"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekati Roman
"Kak Roman duduk saja dulu biar kami periksa motornya" ucap Dirga
"Maaf ya, tadi motornya mogok saat pulang dari perkebunan kapol, motornya sudah tua" ungkap Roman langsung meminum air yang di sodorkan sampai tandas.
"Kenapa tidak pakai mobil saja juragan?" tanya Rastu
"Saya tidak bisa mengendarai mobil" jawab Roman berbohong karena sebenarnya dia tidak di perbolehkan untuk membawa mobil selain untuk urusan keluarga, itupun Radiah akan memakai jasa supir karena dia khawatir Roman akan mencelakai Radiah dan Radini kalau sampai di biarkan membawa mobil sendiri.
"Ini banyak yang harus di ganti, onderdil aslinya juga saya harus pesan dulu ke Jakarta, bagaimana Roman?" tanya Dimas yang hanya memanggil Roman dengan nama saja karena usianya lebih tua dari Roman.
"Aduh, bagaimana ya, motor ini sangat saya perlukan untuk bekerja" keluh Roman
"Juragan pakai motor bengkel saja kalau mendesak, motor ini simpan dulu di sini sampai onderdil datang dan kami memperbaikinya" ucap Gibran
"Iya Roman, kamu pakai motor bengkel saja, warga di sini juga sering pakai kalau motor mereka harus menginap di sini" ucap Dimas
"Tapi... "
"Tidak apa apa kak, bawa saja sekalian kan kak Roman bisa bekerja dengan tenang, kalau nyai Radiah tanya bilang saja kalau ini motor bengkel Mbah Dimas" ucap Dirga langsung di geplak Dimas.
"Bengkel Dimas and friends, Mbah Dimas dari mananya!" gerutu Dimas
"Warga di sini bilangnya bengkel Mbah Dimas kak, tanya yang lain deh" jawab Dirga dan semuanya mengangguk.
"Kenapa kalian tidak luruskan? malah di biarkan" keluh Dimas
"Tahu sendiri warga di sini ngeyelnya minta ampun" jawab Gibran membuat Roman tersenyum karena pertemanan Dimas juga yang lain begitu hangat, berbeda dengan dirinya yang sama sekali tidak punya teman.
"Kampung ini juga mungkin akan ganti jadi kampung Mbah Dimas nanti" ucap Gilang yang sekarang menggantikan almarhum Karman menjadi RT.
"Warga di sini memang yang paling sulit di sadarkan, taubat baru sebulan pas lihat yang aneh langsung percaya pada kemusyrikan lagi" ucap Roman
"Mau tidak percaya juga yang gaib itu memang nyata kan, kita tidak bisa memungkirinya, tapi kita juga harus tahu batasan dan batasan itu adalah agama, agama kita ini ibarat pagar, jika kita tidak di pagari maka kita akan tidak punya arah dan tujuan" ungkap Dimas dan Roman setuju.
"Aku bahkan ingin shalat, tapi setiap shalat dadaku panas dan tubuhku langsung gemetar lalu pingsan" ungkap Roman membuat semuanya terkejut.
"Maksud kak Roman?" tanya Dirga duduk di samping Roman.
"Aku pernah belajar shalat dulu saat masih remaja, kami lima bersaudara tapi tiga adikku sudah pindah ke Jakarta, aku dulu di besarkan oleh pembantu di rumah ibu, dia islam makanya aku juga mengikuti apa yang dia lakukan" jawab Roman
"Tapi setelah menikah dengan istriku, aku pindah ke rumah ibu dan membantunya mengurus kebun sementara Radini mengurus toko emas keluarga, sejak saat itu aku sudah tidak shalat lagi dan selalu pingsan saat melakukan itu" ucapnya lagi.
"Innalillahi" ucap semuanya
Dirga melihat sekeliling, dia memastikan di sana tidak ada orang lain selain Dimas dan teman temannya dan setelah di pastikan aman, Dirga mengusap punggung Roman, mencabut sesuatu yang dia dan Kenanga lihat sejak Roman masuk, sebuah kuku yang tertancap di punggung Roman, kuku itu hitam dan panjang, dan karena kuku itulah Roman tidak bisa beribadah.
