NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Malam itu, kegelapan merayap pekat menyelimuti kediaman megah Arnold, sebuah rumah mewah yang lebih menyerupai markas besar organisasi kriminal. Di balik pilar-pilar marmer yang menjulang, sosok Rexsaka bergerak bak bayangan tak berwujud. Dibalut pakaian taktis serba hitam yang memeluk ketat tubuh tegapnya, ia menyusup nyaris tanpa suara.

​Konfrontasi sengit dengan Arnold di kampus Nadya siang tadi bukanlah tanpa perhitungan. Rexsaka memanfaatkan momen panas itu untuk menanamkan alat pelacak di tas kampus Arnold tanpa disadari sang lawan. Dan kini, sinyal dari benda kecil itulah yang membawa Rexsaka berdiri di ambang sarang musuh, siap menuntaskan misinya.

Dari balik bayangan kontainer bekas, mata elangnya menyapu setiap sudut rumah bertingkat itu, mencari celah sekecil apa pun untuk menyusup ke ruang pribadi sang pemilik demi memburu bukti kejahatannya.

​Saat mendapati sebuah jendela di lantai dua yang sedikit menganga, sorot matanya menajam. Tanpa membuang waktu, Rexsaka kembali memetakan situasi sekitar, menyusun rute terbaik yang harus ia lalui tanpa meninggalkan jejak atau memicu kegaduhan.

​Mata elangnya bergerak cepat mendeteksi sudut kamera CCTV yang berputar berkala di area teras. Dengan perhitungan presisi hingga hitungan detik, Rexsaka memanfaatkan blind spot kamera tersebut. Begitu lensa CCTV berbelok ke arah barat, ia meluncur deras melintasi koridor luar bagai angin malam yang lewat.

​Dari balik balik pilar besar dekat kolam renang, suara gelak tawa dan denting gelas kaca terdengar bising. Sekelompok pria kekar berbaju serba hitam, anak buah Arnold, tampak berkumpul memutari meja marmer, asyik menenggak botol-botol alkohol tinggi sambil bergurau.

​Tiga orang di sudut kolam, dua penjaga lalu lalang di koridor utama. Rexsaka memetakan posisi lawan di dalam kepalanya.

​Saat dua penjaga yang meronda melangkah melewatinya dengan jarak hanya hitungan meter, Rexsaka menahan napasnya rapat-rapat. Ia merapatkan tubuhnya di ceruk dinding yang tersembunyi oleh tanaman hias besar, membiarkan para penjaga berlalu tanpa menyadari presensinya sedikit pun. Langkah kakinya yang beralas sepatu sol karet khusus menyerap setiap getaran di atas lantai granit yang mengkilap.

​​Begitu perhatian kelompok yang sedang minum-minum itu teralih oleh gelak tawa lelucon temannya, Rexsaka memanfaatkannya kilat. Bagai bayangan yang melebur dalam malam, ia memanjat dinding luar dengan tangkas, berpijak tanpa suara di atap genteng, lalu menyusup mulus melewati daun jendela lantai dua yang menganga.

​Dewi Fortuna tampaknya sedang berpihak rapat pada Rexsaka malam ini. Begitu menjejakkan kaki di balik lantai dua yang remang, keberuntungan langsung menyambutnya, jendela yang berhasil ia terobos rupanya bermuara langsung ke dalam kamar utama milik Arnold.

​Kamar berarsitektur mewah itu tampak lengang. Suara hembusan air conditioner dan aroma samar parfum maskulin mahal memenuhi udara. Di balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka, Rexsaka memindai sekeliling dengan gerakan terukur. Tak ada derap langkah kaki, tak ada ancaman tak terduga. Keadaan benar-benar tenang, seolah takdir sengaja mengosongkan ruangan ini khusus untuk menyambut kedatangannya.

Netra elangnya bergerak cepat memindai tiap sudut kamar utama, mulai dari jajaran lemari kayu berukir, deretan rak buku yang menjulang, hingga sofa kulit berwarna gelap di dekat jendela. Langkah senyapnya terarah menuju tas yang tergeletak di atas sofa.

