Saat mata Rara terbuka, yang pertama ia rasakan bukan kasur empuk kamar kosnya, melainkan bantal sutra yang lembut dan bau aroma ruangan yang sangat mewah. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan seolah-olah sebuah aliran memori asing langsung masuk ke dalam otaknya.
Ia bukan lagi Rara, mahasiswi biasa yang baru saja mati tertabrak truk saat menyeberang jalan. Sekarang ia adalah Elena Vareza, seorang tokoh figuran dalam novel berjudul Cinta Berdarah di Atas Tahta Kekuasaan.
Dalam cerita aslinya, Elena hanyalah latar belakang yang tak terlalu penting. Ia berasal dari keluarga Vareza, penguasa kekayaan dan jaringan mafia peringkat ke-2 di dunia. Sudah diatur sejak kecil untuk bertunangan dengan Damian Aditya, pewaris keluarga Aditya—keluarga terkaya dan paling berkuasa, peringkat nomor satu di dunia. Damian bukan orang sembarangan; ia dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah, dingin, kejam, dan tak pernah ragu menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
figuran tunangan antagonis
Waktu berjalan makin cepat seiring bertambahnya kesibukan. Memasuki semester kedua, tugas makin menumpuk, kegiatan organisasi makin padat, dan jadwal bertemu makin harus diatur dengan cermat. Meski begitu, Elena dan Damian tak pernah sekalipun mengeluh. Mereka paham: ini harga yang harus dibayar demi mimpi yang ingin diraih.
Namun seperti halnya jalan yang tak selamanya lurus, kali ini kedamaian mereka diuji bukan dari bahaya di luar, melainkan dari hal yang sering membuat orang ragu: kehadiran orang baru.
Sosok yang Datang
Di fakultas Damian, ada mahasiswa baru bernama Rara. Ia cerdas, pandai bergaul, dan sering satu kelompok kerja dengan Damian. Tak butuh waktu lama bagi Rara untuk merasa nyaman, bahkan mulai terlihat menaruh perhatian lebih.
Ia sering membawakan kopi untuk Damian, menunggu selesai latihan di lapangan, atau sekadar bertanya hal-hal yang sebenarnya bisa dibaca sendiri di buku. Teman-teman sekelas mulai berbisik-bisik, ada yang menggoda, ada yang sekadar menganggap biasa.
Damian sendiri bersikap sewajarnya. Ia sopan, membantu jika diminta, tapi tak pernah melanggar batas. Namun berita itu entah bagaimana sampai juga ke telinga Elena.
Sore itu saat bertemu, Elena tampak sedikit pendiam. Duduk di bangku taman kampusnya, ia memilin ujung jubah almamater pelan-pelan.
Damian segera menyadari perubahan itu. Ia duduk lebih dekat, lalu menyentuh pelan tangan Elena.
"Kamu dengar soal Rara?" tanyanya langsung tanpa berputar kata.
Elena mengangguk pelan. "Bukan maksudku curiga. Hanya... rasanya aneh saja mendengarnya."
Damian tersenyum lega, lalu menggenggam tangan gadis itu erat.
"Terima kasih sudah jujur. Dan dengarkan aku baik-baik: sopan santun itu kewajiban, tapi hati sudah punya tempat pulang. Tidak ada yang berubah sedikit pun di sini."
Ia menunjuk dadanya sendiri.
"Kalau kamu mau tahu lebih banyak, aku ceritakan semuanya. Mulai dari cara kita bertemu, tugas kelompok, sampai hal kecil yang dia tanyakan. Tidak ada rahasia antara kita."
Mendengar itu, dada Elena terasa jauh lebih lega. Ia sadar, rasa cemburu itu wajar, tapi memendamnya sendirilah yang membuatnya sakit.
Elena Pun Punya Pengagum
Belum selesai sepenuhnya bicara soal itu, giliran Elena yang mendapat perhatian tak terduga.
Saat berdiskusi di perpustakaan, teman sekelasnya bernama Dika—yang suka puisi dan sejarah sama seperti Elena—mulai sering menemani. Ia meminjamkan buku langka, mengajak berdiskusi lama, dan suatu hari berani menyampaikan perasaannya.
"Elena, aku sangat kagum padamu. Cara berpikirmu, kelembutanmu... aku ingin kamu tahu itu," ucap Dika dengan wajah memerah.
Elena terkejut, tapi segera menjawab dengan sopan dan tegas.
"Terima kasih banyak, Dika. Aku sangat menghargai perasaanmu dan persahabatan kita. Tapi hatiku sudah sepenuhnya milik orang lain."
Saat pulang, Elena menceritakannya pada Damian. Ia pikir mungkin Damian akan bertanya banyak hal, atau setidaknya terlihat kaget. Namun Damian justru tersenyum bangga.
"Bagus kalau begitu," katanya tenang. "Berarti mataku tidak salah melihat. Kamu memang gadis yang istimewa, wajar jika ada orang lain yang menyadarinya."