Dimas juga melihat itu, dia melirik Sigit dan Sigit menerima kuku itu dari Dirga untuk dia simpan dan di berikan pada Badaruddin. Dengan semua informasi yang mereka dapat, sekarang mereka punya dua hal dari Luca setitik darah dari para anak anak Luca dan kukunya.
"Aakkhhh!" keluh Roman memegangi kepalanya.
"Kenapa kak?" tanya Dirga
"Tidak tahu tapi kepala saya pusing" jawabnya meringis bahkan memejamkan matanya karena segalanya terasa berputar.
"Ini kak, minum teh manis dulu" ucap Kenanga menyodorkan teh manis yang dia buat dan dia masukkan energinya supaya tubuh Roman kembali bersih dari pengaruh Luca.
"Tidak..."
"Ayo kak, minum saja" bujuk Dirga dan akhirnya Roman mau meminumnya.
Glek. Glek.
"Hhkkkk... Akhh! kenapa sakit sekali seperti di tusuk banyak jarum" ucap Roman.
"Muntahkan Roman" ucap Dimas
"Hueekkk... hueekk"
"Inalillahi, cepat bungkus jarum jarum itu dengan kain putih sebelum jarum itu menghilang" perintah Dimas saat Roman memuntahkan banyak jarum dari dalam perutnya.
"Apa.. apa yang kalian berikan padaku! aku tahu kalian tidak menyukai keluargaku tapi kenapa kalian membuatku seperti ini!" kesal Roman ingin pergi tapi di tahan Gibran dan Dirga.
"Tunggu kak, kakak salah faham, kami justru ingin menolong kakak, jarum ini bukan dari kami, ini teluh dari rumah kakak sendiri, kalau kakak tidak percaya, kakak bawa jarum jarum ini dan simpan di depan pintu rumah, jarum ini akan terbang ke arah orang yang mengirim teluh itu untuk kakak" ucap Dirga
Roman ragu, dia mungkin tidak di akui di rumah itu tapi selama ini Roman selalu di perlakukan dengan baik meskipun untuk keuangan, dia hanya di berikan gaji yang sama dengan pekerja Radiah yang lain tidak di istimewakan meskipun statusnya juga sering di panggil juragan di kampung itu.
"Ambillah Roman, supaya kamu tidak ragu pada kami dan bisa percaya pada kami, kami bukan orang jahat" ucap Dimas
Roman mengambil bungkusan jarum jarum itu dan dia simpan ke dalam tas kerja yang dia bawa, sekali lagi dia menatap Dimas dan Dimas mengangguk supaya Roman percaya kalau mereka bukan orang yang akan membahayakan Roman.
"Ini kunci motornya, dan minta nomor telepon kamu supaya saat motor kamu selesai di perbaiki, aku bisa menghubungkan kamu" ucap Dimas
"Tolong perbaiki secepatnya, itu motor ayah saya" ucap Roman setelah memberikan nomor teleponnya.
"Insya Allah" jawab Dimas
Roman sempat membeli beberapa makanan untuk dia bawa pulang, dia lalu membawa motor bengkel Dimas dan dia kembali mengangguk pada Kenanga juga karena dia tahu Kenanga adalah orang yang bisa di percaya dari aura putih yang di miliki Kenanga.
"Onderdil Vespa kan di sini juga ada Dim" ucap Panji
"Gue sengaja supaya gue bisa kenal dia, dia itu tidak punya siapapun yang bisa dia percaya diri sini, gue mau dia percaya sama gue dan jadi teman gue" jawab Dimas
"Gue setuju sama Dimas, lihat saja wajah waspada nya tadi, dia juga hati hati saat bicara seolah kita ini sama saja dengan keluarganya" ucap Gibran
"Sepertinya tekanan sejak lama membuat kak Roman tak bisa membuka hatinya untuk siapapun lagi, bahkan untuk percaya orang lain juga sulit" ungkap Dirga
"Iya, tapi tadi dia senyum pada Kenanga, kenapa juga dia begitu" gerutu Sigit membuat semuanya terkekeh.