NovelToon NovelToon
Istri Kedua Kepala Desa

Istri Kedua Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Henny

Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membeli Keperluan Istri

"Sinta, bangun!"

Sinta kaget saat merasakan tepukan halus di pipinya. Ia segera bangun sambil duduk namun menjadi panik dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.

"Ini jam berapa?" tanya Sinta masih dengan sisa kantuk di wajahnya.

"Jam 8 lewat 10 menit." jawab Mahendra sambil melihat jam tangannya. Ia kelihatannya baru selesai berolahraga karena tubuhnya nampak berkeringat.

"Maaf. Aku seharusnya sudah menyiapkan sarapan untuk Abang."

Mahendra menahan senyum. Ia sebenarnya tak Masalah jika Sinta bangun terlambat pagi ini. Semalam ia sudah membuat istri keduanya itu menyerah dalam balutan gairah dirinya yang seakan tak pernah bertepi. Setelah bercinta di dalam bathtub, Mahendra justru mengajak Sinta kembali bercinta di atas ranjang.

Selesai bercinta, Sinta langsung tertidur tanpa menggunakan lagi pakaiannya.

"Mandilah. Tak usah menyiapkan sarapan untukku karena kita akan sarapan di luar." kata Mahendra. Lelaki itu duduk di tepi ranjang lalu membuka sepatu kets yang ia kenakan.

Sinta jadi bingung bagaimana ia harus turun dari ranjang dengan keadaan dirinya yang polos.

"Sinta, mengapa kamu hanya di situ? Pergilah mandi karena aku juga mau mandi." Mahendra menoleh ke arah Sinta.

"Tapi....!"

"Aku tidak suka kata tapi. Pergilah ke kamar mandi."

"Bajuku...."

"Untuk apa pakai baju jika harus mandi?" tanya Mahendra heran. Ia melanjutkan kegiatannya untuk membuka sepatunya. Sinta turun dengan cepat dan berlari ke kamar mandi.

Mahendra mengerutkan dahinya. "Mengapa dia harus malu tak menggunakan baju? Bukankah aku sudah selalu melihatnya? Aneh." lelaki itu segera meletakan sepatunya di tak sepatu yang ad di depan kamar. Setelah itu ia ke dapur untuk mengisi perutnya dengan segelas air putih.

***********

2 jam kemudian, Sinta dan Mahendra sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Karena ini hari Sabtu, maka banyak orang yang sudah berada di pusat perbelanjaan ini walaupun waktu masoh jam 11 siang.

Tadi, mereka sempat mampir di sebuah rumah makan untuk menikmati sarapan. Sebuah rumah makan nasi uduk yang rasanya sangat enak di lidah Sinta.

Mahendra mengarahkan langkah mereka ke sebuah pusat penjualan handphone. Mahendra berdiri di depan konter dengan logo apel yang digigit.

"Berikan padanya handphone keluaran terbaru." kata Mahendra sambil menunjuk ke arah Sinta. Perempuan itu tersentak kaget. Tentu saja ia tahu berapa harga ponsel keluaran terbaru dengan merk ini.

"Abang, aku tak perlu handphone baru. Handphone ku ini masih bagus." bisik Sinta.

Mahendra menatap Sinta dengan tatapan yang mengintimidasi. "Bukankah aku sudah pernah katakan kalau aku tak suka dibantah?"

Sinta langsung diam.

"Pindahkan kartu dan semua datamu ke ponsel yang baru." kata Mahendra lalu segera menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam untuk membayar ponsel itu.

Sementara Sinta dan sales toko itu memindahkan semua data dari handphone lama ke handphone baru, Mahendra duduk sambil membalas beberapa pesan dari Fikri asistennya.

"Mba, itu kakaknya ya? Baiklah sekali lho mau membelikan handphone semahal itu?" tanya yang seles toko yang diketahui bernama Mutia.

Mahendra nampak menghentikan tangannya yang mengetik sesuatu di ponselnya. Ia ingin mendengar apa jawaban Sinta.

"Eh ya....." Sinta bingung harus menjawab apa.

"Kentara kok kalau itu kakaknya. Soalnya bicaranya agak formal gitu. Kalau pasangan kekasih atau suami istri kan pasti ada romantisnya."

Sinta hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Mahendra.

Ponsel baru Sinta akhirnya bisa digunakan setelah semua datanya berpindah ke ponsel yang memiliki memori 2 tera itu.

"Abang, sudah selesai." kata Sinta sambil mendekati Mahendra yang sedang duduk di bangku khusus pengunjung.

Mahendra menatap Sinta. "Baiklah." ia melangkah lebih dulu dan Sinta mengikutinya dari belakang.

Mereka memasuki sebuah butik. "Pilihkan pakaian yang cocok dengan ukurannya. Dari pakaian casual sampai gaun pesta."

