Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK YUKARI DI MATA DAIKI
Sore harinya, langit Desa Oku-Nikko mulai berubah warna jadi jingga keemasan yang hangat. Suara deru mesin pikap hijau milik Daiki terdengar lamat-lamat, pelan-pelan memasuki pekarangan rumah kayu keluarga Honami.
Begitu mematikan mesin, Daiki langsung melompat turun dari kabin sambil menjinjing kantong plastik besar berisi hasil belanjaan dari kota. Langkah kakinya lebar dan santai, berniat langsung menuju teras samping seperti biasanya.
Namun, baru beberapa langkah melewati pagar pembatas, gerakan Daiki mendadak terkunci. Langkah kakinya melambat dramatis. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah selasar samping rumah.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap. Jelas daiki tidak mengenal wajah orang itu yang membuat bulu kuduk Daiki meremang, melainkan apa yang sedang dipegangnya, dia mengelap sebilah parang panjang yang mengilat tajam menggunakan selembar kain putih. Tatapannya dingin, lurus, dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Isi kepala Daiki yang merupakan mantan berandalan desa langsung mendadak traveling ke arah negatif. "Sialan! Siapa orang ini?! Jangan-jangan... Yukari sudah diapa-apain di dalam?!"
Rasa panik dan insting protektif Daiki seketika meledak. kantong plastik daiki amankan.
Daiki langsung mengambil langkah seribu, memasang posisi kuda-kuda bertarung dengan tangan mengepal di depan dada. Wajahnya merah padam menahan tegang sekaligus takut.
"HEI! KAU SIAPA, HAH?!" bentak Daiki dengan suara menggelegar,
"JANGAN MACAM MACAM DISINI! Di MANA YUKARI ?! JAWAB ! "
pria di teras samping menoleh pelan. Dia memandang Daiki yang sedang memasang posisi kuda-kuda
" Dia juga tidak mengenali ku?"
Takagi sengaja memilih untuk diam seribu bahasa. Dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar Daiki tidak mengenali karakter suara beratnya.
Takagi cuma berdiri diam, menatap Daiki lempeng dengan pandangan matanya yang tajam. Dia lalu mengangkat parang di tangan kanannya perlahan-lahan—niat aslinya sebenarnya cuma mau menaruh kembali parang itu ke paku gantungan di dinding luar teras.
"Wah, menantang kau ya?!" pekik Daiki makin panik ia refleks mundur satu langkah, matanya melirik ke bawah dan langsung menyambar sebuah balok kayu sisa bangunan di dekat kakinya. Dia mengangkat balok kayu itu, siap nekat menerjang maju demi menyelamatkan Yukari. "MUNDUR KAU! TARUH PARANG ITU ATAU—"
Sreeegg!
Yukari muncul sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir cokelat panas dengan wajah super bingung.
"Daiki?! Kau sedang apa ?!" seru Yukari heran setengah mati melihat sahabatnya memegang balok
Melihat Yukari muncul dalam keadaan utuh dan selamat, Daiki langsung berteriak tanpa menurunkan balok kayunya. "YUKARI...! MUNDUR.....! "
"DIA BAWA SENJATA TAJAM!"
Yukari melirik ke arah pria asing yang dimaksud Daiki. Ia yang duduk lempeng sambil memegang parang Yukari langsung paham apa yang sedang terjadi.
Dalam hitungan detik tawa Yukari langsung pecah menggelegar memenuhi pekarangan rumah. Gadis itu bahkan sampai harus menaruh nampannya di atas meja teras dengan buru-buru karena tubuhnya lemas akibat tertawa terlalu geli.
"Hahaha! Aduh... Daiki! Turunkan kayumu sekarang juga! Hahaha!" Yukari tertawa sampai memegangi perutnya yang mendadak kram.
Daiki melongo, wajah tegangnya berubah jadi planga-plongo bingung. "Eh? Kenapa kau malah tertawa? Ini ada orang bawa parang, Yukari!"
"Daiki, lihat baik-baik! Dia itu Takagi-san yang habis cukuran! Hahaha!" seru Yukari di sela-sela tawanya yang makin heboh.
