Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe Kecil dan Benda yang Tidak Seharusnya Ada
Kafe itu terletak di jalan kecil yang tidak punya nama resmi di peta digital manapun.
Bukan tempat yang bisa ditemukan kalau tidak tahu harus mencarinya — bangunan tua satu lantai dengan cat dinding yang sudah memudar dari putih ke krem kusam, papan nama yang tulisannya sebagian sudah tidak terbaca, dan tiga meja kayu di dalam yang semuanya sudah miring di satu kaki karena lantainya tidak rata.
Raymond Pratama yang memilih tempat ini.
Rio yang pertama tiba — kebiasaan lama, datang lebih awal untuk melihat ruangan sebelum orang lain yang perlu ia perhatikan masuk ke dalamnya. Ia memilih meja di sudut kanan, duduk dengan punggung ke dinding, memesan teh tawar yang tidak ia minum, dan menunggu.
Wukong di pundak kanan. Mode kamuflase penuh.
Di pergelangan kiri Rio, di bawah lengan jaket yang sudah ia turunkan kembali untuk menutupinya, Abyssal Goddess Weaver duduk diam dalam kehangatan kain yang gelap. Ia sudah ada di sana sejak pagi, tidak bergerak kemana-mana sepanjang hari sekolah, hanya duduk dan mengamati dunia dari balik kain jaket Rio dengan delapan matanya yang tidak butuh cahaya untuk melihat.
Raymond masuk pukul empat lewat tiga menit.
Kemeja biru tua hari ini. Masih tanpa tas, masih tanpa atribut apapun yang menunjukkan jabatannya. Ia memesan kopi di konter dengan cara seseorang yang sudah pernah ke tempat ini sebelumnya, duduk di kursi seberang Rio, dan meletakkan cangkirnya di meja tanpa basa-basi pembuka.
"Terima kasih sudah datang," kata Raymond.
"Bapak yang pilih tempatnya," jawab Rio.
Raymond mengangguk. "Tidak ada kamera di sini. Pemiliknya teman lama — tidak akan bertanya dan tidak akan mengingat apapun yang ia lihat."
Rio menatapnya. "Bapak sudah persiapkan ini dari sebelum kemarin."
Bukan pertanyaan.
"Iya," Raymond mengakuinya tanpa jeda. "Sejak sensor nasional mendeteksi aktivasi sistem tiga minggu lalu, saya sudah mulai mencari cara untuk melakukan kontak tanpa meninggalkan jejak di log resmi."
"Kenapa tidak melalui jalur resmi?"
Raymond memegang cangkir kopinya tapi tidak meminumnya. "Karena orang yang menyembunyikan ayahmu masih sangat aktif di jalur resmi itu."
Keheningan selama empat detik.
Di luar kafe, suara kendaraan yang lewat di jalan kecil tanpa nama itu terdengar lebih jauh dari seharusnya — seperti dunia di luar sedang berjaga jarak dari percakapan yang sedang berlangsung di dalam.
Rio menatap Raymond dengan datar. "Siapa?"
Raymond menarik napas. Bukan napas ragu-ragu — napas seseorang yang sudah mempertimbangkan seberapa banyak yang akan ia katakan dan sudah membuat keputusannya sebelum duduk.
"Sebelum saya menjawab itu," kata Raymond, "ada sesuatu yang perlu kamu lihat dulu."
Tangannya masuk ke saku kemeja — saku yang dari luar tidak terlihat menonjol, tidak terlihat berisi apapun — dan mengeluarkan sebuah benda.
Meletakkannya di atas meja.
Mendorongnya pelan ke arah Rio.
Rio menatap benda itu.
Matanya tidak bergerak dari permukaannya selama tiga detik penuh yang terasa jauh lebih panjang dari hitungannya.
Benda itu kecil — muat di telapak tangan, berbentuk bulat pipih seperti jam saku tua, dengan permukaan logam yang warnanya antara perak dan abu-abu yang sudah kusam dimakan waktu. Di permukaannya, ukiran yang sangat halus membentuk pola yang Rio tidak bisa identifikasi sebagai simbol apapun yang pernah ia lihat — bukan huruf, bukan angka, bukan lambang resmi organisasi hunter manapun.
Tapi bukan itu yang membuat tangan Rio di atas meja berhenti bergerak.
Yang membuat tangan Rio berhenti bergerak adalah detail di sisi benda itu — goresan kecil yang bukan bagian dari ukiran, bukan desain, bukan produksi pabrik. Goresan yang dibuat oleh seseorang dengan benda tajam, dengan tangan yang tidak terlalu berhati-hati atau mungkin terlalu terburu-buru, membentuk dua huruf yang sangat kecil tapi sangat jelas di bawah cahaya lampu kafe yang redup.
