NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Begitu langkah kaki jamaah lain mulai meninggalkan pelataran masjid, Adrian menahan lengan Bryan.

"Bryan, kamu kembalilah ke kamar rawat Fatma terlebih dahulu," ucap Adrian dengan suara serak yang ditekan sedalam mungkin.

Bryan mengernyitkan dahi, menatap ragu pada pakaian koko dan sarung yang masih dikenakan mantan atasannya itu.

"Anda mau kemana, Pak? Kalau Nyonya Fatma terbangun dan mencari Anda, bagaimana?"

"Aku ada urusan sebentar. Tolong sampaikan pada Fatma, aku tidak akan lama," potong Adrian cepat, tidak ingin didebat.

Tanpa menunggu jawaban Bryan, ia berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju area parkiran rumah sakit.

Adrian masuk ke dalam mobilnya. Dengan rahang yang mengeras dan dada yang bergemuruh akibat sisa tausiah subuh tadi, ia melajukan kendaraannya membelah jalanan pagi yang masih lengang.

Tujuannya hanya satu: apartemen pribadi Liana. Tempat yang selama ini ia anggap sebagai tempat bernaung wanita suci yang dizalimi, namun kini dicurigai sebagai sarang ular beludak.

Adrian harus membuktikannya sendiri dengan matanya yang selama ini buta.

Klek.

Menggunakan kunci cadangan yang masih ia simpan, Adrian membuka pintu apartemen Liana dengan perlahan.

Suasana di dalam begitu sunyi, namun bau alkohol dan parfum pria yang menyengat langsung menyambut indra penciumannya.

Adrian melangkah masuk ke dalam kamar utama. Detik itu juga, dunianya serasa runtuh untuk kedua kali.

Di atas lantai dekat ranjang yang berantakan, terhampar kemeja dan celana pria yang sangat ia kenali—itu pakaian Jammie.

Pandangan Adrian beralih ke atas nakas. Di sana, sebuah bingkai foto memperlihatkan Liana yang tengah bergelayut manja di atas tubuh Jammie dengan pakaian minim, keduanya tersenyum lebar ke arah kamera.

Bukti perselingkuhan dan pengkhianatan itu terpampang begitu nyata, tanpa bisa disangkal lagi.

Prang!!

Adrian meraih bingkai foto itu dan menghempaskannya ke lantai hingga kaca-kacanya hancur berkeping-keping.

Air matanya meluncur deras, membasahi wajahnya yang penuh lebam.

"Aku bodoh!! Sialan, aku benar-benar bodoh!!" raung Adrian, suaranya melengking frustrasi di dalam ruangan yang sepi itu. Ia jatuh berlutut di antara pecahan kaca.

"Aku kira kamu wanita setia, Liana! Aku kira Fatma bekerja sama dengan Jamie untuk menculikmu dan menghancurkanku! Tapi ternyata, malam itu kamu dan Jamie yang memilih bersenang-senang dan membiarkan Fatma menderita! Tega kamu, Liana!! Tega!!"

Rasa sesal yang berbaur dengan amarah yang membakar dada membuat Adrian kehilangan akal sehatnya.

Sembari menangis sesenggukan, ia menghantamkan tinjunya ke dinding beton dan cermin berulang kali.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

"Aaaarrghh!!" Adrian berteriak histeris.

Ia tidak memedulikan rasa sakit saat kulit buku-buku jarinya pecah dan darah segar mulai mengalir membasahi dinding putih tersebut.

Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa hancur di hatinya yang telah mengorbankan istri salehah demi seorang wanita jalang.

Sementara itu, di dalam kamar rawat rumah sakit, suasana mendadak tegang.

Fatma yang baru selesai menyeka wajahnya menatap cemas ke arah pintu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, namun suaminya belum juga kembali.

"Kemana dia, Bryan?" tanya Fatma, menyembunyikan rasa khawatir yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.

Bryan yang berdiri di dekat tirai pembatas menggelengkan kepala dengan wajah bersalah.

"Saya tidak tahu, Nyonya. Setelah salat Subuh dan mendengarkan kultum selesai, Pak Adrian meminta saya kembali duluan. Beliau bilang ada urusan sebentar."

Fatma meremas selimutnya, bibirnya bergetar kelat.

Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui benaknya.

"Apa, dia kabur karena hukuman dan bentakan yang aku berikan kemarin? Apa dia tidak tahan harus belajar agama dan mengakui kesalahannya?"

Waktu terus merambat naik dengan kejam. Jarum jam di dinding kamar rawat kini telah menunjukkan pukul delapan pagi, namun keberadaan Adrian masih menjadi misteri.

Tidak ada telepon, tidak ada pesan singkat. Keheningan itu terasa mencekam, membuat sarapan rumah sakit yang tersaji di atas meja nakas Fatma sama sekali tidak tersentuh.

Fatma terus memilin ujung mukenanya, matanya cemas menatap pintu.

"Sudah dua jam lebih, Bryan. Ke mana sebenarnya Mas Adrian? Bagaimana kalau dia mengalami kecelakaan di jalan karena menyetir dalam kondisi kalut?"

Bryan melangkah mendekat, mencoba meredakan kepanikan yang mulai menguasai raut wajah pucat istri mantan atasannya itu.

"Tenang, Nyonya. Tolong jangan banyak pikiran dulu, itu tidak baik untuk pemulihan luka di punggung Anda. Pak Adrian pria yang kuat. Saya yakin beliau hanya butuh waktu untuk menenangkan diri setelah mendengar tausiah subuh tadi."

