⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 19
Akane menatap lekat ke arah sepasang mata Lucy dengan pandangan yang membelalak sempurna karena terkejut. Namun perlahan tapi pasti, kedua belah sudut bibirnya mulai terangkat ke arah atas. Kali ini, gerakan itu benar-benar membentuk sebuah senyuman yang nyata. Sebuah senyuman kecil yang terkesan masih sangat lemah, namun memancarkan kesan ketulusan yang mendalam.
"Kamu ini memang benar-benar seorang gadis yang sangat aneh."
"KATA-KATA ITU SUDAH RESMI MENJADI KALIMAT FAVORIT KAKAK YA!"
Mereka berdua akhirnya melepaskan sebuah tawa kecil secara bersamaan. Itu bukan merupakan sebuah suara tawa yang keras dan membahana, melainkan hanya sebuah tawa kecil yang terdengar sangat hangat di tengah keheningan koridor rumah sakit pada jam dua dini hari. Namun bagaimanapun juga, porsi tawa kecil itu sudah lebih dari cukup untuk mencairkan suasana dingin di antara mereka.
Tak berselang lama kemudian, seorang petugas perawat tampak muncul dari arah ujung koridor. "Nona Akane? Mohon maaf mengganggu waktunya, namun Anda harus segera kembali ke dalam kamar perawatan sekarang juga. Waktu malam sudah sangat larut."
Akane menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda mengerti. Dia kembali melayangkan pandangan matanya ke arah Lucy sekali lagi sebelum beranjak. "Terima kasih banyak atas segalanya, Lucy."
"Sama-sama, Kakak cantik!" Lucy melambaikan tangan kanannya dengan penuh semangat, saat petugas perawat mulai mendorong kursi roda Akane untuk masuk ke dalam kamarnya.
Tepat sebelum pintu kamar perawatan itu tertutup rapat, Akane sempat menolehkan kepalanya kembali ke arah luar. "Apakah kita berdua masih memiliki kesempatan untuk bisa saling bertemu kembali di lain waktu?"
"Tentu saja kita pasti akan bertemu kembali!"
Pintu kamar itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan Lucy yang kini kembali berdiri sendirian di tengah keheningan koridor. Senyuman ceria yang terpancar di wajah imutnya perlahan mulai memudar tanpa bekas, digantikan oleh sebuah ekspresi wajah yang cenderung datar dan netral.
"Kamu ternyata memilih untuk menghibur kondisi batinnya," ujar Lili membuka suara di dalam kepalanya. "Jujur saja, tindakanmu malam ini sama sekali di luar dari prediksi mbkg"
"Aku sendiri juga tidak menyangka kalau aku akan melakukan tindakan seperti itu."
"Memangnya apa yang menjadi alasan utamamu melakukan hal itu? Bukankah biasanya kamu selalu bersikap acuh tak acuh dan tidak pernah memedulikan nasib para manusia?"
Lucy mulai melangkahkan kaki lebarnya untuk berjalan kembali menuju ke arah kamarnya sendiri. Langkah kakinya terdengar sangat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai. "Aku sendiri juga tidak tahu pasti mengenai alasannya. Namun mungkin saja porsi cerita hidupnya sedikit mengingatkan diriku pada kondisi masa laluku dahulu. Tepatnya pada saat kakak laki-laki pertamaku..." Kalimatnya mendadak terhenti di tengah jalan. "...ah lupakan saja ucapan tadi, hal itu sama sekali tidak penting untuk dibahas."
"Kamu selama ini memang terasa tidak pernah sudi untuk menceritakan kisah mengenai latar belakang keluarga kakak-kakakmu kepadaku."
"Itu karena memang sama sekali tidak ada satu hal pun yang menarik atau berharga untuk diceritakan kepadamu."
Langkah kakinya kini sudah sampai di depan pintu masuk kamar perawatan VVIP miliknya sendiri. Kedua orang pengawal pribadi yang bertubuh kekar itu masih saja terus berdiri tegak di sana, sama sekali tidak menyadari keberadaan fisik Lucy yang sedang melintas di antara mereka. Lucy melangkah santai menembus pintu kayu mewah itu dan langsung masuk ke dalam ruangan.
