"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Acara, Ditengah Hati Retak
*
*
*
Kemang, Jakarta Selatan.
Matahari siang menggantung tepat di atas langit Jakarta. Cahayanya jatuh deras melalui dinding kaca tinggi yang mengelilingi penthouse itu, membuat seluruh ruangan dipenuhi semburat terang.
Di kejauhan, langit tampak biru tanpa awan. Pepohonan rindang khas Kemang bergoyang pelan diterpa angin, sementara suara samar kendaraan hanya terdengar seperti dengungan jauh dari bawah sana.
Andreas duduk disofa ruangan yang di dominasi oleh warna putih gading dan cokelat moka. Tangannya memegang ponsel, mengetikkan sesuatu dilayarnya dengan dahi terlipat.
"Sayang, kamu sudah nunggu lama?"
Suara itu muncul, bersamaan dengan kehadiran seorang wanita berambut coklat blonde dengan senyumannya yang khas. Membuka pintu yang sengaja tidak dikunci oleh Andreas.
Pria itu menoleh, perutnya yang lapar seketika bereaksi ketika menangkap aroma ayam bakar yang dibawa oleh wanita itu.
"Kamu bawain aku makanan?"
Risa, wanita yang sejak tadi Andreas tunggu itu selalu memiliki cara untuk menarik simpati pria yang berstatus suami Isana.
"Iya, aku tahu kamu pasti lapar. Aku siapin dulu ya makanannya." ucapnya disertai senyuman.
Andreas tersenyum samar, membiarkan Risa masuk lebih dalam. Menuju kitchen set yang hanya disekat oleh meja bar.
Risa membuka bungkusan yang tadi ia bawa, memindahkan kedalam piring porselen dengan list perak dipinggirannya. Namun, gerakannya buru-buru. Sesekali ia melirik kearah Andreas, memastikan kalau tatapan pria itu tidak lagi mengarah padanya. Ia merogoh saku blazernya, mengambil sebuah kemasan plastik kecil berisi bubuk putih.
Ia buka kemasan itu, menaburkannya ke dalam nasi hangat yang nantinya akan ia berikan untuk Andreas.
Menit berikutnya, wanita itu sudah berjalan mendekati Andreas dengan dua buah piring yang dipenuhi makanan yang ia bawa.
"Kamu selalu tahu, apa saja yang jadi kesukaanku." Andreas menyambut piring yang Risa tawarkan.
"Aku bahkan tahu yang kamu inginkan, walaupun kamu belum bilang."
Risa duduk disamping Andreas. Aroma parfumnya yang manis perlahan menyelinap ke udara diantara mereka. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan piring diatas meja kaca, nyaris tanpa suara saat porselen itu menyentuh permukaannya.
"Kamu mau aku suapin?"
Rasa perih yang sejak tadi menggerogoti lambung Andreas seakan mereda sesaat. Ada sesuatu dalam perhatian sederhana itu yang terasa begitu berlebihan baginya.
Di hadapannya, jemari lentik Risa terangkat membawa suapan nasi hangat dan sepotong kecil ayam bakar.
Andreas membuka mulut dan menerimanya tanpa banyak bicara. Meski ia sempat ada rasa pahit dan aneh dilidahnya, tapi ia abaikan. Tetap ia kunyah dan telan. Sedang tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari wajah perempuan itu.
Suapan demi suapan sudah mereka telan, diselingi tawa manja dan obrolan ringan.
"Oke, aku taruh piring ini dulu." ucap Risa sembari menumpuk dua piring kosong, "Kamu lahap banget sayang ... makannya, laper banget ya?"
Andreas hanya tersenyum menimpalinya, kemudian meraih botol air mineral di meja kecil samping sofa. Memutar tutupnya, kemudian menenggaknya dua kali tegukkan.
Namun kemudian ia merasa plafon penthouse yang baru saja ia beli itu seakan berputar-putar. Hawa panas mengalir disekujur tubuhnya.
Ketika Risa mendekatinya, dan berkata pelan ditelinga suara itu begitu merdu membelai. Beresonansi dengan getaran didada yang hanya Andreas saja yang bisa merasakannya.
Wajah Risa yang dipoles dengan make up flawles, terasa mengabur. Berganti dengan wajah Isana. Istri yang tadi pagi ia peluk dengan ungkapan kata cinta.
Andreas menyentuh wajah Risa, gelombang hasrat naik begitu cepat.
"Isana ..." desisnya. "Aku rindu sama kamu, istriku."