Ceklek!

Suara gagang pintu yang ditekan seketika memutus kalimat Bryan.

Pandangan Fatma dan Bryan langsung tertuju ke ambang pintu.

Sosok Adrian berdiri di sana. Baju koko putih yang ia kenakan kini tampak kusut, selembar sarung tenunnya sedikit kotor di bagian lutut.

Namun, bukan itu yang membuat jantung Fatma seakan berhenti berdetak.

Pandangan Fatma langsung terkunci pada tangan kanan Adrian.

Tangan itu hancur. Buku-buku jarinya pecah, membiru, dan darah segar yang mulai mengering tampak mengalir deras membasahi punggung tangan hingga menetes ke lantai keramik rumah sakit.

"Astaghfirullah, Mas! Kamu kenapa, Mas?!" pekik Fatma histeris.

Ia mengabaikan rasa sakit yang menyengat di punggung dan pergelangan tangannya, Fatma mencoba mendudukkan diri di tepi ranjang.

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Langkah kakinya terasa begitu berat dan terseok-seok menembus ruangan.

Begitu sampai di hadapan Fatma, lutut Adrian mendadak lemas.

Laki-laki berbadan kekar itu luruh, bersujud di lantai dingin tepat di bawah kaki Fatma.

Tangis Adrian pecah seketika. Ia menangis sesenggukan, bahunya naik turun didera rasa bersalah dan kehancuran batin yang teramat sangat setelah melihat topeng Liana di apartemen itu.

"Aku minta maaf. Aku mohon ampun, Fatma..." ratap Adrian, suaranya parau dan tercekik oleh air mata.

Ia mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah ke hadapan wajah Fatma.

"Tangan jahanam ini yang kemarin tega memegang ikat pinggang dan mencambuk punggungmu yang suci, Fatma! Aku benci tangan ini! Aku sudah menghukum tanganku sendiri. Aku menghantamkannya ke dinding sampai hancur karena aku sadar, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang aku torehkan di tubuhmu!" raung Adrian frustrasi, air matanya berbaur dengan noda darah di jemarinya.

"Maaf, Fatma. Maaf. Aku suami bodoh, aku suami jahanam yang sudah dibutakan oleh iblis!"

Melihat pemandangan mengerikan itu, air mata Fatma ikut luruh deras.

Rasa marah, sedih, dan ngeri campur aduk di dadanya melihat suaminya menyiksa diri sedemikian rupa demi sebuah penyesalan.

"Mas, cukup! Jangan seperti ini!" jerit Fatma, lalu menoleh ke arah Bryan dengan mata membelalak panik.

"Bryan! Panggil dokter sekarang! Cepat panggil dokter dan perawat, Bryan!!"

"Astaghfirullah, Mas! Hentikan! Tangan kamu butuh pengobatan, bukan penyiksaan seperti ini!" suara Fatma bergetar hebat, tangannya yang gemetar terulur, mencoba meraih lengan Adrian yang masih tertutup darah.

Namun, Adrian yang masih dikuasai luapan emosi penyesalan terus saja meracau, memukuli dinding yang sudah retak.

"Tangan ini... tangan ini yang menyakitimu, Fatma! Aku harus membayarnya!"

"Mas Adrian, hentikan, Mas! Tolong, dengarkan aku!" teriak Fatma lagi.

Dokter jaga yang dipanggil Bryan segera tiba bersama dua orang perawat.

Melihat kondisi Adrian yang berada di luar kendali dan membahayakan dirinya sendiri, dokter segera mengambil tindakan medis yang diperlukan.

Dengan sigap, dokter memberikan suntikan obat penenang dan bius agar Adrian segera tenang dan lukanya bisa ditangani.

Perlahan, raungan Adrian mulai mereda. Tubuhnya yang tegang mendadak lemas, dan ia terkulai di kursi yang ditarik perawat ke dekat ranjang Fatma.

Di bawah lampu operasi portabel yang terang benderang, dokter mulai membersihkan luka-luka di tangan kanan Adrian dengan teliti.

Suara gemerincing alat medis yang diletakkan di atas nampan baja terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian kamar.

Fatma menyaksikan dengan mata berkaca-kaca saat dokter mulai mencabuti serpihan kaca tajam yang tertanam dalam di buku-buku jari Adrian.

Begitu serpihan kaca itu terangkat satu per satu, dokter mulai menjahit luka-luka menganga tersebut dengan benang medis.

"Astaghfirullah... Astaghfirullah..."

Fatma terus merapalkan zikir dengan lirih, matanya tertutup rapat sebagian, tak sanggup melihat jarum jahit yang menembus kulit suaminya berkali-kali.

Setiap kali jarum itu menusuk, Fatma merasa seolah dirinya sendiri yang sedang dijahit.

"Mohon tenang, Bu. Lukanya cukup dalam karena banyak pecahan kaca," ujar dokter dengan nada profesional namun tenang.

Fatma hanya bisa mengangguk pelan, air matanya tak henti mengalir.

Di tengah ruangan yang berbau antiseptik dan amis darah, ia merasa hatinya tercabik.

Ia tidak menyangka penyesalan Adrian akan sedemikian rupa ekstremnya. Namun di balik rasa ngeri melihat suaminya terluka, ada secercah keyakinan bahwa mungkin, melalui rasa sakit fisik yang diderita Adrian inilah, suaminya benar-benar akan mulai belajar arti sebuah kasih sayang yang tulus, bukan sekadar kekuasaan.

1
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!