NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Lembah Kabut Roh - Gerbang Kuno

Desa Kabut

Begitu memasuki Desa Kabut, Shen Yifan segera merasakan suasana yang berbeda.

Jalanan desa tidak terlalu luas, tetapi dipenuhi orang-orang dari berbagai latar belakang. Di kiri dan kanan jalan berdiri penginapan sederhana, kedai makanan, hingga toko-toko kecil yang menjual senjata, pil, jimat, dan perlengkapan bertahan hidup.

Meski terdengar ramai oleh suara tawar-menawar, dentingan logam, dan percakapan para kultivator, tidak ada kesan santai di wajah mereka.

Sebagian besar justru tampak sibuk memeriksa pedang, menghitung persediaan pil, atau mempelajari peta Lembah Kabut Roh.

Beberapa kelompok mengenakan jubah dengan lambang sekte yang berbeda-beda. Ada yang membawa pedang panjang di punggung, ada pula yang memanggul tombak raksasa atau membawa busur hitam.

Di sudut lain, beberapa tuan muda dari keluarga besar dikelilingi para pengawal. Wajah mereka dipenuhi rasa percaya diri, seolah Lembah Kabut Roh hanyalah tempat berburu biasa.

Sementara itu, para kultivator pengembara memilih duduk diam di kedai teh. Tatapan mereka sesekali mengarah ke orang-orang yang baru tiba, seperti sedang menilai siapa yang layak menjadi kawan atau mangsa.

Shen Yifan hanya melirik sekilas sebelum menarik kembali pandangannya.

Ia sama sekali tidak tertarik mengenal siapa pun. Tujuannya datang ke tempat ini hanya satu. Anggrek Jiwa Langit.

Shen Yifan memilih duduk di sebuah kedai teh sederhana di pinggir jalan.

Ia memesan secangkir teh hangat, lalu duduk di sudut ruangan tanpa menarik perhatian siapa pun.

Tak lama kemudian, sekelompok kultivator memasuki kedai.

Dari lambang di dada mereka, tampaknya mereka berasal dari sebuah sekte kecil.

"Haha! Besok akhirnya tiba juga."

"Lembah Kabut Roh akan dibuka sepenuhnya."

"Tiga hari sekali kabutnya memang menipis, tapi besok berbeda." Seorang pria berjanggut menurunkan suaranya. "Anggrek Jiwa Langit akan mulai mekar."

Mendengar nama itu, Shen Yifan tetap tenang. Tangannya masih memegang cangkir teh, seolah tidak tertarik dengan percakapan mereka.

"Jangan cuma memikirkan Anggrek Jiwa Langit." Seorang pria lain berbisik pelan. "Apa kalian belum dengar kabarnya?"

"Kabar apa?"

"Ada seseorang yang menemukan sebuah gua kuno di bagian terdalam lembah."

"Aku juga dengar."

"Tapi katanya gua itu dipenuhi formasi pembunuh."

Pria berjanggut itu mengangguk.

"Benar."

"Namun sebelum semua orang dipaksa mundur oleh formasi, ada seseorang yang sempat melihat sebuah artefak."

"Artefak apa?"

Suasana meja itu langsung menjadi hening. "Artefak Tingkat Empat."

Begitu tiga kata itu terucap, bahkan beberapa pelanggan di meja lain ikut menoleh.

"Apa kau serius?"

"Artefak Tingkat Empat?"

"Itu benda yang bahkan para tetua sekte akan berebut!"

Pria berjanggut mengangguk pelan. "Karena itulah banyak sekte besar mengirim murid inti mereka kemari."

"Bahkan aku mendengar Keluarga Mo, Sekte Pedang Awan, dan Sekte Seratus Gunung juga sudah tiba di Desa Kabut."

Shen Yifan perlahan meletakkan cangkir tehnya, tatapannya tetap tenang.

(Artefak Tingkat Empat yah.) batin Shen Yifan.