Gadis penjaga butik itu mengangguk.

"Abang, untuk apa beli baju? Bukankah baju cukup banyak?" tanya Sinta.

Mahendra menatapnya pulang. "Saat pulang ke desa, ambil semua pakaianmu dan berikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Aku tidak mau orang berpikir kalau kamu lebih rendah dibandingkan dengan Gizel." Mahendra berkata pelan seakan tak ingin didengar oleh pelayan butik itu.

Sinta tak bisa membantah. Ia biarkan pelayan butik itu mengambil banyak pakaian untuk dia coba. Sinta tak menyukai semua jenis pakaian itu namun karena pelayan itu mengatakan kalau pakaian itu adalah model kekinian, Sinta pun menerimanya saja. Selesai dari butik, mereka pergi ke toko sepatu. Selanjutnya mereka pergi ke toko tas.

Mereka keluar dari mall dengan menenteng 14 paper bag.

"Hallo mama?" saat keduanya akan meninggalkan tempat parkir, ponsel Mahendra berdering. Ternyata mama Risna yang meneleponnya.

"Bagaimana? Sudah selesai belanja dengan Sinta?"

"Sudah, ma. Kami baru keluar dari toko."

"Baguslah."

"Sudah ya, ma. Aku mau menyetir."

Sinta duduk diam sambil berpikir. Apakah Mahendra mengajaknya belanja karena diperintahkan oleh mama Risna.

"Sinta, simpan nomor teleponku." kata Mahendra lalu menyimpan nomor telepon Mahendra. "Hubungi aku supaya aku bisa menyimpan nomormu."

Sinta melakukan apa yang Mahendra perintahkan.

"Aku mau mampir ke rumah sakit sebelum kita pulang ke desa."

"Abang, sebaiknya aku tak ikut turun. Aku tunggu di mobil saja." kata Sinta saat mereka sudah tiba di halaman parkir rumah sakit.

"Terserah padamu. Aku tidak matikan mesinnya."

"Matikan saja. Aku bisa menunggu di sana." kata Sinta sambil menunjuk sebuah taman yang ada bangkunya.

Mahendra hanya mengangguk. Ia menyerahkan kunci mobil pada Sinta sebelum masuk ke dalam rumah sakit.

Sinta duduk sambil mencoba mempelajari ponsel mahal yang bahkan dalam impiannya tak pernah terbayangkan untuk ia miliki.

"Sinta.....!"

Deg!

Jantung Sinta seakan berhenti berdetak mendengar suara itu. Tanpa menoleh pun ia tahu suara siapa itu. Namun perlahan ia menoleh juga.

"Arsen?" Sinta memaksakan sebuah senyuman untuk cowok itu. Perlahan ia berdiri dari bangku yang didudukinya.

Arsen menatap Sinta tanpa berkedip. Ia melihat ponsel yang digenggam oleh Sinta, lalu matanya berhenti di sebuah cincin pernikahan yang melingkar di jari manis gadis

yang dicintainya itu.

Di kampus, Arsen termasuk salah satu cowok yang diincar oleh para gadis. Sejak SMA, Arsen memang sudah mengenal banyak gadis. Ia sudah pernah berpacaran dengan beberapa orang gadis. Namun semenjak melihat Sinta pertama kali, Arsen merasa bahwa gadis itu memiliki suatu keistimewaan sehingga ia begitu ingin memilikinya.

"Apa kabar?" tanya Arsen berusaha bersikap biasa walaupun sebenarnya ia ingin menculik Sinta saat ini juga karena tak rela gadis itu dijadikan istri kedua.

"Aku baik." jawab Sinta.

"Sepertinya kita baru sebulan tak bertemu namun kamu sudah menghebohkan kampus dengan pernikahanmu."

Sinta menelan saliva nya yang terasa pahit. "Ya. Aku sudah menikah."

"Sepertinya dia bukan lelaki sembarangan. Di orang kaya sehingga kamu kini bisa memiliki ponsel mahal dan mengenakan cincin berlian itu."

"Arsen!" Sinta tersinggung mendengar perkataan Arsen yang seakan mengatakan bahwa dia adalah perempuan matre.

"Apakah aku salah? Memangnya apa yang bisa diberikan oleh lelaki itu yang tak bisa aku berikan? Kamu pernah bilang bahwa alasanmu menolak aku karena perbedaan status sosial kita. Lalu sekarang apa? Bukankah lelaki itu juga adalah orang kaya? Bahkan aku mendengar kalau dia juragan yang memiliki banyak kebun dan sawah. Dia juga memiliki perusahaan yang besar di kota ini."

"Arsen, bukan seperti itu!" Sinta merasa hatinya sakit dituduh seperti itu.