"Hah?!" Daiki membeku di tempat. Balok kayu di tangannya perlahan melorot turun. Dia menatap pria tegap berwajah bersih di depannya dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. Dia melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu beralih menatap Yukari lagi dengan tidak percaya. "Jangan bercanda! Si brewokan kaku yang kemarin kita seret dari sungai itu... berubah jadi begini?!"
Takagi yang melihat wajah syok Daiki akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Suara napas pendek lolos dari hidungnya, dan sudut bibirnya perlahan terangkat tipis. Dia menggelengkan kepala pelan, lalu menaruh parangnya ke gantungan dinding.
"Ya. Ini aku," ucap Takagi pendek dengan suara beratnya yang khas.
Mendengar karakter suara berat yang sangat familier itu, Daiki langsung menepuk jidatnya sendiri dengan luar biasa keras sampai berbunyi plak! "Astaga... beneran si kaku Takagi!"
Daiki langsung membuang balok kayunya ke semak-semak, lalu berjalan cepat menaiki teras dengan wajah dongkol bercampur malu setengah mati. Dia langsung menepuk bahu Takagi cukup keras sampai tubuh pria itu sedikit bergoyang.
"Kau ini menyebalkan sekali ya!" omel Daiki berapi-api, wajahnya memerah karena menahan malu.
Takagi hanya berkedip pelan tanpa dosa. "Kau sendiri yang langsung memasang posisi bertarung. Aku bingung harus menjawab apa."
"Siapa yang gak panik kalau ada orang asing pegang parang begitu!"
Yukari menepuk pundak sahabatnya itu sambil terkekeh geli. "Sudahlah, Daiki, kamu tidak sendirian kok yang kaget begitu"
"Tadi pagi aku juga tertipu setengah mati!!"
Di bawah langit senja Desa Oku-Nikko, tawa renyah Yukari dan Daiki berpadu menjadi satu, menghidupkan suasana teras rumah kayu yang sudah lama sepi itu menjadi begitu hangat.
...----------------...
Malam pun turun sepenuhnya di Desa Oku-Nikko. Keheningan lereng bukit yang biasanya sunyi senyap, malam ini berubah jadi hangat karena keriuhan kecil di halaman samping rumah keluarga Honami.
Sebuah api unggun sederhana menyala terang di tengah pekarangan, Takagi dan Daiki duduk saling berhadapan di atas balok kayu tua sambil memanggang marshmallow.
Beberapa meter dari mereka, Yukari justru sibuk bermain sendiri dengan asyik. Di kedua tangannya, sepasang kembang api stik memercikkan cahaya keemasan. Gadis itu berlari kecil sambil mengayunkan tangannya membentuk angka delapan di udara malam.
"Hei, Nona Pustakawan!" teriak Daiki sambil tertawa meledek. "Tidak usah lari-lari begitu, nanti encok! Ingat umurmu sudah kepala dua!"
Yukari menghentikan langkahnya sejenak. Dia menoleh ke arah kedua pria itu, lalu menjulurkan lidahnya dengan wajah jahil. "Biarkan saja! Di antara kita bertiga di sini, aku yang paling muda dan paling imut, tahu!" Selesai berteriak begitu, dia kembali asyik berlari kecil memutari halaman sambil memainkan cahaya kembang api.
"Dasar bocah..." gumam Daiki geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menggigit marshmallow bakarnya yang sudah matang.
Takagi diam-diam memperhatikan seluruh pemandangan itu dari tempat duduknya. Tatapan matanya terus mengikuti ke mana pun Yukari bergerak dan tertawa riang tanpa beban. Pemandangan ini terasa berbeda.
Hening menyela diantara mereka, Takagi akhirnya membuka suara, "Hei...Daiki-san"
"Hm? Kenapa?" sahut Daiki tanpa mengalihkan pandangannya dari bara api unggun.
"Bagaimana... kau bisa sedekat itu dengan Honami-san?" tanya Takagi, nadanya terdengar penasaran.
Daiki menoleh, agak terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka Takagi bakal menanyakan hal yang lumayan pribadi. Ia menurunkan ranting marshmallownya, lalu tersenyum kecil sambil mengusap tengkuknya.
"Ah... kalau dipikir-pikir lagi, ceritanya sebenarnya lumayan memalukan, sih," ujar Daiki, pandangannya mulai menerawang menatap kobaran api di depan mereka.