Dengan gerakan presisi, jemari Rexsaka mencabut kembali alat pelacak mini yang terselip di sana sebelum beralih ke rak buku.

​Indra penglihatannya bekerja ekstra detail, perhatiannya tertuju pada rak buku tua yang tak sesuai dengan konsep ruangan yang modern ia pun menyapu satu per satu jilid buku yang tertata rapi. Insting perwiranya membimbing jemari Rexsaka terhenti pada jilid ketiga dari sebuah buku tebal berkulit gelap. Begitu ia menggeser buku tersebut, indra perabanya menangkap tonjolan halus, sebuah tombol tersembunyi yang samar, namun teramat mencurigakan.

Begitu tombol itu ditekan, mekanis halus berbunyi. Rak buku raksasa itu bergeser lambat ke kanan, menyingkap sebuah pintu rahasia yang tersembunyi. Rexsaka memutar knop pintu tanpa ragu. Pemandangan di dalam ruangan berlampu merah remang itu seketika memantul di netra gelapnya, tatapan yang mendadak berkilat dingin mematikan.

​Beratus lembar foto pudar bertebaran memenuhi seluruh permukaan dinding. Dan dari jutaan sudut pengambilan gambar yang ada, sosok yang terpampang di sana hanyalah satu, gadis yang baru saja ia antarkan pulang tadi sore.

​Nadya.

Rexsaka melangkah masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Lensa kamera mikro pada kacamata khususnya terus bekerja, merekam dan memindai tiap detail mengerikan di sekelilingnya secara otomatis. Namun, langkah taktisnya mendadak terhenti tatkala matanya menangkap pendar terang dari sebuah layar monitor di sudut ruangan.

​Layar itu menampilkan real-time CCTV dari kamar Nadya, memperlihatkan gadis itu yang tengah tertidur lelap, sama sekali tak menyadari bahwa privasinya diretas.

​Pandangan Rexsaka terkunci tajam pada layar. Rahangnya mengatup rapat hingga persendian wajahnya menegang, sementara jemarinya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya mencuat keras. Ada gejolak panas yang tiba-tiba membakar dadanya, rasa tidak rela yang asing dan pekat, menusuk hingga ke hulu hati. Tanpa sadar, napasnya memburu pelan

Tiba-tiba ​Suara ketukan sepatu kulit di atas lantai marmer di luar kamar masuk keindra pendengarannya mendadak memotong gejolak amarah Rexsaka. Langkah itu terdengar berat, teratur, dan kian mendekat menuju rak buku yang terbuka.

​Dalam hitungan detik, ia memutus pandangan dari layar monitor, meredam luapan emosi di dadanya, dan meluncur senyap ke balik celah sempit di antara lemari arsip baja dan dinding berfoto. Pakaian taktis hitamnya melebur sempurna dalam keremangan merah.

​Langkah kaki itu terhenti tepat di ambang pintu.

​Arnold berdiri mematung di sana. Keningnya berkerut dalam, menatap pintu rak buku rahasianya yang menganga. Seingatnya, ruangan ini terkunci rapat sebelum ia turun minum tadi.

​Ketenangan di wajah Arnold menyapu bersih, berganti dengan kecurigaan yang membeku. Ia melangkah masuk pelan-pelan. Tangan kanannya bergerak perlahan ke balik jas, mencabut sebuah pistol berperedam suara dari balik pinggangnya.

​Klek.

Kunci pengaman senjata itu dibuka.

​Otos-otot tubuh Rexsaka menegang sempurna di balik persembunyian. Napasnya ditahan rapat-rapat, tak membiarkan paru-parunya mengembuskan udara sekecil apa pun. Dari sudut mata, ia memperhitungkan jarak dan sudut serang jika situasi memburuk.

​Arnold memindai ruangan inc demi inc. Lensa matanya yang tajam mengintai tiap sudut, mengecek meja kontrol, celah lantai, hingga sudut-sudut gelap. Langkah kakinya yang berat berderak pelan, makin mendekat... satu langkah, dua langkah... hingga moncong senjatanya terarah persis ke ceruk lemari tempat Rexsaka berlindung.

​Jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Rexsaka sudah siap meluncur untuk mematahkan pergelangan tangan Arnold dalam sekali gerak

​Drt... drt... drt...

​Getaran keras ponsel di saku jas Arnold mendadak memecah ketegangan yang nyaris meledak.

​Arnold terhenyak, menghentikan langkahnya yang tinggal selangkah lagi menuju persembunyian Rexsaka. Dengan dahi berkerut jengkel, ia merogoh ponselnya, melirik nama yang tertera di layar, lalu berbalik arah menuju balkon luar kamar untuk mengangkat panggilan tanpa mengalihkan pandangan dari lorong utama.

​Begitu punggung Arnold menghilang di balik pintu kaca balkon dan suara percakapannya samar-samar terhalang gorden, Rexsaka tak membuang sekon.

​Sret!

​Seperti bayangan yang lolos dari kungkungan, Rexsaka keluar dari balik lemari tanpa suara. Ia menyelinap melewati pintu rahasia, Begitu tiba di dalam kamar utama, mata elangnya mendapati bayangan Arnold yang berdiri membelakanginya di balkon luar, sibuk berdebat di telepon di bawah sorotan cahaya bulan. Berniat meninggalkan ruangan suara Arnold menghentikannya.

Dari balik kegelapan kamar utama, Rexsaka merapatkan tubuhnya di samping gorden tebal. Suara Arnold terdengar berat dan ketus, tertutup angin malam namun cukup jelas ditangkap oleh pendengaran terlatih sang perwira.

​"Gue nggak mau tahu, barangnya harus sudah mendarat di pelabuhan Jumat malam ini," geram Arnold rendah, jarinya mengepal erat di atas pembatas balkon. "Tiga ratus kilo pure meth itu aset vital. Jangan sampai ada celah sedikit pun!"

​Suara samar dari telepon menyahut, terdengar ragu, namun Arnold langsung memotongnya dengan nada penuh ancaman.

​"Jangan konyol. Pihak pembeli dari Singapura udah siap transfer DP lima puluh persen begitu kontainer lolos dari pabean," desis Arnold dingin. "Uang ratusan miliar ada di pertaruhan ini. Kalau sampai ada orang luar yang tahu atau barang ini bocor, kepala Lo yang bakal gue tembak duluan. Paham?"

​Arnold mengakhiri panggilan secara sepihak, lalu menghela napas kasar sambil menenggak sisa wiski dari gelas kristalnya.

Berbekal bukti vital di tangannya, Rexsaka bergerak bagai angin malam meluncur senyap menembus kegelapan luar.

​Jumat malam. Tiga ratus kilo metamfetamin di pelabuhan. Janji transaksi itu tercetak jelas dalam ingatannya, tersimpan rapi bersama rekaman kacamata taktisnya.

​Di tempat yang sama, Arnold kembali memasuki lorong merah rahasianya. Mengabaikan keheningan, ia melangkah pasti menuju sudut lemari tempat instingnya menunjuk tadi. Namun, tempat itu hanyalah sudut kosong yang tak berpenghuni. Pintu lemari yang ia sentak terbuka pun hanya memperlihatkan kegelapan hampa.

​Arnold mendengkus pelan, lalu berbalik menghampiri layar monitor. Pandangannya terkunci rapat pada Nadya, tenggelam dalam obsesi gelap yang menyiksa jiwanya. Dengan napas yang memburu halus, ia mengusap kaca monitor, seolah sedang menyentuh kulit pipi gadis itu secara langsung.

​"Harusnya malam ini kamu ada di sini, Nadya..." desis Arnold halus, tajam, dan penuh kegilaan. "Kalau bukan karena si sialan Rexsaka yang terus membuntutimu bagaimana anjing penjaga, kamu sudah tidur dalam pelukanku malam ini."

​dan di balik dinginnya malam, dua pria kini tengah bertarung dalam kesenyapan. Yang satu bergerak bagai bayangan demi melindunginya, sementara yang lain mengintai dalam gelap dengan obsesi yang siap menerkam. Dan di tengah kamar yang hangat, Nadya tertidur lelap, sama sekali tak menyadari bahwa badai besar sedang bergerak menuju hidupnya.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!