"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.
Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】
Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.
Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam itu, setelah berhasil lolos dari cengkeraman persepsi spiritual yang mencekam di gang sempit ibu kota, Lin Chen kembali ke kediaman sementaranya dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Ia mengunci pintu kayu dengan rapat, lalu segera duduk bersila di atas ranjang kayu yang dingin. Ia memejamkan kedua matanya, mengatur napas secara teratur demi menenangkan gejolak di dalam dadanya serta menstabilkan sirkulasi Qi yang sempat bergetar.
Ingatannya terus terbayang pada sosok wanita bergaun sutra biru dan berpenutup mata putih tersebut. Sensasi dari persepsi spiritual milik wanita itu benar-benar mengganggu pikirannya—begitu tajam, begitu dalam, dan memiliki karakteristik yang sanggup menguliti fondasi energi seseorang hingga ke lapisan meridian terdalam. Lin Chen tahu pasti bahwa wanita tersebut bukan sekadar kultivator berbakat biasa; ia adalah calon istrinya sendiri, Putri Xiao Qinglan dari Kekaisaran Timur, yang ternyata telah tiba di ibu kota secara rahasia jauh lebih cepat dari jadwal resmi kekaisaran.
Pagi berikutnya, ketika fajar baru saja menyingsing dan membiaskan warna merah keemasan di atas genteng-genteng kompleks istana dalam, ketenangan Lin Chen kembali terusik. Seorang eunuch senior berpakaian sutra ungu mengetuk pintu kediamannya dengan rapi, sebelum akhirnya melangkah masuk dengan senyum hormat yang tampak dipaksakan.
“Pangeran Kesembilan,” sapa eunuch itu dengan suara melengking tinggi yang ditahan. “Atas titah mutlak Baginda Kaisar, Anda diminta untuk segera menghadap di Paviliun Bunga Teratai sekarang juga. Rombongan utusan resmi dari Kekaisaran Timur telah menginjakkan kaki di istana, termasuk Putri Xiao Qinglan sendiri. Pertemuan diplomatik tingkat tinggi pagi ini akan membahas detail final dari aliansi pernikahan, mencakup penentuan mahar, hak batas wilayah, serta syarat-syarat politik kedua belah pihak.”
Lin Chen membuka matanya yang tenang, memberikan anggukan pelan tanpa ekspresi terkejut. “Saya mengerti. Terima kasih atas pemberitahuannya.”
Ia bangkit berdiri, merapikan jubah abu-abu sederhananya yang bersahaja, lalu melangkah keluar mengikuti eunuch tersebut. Jalur yang mereka tempuh menuntunnya menuju ke Paviliun Bunga Teratai—sebuah struktur megah berarsitektur kuno yang berdiri di tengah danau spiritual, biasa digunakan khusus untuk menerima tamu-tamu agung dari kekaisaran asing.
Begitu melangkah melewati jembatan batu giok dan memasuki area paviliun yang luas dan dipenuhi aroma semerbak bunga teratai spiritual, atmosfer berat yang dipenuhi tekanan politik langsung menyambut Lin Chen. Udara di dalam ruangan terasa sangat pekat, dipagari oleh formasi penyekat suara tingkat tinggi yang membiaskan cahaya neon redup di langit-langit.
Kaisar Shenghuang generasi ke-47 duduk anggun di atas kursi utama yang terukir bentuk naga, memancarkan aura Soul Transformation yang sangat menekan. Di sisi kanannya, beberapa pangeran utama faksi tengah tampak hadir—termasuk Pangeran Ketiga, Lin Hao, yang tersenyum ramah secara formal, serta Pangeran Keempat, Lin Yun, yang menatap Lin Chen dengan raut cemoohan terang-terangan. Sementara itu di sisi kiri aula, duduk jajaran pejabat dan pengawal bertopeng emas selaku rombongan diplomatik resmi Kekaisaran Timur.
Namun, perhatian utama di dalam ruangan itu tertuju pada sosok wanita bergaun sutra biru lembut yang duduk tepat di tengah-tengah area tamu. Selembar kain penutup mata berwarna putih bersih terikat rapi di belakang kepalanya. Wajahnya yang anggun bagai porselen terlihat sangat tenang, tidak terpengaruh sedikit pun oleh riak tekanan energi para penguasa di sekitarnya.
Lin Chen berjalan dengan langkah pelan yang teratur, menjatuhkan kedua lututnya di tengah aula dengan gerakan yang sangat tunduk dan bersahaja.
“Anak Lin Chen, menghadap Ayah Kaisar dan menyambut para tamu agung dari Kekaisaran Timur.”
Kaisar Shenghuang hanya meliriknya sekilas tanpa membalas dengan kehangatan paternal. Ia langsung membuka pembicaraan diplomatik dengan suara berat yang menggelegar ke seluruh penjuru paviliun:
“Kedatangan rombongan Kekaisaran Timur hari ini adalah untuk memfinalisasi detail aliansi pernikahan antara Pangeran Kesembilan dari Shenghuang dengan Putri Ketiga, Xiao Qinglan. Pihak Kekaisaran Timur telah menyerahkan draf mahar berupa seratus ribu kristal spirit kualitas tertinggi, tiga unit artefak suci tingkat bumi, serta penyerahan hak kelola jalur perdagangan di perbatasan selatan sebagai jaminan aliansi. Sebagai balasan setara, Kekaisaran Shenghuang akan memberikan konsesi pertambangan di wilayah utara.”