**R.A.**
Rio Albert.
Inisial yang sama persis dengan yang pernah ia ukir sendiri — bertahun-tahun lalu, dengan penjepit kertas yang ia tekuk menjadi alat improvisasi — di bawah laci meja belajar kontrakannya yang lama. Kebiasaan kecil yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun karena tidak ada siapapun yang perlu diceritakan.
Cara mengukir yang sama. Tekanan yang sama. Huruf R yang miring sedikit ke kiri karena ia tidak kidal tapi selalu memegang alat ukir dengan tangan kiri karena tangan kanan dipakai menahan permukaan.
Persis sama.
"Di mana Bapak mendapatkan ini," suara Rio keluar dengan nada yang sangat terkendali, terlalu terkendali untuk situasi ini, dengan cara yang hanya bisa terjadi ketika seseorang sedang menggunakan seluruh energi yang tersedia untuk menjaga suaranya agar tidak menjadi hal lain.
"Ditemukan di dalam dungeon SSS-Class yang kami tutup enam bulan lalu," jawab Raymond. Suaranya sama pelannya. "Di dalam ruangan yang menurut seluruh catatan dan seluruh analisis tim kami seharusnya tidak bisa dimasuki oleh manusia manapun sejak dungeon itu pertama kali terbuka tiga belas tahun lalu."
Rio menatap benda itu.
"Kamu mengenalinya," kata Raymond. Bukan pertanyaan.
"Inisialnya," jawab Rio.
"Hanya inisialnya?"
Rio tidak menjawab langsung. Ia meraih benda itu dengan jari-jarinya, mengangkatnya dari meja. Beratnya tidak proporsional dengan ukurannya — lebih berat, jauh lebih berat dari yang seharusnya dimiliki benda seukuran ini.
Dan begitu jari-jari Rio menyentuh permukaannya—
Panel sistem meledak dengan notifikasi yang Rio tidak pernah lihat sebelumnya dalam format apapun.
[PERINGATAN SISTEM TINGKAT TERTINGGI]**
[Objek Dikenali: Kunci Memori Tersegel — Dibuat oleh Adrian Albert]**
[Fungsi: Membuka Fragment 3/7 hingga 7/7 secara sekaligus]**
[PERINGATAN KERAS: Membuka seluruh fragment sekaligus akan mengekspos pengguna pada informasi yang sistem nilai berpotensi berbahaya secara psikologis
[Sistem merekomendasikan: JANGAN dibuka sekarang]
[Keputusan akhir ada pada pengguna]
Rio membaca peringatan itu satu kali.
Kemudian mengepalkan tangannya di sekeliling benda itu.
Tidak membukanya. Tidak melepaskannya.
Hanya memegang.
Di pergelangan kirinya, melalui kain jaket, ia merasakan perubahan yang sangat halus — tekanan delapan kaki yang menekan sedikit lebih kuat dari biasanya. Seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dan menyentuh lenganmu dengan sangat pelan untuk memberitahu bahwa mereka ada di sana.
Rio melepaskan napas yang ia tidak sadari sudah ia tahan.
"Goresan inisial itu," kata Rio dengan suara yang sudah kembali ke nada normalnya, "saya yang buat. Kebiasaan lama. Saya ukir inisial saya di bawah permukaan benda-benda yang ingin saya tandai sebagai milik saya." Ia menatap Raymond. "Tapi saya tidak pernah melihat benda ini sebelumnya dalam hidup saya."
Raymond menatapnya dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang sangat dekat dengan rasa iba, tapi bukan rasa iba yang merendahkan — lebih ke arah rasa iba seseorang yang sudah tahu informasi yang menyakitkan lebih lama dari yang seharusnya dan tidak menemukan cara yang baik untuk menyampaikannya.
"Saya tahu," kata Raymond pelan. "Karena benda itu bukan milikmu."
Ia berhenti.
"Benda itu milik ayahmu. Dan inisial yang terukir di sisinya bukan inisialmu, Rio."
Rio membuka kepalan tangannya. Menatap dua huruf kecil di sisi benda itu.
**R.A.**
"R.A.," gumam Rio.
"Rio Albert." Raymond mengucapkan nama itu dengan hati-hati. "Atau — Rio Adrian. Nama lengkap yang terdaftar di akta kelahiran yang sudah lama dihapus dari database sipil." Matanya tidak berpindah dari Rio. "Ayahmu menamaimu dengan inisial yang sama dengannya. Adrian — nama tengahnya yang tidak pernah muncul di catatan resmi manapun — dan Rio, nama depan yang ia pilih sendiri untukmu."