Shen Yifan tidak tertarik oleh harta atau Artefaknya, selama ia mendapatkan Anggrek Jiwa Langit, itu sudah cukup. Selama tidak ada yang menghalangi jalannya, ia tidak akan membuat masalah.

Namun Shen Yifan tidak tahu, bahwa, pengalaman mengajarkan banyak hal.

Di dunia kultivasi, selama ada harta karun, pertumpahan darah hampir selalu mengikutinya. Terkadang, seseorang tidak perlu mencari masalah. Masalah yang akan datang mencarinya.

Shen Yifan menghembuskan napas pelan, lalu berjalan menuju sebuah penginapan kecil di ujung desa, sebelum memasuki lembah Kabut Roh, ia memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut.

......................

Keesokan paginya.

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Kabut ketika matahari perlahan muncul dari balik pegunungan.

Namun, suasana desa sudah jauh lebih ramai dibandingkan hari sebelumnya.

Ratusan kultivator berbondong-bondong berjalan ke arah yang sama. Ada yang berasal dari sekte besar, keluarga kultivasi ternama, hingga para kultivator pengembara yang datang seorang diri.

Shen Yifan mengikuti arus manusia itu tanpa tergesa-gesa.

Tak lama kemudian, sebuah lembah raksasa terbentang di hadapannya.

Di mulut lembah berdiri sebuah gerbang batu kuno setinggi puluhan meter. Permukaannya dipenuhi ukiran-ukiran purba yang telah terkikis oleh waktu, namun masih memancarkan aura kuno yang membuat siapa pun tanpa sadar menahan napas.

Di tengah gerbang itu, sebuah pusaran spasial berwarna ungu tua berputar perlahan.

Sesekali, kilatan cahaya ungu melintas di permukaannya, memancarkan fluktuasi ruang yang membuat udara di sekitarnya sedikit bergetar.

Itulah pintu masuk menuju Lembah Kabut Roh. Di depan gerbang, para kultivator berbaris sambil menunggu waktu pembukaan.

Suara percakapan terdengar di mana-mana.

"Ternyata benar... Gerbangnya sudah aktif."

"Beberapa saat lagi pusaran itu akan benar-benar stabil."

"Tahun ini pasti lebih ramai dari biasanya."

Saat itulah. Suara langkah kaki yang diiringi derap para pengawal terdengar dari belakang.

Kerumunan spontan membuka jalan, seorang pemuda berpakaian mewah berjalan santai sambil mengipas dirinya dengan kipas lipat berwarna putih giok.

Di belakangnya mengikuti beberapa pengawal berwajah dingin.

"Dia datang..."

"Itu Tuan Muda keluarga Luo!"

"Aku dengar usianya baru dua puluh dua tahun, tapi sudah berada di puncak Kondensasi Qi."

"Bahkan ayahnya menghadiahkan Artefak Tingkat Tiga sebagai senjata."

"Jangan menatapnya terlalu lama. Kudengar sifatnya sangat angkuh."

Pemuda itu sama sekali tidak memedulikan bisikan orang-orang.

Dagunya sedikit terangkat, seolah semua yang hadir di tempat itu bahkan tidak layak memasuki pandangannya.

Tatapannya menyapu kerumunan dengan penuh kesombongan.

"Hmph... Hanya sekumpulan orang yang datang berharap keberuntungan."

Ia mengibaskan kipasnya sekali lagi sebelum berdiri di barisan paling depan.

Shen Yifan hanya melirik sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke pusaran spasial di tengah gerbang kuno.

Tuan muda, sekte besar, keluarga bangsawan.

Semua itu sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Tujuannya sejak awal tidak pernah berubah, masuk ke Lembah Kabut Roh. Menemukan Anggrek Jiwa Langit.

Lalu pergi.

Sesederhana itu... setidaknya, begitulah yang ia harapkan.

Luo Tian mengibaskan kipas gioknya perlahan, tatapannya menyapu seluruh kultivator yang memenuhi depan gerbang kuno.