"Aku hancur, Sinta! Berhari-hari aku tak bisa tidur, tak bisa makan karena terus memikirkan keputusan mu untuk menikah dengan lelaki yang justru menjadikan mu istri kedua."

Sinta tertunduk. Ia tak tahu harus bicara apa.

"Sinta, ayo kita lari. Kita menghilang dari kota ini dan memulai kehidupan yang baru. Aku tak peduli jika kamu pernah menikah. Aku yakin kalau papaku akhirnya akan setuju dengan pilihanku ini." Arsen mengulurkan tangannya.

Sinta menggeleng. "Jangan, Arsen! Aku tak mau membuat keluargaku malu."

Arsen memegang tangan Sinta. "Jangan bohongi kata hatimu, Sinta. Aku kalau kamu menyayangi aku."

Sinta menarik tangannya. "Maaf, Arsen. Aku sudah menikah."

"Memangnya kamu mencintai lelaki itu? Aku yakin ada sesuatu yang membuatmu menikah dengannya. Dan aku berjanji akan merebutmu dari tangan kepala desa yang suka berpoligami itu." Arsen segera berbalik dan meninggalkan Sinta.

Gadis itu kembali duduk di bangku taman tanpa bisa menahan air matanya. Ia sedih karena Arsen menganggapnya sebagai perempuan yang mengejar harta.

"Sinta....!"

Sinta buru-buru menghapus air matanya sebelum berdiri dan membalikan badannya.

"Abang, sudah selesai?"

Mahendra memperhatikan wajah Sinta. Matanya terlihat sembab. Nampak jelas kalau Sinta baru selesai menangis. Hidungnya saja berwarna merah.

"Ayo kita pergi! Mana kunci mobilnya."

Sinta menyerahkan kunci mobil pada Mahendra.

Sebenarnya Mahendra sempat melihat kalU Sinta sedang berbicara dengan seorang cowok. Ia ingin bertanya namun Mahendra bukan termasuk jenis pria yang tak suka ikut campur. Sebagaimana ia yang tak suka pasangannya mencampuri urusan pribadinya, demikian juga ia tak mau mencampuri urusan pribadi pasangannya.

Selama perjalanan pulang, Sinta nampak menahan tangisnya walaupun sesekali Mahendra bisa melihat kalau perempuan itu menyeka air matanya dengan cepat.

Arsen mengepalkan tangannya saat membayangkan Sinta dalam pelukan Mahendra.

Lelaki itu tak boleh menyakiti aunty Gizel. Dan aku akan bebaskan Sinta dari cengkraman lelaki itu. Tunggu aku, Sinta.

*************

1
Eka ELissa
karna cinta♥️♥️♥️lah pak kades gimana cih 🤣🤣🤣🤣🤣
Azril Ali
dh lama bgt Bru baca lagi..💪 ka autornya.
Fitria Syafei
waduh Emak Gisel dan Arsen Emak... gimana nih ...😲 Emak cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Maria Kibtiyah
duh semoga mahendra ma shinta bisa bahagia
Eka ELissa
bikin Hendra jatuh ♥️♥️♥️♥️dgn mu Sinta.....
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: nakal emak kayak gimana ya 😄😄
total 1 replies
Eka ELissa
dasar gizel gundik murahan...🫣🫣🫣 slingkuh ma pilot yg udh punya bini dan mreka ceray juga mungkin karna gundik mcem kmu kan gizel 😡😡🫣🫣
Eka ELissa
yg jawab ikan 🐟🐟🐟 tapi gizel GK ngerti bhsa ikan sungai 🤣🤣🤣🤣
Enny Olivia: ikannya bisa jadi panjang dan keras 🤣🤣
total 1 replies
Fitria Syafei
wow Emak cantik mantaf 🥰 kereen 🥰 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
semoga mahendra dan sinta nanti jatuh cinta
Fitria Syafei
Sinta kereeen 👏 Emak cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Maria Kibtiyah
bagus shinta buat si gizel tersisih
Eka ELissa
Nex.....Mak....♥️♥️🌹🌹🌹🌹
Eka ELissa
Abang bkln dtang ke pondok tau.....dia udh jatuh cinta dengan mu Sinta ♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
tunggu waktu khncuran mu gizel.....🤣🫣🫣
Eka ELissa
up nya jgn lma2 ya Mak...♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Eka ELissa
dia cmburu dgn mu Sinta udh mulai ♥️♥️♥️cinta tu ma bini kedua 🤣🤣🤣👍👍👍
Fitria Syafei
Hendra cemburu nih Yee 🤪 Emak cantik kereen 😍 kereen 😍
Eka ELissa
maak....♥️♥️♥️kmna PK Kades mak
Eka ELissa
Nex Mak.....
Eka ELissa
akhir nya smpe cini juga Mak...♥️♥️♥️dri mlem kmrin kjar bab ♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!