NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Syarat apa pun akan aku penuhi," jawab Daxon cepat, tanpa ragu sedikit pun.

Azalea tersenyum, matanya menatap lurus ke arah Daxon. "Anak buahmu yang bernama Zain, dialah yang harus menyuapiku makan malam ini."

Mendengar permintaan itu, Daxon seketika terdiam. Alisnya sedikit mengerut, matanya menatap Azalea seolah ingin memastikan apakah ia benar-benar mengucapkannya. Ia tertegun sesaat, merasa aneh dan sedikit tidak nyaman membayangkan orang lain yang mengurus Azalea, tapi ia tidak langsung menolak.

Melihat reaksi Daxon, Azalea langsung mendengus dan berniat memalingkan wajah lagi. "Ya sudah, kalau tidak mau. Anggap saja aku tidak mengatakannya."

Mendengar nada bicara itu, Daxon segera sadar. Ia tahu jika ia menolak, suasana hanya akan makin memburuk dan Azalea bisa benar-benar menolak makan sepanjang malam. Dengan hati yang berat namun tidak punya pilihan lain, ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah, aku penuhi syaratmu," jawabnya pelan.

Segera ia meraih ponselnya, menekan nomor dengan cepat. Suaranya terdengar tegas saat berbicara.

"Zain, segera datang ke kamar utama sekarang juga. Bawa dirimu saja, ada urusan yang harus kau selesaikan di sini."

Setelah menutup telepon, Daxon meletakkan ponselnya dengan tenang, lalu menatap Azalea dengan pandangan yang campur aduk antara kesal, takut, dan tetap lembut. Ia hanya bisa berharap gadis itu cepat melupakan hal ini dan kembali seperti sedia kala.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu yang sopan namun tegas.

"Masuk," ucap Daxon.

Begitu mendengar jawaban masuk dari Daxon, pintu pun terbuka perlahan.

Zain melangkah masuk dengan sikap hormat, tapi baru saja mengangkat kepalanya, ia langsung tertegun kaku. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada tuannya—Daxon—yang duduk di sisi tempat tidur dengan wajah datar, namun matanya menatapnya dengan sorot dingin dan mengerikan, seolah hendak menelan hidup‑hidup siapa pun yang berani melangkah lebih dekat.

Tubuh Zain seketika merinding, ia langsung menunduk dalam sambil berkata, "Tuan Daxon, saya datang sesuai perintah."

Namun di sisi lain tempat tidur, Azalea justru menoleh dan menatap Zain dengan senyum manis yang sangat cerah, berbanding terbalik dengan suasana menegangkan itu. Ia melambaikan tangan kecil dengan nada ramah, membuat Zain semakin bingung tidak mengerti situasinya.

"Kemarilah, Zain. Jangan takut," ucap Azalea lembut, senyumnya makin melebar.

Daxon yang melihat itu hanya semakin mengerutkan kening, rahangnya mengeras menahan perasaan tidak suka yang meluap. Ia menatap tajam ke arah Zain, memberi isyarat diam‑diam, berhati‑hatilah, salah sedikit saja nyawamu bisa melayang.

Zain merasakan tatapan itu menusuk punggungnya, membuat keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia melangkah perlahan mendekat, jantungnya berdebar kencang—tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan darinya malam ini.

Begitu Zain berdiri tepat di samping tempat tidur, Azalea langsung menatapnya dengan senyum yang masih terukir di bibirnya, lalu berkata dengan nada tegas namun tetap lembut.

"Zain, ayo ambil piring dan sendok itu, lalu suapi aku makan malam ini."

Mendengar perintah itu, Zain seketika tertegun. Ia langsung menoleh cepat ke arah tuannya, berharap mendapatkan petunjuk atau izin dari Daxon. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan tajam yang menusuk sampai ke tulang, dingin dan penuh tekanan.

Belum sempat Zain memutar pikirannya, tiba-tiba Azalea mengulurkan tangannya dan memegang pergelangan tangan Zain dengan lembut. Sentuhan itu membuat Zain terkejut, dan seketika keringat dingin membasahi seluruh dahi serta punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, rasanya seperti sedang berdiri di ujung jurang yang siap menelan dia kapan saja.