"Karena kalian semua tahu siapa aku." ucapnya dengan tenang. "Aku harap semua memberi jalan... Karena keluarga Luo akan masuk terlebih dahulu."

Kerumunan saling berpandangan.

"Aku akan menjadi orang pertama yang memasuki Lembah Kabut Roh."

Begitu kalimat itu selesai, suasana mendadak sunyi, tidak sedikit kultivator yang menunjukkan raut tidak senang. Namun melihat beberapa pengawal keluarga Luo berdiri di belakang pemuda itu, mereka hanya memilih diam.

Luo Tian tersenyum tipis. Baginya, keheningan itu adalah tanda bahwa tidak seorang pun berani menentangnya. Namun tepat saat ia hendak melangkah.

"Lho?" Sebuah suara malas terdengar dari belakang kerumunan. "Sejak kapan gerbang ini diwariskan ke keluarga Luo?"

Semua orang spontan menoleh.

Seorang pemuda berjubah putih kusut berjalan santai sambil menggigit sehelai rumput. Rambutnya berantakan, di pinggangnya tergantung sebuah labu arak, sementara sebuah pedang tua tampak tergantung asal-asalan di punggungnya.

Ia menggaruk kepalanya, lalu memandang Luo Tian dengan wajah polos.

"Kalau memang gerbang ini milik keluargamu, tunjukkan saja surat kepemilikannya."

"..."

Keheningan berlangsung beberapa saat.

Lalu... Beberapa orang mulai menahan tawa.

Wajah Luo Tian langsung berubah muram. "Berani sekali kau!"

Pemuda itu tampak bingung. "Hah? Aku cuma bertanya."

Ia menunjuk kerumunan di belakangnya.

"Orang-orang ini antre dari pagi. Masa disuruh minggir hanya karena ada seseorang yang membawa kipas?"

Ucapan itu membuat beberapa kultivator tak mampu lagi menahan tawa.

"Hahaha..."

"Anak itu benar-benar nekat."

"Lihat wajah Tuan Muda Luo."

Luo Tian menggenggam kipasnya semakin erat hingga urat di tangannya menonjol. "Siapa namamu?"

Pemuda itu menyeringai lebar. "Namaku?"

Ia mengangkat bahu santai. "Nanti saja kalau kita masih sama-sama hidup setelah keluar dari Lembah Kabut Roh."

Shen Yifan yang berdiri tidak jauh dari sana hanya melirik sekilas ke arah pemuda itu.

Pemuda itu tampak ceroboh dan tidak tahu sopan santun.

Namun entah mengapa. Shen Yifan sama sekali tidak dapat membaca kedalaman kultivasinya.

Hal itu membuatnya sedikit mengernyit. "Orang ini... tidak sesederhana penampilannya."

Pada saat yang sama, pusaran spasial di tengah gerbang kuno tiba-tiba berputar semakin cepat.

Cahaya ungu tua memenuhi seluruh area, sementara fluktuasi ruang menyebar ke segala arah.

"Gerbangnya sudah stabil!"

"Masuk!"

Entah siapa yang berteriak lebih dulu, namun seketika seluruh kerumunan bergerak bersamaan.

Luo Tian mendengus dingin ke arah pemuda berjubah putih itu sebelum melompat memasuki pusaran.

Pemuda itu hanya mengangkat kedua tangannya sambil tertawa kecil.

"Hei, hei... Jangan lari dulu. Bukannya mau jadi orang pertama?"

Sambil menggelengkan kepala, ia ikut melangkah memasuki pusaran spasial.

Shen Yifan sama sekali tidak terburu-buru. Setelah kerumunan mulai berkurang, barulah ia melangkah menuju gerbang kuno.

Begitu tubuhnya menyentuh pusaran ungu itu, ruang di sekelilingnya seketika terpelintir. Cahaya memenuhi pandangannya, sementara tubuhnya terasa seperti ditarik menuju dunia yang sama sekali berbeda.

1
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!