Wanita yang dipanggil Isana, yang sebenarnya adalah Risa justru merespon dengan gerakan yang semakin membakar hasrat Andreas.
Ia menarik leher pria itu, membenamkannya dalam dekapan menggairahkan. Kecupan demi kecupan ia lancarkan di setiap inci wajah dan juga leher Andreas. Membuat pria itu semakin tenggelam dalam kendali yang Risa mainkan.
Diantara deru nafas yang bercampur. Risa meraih ponsel Andreas. Menekan tombol off, hingga ponsel itu diam. Bungkam. Padam. Wanita itu senyum, penuh kemenangan.
Entah bagaimana awalnya, kini mereka sudah berada diatas kasur. Gerakan liar dari keduanya, membuat kain yang melekat dibadan mereka lepas, untuk kemudian tergeletak berserakan dilantai. Menjadikan dua insan bercampur, dengan kulit saling menyentuh dan menggesek tanpa sekat.
***
Dirumah Mertua Isana,
Persiapan acara syukuran dan aqiqah Ghazi sudah mencapai sembilan puluh persen. Tenda sudah berdiri kokoh dihalaman rumah. Lengkap dengan dekorasi yang didominasi oleh warna soft blue dan putih gading.
Area masuk, dilengkapi dengan rangkaian bunga dan balon-balon lateks membentuk setengah lingkaran menyerupai gapura. Sebuah frame besar berbahan kayu, menampilkan foto Andreas merangkul bahu Isana yang sedang menggendong Ghazi. Tersenyum cerah, nampak begitu hangat.
Papan ucapan berderet disepanjang area rumah, datang dari berbagai kerabat dan kolega. Beni sebagai Brigadir Jendral Purnawirawan, memiliki koneksi yang luas. Ditambah dengan posisi Andreas yang baru saja menjabat sebagai Project Director disebuah perusahaan multinasional. Kiriman karangan bunga dan ucapan selamat, terus berdatangan.
Isana ditemani Bik Marni sudah berada dirumah mertuanya. Disambut oleh Alin, sang adik ipar yang jarang berada dirumah. Karna posisinya sebagai konsultan internasional.
"Mbak, sini." Alin menarik pelan tangan Isana, mengajaknya kekamar yang sudah ada Dewi didalamnya.
"Isa, kenapa baru muncul sih. Bukannya dari tadi." Dewi mencebik, berdiri sembari menyelipkan tangannya meraih Ghazi dari gendongan Isana. "Andreas mana?"
Isana menggeleng, dadanya terasa nyeri mendengar pertanyaan itu. "Loh bukannya Mas Andreas dari kantor langsung kemari, Ma?"
"Belum aja kali Ma," Alin mencoba menenangkan keduanya. "Mungkin Mas Andreas masih ada yang harus dikerjakan dikantornya."
"Hari ini serah jabatan Lin, dan pihak kantor juga diundang kok di acara ini. Jadi nggak mungkin kalau Andreas sampe dikasih tumpukan pekerjaan."
Ucapan Dewi justru membuat Isana tersenyum hambar. Teori yang dilontarkannya sangat masuk akal. Namun Isana memilih diam, ia biarkan saja Ibu mertuanya itu mengomel, mengomentari anak laki-lakinya.
Alin menaikkan bahunya, "Ya nggak tahu, Mama tanya aja sendiri sama orangnya." ucapnya jengah.
Kemudian ia membuka lemari, mengambil dress panjang yang tergantung rapi dihanger kayu. "Mbak ganti dulu bajunya sama dress ini. Seragam keluarga."
Isana menerima dress itu, menatapnya sebentar kemudian mengangguk. "Terimakasih Lin."
Isana cenderung tidak banyak bicara, rasa excited nya sudah tidak ada. Bahkan kalau bukan karna acara ini, acara Ghazi rasanya dia malas untuk mengikuti prosesi. Karna menurutnya semua terasa begitu palsu, menampilkan kebahagiaan namun yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya. Bukan kebahagiaan melainkan tusukan demi tusukan fakta yang terus bermunculan. Fakta kalau sebenarnya ia tengah dibohongi dan dikhianati oleh suami.
Dress berwarna putih gading, dengan sentuhan Payet dan bordiran berwarna soft blue terlihat elegan dipadu dengan hijab senada. Isana nampak memukau dengan balutannya.
Wajah yang hanya disentuh oleh make up tipis justru menampilkan kecantikan alami yang tidak mudah bosan dipandang. Isana sudah siap, meski keadaan hatinya retak.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
...kok ga keliatan dia