Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.
Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keheningan di ruang tengah terasa semakin menyesakkan, bercampur dengan suara bisikan dan tawa kecil yang mengerikan yang terdengar samar dari balik pintu kamar Dimas. Bu Siti mengusap air matanya yang tersisa, menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu menatap tajam ke arah pintu tertutup itu.
Ia sudah cukup. Ia tidak bisa lagi membiarkan kejahatan dan kebencian tumbuh subur di bawah atap rumahnya. Apalagi ketika ia tahu, rencana jahat itu ditujukan pada wanita yang sangat baik, wanita yang dulu pernah dianggap anak sendiri olehnya.
Airin berdiri di samping ibunya, tangannya mencengkeram ujung baju ibunya dengan cemas, namun sorot matanya juga tegas. Ia sudah muak melihat kelakuan kakaknya yang semakin hari semakin tidak benar, semakin keras hati, dan semakin dikendalikan oleh ambisi serta wanita yang salah.
"Sudah cukup, Rin. Kita bicara sama mereka sekarang. Ibu tidak mau diam saja melihat anak Ibu menuju ke jurang kehancuran, apalagi sampai menyakiti orang yang tidak bersalah lagi," ucap Bu Siti dengan suara rendah namun bergetar karena ketegasan.
Keduanya pun berjalan beriringan mendekati pintu kamar Dimas. Tanpa mengetuk atau meminta izin lebih dulu, Bu Siti memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar. Pintu itu tidak dikunci rapat, hanya tertutup saja, sehingga terbuka dengan mudah.
Pemandangan di dalam kamar itu membuat Bu Siti dan Airin terdiam sesaat. Dimas dan Rina duduk berdekatan di tepi ranjang, kepala mereka saling berdekatan seolah sedang merencanakan sesuatu yang rahasia. Di tangan Rina tergenggam ponsel dengan layar menyala, menampilkan foto-foto Ani yang diambil diam-diam. Wajah mereka sama-sama berbinar penuh kejahatan, senyum licik yang belum sempat hilang dari bibir mereka.
Terkejut kedatangan dua orang itu secara tiba-tiba, Dimas dan Rina seketika menegakkan tubuh, wajah mereka berubah kaget dan canggung. Rina buru-buru mematikan layar ponselnya dan menyembunyikannya di balik punggungnya, sementara Dimas menatap ibunya dengan tatapan marah karena diganggu.
"Ibu apa-apaan ini?! Masuk kamar orang tidak ketuk pintu dulu?!" bentak Dimas keras, matanya menyala penuh amarah yang belum padam. "Apa kurang lagi? Belum puas memarahi aku di luar tadi? Mau apa lagi Ibu masuk ke sini?"
Bu Siti tidak gentar sedikit pun. Ia melangkah masuk lebih dalam, diikuti Airin, hingga berdiri tepat di hadapan mereka berdua. Tatapan Bu Siti begitu tajam, begitu kecewa, dan begitu sedih, seolah sedang menatap anak yang sudah hilang arah sepenuhnya.
" ibu mau apa lagi? ibu mau selamatkan kamu, Nak! ibu mau selamatkan kamu sebelum kamu terperosok lebih dalam lagi ke dalam dosa dan kehancuran!" jawab Bu Siti dengan suara lantang dan bergetar. Matanya melirik sekilas ke arah ponsel yang disembunyikan Rina, lalu kembali menatap Dimas.
"ibu dengar semuanya. Bisikanmu, rencanamu, dan niat jahatmu pada Ani... ibu dengar semuanya, Dimas. Kamu belum puas? Kamu belum cukup menyakiti dia? Kamu belum cukup menghancurkan hidupnya dulu? Sekarang, saat dia sudah bangkit, saat dia sudah bahagia dan tenang... kamu masih saja ingin mengganggunya? Kamu masih saja ingin merusak kebahagiaannya?"
