NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 9 : Air Mata Tengah Malam

Malam beringsut makin larut, membawa keheningan yang mencekam ke dalam rumah besar keluarga Mahendra. Jam dinding di sudut ruang tengah telah berdentang dua kali, menandakan waktu telah melewati pukul dua pagi. Di luar, angin malam berembus kencang, menggoyahkan dahan-dahan pohon di halaman dan menciptakan bayang-bayang hitam yang menari-nari di dinding kaca.

Di dalam kamar utama yang luas, suasana begitu sunyi. Kamar itu tertata rapi, mewah, namun terasa dingin dan asing bagi siapa pun yang tidak terbiasa dengan kemegahan yang kaku. Di atas tempat tidur berukuran *king size*, Arka Mahendra terbangun dari tidurnya. Ia mengernyitkan dahi, merasakan tenggorokannya yang luar biasa kering. Efek dari makan malam yang menegangkan bersama orang tuanya beberapa jam lalu tampaknya masih menyisakan rasa tidak nyaman, bukan hanya di pikiran, tetapi juga di fisiknya.

Arka bangkit berdiri, membenarkan letak kaus hitam polos yang dikenakannya. Ia melirik ke sisi tempat tidur yang kosong. Sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak pernikahan mereka, meskipun mereka menempati satu kamar utama untuk menjaga formalitas di depan para pelayan rumah, Nadira memilih untuk tidur di sebuah sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, dekat dengan pembatas balkon. Arka tidak pernah melarang ataupun memaksanya untuk berbagi ranjang. Baginya, pembatasan fisik seperti itu justru mempermudah dirinya untuk menjaga jarak emosional.

Namun, ketika Arka hendak melangkah menuju pintu untuk mengambil air minum di dapur, sebuah suara menghentikan langkah kakinya.

Suara itu sangat lirih. Sebuah isakan kecil yang tertahan, begitu halus hingga hampir tenggelam oleh suara deru pendingin ruangan.

Arka mematung di tempatnya berdiri. Pandangannya perlahan beralih ke sudut kamar yang remang-remang, di mana sofa panjang itu berada. Di bawah siraman cahaya bulan yang menerobos celah gorden, ia bisa melihat siluet tubuh Nadira. Wanita itu tidak sedang berbaring tidur. Ia duduk meringkuk, memeluk kedua lututnya erat-erat dengan wajah yang disembunyikan di atas lipatan lengannya. Bahunya bergetar hebat secara berkala, menahan kepedihan yang tampaknya sudah tidak sanggup lagi ia bendung sendirian.

Nadira sedang menangis.

Dalam kesunyian tengah malam itu, ketika seluruh dunia terlelap, pertahanan wanita yang selalu tampak tegar dan tersenyum ramah itu akhirnya runtuh sepenuhnya.

Arka tetap berdiri diam di kegelapan, mengamati pemandangan tersebut tanpa bersuara. Jantungnya berdegup dengan ritme yang aneh. Selama ini, ia mengenal Nadira sebagai sosok yang selalu tenang, penuh kesabaran, dan memiliki kontrol emosi yang luar biasa. Bahkan ketika dihadapkan pada kata-kata pedas dan penghinaan terang-terangan dari Ibu Sarah di meja makan tadi malam, Nadira masih mampu menegakkan kepalanya dan menjawab dengan sopan tanpa setetes pun air mata yang jatuh di depan umum.

Namun sekarang, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, dalam kesendirian yang sunyi, semua rasa sakit itu keluar berhamburan.

Isakan Nadira terdengar begitu menyayat hati. Itu bukanlah tangisan amarah atau protes, melainkan tangisan dari seseorang yang merasa sangat kesepian dan kelelahan menanggung beban yang terlalu berat bagi pundaknya. Menjadi istri kontrak dari seorang CEO Mahendra Group ternyata menuntut harga psikologis yang sangat mahal bagi seorang gadis sederhana seperti dirinya. Ia harus menghadapi penghakiman rekan kerja di kantor, menerima penghinaan dari ibu mertua, dan di saat yang sama, tetap harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika matahari terbit nanti pagi.

