Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Ayah dari Balik Cermin
Nama SERAPHIEL bertahan di permukaan kaca beberapa detik sebelum huruf-hurufnya meleleh menjadi garis cahaya.
Aelora tidak dapat mengalihkan pandangan.
Pantulan dirinya masih tersenyum, meskipun bibir Aelora yang asli tetap tertutup. Anak di dalam cermin itu berdiri dengan rambut rapi dan pakaian putih bersih, jauh berbeda dari Aelora yang masih mengenakan gaun kusut dengan perban pada pergelangan kaki.
Di belakang pantulan tersebut, muncul langit berwarna keemasan.
Enam sayap putih terbuka perlahan.
Sosok laki-laki berdiri di kejauhan, tetapi wajahnya tertutup cahaya.
“Putriku.”
Suara itu kembali keluar dari mulut Piko.
Boneka di tangan Aelora bergetar begitu kuat sampai jahitan baru pada telinganya tertarik.
Aelora hampir menjatuhkannya.
“Ayah?” katanya pelan.
Kael bergerak ke depan dan menutup sebagian cermin dengan tubuhnya.
“Jangan menjawab.”
“Tapi dia—”
“Kita belum tahu siapa yang berbicara.”
Sosok di dalam cermin melangkah mendekat.
Cahaya yang menutupi wajahnya berkurang sedikit. Aelora melihat rambut putih panjang, kulit pucat, dan sepasang mata keemasan yang terasa anehnya akrab.
Bentuk wajahnya tidak sama dengan Aelora, tetapi matanya—
Aelora pernah melihat mata itu.
Bukan dalam ingatan. Bukan pula dalam mimpi.
Ia melihatnya setiap kali bercermin dan cahaya mengenai bagian ungu matanya dari sudut tertentu. Ada semburat emas yang selalu muncul sesaat, lalu menghilang.
“Dia mirip denganku,” bisiknya.
Kael tidak membantah.
Eirna berdiri dekat Maura dan Orin yang masih terbaring di lantai. Tabib itu mengangkat kristal pemeriksaan ke arah cermin. Permukaan kristal langsung berubah hitam.
“Tidak ada pintu fisik,” katanya. “Ini jalur kesadaran.”
“Bisa dilewati?” tanya Kael.
“Jiwa mungkin bisa. Tubuh tidak.”
Sosok bersayap di dalam cermin berhenti tepat di belakang pantulan Aelora.
Tangannya diletakkan di bahu anak dalam kaca.
Pantulan tersebut menutup mata seolah merasa nyaman disentuh.
Aelora yang asli tidak merasakan apa-apa.
“Aku sudah menunggumu,” kata suara itu melalui Piko.
Aelora menatap bonekanya. “Kenapa bicara lewat Piko?”
Mulut boneka bergerak kaku.
“Benda itu membawa sebagian cahaya ibumu. Aku hanya dapat mencapai dunia ini melalui jejaknya.”
Kael menoleh kepada Aelora. “Jangan mendekat.”
“Aku tidak bergerak.”
“Kau sedang memikirkan untuk bergerak.”
Aelora memandang jarak antara dirinya dan cermin. Hanya tiga langkah.
“Aku cuma ingin mendengar.”
“Kau bisa mendengar dari sana.”
Sosok dalam kaca menatap Kael.
Wajahnya berubah dingin.
“Kau masih menghalanginya.”
Kael membalas tatapan itu tanpa berkedip. “Kalau kau benar-benar Seraphiel, kau tahu aku punya alasan.”
“Aku tahu kau pernah membuat perjanjian untuk menyerahkannya.”
Aelora merasakan kalimat itu seperti tekanan pada luka yang belum sempat menutup.
Kael tetap tenang. “Informasi itu dapat diketahui siapa pun yang memegang pecahan perjanjian.”
“Aku juga tahu alasan Mirael berhenti mempercayaimu.”
Bayangan di bawah kaki Kael bergerak.
“Cukup.”
