Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sore itu, Arya duduk sendirian di ruang kerjanya. Tumpukan berkas perkara masih memenuhi meja. Namun sejak lima belas menit yang lalu, tidak satu pun berkas yang berhasil ia baca.
Pikirannya terus melayang pada satu nama. Yaitu Aurel.
Kasus perceraian yang selama beberapa minggu terakhir menyita waktunya kini telah selesai.
Artinya...Hubungan profesional mereka juga telah berakhir.
Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Biasanya, setelah sebuah perkara selesai, ia akan langsung beralih ke klien berikutnya. Tidak ada lagi komunikasi. Tidak ada lagi alasan untuk saling menghubungi. Namun kali ini berbeda.
Arya mengambil ponselnya. Nama Aurel masih tersimpan di daftar kontak. Ia sempat membuka ruang percakapan mereka. Isinya hanya pembahasan mengenai sidang, dokumen, dan jadwal pertemuan.
Tidak ada satu pun pesan yang bersifat pribadi.
Jarinya sempat mengetik. "Bagaimana kabarnya?"
Beberapa detik kemudian, Arya menghapus kembali kalimat itu.
"Terlalu tiba-tiba." kata Arya ke dirinya sendiri.
Ia kembali mengetik. "Semoga Ibu Aurel dan Raka selalu sehat." Lalu kembali dihapus.
"Seperti masih menjadi pengacara." Arya menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang pengacara yang terbiasa menyusun argumen di ruang sidang justru kebingungan menyusun satu pesan sederhana.
Arya tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Lucu sekali."
"Negosiasi miliaran rupiah saja aku bisa."
"Menghubungi satu perempuan malah tidak berani."
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Arya.
"Masuk." kata Arya.
Najwa muncul sambil membawa map berisi beberapa dokumen. "Pak Arya, ini berkas yang Bapak minta."
"Terima kasih."
Najwa meletakkan map di meja. Namun ia tidak langsung pergi. Tatapannya justru mengarah ke ponsel Arya yang masih menyala.
"Bapak lagi mikir berat?"
Arya tersenyum tipis. "Kelihatan?"
"Sedikit." Najwa terkekeh.
"Biasanya Bapak kalau baca berkas serius. Ini malah layar ponselnya dari tadi."
Arya ikut tertawa pelan. "Lagi bingung."
Najwa mengangkat sebelah alis. "Seorang bapak Arya Aditia bisa bingung juga?"
Arya mengangguk. "Kasus Aurel sudah selesai."
"Iya."
"Lalu..." tanya Najwa.
"Saya kehilangan alasan untuk menghubunginya."
Kalimat itu membuat Najwa terdiam beberapa detik. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
"Oh..."
"Jadi benar."
Arya menatap Najwa heran. "Benar apa?"
"Kalau Bapak memang menyukai Aurel."
Arya tidak langsung menjawab. Namun senyumnya sudah menjadi jawaban.
Najwa akhirnya duduk di kursi depan meja Arya.
"Kalau boleh jujur..."
"Saya sudah menebaknya sejak lama."
Arya menggeleng sambil tersenyum. "Sejelas itu?"
"Cukup jelas." kata Najwa.
"Soalnya Bapak jarang sekali turun langsung menangani perkara seperti itu."
"Tapi waktu kasus Aurel..."
"...Bapak malah mengambil alih."
Arya hanya tertawa kecil. Ia memang tidak bisa membantah.
Najwa lalu berkata dengan nada lebih serius. "Kalau memang ingin mengenal Aurel..."
"Jangan mulai sebagai pengacara."
"Mulailah sebagai Pak Arya."
Arya terdiam mendengar saran itu.
"Tapi menurut saya..."
"Jangan sekarang."
"Luka Aurel masih sangat baru."
"Dia memang sudah terlihat lebih baik."
"Tapi bukan berarti hatinya sudah sembuh."
Arya mengangguk pelan. "Itu juga yang saya pikirkan."
"Saya tidak ingin kehadiran saya membuat dia merasa ditekan."
Najwa tersenyum puas. "Itulah kenapa saya tidak khawatir."
"Bapak tahu kapan harus maju..."
"...dan kapan harus memberi ruang."
Arya kembali melihat layar ponselnya. Nama Aurel masih terpampang di sana. Ia akhirnya mengunci layar ponselnya tanpa mengirim satu pesan pun.
