidak boleh dipindah sebelum tulang belakangnya distabilkan.
dr. Yoga mengikuti di belakangnya, wajahnya pucat, tetapi matanya tidak lagi ragu.
"Bang Rangga, ambulans terakhir untuk korban merah siap."
"Kirim yang cedera kepala dulu. Yang luka bakar inhalasi jangan jauh dari oksigen. Catat semua nama kalau ada identitas. Kalau tidak ada, pakai nomor."
Komisaris Yusman berdiri di dekat barikade, mendengar perintah itu, lalu meneruskannya tanpa mengubah satu kata pun.
Ketika malam benar-benar turun, api utama akhirnya padam.
Jalan Cahaya Bangsa sudah sunyi. Bekas ledakan masih menempel pada wajah-wajah yang hitam, lelah, berdarah, dan kosong.
Komandan pemadam menghampiri Rangga.
Ia tidak banyak bicara. Ia hanya melepas sarung tangan kotornya, lalu menundukkan kepala.
"Dokter, tanpa Anda, kami kehilangan lebih banyak orang."
Rangga menatap ambulans terakhir yang berangkat.
"Belum selesai. Mereka masih harus melewati ruang operasi."
Di RSUD Harapan Bangsa, perang kedua sudah menunggu.
Pak Bambang berdiri di depan ruang operasi seperti jenderal tua yang menahan garis pertahanan. Begitu Rangga masuk, ia melihat darah di baju muridnya, luka di lengan, abu di rambut.
"Kamu..."
"Saya bisa operasi."
"Aku belum bertanya."
"Kalau Pak bertanya apakah saya baik-baik saja, jawabannya tidak penting."
Pak Bambang memejamkan mata setengah detik.
"Tiga pasien prioritas. Abdomen terbuka, fraktur remuk, cedera kepala dengan perdarahan intrakranial. Kamu yakin?"
Rangga mencuci tangan.
"Mulai dari abdomen."
Operasi pertama berlangsung hampir lima jam.
Rangga membersihkan jaringan rusak, menghentikan perdarahan, menutup robekan demi robekan dengan gerakan yang makin lama makin hemat. Pak Bambang menjadi asisten utama tanpa banyak bicara. dr. Yoga berdiri di sisi lain, mencatat dan menyerahkan alat sebelum diminta.
Operasi kedua, tulang kaki remuk.
Stabilisasi, fiksasi, pembuluh kecil yang hampir putus, jaringan yang harus diselamatkan agar pasien masih punya kesempatan berjalan.
Rangga tidak menghitung jam.
Ia hanya menghitung denyut nadi, tekanan darah, darah yang keluar, waktu iskemia, dan napas orang-orang di bawah lampu operasi.
Operasi ketiga dimulai saat sebagian kota sudah tidur.
Cedera kepala.
Perdarahan intrakranial.
Satu kesalahan kecil bisa membuat pasien tidak pernah bangun.
Lampu operasi terasa seperti matahari kedua. Kaki Rangga mulai kebas. Luka kecil di lengannya perih setiap kali keringat masuk. Tetapi tangannya tetap stabil.
Pak Bambang melihat itu dan wajahnya makin gelap karena khawatir.
Enam belas jam setelah ledakan pertama, operasi terakhir selesai.
Monitor menunjukkan tanda vital stabil.
Rangga mundur satu langkah dari meja operasi.
Untuk sesaat, ia merasa lantai bergerak.
Pak Bambang langsung memegang bahunya.
"Cukup."
Rangga ingin menjawab, tetapi suara sistem muncul lebih dulu di kepalanya.
[Misi bencana selesai.]
[Tingkat penyelesaian: 80%.]
[Hadiah tunai Rp 1.500.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]
Rp 1,5 miliar.
Angka sebesar itu lewat di kepala Rangga seperti suara jauh dari ruangan lain.
Ia hanya melihat pasien di meja operasi masih bernapas.
"Pak," katanya pelan, "semua pasien prioritas?"
"Hidup," jawab Pak Bambang. "Sekarang giliran kamu."
Rangga tidak ingat bagaimana ia keluar dari ruang operasi.
Ia hanya ingat dr. Yoga memaksanya duduk, seseorang membersihkan luka di lengannya, Pak Bambang memarahi perawat agar tidak memberi kopi lagi, dan akhirnya tubuhnya jatuh ke kasur ruang istirahat dokter.
Tidurnya seperti mati.
Ketika ia membuka mata, matahari sudah tinggi keesokan harinya.
Ponselnya mati karena kehabisan baterai.
Setelah diisi beberapa menit, layar menyala.
Notifikasi masuk seperti banjir.
Pesan.
Panggilan tak terjawab.
Permintaan wawancara.
Tag TikTok.
Tag Instagram.
Jumlahnya ribuan.
Rangga duduk perlahan, kepala masih berat.
Video pertama yang muncul di layar bukan video dirinya yang sedang bicara. Itu video dari kejauhan, sedikit goyang, penuh asap dan teriakan.
Seorang dokter muda berjas putih penuh darah berlari ke arah api.
Judulnya:
Dia adalah perisai terakhir para penyelamat!
Dalam satu jam, video itu melewati puluhan juta tayangan.
Komentar terus meluncur.
"Itu dokter yang menemukan Trombosin Plus?"
"Dokter Ajaib beneran."
"Dia bukan cuma dokter, dia tameng terakhir."
"Cari namanya. Kita harus tahu siapa orang ini."
Tiga video berikutnya memperlihatkan Rangga menahan perdarahan pada dada seorang pekerja, membawa anak kecil keluar dari asap, dan menerima penghormatan dari komandan pemadam.
Instagram Rangga yang sebelumnya sudah kacau kini benar-benar tidak bisa dikenali.
Dua juta pengikut baru.
Tiga ribu lebih pesan belum dibaca.
Nama `Perisai Terakhir` muncul di mana-mana.
Rangga menatap layar dengan wajah kosong.
"Saya tidur berapa lama?"
Pintu terbuka.
Pak Bambang masuk membawa segelas air putih dan wajah sangat tidak ramah.
"Kurang dari yang seharusnya."
"Pasien?"
"Yang kamu operasi stabil. Beberapa masih kritis, tapi hidup. Yoga tidur di kursi karena merasa kalau dia pulang, kamu akan bangun dan lari lagi."
Rangga menerima air.
Pak Bambang meletakkan ponselnya di meja.
"Seluruh Indonesia sedang mencari kamu. Kamu sekarang dokter paling terkenal di negeri ini."
Rangga memandangnya.
"Itu terdengar seperti masalah."
"Akhirnya ada juga kalimat pintar dari mulutmu."
Rangga hampir tertawa, tetapi tubuhnya terlalu lelah.
Ia membuka daftar pesan.
Di antara ribuan pesan asing, satu nomor baru muncul dengan bahasa Inggris.
Dr. Rangga, I represent Prof. Howard Bennett from Universitas Camden. We would like to discuss an opportunity...
Rangga membaca pesan itu sekali.
Lalu layar ponsel kembali dipenuhi notifikasi.