“Karena saat pasukan Elyrion berdiri di perbatasan, kau bertanya berapa banyak warga yang harus mati sebelum dia menyerahkan anaknya.”
Aelora memandang Kael.
Ia sudah mendengar bagian mengenai ancaman terhadap kota. Namun kalimat tersebut tidak pernah disebut.
Kael tidak menyangkal.
“Apakah kau mengatakan itu kepada Ibu?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena waktu itu aku sedang mencoba menghentikan perang.”
“Dengan menakutinya?”
“Dengan mengatakan apa yang akan terjadi kalau pasukan mereka menyerang.”
Aelora tahu ada perbedaan di antara keduanya, tetapi perbedaan itu tidak membuat kata-kata tersebut menjadi lebih ringan.
Sosok dalam cermin menunduk kepada pantulan Aelora.
“Dia selalu memilih kerajaannya.”
Kael menjawab, “Seorang raja memang seharusnya memilih rakyatnya.”
“Bahkan jika pilihan itu berarti mengorbankan seorang bayi?”
“Tidak lagi.”
Suara dari Piko tertawa pelan.
Tidak terdengar seperti tawa bahagia. Lebih mirip bunyi logam tipis yang digesek di atas kaca.
Kael memperhatikan Piko.
“Seraphiel tidak tertawa seperti itu.”
Sosok di cermin berhenti.
Aelora menoleh. “Kau ingat tawanya?”
“Aku pernah mendengarnya.”
“Seperti apa?”
“Lebih mengganggu.”
Untuk sesaat, situasi itu hampir terasa biasa. Namun pantulan Aelora dalam cermin membuka mata.
Kedua matanya kini berwarna emas sepenuhnya.
Ia mengangkat tangan dan menempelkan telapak pada kaca dari sisi dalam.
Sosok bersayap di belakangnya ikut mengulurkan tangan.
“Sentuh aku,” katanya. “Darah akan mengenali darah.”
Kael langsung berkata, “Tidak.”
Aelora tidak bergerak, tetapi dadanya terasa hangat.
Bukan sekadar penasaran.
Ada tarikan halus dari dalam tulangnya, seperti sesuatu dalam tubuhnya ingin mendekati cermin. Tanda pada pergelangan tangannya menyala. Cincin Vesperion di lehernya ikut bergetar, seakan menolak tarikan tersebut.
“Ayah terkurung?” tanya Aelora.
Wajah laki-laki dalam kaca melunak.
“Ya.”
“Di mana?”
“Tempat yang tidak bisa kujangkau tanpa bantuanmu.”
“Elyrion?”
“Lebih rendah.”
“Asteria?”
Sosok itu tidak menjawab langsung.
Tangannya masih menempel pada kaca.
“Datanglah. Aku akan menunjukkan jalannya.”
Aelora maju setengah langkah.
Kael menangkap bahunya.
“Berhenti.”
“Aku hanya mau melihat.”
“Dia baru saja meminta jiwamu masuk ke benda yang muncul di balik tempat persembunyian parasit.”
“Mungkin dia sungguh terjebak.”
“Mungkin. Itu tidak membuat jalannya aman.”
Aelora menatap tangan besar di bahunya. “Kalau itu ayahku, aku tidak bisa mengabaikannya.”
“Kalau itu bukan ayahmu, ia sedang memakai keinginanmu untuk bertemu dengannya.”
“Bagaimana kita tahu?”
Kael memandang sosok di dalam cermin.
“Aku akan bertanya.”
Sosok itu tersenyum tipis. “Kau ingin mengujiku?”
“Ya.”
“Silakan.”
Kael berpikir beberapa saat.
“Apa yang kaukatakan saat pertama kali bertemu Mirael?”
Aelora menunggu.
Sosok bersayap tidak langsung menjawab.
Kemudian suaranya keluar dari Piko.
“Aku mengatakan bahwa namanya terlalu indah untuk manusia yang sedang mencuri apel dari taman suci.”
