NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

‎Bian berusaha memutar setir untuk mundur, namun jalan di belakang pun sudah tertutup rapat oleh kendaraan lain. Mereka benar-benar terjebak. Bian meraih alat komunikasi di pinggangnya, namun hanya terdengar suara dengung kosong.

‎‎"Ini bukan kebetulan," geramnya rendah, matanya meneliti setiap gerakan orang di luar. "Mereka sudah merencanakan ini dengan matang."

‎‎Kania menatap ke luar dengan napas yang tetap teratur. Ia tahu persis siapa yang mengirim mereka, satu-satunya pihak yang saat ini merasa terancam akan kehadirannya.

‎‎"Mereka ingin kita panik," ucap Kania tenang, suaranya tak bergetar sedikit pun. "Kita harus tetap waspada, Bian."

‎‎Namun ancaman semakin nyata. Salah satu pria itu mengangkat batu besar dan menghantamkannya ke kaca samping hingga retak. Suara kaca yang pecah menggema di udara malam.

‎‎"Kita tidak bisa terus diam di sini, Nona!" desis Bian. Ia meraih senjata pertahanan yang tersembunyi di balik jaketnya. "Saya akan mencoba membuka jalan. Saat saya memberi aba-aba, Anda lari ke arah semak di sisi kanan dan sembunyi sampai bantuan datang. Paham?"

‎‎Kania mengangguk pelan, tangannya mencengkeram sandaran kursi erat. "Hati-hati, Bian."

‎‎Bian membuka pintu dengan sentakan keras, bergegas keluar dan langsung menangkis serangan pria terdekat dengan gerakan cepat dan terlatih. Satu pukulan tepat ke arah rahang membuat orang itu terjatuh, namun belasan orang lain segera menyerbu ke arahnya bersamaan.

‎‎Ia berusaha bertahan sekuat tenaga, menendang dan menepis setiap serangan yang datang, namun jumlah mereka terlalu banyak. Pukulan bertubi-tubi mendarat di bahu dan rusuknya. Napasnya mulai memburu, kakinya perlahan melemah, hingga akhirnya ia terjungkal ke aspal setelah dipukul dari belakang.

‎‎Melihat Bian tak berdaya, salah satu pria segera membuka pintu belakang mobil dengan paksa. Tangannya yang besar langsung mencengkeram lengan Kania dan menyeretnya keluar hingga berdiri terhuyung di tengah jalan yang sepi itu.

‎‎"Sudah selesai, Nona!" geramnya kasar. "Ikut kami baik-baik atau kau akan terluka!"

‎‎Tepat saat itu, deru mesin terdengar dari kejauhan, suaranya semakin keras dan mendekat dalam sekejap. Puluhan mobil hitam mengkilap melaju kencang membelah jalanan, mengepung mereka rapat hingga tak ada celah untuk lari. Lampu sorot yang terang benderang menyinari wajah para penyerang, membuat mereka memejamkan mata dan mundur langkah demi langkah.

‎‎Pintu mobil paling depan terbuka perlahan. Sepatu kulit hitam menginjak aspal, lalu sosok tinggi tegap melangkah keluar. Victor berdiri di sana dengan aura yang mencekam, matanya menatap tajam ke arah tangan yang masih mencengkeram lengan Kania.

‎‎"Siapa yang berani menyentuh orangku?"

‎‎Satu kalimat itu seolah membekukan seluruh suasana. Pria yang memegang Kania seketika melepaskan cengkeramannya secara refleks, wajahnya pucat melihat puluhan pasukan bersenjata kini mengelilingi mereka dari segala arah. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

‎‎Belum sempat siapa pun bergerak, pasukan Victor sudah melesat maju secepat kilat. Tanpa perlu perintah panjang, mereka langsung menerjang para penyerang yang terkejut setengah mati. Terjadilah perkelahian yang tak seimbang, setiap dua atau tiga orang dari pihak Victor dengan mudah melumpuhkan satu penyerang yang sudah kehilangan keberaniannya.

‎‎Pria yang tadi mencengkeram Kania berusaha melarikan diri, namun dua orang pengawal sudah mencegatnya dalam sekejap. Tangan pria itu diputar ke belakang hingga ia berteriak kesakitan, lalu tubuhnya dibanting ke aspal dengan keras. Sementara itu, yang lain berusaha melawan menggunakan tongkat besi, namun dengan gesit senjata itu direbut dan mereka pun dilumpuhkan tanpa ampun. Tak ada yang berani melawan lebih lama lagi saat melihat tatapan dingin Victor seolah siap menghabisi nyawa siapa pun yang masih berani berdiri.

‎‎Dalam hitungan menit, belasan penyerang sudah terbaring tak berdaya di aspal, sebagian besar sudah terikat erat. Suara teriakan mereka kini berganti menjadi rintihan kesakitan dan permohonan ampun yang tak didengar sedikit pun.

‎‎Victor tidak melirik mereka sekalipun. Langkahnya tegas dan cepat menuju Kania. Ia berdiri tepat di hadapannya, tangannya terulur perlahan, menyentuh lengan Kania dengan kelembutan yang kontras dengan kekejaman yang baru saja terjadi.

‎‎"Kau terluka?" tanyanya rendah, matanya menatap lekat-lekat ke mata Kania.

‎‎Kania menggeleng pelan, napasnya masih sedikit tak beraturan namun tatapannya tenang. "Tidak... aku baik-baik saja, Vic."