Arka mengambil satu langkah kecil maju. Ada dorongan asing yang mendadak muncul di lubuk hatinya—sebuah impuls purba untuk melangkah mendekati sofa itu, mengulurkan tangan, dan menepuk bahu wanita itu untuk memberikan sedikit ketenangan. Logikanya yang biasanya bekerja dengan sangat taktis dan dingin mendadak lumpuh selama beberapa detik. Ia teringat bagaimana lembutnya tangan Nadira saat menempelkan plester luka pada anak kecil yang terjatuh di sekolah. Wanita yang begitu tulus memberikan kenyamanan pada orang lain, kini justru sedang rapuh dan tidak memiliki siapa pun untuk bersandar.

*“Jangan melibatkan perasaan sedikit pun.”*

Kalimat utama dalam lembar kontrak pernikahan mereka mendadak terngiang kembali di dalam kepala Arka, bergema seperti sebuah peringatan yang keras dan dingin. Langkah kaki Arka langsung terhenti di udara, sebelum akhirnya kembali menapak di lantai.

Arka menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak untuk mengusir segala bentuk empati yang mulai mengacaukan pikirannya. Ia mengingatkan dirinya sendiri tentang siapa dia sebenarnya. Dia adalah Arka Mahendra, seorang pria yang membangun hidupnya di atas fondasi logika, kontrak yang jelas, dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Menghampiri Nadira malam-malam seperti ini, menghiburnya, atau bahkan sekadar bertanya mengapa ia menangis, akan mengaburkan garis batas profesional yang telah mereka sepakati bersama. Itu akan membuka celah bagi perasaan untuk masuk, sesuatu yang sejak awal sudah ia sumpah tidak akan pernah diizinkan terjadi dalam hidupnya.

Arka menatap siluet Nadira untuk yang terakhir kalinya. Isakan wanita itu perlahan mulai mereda, berganti dengan helaan napas berat yang panjang, seolah ia sedang berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya kembali dalam kegelapan.

Dengan ekspresi wajah yang kembali mengeras dan dingin tanpa emosi, Arka membalikkan badannya. Ia memutuskan untuk mengabaikan apa yang baru saja ia lihat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tanpa membuat suara sedikit pun yang bisa menyadarkan Nadira bahwa dirinya sedang diamati, Arka melangkah melewati pintu kamar dan berjalan pergi menuju dapur di lantai bawah. Ia memilih untuk tetap menjadi orang asing, persis seperti isi kontrak yang mengikat mereka.

---

Keesokan paginya, sinar matahari kembali menembus jendela kamar, menghalau segala kegelapan dan sisa-sisa kesedihan malam tadi.

Ketika Arka membuka matanya, sisi sudut kamar di mana sofa panjang itu berada sudah kembali rapi dan bersih. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa jam lalu tempat itu menjadi saksi bisu dari air mata yang tumpah di tengah malam. Nadira sudah tidak ada di sana.

Setelah bersiap-siap dan mengenakan setelan jas kerjanya, Arka turun ke ruang makan. Di sana, meja makan sudah dipenuhi dengan sarapan pagi. Nadira berdiri di dekat meja, sedang membantu pelayan menuangkan kopi ke dalam cangkir milik Arka.

Begitu melihat Arka datang, Nadira langsung menegakkan tubuhnya dan melempar senyuman yang sangat ramah—senyuman yang sama dengan yang selalu ia berikan setiap pagi.

"Selamat pagi, Pak Arka," sapa Nadira dengan suara yang ceria dan tenang.

Arka berjalan mendekat, matanya langsung tertuju pada wajah Nadira. Ia mengamati dengan saksama. Meskipun wanita itu menggunakan riasan wajah untuk menutupinya, Arka yang jeli masih bisa melihat sedikit sembap di sekitar kelopak mata Nadira, serta rona lelah yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dari balik binar matanya. Namun, cara Nadira membawa diri pagi ini benar-benar luar biasa. Ia bersikap seolah-olah malam tadi tidak pernah terjadi apa-apa. Kebohongan yang begitu rapi dirajut demi menjaga ketenangan di rumah ini.

"Pagi," jawab Arka pendek. Ia duduk di kursinya dan mulai meraih cangkir kopi yang telah disiapkan.

Nadira duduk di seberangnya, mengambil sepotong roti panggang dan mulai mengolesinya dengan selai secara perlahan. "Hari ini saya ada jadwal mengajar sampai agak sore, Pak. Setelah itu, saya berencana mampir ke toko buku untuk membeli beberapa perlengkapan menggambar anak-anak. Apakah ada acara keluarga nanti malam yang harus saya hadiri?"

