Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
...~Poliklinik~...
Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor yang panjang. Arka membawa rantang besar milik Naira dalam satu pelukan, sementara satu tangannya lagi sibuk mendekap tumpukan berkas. Langkah keduanya beradu dengan ritme yang selaras, menciptakan dentuman suara sepatu yang bergema di sepanjang koridor.
"Mas..." bisik Naira pelan. Karena suasana koridor yang begitu sepi, suaranya terdengar menggema.
Arka menoleh sedikit. "Kenapa?"
"Sepi..."
"Kalau di area latihan, suasananya jauh lebih ramai," jawab Arka tenang.
Dan benar saja. Begitu mereka melewati deretan ruang staf, suara latihan jarak jauh mulai tertangkap indra pendengaran. Sayup-sayup, suara derap langkah serempak dan teriakan komando peleton terdengar menggelegar dari kejauhan. Ini adalah kali pertama bagi Naira melihat secara langsung denyut nadi kehidupan tentara di dalam barak.
Langkah Naira mendadak terhenti saat ia melihat melalui jendela koridor, ada satu peleton yang sedang sibuk berlatih di lapangan terbuka. Matanya berbinar, menatap kagum pada kedisiplinan di depan sana.
Arka menyadari langkah gadis itu berhenti. Ia ikut menghentikan langkahnya, menatap Naira dengan alis yang terangkat heran. "Kenapa, Nai?"
Naira menoleh, menyunggingkan senyum tulus yang membuat Arka tertegun sejenak. "Kagum saja," jawabnya pelan. "Ternyata, dunia Mas Arka... sedisiplin ini."
"Dan..." Suara gadis itu menggantung pelan, matanya masih betah memandangi para prajurit yang sedang berlatih fisik di lapangan.
Arka menoleh sekilas. Alisnya berkerut heran menunggu kelanjutan kalimat Naira. "Dan apa?"
"Aku baru tahu... ternyata badan mereka sebagus Mas Arka," ucap Naira dengan nada yang kelewat polos, seolah tanpa beban sama sekali.
Uhuk!
Arka berdeham pelan, mendadak tenggorokannya terasa sangat kering. Rahangnya seketika mengeras dengan semburat merah di wajah yang menjalar cepat hingga ke ujung telinga.
"Jangan melihat ke luar jendela lagi. Fokus ke jalan di depan," tegur Arka, suaranya sengaja dibuat seberat mungkin demi menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berantakan.
Naira yang melihat reaksi itu menahan tawa, setengah berlari kecil untuk menyejajarkan langkahnya kembali. "Kita mau ke mana dulu sekarang, Mas?" tanya gadis itu, beralih menatap wajah samping Arka yang masih tampak kaku menahan malu.
Bahu Arka agak menegang, ia menoleh ke arah Naira pelan. Gadis itu sedang menatapnya dengan binar polos tanpa dosa.
"Kita ke poliklinik lebih dulu."
"Tes pemeriksaan seperti yang Mas bilang subuh tadi?"
"Iya, kamu harus tes darah, tensi, dan beberapa pemeriksaan dasar lebih dulu."
Naira menganggukkan kepala patuh. "Sekarang?"
"Iya, aku antar dulu. Nanti kamu tunggu Mas di sana, ya." Pria itu sedikit mengangkat rantang besar yang dipeluknya. "Mas harus simpan ini dulu di kantor Kompi biar tidak diminta sana-sini oleh anggota."
Naira terkekeh geli. Mereka kembali berjalan beriringan. Sesekali gadis itu berdecak kagum, matanya sibuk menjelajahi setiap sudut markas. Mereka kemudian berbelok ke arah gedung lain yang agak terpisah. Sebuah papan nama bertuliskan Poliklinik YONIF tercetak tebal di dinding atas bangunan tersebut.
"Kamu tunggu di sini, ya. Hanya sebentar, tidak sampai lima menit." Arka bergegas pergi dengan langkah lebarnya yang tegas, meninggalkan Naira sendirian di kursi besi panjang depan poliklinik.
Gadis itu mendudukkan diri, lalu memeriksa kembali tas berkas yang sempat diserahkan oleh Arka beberapa saat lalu. Untuk mengusir rasa sunyi, ia menyenandungkan lagu favoritnya pelan, lagu Dan dari Sheila On 7. Angin musim kemarau di area batalyon terasa agak sejuk pagi ini. Pohon-pohon besar di sekitar gedung bergemerisik agak bising, menggugurkan daun-daun kering yang jatuh berserakan di atas aspal.
Lalu...
Kreeek.
Pintu poliklinik terbuka dari dalam. Menampilkan seorang wanita dengan pakaian seragam militer yang dibalut jas dokter putih bersih. Mata Naira langsung menangkap sebuah nametag hitam yang tersemat di dada kiri wanita itu: dr. Laudya K.