‎‎Victor berbalik sejenak menatap Bian yang masih terbaring lemah namun berusaha bangkit. "Rico, bawa dia ke mobil. Berikan pertolongan pertama segera."

‎‎"Baik, Tuan." angguk Rico, lalu menoleh pada dua orang pengawal yang berdiri, "Ayo bantu dia berdiri dan bawa masuk ke mobil."

‎‎Dua pengawal itu mengangguk dan segera membantu Bian berdiri, menuntunnya menuju kendaraan. Victor kembali menatap Kania, kali ini tangannya menggenggam tangan wanita itu erat dan melindungi.

‎‎"Siapa pun yang berani menyentuhmu, akan menghadapi murkaku." ucapnya tegas. "Ayo, aku antar pulang."

‎‎Kania mengangguk pelan, membiarkan dirinya dituntun menuju mobil besar yang kini berdiri gagah di tengah jalan. Victor membukakan pintu mobil untuknya, memastikan ia duduk dengan nyaman sebelum melangkah ke sisi pengemudi dan melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.

‎‎Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil tetap hening dengan pikiran masing-masing. Tak sampai satu jam mobil berhenti mulus di halaman yang diterangi lampu taman yang hangat, namun tak satu pun dari mereka bergerak untuk membuka pintu. Kania menatap lurus ke depan, lalu perlahan menoleh ke arah pria di sampingnya.

‎‎"Vic..." suaranya pelan namun penuh pertanyaan. "Aku tahu kekuatanmu. Bukankah kamu bisa menyelesaikan masalah di cabang perusahaan itu sendiri dengan mudah? Kenapa kamu harus menyuruhku ikut turun tangan dan menanggung semua resiko ini?"

‎‎Victor diam sejenak, menatap bayangan di balik kaca jendela sebelum akhirnya menoleh padanya. Tatapannya tajam namun lembut, seolah ingin menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dari sekedar urusan bisnis.

‎‎"Aku bisa menghancurkan siapa saja yang ingin mengganggu, dan aku bisa menutup kerugian itu dalam sekejap," jawabnya rendah. "Tapi jika aku melakukannya, kamu akan tetap menjadi orang yang lemah yang harus selalu bersembunyi di belakangku. Kamu tidak akan pernah berdiri tegak dengan kekuatanmu sendiri."

‎‎Ia mencondongkan tubuh sedikit mendekat, menatap mata Kania lekat-lekat.

‎‎"Kamu bukan sekedar wanita yang harus dilindungi, Kanaya. Kamu adalah pemilik hak yang dirampas. Dan hak itu tidak akan berharga jika kamu tidak mengambilnya sendiri dengan tanganmu. Aku memberimu medan perang itu bukan untuk menyiksamu, tapi untuk menempa dirimu menjadi pedang yang tak bisa lagi dipatahkan oleh siapa pun. Termasuk oleh mereka yang dulu membuangmu."

‎‎Jari-jarinya menyentuh pelan punggung tangan Kania.

‎‎"Aku ada di sini untuk memastikan kamu tidak jatuh, tapi akulah yang akan menuntunmu untuk terbang setinggi yang kau inginkan. Ini pertarunganmu, dan kau harus memenangkannya dengan caramu sendiri."

‎‎Kania terdiam, meresapi setiap kata itu. Berat di dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa teguh yang baru. Ia mengangguk pelan, sepenuhnya paham maksud di balik sikap dingin namun penuh perhatian pria itu.

‎‎"Terima kasih..." bisiknya tulus.

‎‎Victor tersenyum tipis, senyum yang hanya ia tunjukkan untuknya. "Ayo masuk. Istirahatlah. Kamu masih harus menyiapkan dirimu untuk hari-hari selanjutnya."

‎‎Mereka turun dari mobil beriringan, langkah kaki mereka terdengar lembut di atas halaman yang dipenuhi cahaya remang-remang. Paman Remon sudah menunggu di ambang pintu, ia segera melangkah mendekat.

‎‎"Selamat malam, Tuan Victor, Nona Kanaya," sapa Paman Remon sopan.

‎‎Victor mengangguk singkat. "Paman Remon, malam ini Bian harus di rawat jadi dia tidak akan pulang. Kamu jaga Nona Kanaya baik-baik. Aku sudah memperketat pengamanan di pintu gerbang."

‎‎"Baik, Tuan." angguk Paman Remon.

‎‎Victor menoleh kembali ke arah Kania yang berdiri di sampingnya, "Pergilah mandi dan istirahat. Besok tidak ada yang berani mengganggu ketenanganmu lagi."

‎‎"Baik. Selamat malam, Vic."

‎‎Kania melangkah menuju pintu yang terbuka lebar, namun sebelum benar-benar masuk, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya menatap Victor dengan pandangan yang penuh rasa hormat dan kepercayaan yang utuh.

‎‎"Vic... Aku tidak akan mengecewakanmu."

‎‎Victor menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Aku tahu itu. Sekarang istirahatlah."

‎‎Kania melangkah masuk ke dalam rumah, sementara Victor tetap berdiri di sana sampai sosoknya menghilang dari pandangan.

‎‎"Pesta Blackwood Corp tinggal beberapa hari lagi. Dan di sana, pertunjukan sesungguhnya baru akan dimulai." gumamnya, seringai tipis muncul diwajahnya.

-

-

-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!