Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Pemandangan di depan, membuat bulu kuduk berdiri. Anya tak lagi duduk di atas tikar. Tubuhnya perlahan melayang menuju kegelapan pintu kamar mandi. Rambutnya yang semula terikat kini terurai berantakan, dari sela-sela jarinya yang mencengkeram udara kosong, keluar asap tipis hitam pekat.
Di ujung lorong, di balik pintu hitam. Minar menunggu. Kedua tangan makhluk itu dipenuhi kuku-kuku hitam. tangannya menjulur keluar dari kegelapan, bergerak lentur. Seolah menarik jiwa Anya secara magis.
"Rapatkan! Jangan sampai putus!" teriak Ustadz Haris lantang.
Suaranya memecah kepanikan. Ia dengan cepat berpindah posisi, nangkap kedua pergelangan kaki Anya yang udah kaku.
Bu Mimi sigap mencengkeram pinggang Anya dari belakang, dibantu oleh Serra. Tio juga menahan sekuat tenaga. Tubuh Anya terasa luar biasa berat dan dingin, seperti bongkahan batu es.
"Anya, lawan, Nak! Ingat Allah, Nak!" Bu Mimi menangis histeris. Tangannya sama sekali tidak mengendur.
Ustadz Haris meletakkan tangan kanannya di atas kening Anya. Di atas urat hitam pekat. Ia mulai merapal kan ayat-ayat penghancur sihir dan pengusir jin dengan nada yang semakin meninggi dan berwibawa
BZZZZT! KRAAAK!
Tiap kali ayat suci itu selesai dirapalkan, urat merah di kening Anya memercikkan hawa panas, seakan membakar telapak tangan Ustadz Haris. Tapi, ia sama sekali tidak melepaskannya.
Dari dalam kamar mandi, Minar melengking kesakitan. Seakan mampu memecahkan sisa-sisa kaca jendela.
Bersamaan dengan lolongan itu, tekanan tak kasat mata yang menarik tubuh Anya mendadak melemah. Tubuh Anya langsung luruh, jatuh ke atas tikar. Anya langsung dipeluk erat oleh Bu Mimi. Anya terbatuk-batuk hebat, memuntahkan cairan hitam kental yang berbau anyir ke lantai.
Melihat mangsanya lepas, aura permusuhan semakin pekat. Minar tak tinggal diam. Dari dalam kegelapan, muncul belasan helai rambut panjang, bergerak laksana ular. menjalar cepat di atas lantai keramik, mengarah langsung untuk melilit kaki mereka.
"Tio, Wulan, Tari! Jangan berhenti! Kuatkan benteng kalian!" perintah Ustadz Haris sembari berdiri tegak. Pasang badan. bersiap menghadapi amukan dari mahkluk itu.
Rambut merahnya menjalar laksana ular. tepat di garis anyaman bambu tempat mereka duduk, ujung-ujung rambut itu melepuh. Mengeluarkan asap putih. Benteng doa yang mereka bangun mati-matian sejak tadi mulai menunjukkan kekuatannya.
Makhluk itu tak menyerah, Ia menegakkan tubuh bungkuknya yang aneh. Wajahnya yang hancur perlahan terlihat. Di bawah terpaan senter berkedip-kedip. Mata bolongnya mengeluarkan cairan hitam. Mulutnya menyeringai lebar hingga merobek pipinya sendiri.
"Kalian... tidak... bisa... membawanya... DIA....MILIKKU....!"
Suara ganda itu menggelegar, merontokkan plesteran dinding kos-kosan tua. Angin dingin berbau busuk berembus. kencang. Dari dalam kamar mandi, ia mencoba memadamkan keberanian yang tersisa.
"Tidak ada yang jadi milikmu di atas bumi Allah kecuali ketetapan-Nya!" balas Ustadz Haris dengan suara yang tak kalah menggelegar. Wajah beliau memerah, peluh bercucuran, namun pancaran matanya penuh ketegasan.
Ustadz Haris meraih Al-Qur'an hijau kecil milik Anya. Dengan gerakan mantap, ia mengangkat mushaf tinggi-tinggi ke arah pintu kamar mandi, tepat ke hadapan wajah mengerikan Minar.
"Tio! Sorot Al-Qur'an ini dengan sentermu! Sekarang!" Seru Ustadz Haris.
Tio tangannya udah gemetar hebat hingga persendiannya memutih. Ia mati-matian mengarahkan moncong senter besarnya. Begitu berkas cahaya mengenai mushaf di tangan Ustadz Haris, sebuah keajaiban terjadi.
Cahaya senter Yang tadinya redup. Seolah tersedot kegelapan, mendadak memantul. melipatgandakan intensitasnya menjadi kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata. Lorong lantai dua yang gelap, seketika terang benderang.
"AAARRRGGGHHH!!!"
Minar melolong histeris. Kulit pucat kebiruan yang terkena pantulan cahaya suci mulai melepuh. Mengeluarkan asap hitam pekat. Minar melangkah mundur, Mencoba menghalau cahaya yang membakar kulitnya.
Anya yang berada di dekapan Bu Mimi. mengejang hebat. Urat hitam di keningnya berdenyut liar, memancarkan warna merah menyala-nyala. Mulutnya terbuka lebar, meracaukan untaian makian. Suara Minar masih mencoba mengacau kesadaran Anya dari dalam.