"Pagi, Dok," sapa Naira lebih dulu. Senyumnya terkembang lebar hingga kedua matanya menyipit ramah khas seorang guru.
Sedangkan dokter yang disapa tampak membeku sesaat, matanya menilai Naira dengan seksama. "Pagi juga. Ada urusan apa, ya?"
"Saya mau periksa kesehatan untuk keperluan berkas pernikahan."
"Pernikahan?" Nada suara dokter itu mendadak mengayun, ada jeda yang tertahan di sana.
"Iya, dengan Lettu Arka Wiguna."
Seketika itu juga, tatapan kedua wanita itu bertemu. Naira bisa merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Ada kilat ketajaman yang tidak biasa ketika wanita di depannya itu mulai memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memperhatikan dengan teliti setelan batik formal serta rok span hitam yang membungkus tubuh Naira. Di antara jarak mereka yang dekat, aroma parfum citrus mahal milik sang dokter dan wangi minyak cendana tipis milik Naira tercium samar, saling beradu di udara.
"Lumayan..." gumam Laudya lirih, entah apa maksudnya.
Dokter itu kemudian memundurkan badannya selangkah, membuka pintu poliklinik lebih lebar dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah datar dan profesional. "Mari masuk," ujar Laudya, mempersilakan Naira untuk melangkah masuk lebih dulu.
...----------------...
Aroma antiseptik dan pahit obat samar tercium di ruang pemeriksaan. Naira baru saja selesai dicek dengan tubuh yang agak gemetar. Ia merasa dirinya dibuka terlalu eksplisit—riwayat kesehatan, tekanan darah, hingga detak jantungnya seolah dikuliti habis di bawah tatapan tajam yang tersirat kesan sinis.
Keduanya kini telah saling berhadapan di meja dokter. Laudya tampak menuliskan beberapa kata di atas lembar kertas rekam medis sebelum akhirnya mengetuk penanya pelan.
"Tensi kamu agak tinggi. Memang ada riwayat atau karena gugup?" tanya Laudya dengan nada yang disisipi sedikit intimidasi.
Naira menelan ludahnya pelan. "Gugup, Dok."
Laudya menganggukkan kepalanya samar. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja, lalu menopang dagu, memainkan jemarinya di depan wajah dengan tatapan menilai.
"Kamu... Naira?"
Naira seketika mengernyitkan dahi. Pertanyaan itu terdengar aneh, seolah sang dokter sebenarnya sudah tahu dan hanya ingin mempertegas kembali namanya.
"I-iya, Dok."
Laudya tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak sampai ke mata. "Saya cuma penasaran, siapa gadis kurang beruntung yang mau menikahi tentara sekaku Arka."
Naira tertawa agak kikuk, mencoba mencairkan suasana yang terasa makin mencekik. "Mas Arka enggak sekaku itu juga, kok, Dok..."
Laudya mengangkat sebelah alisnya. "Oh, ya? Terus?"
"Dia baik. Saya selalu merasa aman di dekatnya," jawab Naira, berusaha mempertahankan wibawa calon suaminya.
"Hebat juga," sahut Laudya, nadanya beralih dingin. "Saya mengenalnya cukup lama. Bahkan... sangat dekat."
Naira menipiskan tatapannya, mulai menangkap gelagat yang tidak beres. "Oh..."
"Kami pernah pacaran."
Bola mata Naira seketika melebar. Ia menatap dr. Laudya yang justru tampak begitu tenang setelah melempar kalimat barusan. "Cukup lama, hampir setahun lebih."
Jantung Naira serasa bergemuruh hebat seketika itu juga. Ingatannya langsung terlempar pada obrolan tentang masa lalu Arka di kedai es buah tempo lalu. Gadis itu meneguk ludahnya lumat-lumat dengan dada yang mendadak sesak.
Di hadapannya saat ini adalah mantan kekasih Arka. Jika dulu ia sempat berpikir bahwa wanita dari masa lalu pria itu sudah jauh terasing, Naira sepenuhnya salah. Mantan kekasih Arka ternyata masih berada di satu lingkup yang sama, sedekat ini dengan calon suaminya.
Braaakkk!!
Pintu poliklinik terbuka dengan agak tergesa. Menampilkan sosok Arka yang berdiri tegap di ambang pintu dengan napas yang agak terengah.
Kedua wanita di dalam ruangan itu serempak menengok ke arah yang sama. Namun, tatapan mata Arka langsung jatuh lurus pada Naira. Wajah gadis itu tampak memerah menahan gejolak emosi, dengan dada yang naik-turun lembut namun bertempo agak cepat.
Seketika itu juga, jakun Arka bergerak naik-turun dengan susah payah. Sang perwira tersadar—ia telah datang terlambat dari yang semestinya.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.