Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Hari ini Dinzy dijemput oleh Luca, namun Dinzy tidak lagi melakukan ini diam-diam dari Siska. Bahkan yang di lakukan Dinzy, mendapat dukungan penuh dari Siska.
"Sore Pak" sapa Dinzy
"Sore Dinzy. Gimana kerjaannya?"
"Semua berjalan baik Pak, kalau Pak Luca?"
"Ada sedikit masalah di beberapa titik tapi bukan masalah besar"
"Cepat selesai ya Pak untuk masalahnya, jadi Pak Luca gak stress"
"Tenang Din, saya jarang stress. Jadi... mereka memanfaatkan kamu?"
"saya tidak tahu bagaimana harus menyebutnya Pak, saya minta maaf untuk apa yang di lakukan atasan saya"
"Itu bukan masalah Din, manfaatkan saya. Saya izinkan"
"P-pak" panggil Dinzy terbata
"Iya?"
"Pak Luca bercandanya kelewatan. Masa iya saya memanfaatkan Pak Luca"
"Ini bukan masalah,dan saya mengizinkan kamu"
Dinzy mengernyitkan dahinya menatap Luca saat mengatakan hal tersebut.
"Dinzy suka makanan apa?"
"Saya apa saja makan Pak"
"Kita ke restaurant favorite saya ya"
"Boleh Pak"
Keduanya menuju sebuah restaurant yang berada sedikit jauh dari kantor dan rumah mereka. Meskipun melewati jalanan yang sedikit macet, tapi tidak menghalangi niat Luca untuk mengajak Dinzy makan malam.
"Tapi disini agak lama preparenya Din, sorry ya"
"Gak apa-apa Pak"
Luca menatap Dinzy dengan tatapan yang lekat, wanita cantik dan polos yang berada di hadapannya begitu menarik perhatiannya sejak awal dia bertemu Dinzy.
"Din, kamu tahu kalau saya duda?" tanya Luca
DEG!
"T-tidak Pak"
"Saya duda, saya memiliki anak laki-laki tapi dia dibawa oleh mantan istri saya dan tinggal di luar negeri. Saya tidak mendapat akses untuk menemui anak saya"
"Pak Luca, saya turut sedih mendengarnya. Pasti Pak Luca melewati hari yang berat setiap harinya"
"Iya. Saya hanya bisa memantau anak saya dari media sosial mantan istri saya"
"Suatu hari nanti, Pak Luca pasti bisa bertemu dengannya"
"Kami berpisah saat danak saya masih berusia 5 bulan, istri saya kembali dengan mantan pacarnya. Dia membawa anak kami. Dan saat ini anak saya sudah berusia 6 tahun"
Dinzy tertegun mendengar cerita Luca, itu artinya selama 6 tahun ini Luca menyimpan rindunya untuk sang buah hati.
"Pak Luca, tidak ingin mencoba menghubungi mantan istri?" tanya Dinzy
"Saya lakukan, tapi dia tetap tidak ingin mempertemukan saya dengan anak kami"
"6 tahun bukan waktu yang sebentar untuk Pak Luca. Ternyata Pak Luca juga menyimpan cerita kelam...."
"Kehidupan Din. Kalau kamu?"
"Saya, saya tumbuh di panti asuhan Pak. Saya tidak tahu siapa orangtua saya"
Tubuh Luca menjadi tegap seketika, tangannya meraih tangan Dinzy dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan di lanjutkan Din. Saya minta maaf untuk pertanyaan saya" ucap Luca dengan lembut
"Tidak apa-apa Pak, saya tidak sedih. Saya tumbuh bersama pengasuh panti yang sangat baik dan juga menyayangi saya"
Luca mendengarkan dengan seksama setiap cerita Dinzy, tangannya tetap menggenggam tangan halus tersebut.Meskipun Dinzy adalah wanita yang kuat, sesekali dia terhenti saat bercerita. Luca memahami, ada perasan yang tidak bisa Dinzy jelaskan.
Namun saat melihat Dinzy seperti tercekik dan menanahan tangisnya, jari Luca spontan mengusap punggung tangan milik Dinzy, meyakinkan Dinzy jika semuanya baik-baik saja.
"Permisi Bapak dan Ibu, kami bantu sajikan makanannya" ucap pelayan restaurant.
Luca mengangguk perlahan, lalu melepas genggaman tangannya, dan membiarkan pelayan tersebut menyajikan makanan untuk mereka berdua.
"Selamat menikmati Pak, Bu"
"Terimakasih" jawab mereka kompak.