Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG LEBIH DULU MENGENALNYA
Sabtu pagi datang dengan suasana yang lebih tenang dari biasanya. Kirana sedang membantu Mbak Siti menata beberapa camilan di meja ruang keluarga ketika suara mobil memasuki halaman rumah. Ia sempat melirik jam dinding. Tepat waktu.
"Kayaknya Mas Arga sudah datang," kata Mbak Siti sambil tersenyum.
Beberapa detik kemudian, bel rumah berbunyi. Danendra yang baru turun dari lantai atas langsung melangkah menuju pintu. Tak lama kemudian terdengar suara tawa laki-laki yang cukup keras dari arah foyer.
"Astaga, akhirnya aku berhasil juga masuk ke rumahmu."
Kirana yang sedang berdiri di dekat meja tanpa sadar menoleh. Seorang pria dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku berjalan masuk sambil membawa sebuah kotak besar di tangannya. Wajahnya ramah dan ekspresif. Berbeda sekali dengan Danendra yang cenderung tenang.
"Kalau bukan karena aku yang menghubungi duluan, mungkin kamu tidak akan pernah mengundangku," lanjut pria itu.
Danendra hanya menatapnya datar. "Kamu baru datang lima detik."
"Dan aku sudah merasa tidak diterima."
Kirana hampir tertawa mendengarnya. Pria itu lalu menoleh ke arahnya. "Oh." Matanya membulat. "Kamu pasti Kirana."
Kirana mengangguk sopan. "Ya."
Pria itu langsung mendekat sambil mengulurkan tangan. "Aku Arga."
"Kirana."
"Senang akhirnya ketemu langsung. Aku sering dengar namamu."
Kirana mulai curiga semua teman Danendra memiliki kalimat pembuka yang sama. "Semoga yang baik-baik."
"Kalau yang jelek biasanya Danendra simpan sendiri."
"Arga."
"Iya, iya. Aku diam."
Namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan niat untuk diam.
Kurang dari lima belas menit kemudian, ruang keluarga sudah dipenuhi obrolan. Sebagian besar berasal dari Arga. Danendra lebih banyak mendengarkan sambil sesekali memberi tanggapan singkat.
"Aku masih tidak percaya kamu menikah lebih dulu daripada aku."
Danendra mengangkat sebelah alis. "Memangnya kenapa?"
"Soalnya waktu SMA kamu itu..." Arga berhenti, lalu menatap Kirana. "Kamu yakin mau dengar?"
Kirana tersenyum. "Sepertinya menarik."
"Pengkhianatan," gumam Danendra.
Arga tertawa puas. "Waktu SMA, teman-teman kami sudah sepakat kalau Danendra bakal jadi orang terakhir yang menikah."
"Kenapa?" tanya Kirana.
"Karena dia terlalu serius."
"Itu fitnah."
"Nah, lihat." Arga menunjuk Danendra. "Dia bahkan bilang fitnah dengan ekspresi rapat direksi."
Kirana tidak bisa menahan tawanya. Danendra hanya menghela napas pendek.
Obrolan berlanjut semakin santai. Untuk pertama kalinya, Kirana mendengar cerita tentang masa sekolah Danendra. Namun, alih-alih cerita umum yang biasa ia bayangkan, Arga membawa satu kejadian spesifik yang langsung menghidupkan gambaran masa lalu itu.
"Waktu kelas dua SMA, sekolah kami ikut lomba karya ilmiah," cerita Arga menggebu-gebu. "Semua orang panik karena presentasi tinggal dua hari lagi dan draf materi kami berantakan. Danendra ini malah maju, lalu bikin jadwal kerja kelompok sampai jam per jam. Sangat presisi."
"Kami sempat kesel waktu itu," tambah Arga sambil tertawa lepas. "Tapi akhirnya kami pulang bawa juara satu."
Kirana tertegun mendengarnya. Cerita itu terasa begitu nyata. Selama ini ia selalu mengenal pria itu sebagai sosok yang tenang, dewasa, dan nyaris selalu terkendali dalam lingkup korporasi. Mendengar cerita tentang bagaimana Danendra mengatur teman-temannya di usia tujuh belas tahun terasa seperti sedang mengenal orang baru.
"Lalu apa Danendra dulu juga seserius sekarang?" tanya Kirana.
Arga langsung tertawa. "Lebih parah."
"Kamu berlebihan."
"Aku punya saksi satu angkatan."
Danendra menggeleng pelan. Namun untuk pertama kalinya sejak Arga datang, Kirana melihat sesuatu yang jarang muncul. Senyum. Kecil sekali, tetapi tetap ada di sudut bibir suaminya.
Kirana tiba-tiba sadar. Selama setahun menikah, ia jarang sekali melihat Danendra tertawa karena cerita masa lalu atau kenangannya sendiri. Biasanya pria itu hanya tersenyum sopan atau mengangguk formalitas. Namun hari ini berbeda. Seolah kehadiran Arga berhasil membawa pulang bagian hidup Danendra yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada sesuatu yang hangat sekaligus asing dalam pemandangan itu.