Seorang utusan paruh baya berjanggut panjang dari Kekaisaran Timur berdiri, membungkukkan tubuhnya dengan hormat. “Kami sangat puas dengan syarat dan ikatan diplomatik ini, Baginda Kaisar. Pernikahan ini dipastikan akan menjadi jembatan perdamaian yang kokoh di antara kedua belah faksi besar.”
Sepanjang perdebatan poin-poin aliansi yang dingin dan memperlakukan Lin Chen serta Xiao Qinglan murni sebagai "barang dagangan politik", Putri Xiao Qinglan tetap duduk membisu. Namun, secara mendadak, kepala indahnya sedikit miring ke arah posisi Lin Chen berlutut.
Swoosh...
Sebuah gelombang persepsi spiritual yang sangat tipis, fleksibel, namun memiliki daya tembus yang mengerikan mendadak dilepaskan dari tubuh sang putri. Gelombang itu merambat secara tak kasat mata melalui permukaan lantai marmer, berputar lembut untuk membungkus dan menguliti struktur jaringan Qi milik Lin Chen!
Merasakan invasi sinyal spiritual yang terasa sangat familiar dengan kejadian di gang sempit sore kemarin, batin Lin Chen berdesir tajam. Ini adalah momen yang sangat kritis dan berbahaya. Jika ia melakukan kesalahan terkecil saja dalam mengendalikan energinya di depan Kaisar dan para utusan, penyamarannya sebagai kultivator pengembara misterius kemarin maupun posisinya sebagai pangeran sampah saat ini akan meledak sepenuhnya!
Dalam hitungan mikro-detik, Lin Chen mengoperasikan kendali mutlak atas Tubuh Hegemoni Hongmeng serta Tubuh Pedang Kekacauan di dalam dirinya. Ia mengunci seluruh Inti Nascent Soul-nya rapat-rapat ke dasar dantian terdalam, menyusutkan seluruh kerapatan energi di dalam meridiannya, dan merekayasa struktur fisiknya agar memancarkan fluktuasi tubuh fana yang benar-benar rapuh, lemah, dan tak berdaya.
Gelombang persepsi Xiao Qinglan menyapu tubuh Lin Chen selama dua detik yang terasa sangat panjang. Di balik penutup mata putihnya, kening sang putri tampak sedikit berkerut halus. Indra spiritualnya hanya menangkap gambaran seorang pemuda fana yang memiliki meridian rusak dan jantung yang berdetak agak cepat karena rasa takut—sebuah struktur yang sangat kontras dengan aura kuno berkarat yang ia rasakan dari pria misterius di gang sempit kemarin. Namun, kejanggalan kecil tentang betapa "sempurnanya" kelemahan pemuda ini justru menyisakan riak teka-teki baru di dalam batin sang putri.
Perundingan diplomatik akhirnya ditutup setelah pertukaran dokumen resmi. Kaisar Shenghuang menetapkan bahwa upacara pernikahan agung akan diselenggarakan tepat dalam kurun waktu tiga bulan dari sekarang.
Saat jajaran pejabat dan pangeran mulai bangkit untuk meninggalkan Paviliun Bunga Teratai, Lin Chen turut berdiri perlahan dengan kepala tertunduk. Namun, ketika ia hendak melangkah melintasi ambang pintu luar, langkah kakinya terpaksa terhenti total.
Sosok Putri Xiao Qinglan yang didampingi dua pelayan wanitanya mendadak menghentikan langkah tepat di depannya. Wanita bergaun biru itu memutar tubuhnya, menghadap lurus ke arah Lin Chen. Meskipun sepasang matanya tertutup kain putih, Lin Chen dapat merasakan dengan jelas fokus pandangan batin sang putri yang tertuju tepat ke wajahnya.
Suara Xiao Qinglan mengalun lembut, bening seindah petikan kecapi kuno, namun membawa nada penekanan yang terselubung:
“Pangeran Kesembilan... fluktuasi napas dan kedalaman aura di sekitar Anda terasa sangat asing, namun entah mengapa... terasa memiliki ritme yang sangat familiar. Apakah kita... secara tidak sengaja pernah berpapasan di suatu tempat sebelumnya?”
Pertanyaan sederhana itu mendadak membuat dua pelayan di belakang Xiao Qinglan menatap Lin Chen dengan tajam.
Lin Chen mempertahankan ekspresi wajahnya yang sangat tenang. Ia membungkukkan tubuhnya dengan sudut yang sangat sopan dan rendah hati, menjawab menggunakan suara yang pelan dan teratur:
“Putri Ketiga mungkin telah salah mengenali aura seseorang. Saya hanyalah seorang pangeran buangan yang lemah dan tidak pernah meninggalkan wilayah sekte luar, sehingga sangat tidak pantas untuk disandingkan atau disamakan dengan siapa pun yang pernah Anda temui.”
Xiao Qinglan tidak langsung membalas jawaban tersebut. Ia tetap berdiri diam selama beberapa detik dalam keheningan yang pekat, seolah sedang menimbang setiap getaran frekuensi suara dari bibir pemuda di depannya, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis yang sangat misterius di balik kain penutup wajahnya.
“Begitukah? Kalau begitu, maafkan atas kelancangan perkataan saya, Pangeran Kesembilan.”
Sang putri berbalik dan melangkah pergi bersama rombongannya, meninggalkan Paviliun Bunga Teratai yang kini mulai sepi.