Maura mengangkat kepala dari lantai.
Ia tampak mengenali cerita itu.
Kael tidak menunjukkan reaksi.
“Pertanyaan kedua,” katanya. “Apa yang kauberikan kepadaku saat kita berpisah di Jembatan Abu?”
Sosok itu menatapnya dengan wajah kesal.
“Sehelai bulu.”
“Bulu apa?”
“Sayap kiriku.”
“Warna pangkalnya?”
“Emas.”
Kael menggeleng.
“Hitam.”
Wajah sosok dalam kaca tidak berubah, tetapi seluruh permukaannya bergetar tipis.
“Bulu itu terbakar terkena bayanganku,” lanjut Kael. “Pangkalnya berubah hitam sebelum kau menyerahkannya.”
Sosok bersayap tersenyum lagi.
Kali ini senyumnya terlalu lebar.
“Ingatan dapat rusak setelah tujuh tahun disiksa.”
“Mungkin,” kata Kael. “Tapi Seraphiel akan lebih memilih kehilangan sayap daripada mengaku lupa detail kecil di depan orang yang tidak disukainya.”
Aelora memandang cermin.
“Jadi dia bukan Ayah?”
Kael tidak langsung menjawab.
“Dia memiliki sebagian ingatan Seraphiel. Bisa jadi pantulan, pesan lama, atau sesuatu yang pernah menyentuh pikirannya.”
“Aku Seraphiel,” kata suara dari Piko.
“Kalau begitu keluar dari boneka dan bicara menggunakan mulutmu sendiri.”
Sosok itu mengangkat dagu.
Cahaya di belakangnya menjadi semakin terang. Enam sayap terbuka memenuhi seluruh pantulan.
Dinding ruangan bergetar.
Maura meringis dan menutup telinganya. Orin yang masih setengah sadar mencoba bangkit, tetapi Eirna menahannya.
Aelora merasakan tarikan dari cermin semakin kuat.
Kakinya bergeser di lantai tanpa ia kehendaki.
Kael memegang bahunya lebih erat.
“Aelora, lihat aku.”
Ia berusaha, tetapi mata emas dalam cermin sulit ditinggalkan.
Pantulannya sendiri mulai berbicara.
Bukan melalui Piko.
Melalui kaca.
“Aku bisa memberimu semua yang hilang.”
Suara itu adalah suara Aelora yang lebih dewasa.
Suara dirinya pada usia tujuh belas tahun.
Pantulan tersebut berubah.
Anak kecil dalam kaca tumbuh menjadi gadis berambut putih dengan sayap lebar. Pakaiannya berlumur darah, tetapi wajahnya tersenyum.
Di belakangnya berdiri Mirael.
Kael.
Nira.
Ryn.
Orin.
Semuanya hidup dan tanpa luka.
Aelora menahan napas.
“Ini tidak nyata,” kata Kael.
“Aku tahu.”
Namun suaranya gemetar.
Kael dalam pantulan berjalan mendekat dan berlutut di sisi Aelora dewasa. Tidak ada luka di dadanya. Tidak ada darah. Ia tersenyum seperti dalam ingatan yang hampir dilupakan Aelora.
“Kau bisa memperbaiki semuanya,” kata pantulan itu. “Kau hanya perlu membuka jalan.”
Gerbang Tiga Dunia muncul di belakang mereka.
Aelora merasakan mual.
Kalimat yang sama.
Bentuk rayuan yang sama.
Buka gerbang dan semua orang akan kembali.
Ia pernah mempercayainya sekali.
Tangan Aelora mengepal.
“Kau bukan ayahku.”
Sosok bersayap di belakang pantulan berhenti tersenyum.
“Aku membawa darahnya.”
“Itu bukan hal yang sama.”
“Aku mengetahui kerinduanmu.”
“Itu juga bukan hal yang sama.”
Kaca mengeluarkan bunyi retak.
Pantulan kehidupan bahagia menghilang. Yang tersisa hanya Aelora kecil dengan mata emas.