Menjelang makan siang, Arga membantu memindahkan beberapa piring ke meja makan.
"Eh, Kirana."
"Hm?"
"Kamu tahu tidak?"
"Tahu apa?"
"Danendra sebenarnya suka bakso."
Kirana berkedip. "Bakso?"
"Iya."
"Aku memang suka bakso."
Kirana langsung menoleh pada suaminya. "Aku baru tahu."
Danendra tampak sedikit bingung. "Karena kamu tidak pernah bertanya."
Kirana terdiam. Benar juga. Ia memang tidak pernah bertanya. Bukan hanya tentang bakso. Melainkan tentang banyak hal.
Makan siang berlangsung hangat. Sebagian besar waktu diisi oleh cerita-cerita lama yang dibawa Arga. Sesekali Danendra membantah, sesekali Arga membela diri, dan lebih sering lagi mereka saling menyalahkan dengan santai.
"Kamu ingat waktu camping?"
"Tidak."
"Kamu ingat."
"Tidak."
"Kamu tersesat."
"Itu kamu."
"Kita tersesat."
"Itu berbeda."
"Kita tersesat bersama."
Kirana tertawa kecil mendengar perdebatan yang sama sekali tidak penting itu. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Danendra yang selama ini tidak pernah muncul di hadapannya. Lebih ringan. Lebih santai. Lebih hidup.
Sore hari, setelah makan siang selesai, Danendra menerima panggilan telepon dari kantornya. Pria itu keluar menuju teras depan, meninggalkan Kirana dan Arga di ruang keluarga. Awalnya suasana terasa sedikit canggung, sampai Arga membuka percakapan lebih dulu.
"Kalau boleh jujur, aku penasaran."
"Penasaran apa?"
"Kalian berdua ternyata cocok."
Kirana tertawa kecil. "Glory kesimpulan dari mana?"
"Dari pengamatan profesional."
"Kamu punya sertifikatnya?"
"Tidak."
"Berarti tidak valid."
Arga langsung tertawa. "Oke, aku suka kamu."
Kirana ikut tersenyum. Arga memang mudah diajak bicara, tidak heran jika ia memiliki banyak teman.
Beberapa detik kemudian, pria itu kembali bersandar di sofa. Tatapannya mengarah ke teras tempat Danendra berdiri. "Jujur saja."
"Hm?"
"Aku senang lihat Danendra sekarang."
Kirana mengikuti arah pandangnya. "Kenapa?"
Arga terdiam beberapa saat, seolah sedang memilih kata yang tepat. "Dulu aku pikir dia bakal hidup sendirian terus."
Kirana tertawa pelan. "Separah itu?"
"Percaya atau tidak, iya."
"Karena terlalu serius?"
"Itu salah satunya."
"Lalu yang lain?"
Arga tersenyum tipis. "Karena dia tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk orang lain."
Kirana tidak langsung menjawab. Entah kenapa, kalimat itu terdengar begitu dekat dengan kenyataan yang ia alami selama setahun terakhir.
"Dan sekarang?"
Arga kembali menatap ke arah teras. Di luar sana, Danendra masih berbicara melalui telepon. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun kali ini Kirana melihatnya sedikit berbeda.
"Aku tidak tahu dia sadar atau tidak," kata Arga pelan. "Tapi sekarang dia sudah berubah."
Kirana menoleh. "Berubah bagaimana?"
Arga tersenyum kecil. "Lihat saja sendiri."
Kirana ikut melihat ke arah yang sama. "Lihat apa?"
"Kamu."
Kirana mengernyit. "Aku?"
Arga mengangguk. "Karena sekarang dia punya seseorang yang selalu pulang ke rumah yang sama dengannya."
Kirana terdiam. Arga mengucapkannya dengan santai, tanpa maksud apa-apa, tanpa nada menggoda. Namun entah kenapa, kalimat itu menetap cukup lama di hatinya.
Sebab untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihat pernikahan mereka dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sebagai perjodohan, bukan sebagai kewajiban keluarga, bukan sebagai kesepakatan yang harus dijalani. Melainkan sebagai hubungan yang perlahan sedang dibangun.
Dan saat pandangannya kembali jatuh pada sosok Danendra di teras, Kirana tiba-tiba menyadari sesuatu. Mungkin selama ini ia terlalu sibuk memikirkan siapa saja yang pernah ada dalam hidup Danendra sebelum dirinya. Padahal yang jauh lebih penting adalah satu hal sederhana. Danendra ada di hidupnya sekarang.
Kesadaran itu datang begitu pelan hingga Kirana sendiri hampir tidak menyadarinya. Namun untuk pertama kalinya, nama Risa tidak muncul di kepalanya. Yang ada hanya satu pertanyaan kecil. Seberapa banyak lagi hal tentang Danendra yang belum aku ketahui?
Dan anehnya, kali ini rasa penasaran itu tidak terasa mengganggu. Justru membuatnya ingin mengenal pria itu lebih jauh lagi.