Dimas terdiam sesaat, tertegun oleh ketegasan ibunya. Namun rasa amarah dan egonya segera bangkit kembali. Ia berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan nada menantang.
"Memang! Aku tidak akan pernah puas sebelum dia menderita sama sepertiku! Dia penyebab semua ini! Dia yang bikin aku dipecat, dia yang bikin aku dipermalukan, dia yang bikin semua orang musuhin aku! Kalian semua tidak mengerti rasanya, Bu! Rasanya dikalahkan oleh wanita yang dulu aku buang, wanita yang dulu tidak punya apa-apa!"
"Cukup, Dimas! Berhenti!" teriak Bu Siti memotong ucapan anaknya, air matanya kembali menetes, kali ini karena rasa sakit hati yang luar biasa melihat kebodohan dan kekerasan hati anak kandungnya sendiri.
"Kamu bilang dia penyebab? Kamu masih saja menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri? Dengar baik-baik Ibu... Ani tidak pernah berbuat salah sama kamu. Dia setia, dia sabar, dia berkorban harta, tenaga, dan perasaannya buat kamu dan keluarga ini. Tapi apa balasanmu? Kamu sakiti dia, kamu khianati dia, kamu usir dia seperti sampah! Itu kesalahanmu, Dimas! Itu dosamu!"
Bu Siti melangkah mendekat, menunjuk dada anaknya sendiri dengan gemetar.
"Dan hari ini... kamu dipecat, kamu dipermalukan... itu bukan karena Ani. Itu karena kamu serakah, kamu curang, kamu berniat jahat menjatuhkan dia, dan kamu ketahuan! Ani cuma membela diri, Nak! Dia cuma membersihkan nama baiknya yang kotor karena fitnahmu! Dan sekarang, setelah kalah telak secara terhormat, kamu malah berniat berbuat kotor di belakang? Menyebar berita bohong, mengirim ancaman, merusak nama baiknya dengan cara pengecut? Itu bukan laki-laki namanya, Dimas! Itu tindakan orang yang sudah tidak punya harga diri lagi!"
Airin yang sejak tadi menahan diri, kini ikut angkat bicara dengan suara tegas namun sedih.
"Mas, dengarkan Ibu. Aku juga mohon sama Mas... Berhenti. Berhenti mengganggu Mbak Ani. Dia sudah selesai sama kita. Dia sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi. Biarkan dia hidup tenang, biarkan dia bahagia. Kalau Mas masih punya sedikit saja rasa malu atau rasa kemanusiaan, lupakan saja dia. Urus diri Mas sendiri, bangun kembali hidup Mas dengan cara yang benar. Jangan tambah dosa Mas dengan menyakiti orang baik lagi. Percayalah, Mas... apa yang Mas tanam, itu yang akan Mas tuai. Kalau Mas terus menanam kebencian dan kejahatan, kehancuran yang lebih besar lagi yang akan Mas dapatkan."
Dimas tertegun. Kata-kata ibunya dan adiknya menusuk tepat ke ulu hatinya. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, mereka benar. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia kalah. Tapi egonya terlalu tinggi untuk mengaku, dan rasa sakit hatinya terlalu besar untuk dimaafkan. Ia merasa dikucilkan, merasa tidak ada yang memahaminya, dan rasa itu justru membuatnya semakin marah.
"Kalian semua memihak dia... Kalian semua lebih sayang sama dia daripada sama aku... Sudah, cukup! Aku tidak mau dengar ceramahan kalian lagi! Kalian tidak tahu apa-apa!" bentak Dimas sambil berbalik badan, tidak sanggup lagi menatap wajah ibunya yang penuh kekecewaan itu.
Namun, Bu Siti belum selesai. Ia berbalik menatap Rina yang sejak tadi berdiri diam di sudut kamar, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu, menatap Bu Siti dengan pandangan benci yang tersembunyi. Bu Siti tahu betul, wanita inilah sumber utama semua masalah ini. Wanita inilah yang menanamkan racun di telinga anaknya, yang memutarbalikkan fakta, dan yang mendorong Dimas ke jalan yang salah.