Arka menyesap kopinya, matanya masih menatap Nadira dari balik cangkir. "Tidak ada. Jadwal minggu ini cukup senggang dari acara formal."

"Baik, Pak. Terima kasih kalau begitu," jawab Nadira, kembali tersenyum tipis sebelum melanjutkan sarapannya dengan tenang.

Melihat ketenangan Nadira yang terkesan sangat terlatih itu, ada rasa tidak nyaman yang aneh yang kembali menggelitik hati Arka. Pria itu meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan dengan sedikit ketukan. Pikirannya mendadak berputar kembali pada tangisan pilu di tengah malam yang ia saksikan sendiri. Ada bagian dari dirinya yang merasa terusik melihat bagaimana wanita di hadapannya ini mengubur seluruh rasa sakitnya dalam-dalam hanya demi terlihat profesional di depannya.

Arka berdeham kecil, memecah keheningan yang sempat tercipta. "Mengenai kejadian di rumah orang tua saya tadi malam..."

Gerakan tangan Nadira yang sedang memegang pisau roti langsung terhenti. Ia mendongak, menatap Arka dengan sedikit keterkejutan di matanya, namun dengan cepat ia berhasil menguasai dirinya kembali.

"Ah, soal itu," Nadira tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar agak dipaksakan di telinga Arka. "Anda tidak perlu khawatir, Pak Arka. Saya sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati. Saya tahu posisi saya, dan saya sangat memaklumi jika Ibu Nyonya Sarah merasa kecewa dengan latar belakang saya yang tidak sebanding dengan keluarga Mahendra. Itu hal yang wajar dalam dunia bisnis dan sosial Anda."

Nadira menjeda kalimatnya, menarik napas pendek lalu melanjutkan dengan nada yang sangat tulus. "Saya justru merasa sangat berterima kasih karena Anda sudah membela profesi saya di depan beliau. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Jadi, Anda tidak perlu merasa tidak enak atau memikirkan masalah itu lagi. Saya baik-baik saja."

*Saya baik-baik saja.*

Kata-kata itu meluncur begitu mudah dari bibir Nadira, terdengar sangat meyakinkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Namun bagi Arka, yang beberapa jam lalu melihat bagaimana tubuh wanita itu bergemetar hebat menahan tangis di atas sofa dalam kegelapan, kata-kata itu terdengar seperti sebuah kebohongan terbesar yang pernah ia dengar. Nadira tidak sedang baik-baik saja. Wanita itu sedang memaksakan dirinya untuk kuat, memasang topeng ketegaran agar tidak merepotkan dirinya atau merusak tatanan kontrak mereka.

Arka menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Nadira. Ia mencari celah kerapuhan di sana, namun Nadira dengan gigih mempertahankan tatapan matanya yang jernih dan penuh ketenangan buatan itu.

"Baguslah kalau begitu," ucap Arka akhirnya, suaranya kembali terdengar datar dan dingin, menyembunyikan segala gejolak batin yang mendadak berkecamuk di dalam dirinya sendiri. "Selama kamu tahu bagaimana cara mengatasi situasi seperti itu dan tidak membiarkannya mengganggu komitmen kita, itu tidak akan menjadi masalah."

"Tentu saja, Pak. Saya mengerti," sahut Nadira dengan anggukan kepala yang mantap.

Sarapan pagi itu pun berlanjut dalam keheningan yang akrab namun dipenuhi oleh hal-hal yang tidak terucapkan. Arka menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu bangkit berdiri untuk berangkat ke kantor. Namun, sepanjang perjalanannya di dalam mobil menuju gedung Mahendra Group, bayangan mata sembap Nadira pagi ini dan suaranya yang bergetar di tengah malam menolak untuk pergi dari benaknya.

Tanpa disadarinya, keputusannya untuk berbalik pergi dan mengabaikan air mata Nadira semalam tidak memberikan kedamaian yang ia harapkan. Sebaliknya, hal itu justru meninggalkan rasa bersalah yang samar, sebuah riak kecil di dalam kolam hatinya yang tenang, yang perlahan-lahan mulai mengancam untuk meruntuhkan seluruh keyakinan dan logika dingin yang selama ini diagungkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!