“Sentuh cermin.”
“Tidak.”
“Kau membutuhkan jawaban.”
“Aku bisa mencari dengan cara lain.”
“Kau akan terlambat.”
Kalimat tersebut membuat Aelora ragu sesaat.
Sosok itu melihatnya.
“Seraphiel masih hidup,” katanya cepat. “Tubuhnya dirantai. Sayapnya dipotong setiap kali tumbuh kembali. Kalau kau tidak datang sebelum bulan merah berikutnya, yang tersisa darinya hanya nama.”
Aelora melangkah tanpa sadar.
Kael menariknya kembali.
“Dia berbohong.”
“Bagaimana kalau tidak?”
“Kita cari bukti.”
“Berapa lama?”
“Secepat mungkin.”
“Itu bukan waktu.”
“Aelora.”
“Kalau Ayah benar-benar disiksa—”
Cermin meledakkan cahaya.
Kael mendorong Aelora ke belakang. Satu dinding bayangan muncul, tetapi cahaya emas menembus sebagian permukaannya dan menyambar lengan Kael.
Kulitnya terbakar.
Aelora menjerit, “Kael!”
Bayangan sang raja langsung menutup lukanya. Ia berdiri di depan Aelora, wajahnya berubah dingin.
“Sekarang aku yakin itu bukan sekadar pesan.”
Cermin retak dari bagian tengah.
Tangan pantulan Aelora keluar menembus permukaan.
Bukan tangan dari daging.
Bentuknya terbuat dari cahaya emas, dengan jari-jari panjang yang berusaha meraih kepala Aelora.
Kael memotongnya menggunakan bilah bayangan.
Cahaya dan bayangan bertabrakan. Udara meledak, mendorong semua orang di dalam ruangan.
Aelora jatuh terduduk. Piko terlepas dari tangannya dan tergelincir sampai ke dekat cermin.
“Tangkap bonekanya!” seru Eirna.
Terlambat.
Tangan cahaya kedua keluar dan meraih Piko. Boneka itu terangkat ke udara. Jahitan pada perutnya terbuka sedikit demi sedikit.
“Ada sesuatu di dalamnya,” kata Orin dengan suara lemah.
Dari tubuh Piko keluar sehelai bulu panjang berwarna putih.
Pangkalnya hitam.
Kael membeku sesaat.
“Itu bulu yang kau sebut tadi?” tanya Aelora.
“Ya.”
Bulu tersebut terbang menuju cermin.
Sosok di dalam kaca mengulurkan tangan untuk menerimanya.
Kael melempar bilah bayangan.
Bilah itu memotong jalur cahaya tepat sebelum bulu melewati permukaan. Bulu Seraphiel jatuh di lantai, sementara cermin mengeluarkan jeritan yang membuat batu-batu ruangan retak.
Aelora merangkak dan meraih Piko.
Boneka itu terasa sangat ringan sekarang, seolah sebagian besar isi tubuhnya ikut ditarik keluar.
Mata kancingnya terlepas satu dan jatuh ke lantai.
“Aelora,” kata suara laki-laki dari dalam cermin. Kali ini tidak lagi terdengar lembut. “Berikan bulu itu.”
“Tidak.”
“Itu milikku.”
“Kalau kau benar Ayah, kenapa bulu itu disembunyikan dalam bonekaku?”
Tidak ada jawaban.
Aelora mengambil bulu tersebut.
Pangkalnya yang hitam terasa hangat di telapak tangan. Begitu kulitnya menyentuh noda darah emas, sebuah ingatan singkat melintas.
Seraphiel berdiri di depan Mirael.
Wajahnya pucat dan salah satu sayapnya berlumur darah. Ia menyerahkan bulu itu kepada Mirael, lalu berkata sesuatu yang tidak terdengar.
Mirael menangis.
Seraphiel menyentuh perutnya yang sedang mengandung.
Ingatan berakhir.
Aelora menggenggam bulu tersebut erat-erat.