Bu Siti melangkah tegap menghampiri Rina, menatap wanita itu dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan dingin dan penuh penghakiman.
"Dan kamu... kamu wanita yang bernama Rina..." suara Bu Siti berubah menjadi sangat dingin dan tajam, berbeda saat berbicara dengan anaknya sendiri. "Angkat kepalamu! Lihat aku!"
Rina menegakkan kepalanya perlahan, menatap Bu Siti dengan tatapan menantang namun gugup.
"Kamu sudah cukup, Rina. Kamu sudah cukup merusak hidup anakku, kamu sudah cukup merusak nama baik keluarga ini, dan kamu sudah cukup menyakiti Ani serta orang lain. Ingat satu hal penting... Kamu bukan siapa-siapa di sini. Kamu bukan istri sah Dimas. Kamu bukan menantuku. Kamu cuma wanita yang masuk mengganggu rumah tangga orang, wanita yang merebut suami orang, wanita yang datang membawa bencana ke rumah ini."
"Bu Siti... apa maksud Ibu bicara begitu? Aku sayang sama Mas Dimas! Kami saling mencintai!" potong Rina dengan nada merajuk dan tersinggung.
"Diam kamu! Jangan pakai kata cinta untuk menutupi kejahatanmu!" bentak Bu Siti keras, membuat Rina tersentak mundur. "Cinta tidak menyakiti orang lain. Cinta tidak menghancurkan hidup orang lain. Cinta tidak mendorong kekasihnya berbuat curang dan dosa! Apa yang kamu punya itu nafsu, keinginan, dan keserakahan saja! Dan aku tidak mau ada wanita sepertimu tinggal di rumahku, di rumah anakku, menghabisi sisa-sisa masa depan anakku ini!"
Bu Siti menunjuk pintu kamar, lalu ke arah pintu depan rumah.
"Jadi dengar baik-baik... Mulai detik ini juga, kamu harus pergi dari rumah ini. Keluar! Kemasi barang-barangmu dan pergi! Aku tidak mau kamu ada di sini satu menit pun lagi. Ke mana saja terserah kamu. Pulang ke rumah orang tuamu, atau pergi ke mana saja. Tapi jangan pernah kamu injakkan kakimu di rumah ini lagi, dan jangan pernah kamu dekati Dimas lagi. Kamu bukan suami istri, kamu tidak punya hak tinggal di sini, apalagi ikut campur urusan keluarga kami."
Wajah Rina seketika berubah pucat pasi. Ia tidak menyangka Bu Siti akan setegas dan seberani ini mengusirnya. Ia menatap Dimas meminta pertolongan, berharap laki-laki itu akan membela dan membelanya.
"Mas Dimas! Lihat Ibu... Ibu usir aku... Mas! Bilang sesuatu dong! Mas diam saja?!" seru Rina panik, matanya berkaca-kaca menatap Dimas yang masih memunggunginya.
Dimas berbalik perlahan. Ia menatap ibunya, lalu menatap Rina. Ia ingin sekali membela, ingin sekali melarang, tapi melihat ketegasan dan kemarahan di wajah ibunya yang biasanya lembut, Dimas merasa takut. Ia juga sadar, posisi Rina memang tidak sah. Mereka tidak menikah. Rina memang tidak punya hak tinggal di sini. Dan di lubuk hatinya yang kacau, ia juga merasa mungkin... kepergian Rina adalah satu-satunya cara agar ibunya mau memaafkannya, dan agar ia bisa berpikir jernih kembali.
Namun rasa egonya masih tersisa.
"Ibu... Ibu tidak boleh begitu... Dia kan..." Dimas mencoba berbicara, namun Bu Siti langsung memotongnya dengan pandangan tajam yang membuatnya terdiam.