Namun tepat pada saat dia baru saja mendudukkan tubuh manusianya di atas permukaan ranjang pasien, sebuah pergerakan yang sangat mengejutkan mendadak terjadi.
"LUCY!"
Sebuah dekapan tubuh yang sangat erat dan kokoh seketika langsung menghantam posisi tubuh manusianya hingga terdorong ke arah belakang.
Orang itu adalah Kaito. Cowok itu ternyata sudah terbangun dari tidurnya yang lelap. Sepasang matanya terlihat sangat merah, dengan ritme deru napas yang terengah-engah tidak beraturan karena panik. Dia mendekap erat tubuh Lucy dengan porsi kekuatan yang sangat besar, seolah-olah dia sedang sangat ketakutan akan kehilangan gadis itu dari dalam hidupnya. Dekapan itu terasa begitu erat hingga membuat Lucy sempat merasa sedikit kesulitan untuk sekadar menghirup udara oksigen.
"Kamu... kamu akhirnya sudah siuman... kamu akhirnya sudah kembali membuka matamu..." Suara Kaito terdengar sangat bergetar hebat menahan gejolak emosi kebahagiaan yang membuncah. "Aku sempat berpikir bahwa kamu tidak akan pernah... aku sempat berpikir kalau kamu..."
"Kaito, tenanglah terlebih dahulu." Lucy mengulurkan tangan manusianya untuk menepuk-nepuk pelan bagian punggung cowok itu. "Kondisiku saat ini sudah baik-baik saja."
"Jangan pernah berani untuk pergi meninggalkanku lagi di dunia ini. Tolong jangan pernah pergi lagi dari sisiku. Aku..." Dia semakin mempererat porsi dekapannya pada tubuh mungil Lucy. "...aku benar-benar tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan dirimu."
"Aku sama sekali tidak pergi ke mana-mana, Kaito. Aku tadi hanya..." Lucy sengaja menahan kalimatnya sejenak. Dia tentu saja tidak akan sebodoh itu dengan mengatakan bahwa dia baru saja pergi jalan-jalan keluar koridor. "...aku tadi hanya sedang tertidur sangat lelap saja. Dan sekarang, kamu juga harus segera mengistirahatkan tubuhmu untuk tidur."
Namun Kaito sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan dekapannya. Dia tetap setia memeluk erat tubuh Lucy, membiarkan posisi wajahnya terbenam sepenuhnya di atas permukaan bahu mungil gadis itu. Struktur tubuhnya yang besar tampak bergetar hebat karena sisa rasa ketakutan yang teramat sangat.
"Cowok manusia ini sepertinya benar-benar berada dalam kondisi yang sangat ketakutan karena mengkhawatirkan keselamatan nyawamu," bisik Lili secara perlahan. "Sepanjang aku mendampingi hidupnya, aku sama sekali belum pernah melihat dia menunjukkan ekspresi kerapuhan yang sampai sejauh ini."
Lucy hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturan sistemnya. Sebelah tangan manusianya yang tadinya sempat terangkat ragu-ragu di udara, kini perlahan mulai mendarat dengan lembut di atas permukaan rambut hitam Kaito. Dia mulai mengelus pelan rambut cowok itu dengan gerakan yang sangat menenangkan.
"Kaito, dengarkan suaraku baik-baik. Aku saat ini sudah berada di sini bersamamu. Dan aku berjanji tidak akan pernah pergi ke mana-mana lagi."
"Apakah kamu bisa menjamin kalimat janjimu itu?"
Lucy sempat terdiam membisu selama beberapa saat. Sebelum akhirnya, dengan nada suara yang terdengar sangat pelan namun sarat akan kesungguhan, dia menjawab, "Iya, aku berjanji kepadamu."
Dan untuk pertama kalinya di malam yang dingin itu, di dalam lubuk hati kecil sang Dewi Rubah, dia merasa bahwa untaian kalimat janji yang baru saja diucapkannya itu sama sekali tidak mengandung porsi kebohongan sedikit pun.
"kau yakin dengan janji mu?" ucap lili yg sedang menjilati kaki berbulu nya.
Lucy menyeringai "seyakin butiran debu"