Elena terbelalak. "Kamu tidak cemburu?"
Damian tertawa pelan.
"Cemburu sedikit tetap ada. Siapa yang mau orang lain mendekati yang dicintainya? Tapi aku lebih percaya padamu daripada rasa takutku. Kalau kamu sudah memilihku, aku yakin pilihan itu takkan goyah hanya karena ada orang lain yang datang."
Kalimat itu menghantam hati Elena begitu dalam. Selama ini ia pikir bukti cinta adalah selalu bersama dan menjawab keraguan berkali-kali. Ternyata bukti cinta terbesar adalah mempercayai sepenuhnya.
Rara Bertanya Hal Jujur
Suatu hari saat mereka menunggu hujan reda, Rara berani bertanya langsung pada Damian.
"Kenapa kamu begitu setia? Padahal belum tentu gadis itu selalu ada di sisimu. Belum tentu masa depan kalian mulus."
Damian menatap rintik hujan di luar jendela sejenak, lalu menjawab perlahan:
"Kamu tahu Rara, mencintai Elena bukan berarti aku tidak melihat orang lain. Aku melihatnya, aku menghargainya. Tapi aku sudah menemukan apa yang selama ini aku cari: ketenangan, kejujuran, dan seseorang yang membuatku ingin menjadi lebih baik."
Ia tersenyum mengenang wajah Elena.
"Menjaganya bukan beban, melainkan kebahagiaanku. Dan kesetiaan itu bukan karena aku terpaksa, tapi karena aku tidak ingin ada orang lain yang memilikinya selain aku."
Rara terdiam lama, akhirnya tersenyum ikhlas.
"Maaf jika aku sempat mengganggu. Sekarang aku paham. Kalian memang diciptakan untuk saling menjaga."
Sore yang Menyadarkan Banyak Hal
Akhir pekan itu Damian mengajak Elena ke tempat yang sederhana: taman kota tempat mereka pertama kali berbicara tanpa canggung.
Matahari mulai turun, memancarkan cahaya keemasan di antara pepohonan.
"Mau aku tunjukkan sesuatu?" tanya Damian.
Ia mengeluarkan dua lembar kertas yang dilipat rapi. Isinya bukan janji manis, melainkan catatan yang mereka tulis terpisah hari itu.
Elena membaca tulisan Damian:
"Jika ada yang menyukaimu, aku bangga. Itu tandanya aku beruntung mendapatkan yang terbaik. Jika ada yang mendekatiku, percayalah. Mataku hanya melihat arah yang sama denganmu. Cinta kita tak perlu dikunci, karena ia tahu jalan pulang sendiri."
Dan tulisan Elena:
"Dulu aku takut ada yang mengambilmu. Sekarang aku sadar: tak ada yang bisa mengambil apa yang memang sudah milik kita berdua. Aku akan menjaga hatiku, dan aku percaya kau menjagamu. Itu saja cukup."
Selesai membaca, mereka saling pandang. Tidak ada pertengkaran, tidak ada air mata sedih—hanya rasa syukur yang meluap.
Elena memeluk Damian erat.
"Terima kasih tidak pernah menuntut aku membuktikan apa-apa. Terima kasih sudah percaya sepenuhnya."
Damian mengecup puncak kepalanya lembut.
"Terima kasih juga sudah tetap di sini, meski banyak jalan lain yang terbuka."
Pelajaran untuk Semua
Kisah ini tak sengaja terdengar oleh Luna dan Arga. Saat mereka berkumpul, Luna menghela napas kagum.
"Kalian berdua benar-benar mengajarkan kami hal baru. Bukan tentang cara mencegah orang lain datang, tapi cara memperkuat ikatan sendiri."
Arga menambahkan,
"Rasa aman itu tidak datang dari menahan orang lain. Tapi dari keyakinan bahwa kalian saling memilih setiap hari."
Malam itu mereka sadar: persahabatan dan cinta yang kuat takkan runtuh hanya karena angin bertiup dari arah berbeda.
Masih Banyak Cerita di Depan
Minggu berlalu begitu saja. Rara tetap menjadi teman yang baik, Dika pun kini sering bergabung dalam diskusi tanpa perasaan canggung lagi. Justru persahabatan mereka makin luas.
Menjelang malam Damian mengantar Elena pulang, ia berhenti sejenak di depan pintu.
"Elena," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Suatu hari nanti kita akan menghadapi hal yang lebih berat dari sekadar orang ketiga. Mungkin jarak makin jauh, cobaan makin nyata. Tapi ingatlah satu hal: kita tak perlu terus-menerus membuktikan cinta kita. Kita cukup hidup saling mendukung."
Elena tersenyum lembut, lalu menyentuh kalung separuh lingkaran di dadanya.
"Aku ingat. Dan selama ada ini, selama ada janji di bawah langit yang sama, aku takkan pernah ragu lagi."
Mereka berpisah dengan hati yang lebih kokoh dari sebelumnya.
(Bersambung )