“Ini diberikan kepada Ibu.”
Sosok dalam cermin memukul permukaan kaca dari dalam.
“BERIKAN KEPADAKU!”
Seluruh jalur bawah tanah berguncang.
Kael tidak menunggu lagi.
Bayangannya membungkus cermin dari keempat sisi. Cahaya emas mencoba keluar melalui celah-celahnya, tetapi Kael menutup setiap bagian sampai hanya tersisa garis tipis.
“Semua mundur.”
Eirna dan para penjaga membawa Maura serta Orin mendekati tangga. Aelora ikut mundur sambil memeluk Piko dan bulu Seraphiel.
Kael mengepalkan tangan.
Bayangan menghantam cermin bersamaan.
Kaca pecah.
Tidak ada ledakan besar. Hanya bunyi retakan tajam, diikuti hujan pecahan kecil yang tertahan oleh dinding bayangan.
Suara laki-laki itu menjerit satu kali.
Lalu berhenti.
Pintu kecil di dinding menutup dengan sendirinya. Lambang matahari terbelah pada permukaannya padam.
Aelora menatap tempat cermin tadi berdiri.
Sebagian besar pecahannya sudah berubah menjadi pasir hitam. Namun satu keping kaca masih utuh, sebesar telapak tangan orang dewasa.
Kael mengambilnya menggunakan kain.
Permukaan pecahan itu tidak lagi memantulkan wajah siapa pun.
Yang terlihat justru sebuah ruangan gelap.
Di dalamnya, seorang laki-laki berambut putih tergantung pada rantai emas. Punggungnya dipenuhi luka, dan enam bekas sayap terlihat pada tulang belikatnya.
Aelora mendekat.
“Apakah itu nyata?”
“Aku tidak tahu,” jawab Kael.
Laki-laki dalam pantulan mengangkat kepala.
Kali ini ia tidak melihat Aelora.
Matanya tampak kosong, seolah tidak sadar sedang diamati.
Di dinding belakangnya terdapat lambang Gereja Fajar.
Di bawah lambang itu, tertulis nama sebuah tempat.
Kael membaca tulisan tersebut lebih dulu.
“Ruang Bawah Ketujuh.”
Aelora mengenali bangunan yang tergambar di balik rantai. Dinding putih. Pilar tinggi. Matahari emas di atas altar.
Tempat itu muncul dalam pelajaran agama Asteria, tercetak di hampir semua buku suci.
“Katedral Fajar,” katanya.
Pecahan cermin mulai menghitam dari tepi.
Sebelum gambar menghilang, laki-laki yang dirantai mengangkat satu tangan. Gerakannya lemah, tetapi jarinya berhasil menulis sesuatu menggunakan darah emas pada lantai.
Hanya satu kalimat.
JANGAN DATANG MELALUI GERBANG.
Pantulan padam.
Kael menatap pecahan kaca yang kini gelap sepenuhnya.
Aelora menggenggam bulu Seraphiel di dadanya.
“Kalau itu benar,” katanya, “ayahku berada di Asteria.”
Kael tidak menjawab.
Dari atas tangga terdengar bunyi lonceng istana.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian tujuh kali berturut-turut.
Wajah Kael berubah.
“Apa artinya?” tanya Aelora.
Orin, yang masih dibantu berdiri oleh seorang penjaga, menjawab dengan suara parau.
“Gerbang utama dibuka untuk utusan tingkat kerajaan.”
Langkah sepatu terdengar di lorong atas.
Seorang prajurit berlari turun, lalu berhenti di tengah tangga.
“Yang Mulia,” katanya, masih berusaha mengatur napas. “Utusan Elyrion tiba di halaman.”
Kael menyelipkan pecahan cermin ke dalam mantelnya.
“Siapa?”
Prajurit itu menelan ludah.
“Mereka membawa lambang enam sayap.”
Tatapannya turun kepada Aelora.
“Dan mereka meminta bertemu dengan putri Seraphiel.”