Lampu kafe yang redup berkedip satu kali — gangguan listrik kecil yang tidak ada hubungannya dengan apapun tapi terasa sangat tidak pas untuk momen ini.
Rio duduk sangat diam.
Di dalam kepalannya, benda logam itu terasa lebih berat dari sebelumnya, dan dingin dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh suhu ruangan yang sebenarnya cukup hangat.
*R.A.*
Bukan Rio Albert saja.
Rio Adrian Albert.
Inisial yang sama. Cara mengukir yang sama. Kebiasaan yang sama yang rupanya bukan kebiasaan yang ia kembangkan sendiri dari nol — melainkan kebiasaan yang mungkin selalu sudah ada di dalam dirinya, menunggu untuk muncul ke permukaan, seperti banyak hal lain yang mungkin selalu sudah ada di dalam dirinya dan ia tidak tahu darimana asalnya.
Wukong di pundak Rio tidak bergerak.
Tidak mencicit, tidak mengangguk, tidak memberikan komentar apapun.
Hanya duduk dengan sangat diam dan sangat berat — berat yang sama yang Rio rasakan sejak nama itu disebut di warung Bu Heni dua hari lalu, berat yang dimiliki oleh ingatan tentang seseorang yang kamu rindukan bahkan sebelum kamu tahu bahwa kamu merindukannya.
"Ayah saya menyimpan benda ini di dalam dungeon SSS-Class," kata Rio. Suaranya keluar datar, bukan karena tidak ada yang dirasakan melainkan karena ada terlalu banyak yang dirasakan dan semuanya sedang mencoba keluar melalui satu jalur yang sama. "Bukan karena ia ingin menyembunyikannya."
Raymond mengangguk pelan. "Karena itu satu-satunya tempat yang ia yakin tidak akan bisa dicapai oleh orang yang menyembunyikannya. Sampai ada hunter yang cukup kuat untuk menutup dungeon itu." Ia berhenti. "Kami menutupnya enam bulan lalu. Menemukan benda itu di ruang paling dalam. Dan baru tiga minggu kemudian sensor nasional mendeteksi aktivasi sistemmu."
"Bapak pikir keduanya berhubungan."
"Saya tidak pikir," kata Raymond. "Saya yakin. Sistem itu tidak aktif secara acak, Rio. Sistem itu aktif karena kunci yang ada di tanganmu sekarang sudah ditemukan oleh orang yang ayahmu percayai untuk menemukannya — dan informasi itu sampai ke sistem yang sudah menunggu konfirmasi selama tiga belas tahun."
Rio menatap benda di tangannya satu kali lagi.
Kemudian menatap Raymond.
"Siapa yang menyembunyikan ayah saya?"
Raymond meletakkan cangkir kopinya yang sejak tadi tidak ia minum. Menatap Rio dengan ekspresi yang akhirnya tidak mengandung kalkulasi, tidak mengandung kehati-hatian, tidak mengandung apapun selain jawaban yang sudah terlalu lama menunggu untuk diucapkan.
"Orang yang enam bulan lalu mengirim tim untuk menutup dungeon itu," kata Raymond pelan. "Orang yang memimpin operasi penutupan dungeon tersebut secara langsung. Orang yang seharusnya tidak tahu benda itu ada di dalam sana — tapi entah bagaimana, benda itu sampai ke tangan saya bukan melalui laporan resmi, melainkan melalui kurir anonim dua hari setelah operasi selesai."
Rio menunggu.
"Ketua Asosiasi Hunter Nasional," kata Raymond. Satu kalimat. Tanpa intonasi yang dramatis, tanpa jeda yang teatrikal. Diucapkan dengan nada yang sama seperti seseorang menyebutkan fakta cuaca. "Direktur Hana Soekarno. Perempuan yang sudah dua belas tahun memimpin seluruh sistem hunter di negara ini dan disebut di setiap media sebagai pelindung terbesar yang dimiliki bangsa ini."
Di dalam kepalan tangan Rio, benda logam itu berdenyut satu kali.
Sangat halus. Sangat singkat.
Seperti jantung yang baru saja diingatkan bahwa ia masih berdetak.
Panel sistem menyala dengan satu baris yang tidak membutuhkan penjelasan tambahan apapun.
#Sistem #Action #Pet #Urban #Rebirth #Overpowered #Fantasy
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