"Kalau kamu masih membela dia, kalau kamu masih membiarkan dia ada di sini... berarti kamu memilih dia dan kehancuranmu sendiri. Dan ingat, Dimas... kalau kamu memilih dia, berarti kamu memilih untuk tidak punya ibu dan adik lagi. Kami akan pergi, dan biarkan kamu hancur bersama wanita itu."
Ancaman itu keras dan nyata. Dimas terdiam, bingung, takut, dan kacau. Di satu sisi ada Rina, wanita yang ia inginkan tapi membawa bencana. Di sisi lain ada ibu dan adiknya, keluarga kandungnya yang tulus meski keras menegurnya.
Melihat Dimas diam dan tidak berani membela, Rina merasa dikhianati dan sangat malu. Wajahnya berubah merah padam karena marah. Ia mendengus kasar, menatap Bu Siti dengan pandangan benci terakhir, lalu berteriak pada Dimas.
"Dasar penakut! Aku pergi! Tapi ingat ya Mas Dimas! Semua ini gara-gara ibumu! Gara-gara dia, gara-gara Ani! Kalau nanti kamu menyesal, jangan cari aku lagi!"
Rina bergegas masuk ke kamar mandi dan lemari, mengemasi semua barang-barang miliknya dengan kasar dan cepat. Hanya dalam beberapa menit, tas besar sudah penuh. Ia berjalan keluar kamar, melewati Bu Siti dan Airin tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu membanting pintu depan rumah sekeras-kerasnya hingga seluruh rumah bergema. Suara langkah kakinya yang cepat menjauh terdengar di halaman, hingga akhirnya lenyap ditelan keheningan malam.
Kepergian Rina menyisakan suasana yang sunyi dan berat di dalam rumah. Dimas terduduk lemas di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa hancur, merasa dikucilkan, merasa kalah dalam segala hal.
Bu Siti menghela napas panjang, rasa lega sedikit terasa di dadanya karena berhasil mengusir sumber masalah utama itu. Ia mendekati anaknya, duduk di sampingnya, lalu menepuk pelan punggung anak itu.
"Nak... Ibu melakukan ini bukan karena Ibu benci sama kamu. Tapi karena Ibu sayang sama kamu. Ibu tidak mau kamu hancur. Tinggalkan kebencian itu, tinggalkan niat jahat itu. Lupakan Ani. Biarkan dia bahagia. Kamu pun mulai lagi hidupmu dari awal dengan cara yang benar. Masih ada waktu buat berubah, Nak. Masih ada waktu buat jadi anak yang baik, buat jadi orang yang benar."
Airin ikut mendekat, mengusap bahu kakaknya. "Ibu benar, Mas. Mulai sekarang, kita perbaiki semuanya. Jangan ingat lagi masa lalu yang pahit. Jangan ingat lagi rasa sakit hati. Kita berdoa, kita berusaha, Insyaallah hidup Mas akan berubah lebih baik lagi."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya diam membisu, namun air mata mulai menetes di sela-sela jarinya. Entah air mata penyesalan, air mata kemarahan, atau air mata rasa sakit hati yang mendalam. Bu Siti dan Airin berharap, pengusiran Rina dan teguran keras ini menjadi titik balik bagi Dimas. Berharap benih-benih kejahatan yang ditanam wanita itu mati bersamaan dengan kepergiannya.
bersambung ,,,,
semoga dapat karma yg lebih pahit biar seblm methong tobat dulu
ahhhhh bohong yah
busettt dah tuan detil Banggt penjelasan nya 🤭
menjaga ok ok yg melukaimu Ampe kaya gitu apa ga nongol lagi ga takut nya kamu oleng ehh ga sadar kamu menyakiti nya ,,bukan ga percaya tapi kebanyakan oleng kalau terjadi sesuatu baru nyesel kaya mantan suaminya ani