"Mungkin..."
"...untuk sekarang, aku cukup mendoakan dia dari jauh."
Najwa tersenyum. "Kalau memang berjodoh, nanti juga ada jalannya."
Arya membalas senyum itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memikirkan bagaimana cara mendekati Aurel. Melainkan bagaimana memberi waktu bagi seorang perempuan yang baru saja menutup babak paling menyakitkan dalam hidupnya.
Karena Arya percaya... Hati yang terluka tidak perlu dikejar. Ia hanya perlu diberi kesempatan untuk pulih.
Malam harinya, Najwa baru saja tiba di apartemennya.
Begitu merebahkan tubuh di sofa, ia langsung teringat percakapannya dengan Arya di kantor.
Mengingat ekspresi atasannya yang biasanya tenang namun mendadak gugup hanya karena membahas Aurel, Najwa tidak bisa menahan tawanya.
"Pak Arya... Pak Arya..."
"Ternyata bisa juga salah tingkah." gumamnya sambil terkekeh.
Tanpa pikir panjang, Najwa mengambil ponselnya.
Jarinya langsung mengetik pesan untuk Aurel.
"Rel, aku mau kasih kabar penting!"
Tak lama kemudian, balasan masuk.
"Apa lagi? Jangan bilang Mahesa bikin ulah lagi."
Najwa tertawa kecil. Ia segera membalas.
"Bukan."
"Yang ini jauh lebih seru."
"Kayaknya Pak Arya naksir kamu."
Begitu membaca pesan itu, Aurel yang sedang melipat pakaian Raka langsung berhenti. Ia mengernyit. Lalu membalas singkat.
"Kamu lagi ngigau?"
Najwa langsung mengirim emoji tertawa.
"Serius!"
"Aku lihat sendiri."
"Beliau bingung gimana caranya tetap berhubungan sama kamu setelah kasusmu selesai."
Aurel menggeleng pelan sambil tersenyum geli. Menurutnya, itu sama sekali tidak masuk akal.
Aurel kembali mengetik.
"Najwa..."
"Pak Arya itu pengacara sukses."
"Masih muda."
"Ganteng."
"Mapan."
"Sedangkan aku?"
"Aku janda, punya anak satu."
"Mana mungkin beliau suka sama aku."
Najwa membaca balasan itu sambil mendengus pelan. Ia langsung membalas panjang.
"Nah, itu dia masalahnya."
"Kamu masih suka merendahkan diri sendiri."
"Status janda memang status, tapi bukan ukuran nilai seseorang."
"Lagi pula, yang suka sama kamu itu Pak Arya, bukan kamu yang ngaku-ngaku."
Aurel tersenyum tipis. Tetap saja ia sulit percaya.
"Mungkin beliau cuma baik."
"Namanya juga pengacara."
"Harus ramah sama klien."
Najwa langsung tertawa keras hingga hampir menjatuhkan ponselnya.
"Aku kerja sama beliau sudah bertahun-tahun."
"Beliau ramah, iya."
"Tapi nggak pernah sampai bingung kehilangan alasan buat menghubungi mantan klien."
"Kamu ini memang kalau soal perasaan lemot."
Aurel terkekeh membaca pesan Najwa.
Sudah lama ia tidak tertawa karena obrolan ringan seperti ini.
Aurel akhirnya membalas.
"Sudahlah."
"Jangan bikin gosip."
"Aku lagi menikmati hidup tenang."
"Belum kepikiran cari pasangan lagi."
Najwa tersenyum membaca balasan sahabatnya. Ia tidak membalas lagi. Baginya, cukup mengetahui satu hal.
Hari ini, Aurel bisa tertawa. Itu saja sudah lebih dari cukup.
Sementara itu, di rumah orang tuanya, Aurel memandang layar ponselnya beberapa saat. Ia lalu menggeleng pelan.
"Mana mungkin..." gumamnya sambil tersenyum kecil.
Di dalam hatinya, ia benar-benar tidak percaya. Bagi Aurel, Arya hanyalah seorang pengacara yang kebetulan membantu menyelesaikan perceraiannya.
Tak pernah sedikit pun terlintas bahwa pria itu bisa memiliki perasaan lebih. Aurel kemudian mematikan layar ponselnya dan kembali melipat pakaian Raka. Tanpa ia sadari... Senyum kecil itu masih bertahan di wajahnya.