Daxon yang melihat tangan Azalea menyentuh tangan anak buahnya, rahangnya mengeras, matanya menyala dengan amarah yang tertahan. Suaranya keluar rendah, berat, dan terdengar mengancam seolah ingin memakan Zain hidup-hidup.

"Lakukan apa yang dikatakannya."

Perintah itu terdengar lebih seperti peringatan daripada kalimat biasa. Zain tidak berani menolak lagi. Dengan tangan yang mulai gemetar hebat, ia menjangkau piring dan sendok di meja samping kasur. Tangannya terasa lemas, dan saat ia mulai mengangkat sendok berisi makanan, gerakannya terlihat gemetar tak terkendali.

Satu dua kali, sendok itu nyaris terlepas atau makanan hampir tumpah. Zain menunduk dalam, berusaha menenangkan diri tapi rasanya mustahil dengan tatapan Daxon yang terus mengawasi setiap gerakannya tanpa berkedip sedikit pun.

Azalea justru terlihat tenang, bahkan sedikit tersenyum melihat reaksi keduanya. Ia membuka mulut menerima suapan itu, seolah menikmati melihat Daxon dibuat tidak nyaman oleh permintaannya sendiri.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam‑jam bagi Zain, akhirnya piring itu benar‑benar kosong. Napas Zain terasa memburu, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin seolah baru saja selesai menghadapi pertarungan berat.

Namun sebelum ia sempat meletakkan piring dan menarik napas lega, Azalea menatapnya dengan senyum ceria, lalu berkata dengan nada polos namun sengaja didengar jelas oleh Daxon.

"Terima kasih, Zain. Mulai besok dan seterusnya, suapi aku makan setiap hari ya... Aku tidak mau disuapi sama pria tua yang bikin emosi dan menyebalkan."

Kalimat itu baru saja selesai diucapkan, seketika suasana di dalam kamar berubah menjadi sangat panas. Rasa cemburu yang meluap dan amarah yang tertahan seketika meledak di dada Daxon, membakar seluruh tubuhnya sampai wajahnya memerah, urat lehernya menonjol, dan matanya menyala penuh api kemarahan yang hampir meledak.

Dengan suara menggelegar dan dingin yang membuat bulu kuduk berdiri, Daxon membentak.

"KELUAR! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!"

Zain tidak perlu diberi perintah dua kali. Ia segera menunduk dalam, mengucapkan salam pamit yang tergagap, lalu berbalik dan melangkah secepat mungkin keluar dari kamar, bahkan sampai lupa menutup pintu dengan rapi karena terlalu terburu‑buru menyelamatkan diri.

Begitu pintu tertutup, Daxon langsung menoleh menatap Azalea dengan tatapan yang seolah ingin melahapnya, napasnya memburu karena menahan amarah dan cemburu yang meluap.

Namun di saat itu juga, Azalea tidak lagi memasang wajah cemberut atau marah. Ia justru tertawa terbahak‑bahak, menutup mulutnya sebentar tapi tetap tidak bisa menahan tawa melihat wajah Daxon yang memerah, kaku, dan terlihat sangat kesal tapi tak bisa berbuat apa‑apa.

"Hahaha... lihat wajahmu itu! Seperti akan meledak kapan saja," ucap Azalea sambil masih tertawa, matanya berbinar puas melihat reaksi pria itu. "Siapa suruh bicara sembarangan tadi siang? Ini hukumanmu, Tuan Mafia yang sombong!"

Daxon terdiam sejenak, lalu menyadari bahwa selama ini ia hanya dipermainkan oleh gadis keras kepala di hadapannya. Rasa marahnya perlahan berubah menjadi rasa kesal sekaligus tak berdaya, lalu akhirnya ia mendengus kasar dan mencubit pelan hidung Azalea yang masih tersenyum lebar.

"Kau benar‑benar gadis yang paling nakal dan bikin pusing yang pernah aku temui," geramnya, tapi nada bicaranya sudah tidak lagi mengandung amarah, melainkan hanya rasa sayang yang tersembunyi.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!