"Dulu kami itu satu sekolahan pas SMP. Sebenarnya, aku harusnya jadi kakak kelasnya Yukari."
Takagi mendengarkan dengan saksama tanpa memotong.
"aku tinggal kelas dua kali" lanjut Daiki sambil tertawa renyah, menertawakan masa lalunya sendiri. "Dulu aku berandalan, Sering bolos sekolah, sering berkelahi, pokoknya dicap sebagai anak paling bermasalah di desa ini"
"Semua orang disini bilang aku tidak punya masa depan cerah. Tongkronganku saja sama preman-preman pasar, dan temanku tidak ada yang beres."
Daiki mengangkat dagunya, menunjuk ke arah Yukari yang sekarang lagi jongkok serius menyalakan batang kembang api yang baru. "Di saat semua orang di desa ini menjauhi dan memandang rendah aku... cuma gadis kecil itu yang berani datang menghampiriku langsung."
Sudut bibir Daiki perlahan terangkat, matanya melembut. "Dia dengan sok tahunya menawarkan diri untuk mengajariku belajar, biar aku tidak tinggal kelas lagi untuk ketiga kalinya."
Takagi masih mendengarkan dalam diam, merasa tertarik dengan kisah masa lalu gadis pemilik rumah ini.
"Dan yang paling gila..." Daiki terkekeh pelan.
"Waktu SMP dulu tubuhnya itu kecil sekali, kurus pendek. Tapi nyalinya jauh lebih besar daripada orang dewasa."
"Suatu sore, dia nekat datang sendirian ke tempat tongkrongan gelapku. Di sana ada aku dan beberapa preman pasar yang wajahnya sangar-pasar. Orang dewasa di desa ini saja biasanya memilih memutar jalan kalau lewat sana karena takut. Tapi dia..." Daiki tertawa mengingat adegan konyol itu. "...tanpa rasa takut sedikit pun langsung berjalan maju dan menjewer telingaku keras-keras."
Takagi refleks mengangkat sebelah alisnya, tidak menyangka Yukari punya sisi seberani itu.
"'Pulang sekarang!' katanya berteriak galak sekali. 'Besok ada ujian matematika, kau harus belajar!'" Daiki menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku diseret pulang jalan kaki di depan semua teman tongkronganku. Malu? Jangan ditanya lagi, rasanya mau mati saja karena malu setengah mati. Tapi..." Senyum Daiki perlahan berubah jadi sangat lembut. "...sejak hari itu aku akhirnya sadar. Ternyata, di dunia yang egois ini, masih ada satu orang asing yang tulus percaya kalau aku masih bisa berubah jadi orang baik."
Daiki menatap lekat ke arah Yukari yang kini sedang tertawa sendiri melihat percikan kembang apinya yang mulai habis. "Mendiang Kakek Honami selalu memperlakukanku dengan sangat baik seperti cucunya sendiri. Dan Yukari... dia yang mengembalikan harga diriku yang sempat hilang. Makanya, buatku pribadi... dia bukan cuma sekadar sahabat masa kecil. Dia itu adalah rumah. Rumah berharga yang harus selalu kujaga sampai kapan pun."
Takagi tidak bertanya apa pun pada Daiki. Tatapan matanya kini beralih ke Yukari, Takagi makin sadar kalau gadis itu memang selalu tulus membantu Orang-orang di sekelilingnya yang sedang tersesat
Daiki, seorang mantan berandalan desa yang beruntung bisa menemukan jalan pulang berkat Yukari. Dan ada dirinya pria bodoh memilih untuk mengakhiri hidupnya di aliran sungai yang dingin.
Sedikit demi sedikit, sebuah kesadaran mulai tumbuh dan mengakar di dalam lubuk hati Takagi. Rumah tua peninggalan keluarga Honami ini ternyata bukan sekadar tempat bangunan kayu biasa untuk berlindung dari hujan dan angin. Rumah ini adalah sebuah tempat perlindungan suci, di mana orang-orang yang hampir kehilangan arah dan hancur, diberikan kesempatan kedua yang berharga untuk memulai hidup mereka kembali dari awal.
Takagi dirinya pun perlahan-lahan sudah mulai menjadi salah satu orang beruntung yang sedang diselamatkan oleh ketulusan luar biasa dari seorang Honami Yukari.