"Wulan! Serra! Tari! Bersama-sama, baca ayat terakhir! Satukan suara kalian, runtuhkan kekuatan makhluk ini!" perintah Ustadz Haris dengan nada tak terbantahkan.
Sambil terisak, menahan rasa takut yang teramat sangat, Wulan, Serra, dan Tari mengambil napas dalam-dalam. Mereka menyatukan sisa-sisa keberanian, mengeraskan suara mereka untuk mendominasi lorong yang bising oleh suara gaib tersebut.
DUARRRR!
Hantaman energi besar melesat dari cermin. Pintu kamar mandi telah lepas dari engselnya seketika hancur menjadi serpihan kayu beterbangan.
Minar memekik panjang. Sebuah lolongan frustrasi dan kesakitan menghantam tubuhnya. Seluruh tubuh tersedot paksa mundur ke dalam kegelapan. Dan menghilang.
Menghilangnya makhluk itu, urat merah menonjol di kening Anya meredup. Perlahan-lahan hilang. Tubuh Anya seketika lemas total. Matanya kembali normal sebelum akhirnya pingsan. Napasnya mulai teratur, meski lemah.
Saat itu juga, lorong lantai dua menjadi hening. Angin dan bau busuk lenyap. Digantikan hawa malam berangsur normal. Di lantai kamar mandi yang kini melompong tanpa pintu, genangan air hitam pekat, perlahan menyusut dan mengering.
Ustadz Haris perlahan menurunkan tangannya yang memegang Al-Qur'an, lalu terduduk lemas di atas tikar sembari mengucap istighfar berkali-kali dengan napas tersengal.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." bisik Ustadz Haris, ia mngelap keringat di keningnya. "Bawa Anya turun ke bawah. Anya butuh istirahat total untuk memulihkan jiwanya."
Bu Mimi menangis sejadi-jadinya, kali ini tangis haru. Sambil meluk erat Anya. Sementara Tio, Wulan, Serra, dan Tari hanya bisa saling pandang dengan tubuh yang masih bergetar. Sisa rasa syok malam jahanam membekas nyata. Tapi mereka tahu, kegelapan di kos-kosan lantai dua itu belum berhasil ditaklukkan.
Tio segera mematikan senternya. kini mulai terasa panas di genggaman. Persendian tangannya kaku, akibat mencengkeram senter terlalu kuat. Ia menatap ke arah pintu kamar mandi yang kini hancur berkeping-keping. Ruangan di dalam tampak kosong, hanya menyisakan bau gosong seperti rambut terbakar dan aroma darah busuk.
"Ayo, bantu aku," bisik Tio pada yang lain, suaranya masih terdengar serak dan bergetar.
Wulan dan Serra bergerak cepat, mengabaikan rasa lemas di lutut mereka. perlahan mereka mengangkat tubuh Anya yang sudah pingsan. Kulit Anya masih dingin. Napasnya mulai teratur, memberikan secercah harapan di dada mereka.
Mereka melangkah menuruni anak tangga. Setiap anak tangga berderit, seolah melepaskan satu per satu beban ketakutan yang sejak tadi menghantam pundak mereka.
Mereka membawa Anya ke dalam kamar Bu Mimi. Kamar itu terasa jauh lebih hangat dan manusiawi, dibandingkan lorong lantai dua. Anya dibaringkan di atas ranjang, lalu Bu Mimi dengan telaten menyelimutinya hingga sebatas dada.
Serra duduk di tepi kasur, matanya sama sekali tidak lepas dari wajah sahabatnya. Ia meraih handuk kecil, lalu membasuh sisa-sisa cairan hitam di sudut bibir Anya. Memar keunguan di leher Anya kini tampak meredup, tidak lagi berdenyut merah seperti saat berada di bawah pengaruh Minar.
Di sudut ruangan, Ustadz Haris duduk di atas kursi kayu sembari memegangi mushaf Wajahnya kini perlahan kembali normal, meski gurat kelelahan tercetak jelas di matanya. Beliau memandang ke arah empat Anya.
"Makhluk itu sudah mundur, tapi urusan kita belum sepenuhnya selesai," kata Ustadz Haris dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Mendengar ucapan Ustadz Haris, Tari yang sejak tadi memeluk lututnya di lantai langsung mendongak. "Maksud Ustadz... Minar masih bisa kembali?"
Ustadz Haris mengangguk pelan. "Dia terikat dengan tempat ini, ada sesuatu yang membuatnya begitu terobsesi pada Anya. Cahaya suci tadi hanya memukul mundur energinya, bukan memusnahkannya secara total. Selama akar masalah di kos-kosan lantai dua ini belum dibersihkan, tempat ini tidak akan pernah benar-benar aman."
Mendengar hal itu, keheningan kembali merayap di dalam kamar. Mereka semua tahu bahwa malam ini mereka selamat berkat persatuan doa dan benteng yang mereka bangun bersama. Namun, bayang-bayang Minar yang melolong kesakitan di dalam kegelapan, terpatri kuat di ingatan mereka, seolah menjadi pengingat bahwa teror ini hanya sedang tertidur, menunggu celah untuk kembali menerkam.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?