NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Bernegosiasi

Harjono melangkah perlahan. Sepatu kulitnya menginjak kotak beludru yang terbuka di atas tanah berdebu. Bunyi derak kayu tipis yang patah terdengar nyaring di tengah keheningan.

Sulastri langsung merangkak maju, mengabaikan gaun mahalnya yang kotor. "Mas Har, lihat apa yang dilakukan selirmu ini! Dia menuduhku dan mempermalukanku di depan para tamu!"

Harjono tidak melihat Sulastri sedikit pun. Pandangannya lurus tertuju pada jemari Sumarni yang menggenggam erat bahu kecil Dimas.

Bocah itu menyembunyikan wajahnya di balik paha Sumarni. Tubuh kurusnya bergetar hebat, menyalurkan rasa takut ke telapak tangan ibu tirinya.

Sumarni merasakan dinginnya kulit Dimas yang ketakutan. Ia menarik napas dalam, membusungkan dada, dan menatap suaminya tanpa rasa takut.

"Mas Harjono baru pulang," ucap Sumarni dengan suara tenang. "Maaf jika kepulanganmu disambut oleh kekacauan yang dibuat oleh Nyonya Besar."

"Marni! Jaga mulutmu!" jerit Sulastri dengan wajah memerah menahan malu.

Harjono mengangkat satu tangannya ke udara. Gerakan sederhana itu seketika membungkam teriakan Sulastri.

Suasana pelataran paviliun mendadak senyap. Para nyonya arisan saling pandang, menahan napas menyaksikan murka sang pemilik pabrik kretek.

Harjono berlutut di depan Dimas. Aroma tembakau dari pakaiannya tercium kuat, bercampur bau malam dari kain batik Sumarni.

"Dimas," panggil Harjono. Suaranya berat, dalam, dan penuh tekanan yang jarang didengar oleh anak itu selama ini.

Dimas semakin mengeratkan cengkeramannya pada kain gaun Sumarni. Ia menggeleng takut, menolak untuk menatap wajah ayahnya.

Sumarni mengusap punggung Dimas perlahan. "Tidak apa-apa, Nak. Bapak tidak marah kepadamu. Katakan pada Bapak apa yang terjadi."

Harjono tertegun melihat kelembutan itu. Selama ini, ia hanya tahu Sumarni adalah wanita desa yang pasif dan bodoh.

Namun malam ini, wanita di depannya berdiri tegak bagaikan benteng pertahanan bagi anaknya. Harjono menyadari ketangguhan baru itu.

Harjono mengalihkan pandangannya pada tubuh Dimas. Matanya menyisir kaus katun sang anak yang sudah kekecilan dan tampak lusuh.

"Mengapa baju anakku sekecil ini?" tanya Harjono, suaranya mendatar namun mengandung badai yang siap meledak.

Sulastri tersedak ludahnya sendiri karena panik. "Mas, itu... Dimas yang menolak memakai baju baru yang kubelikan."

"Aku tidak bertanya kepadamu, Sulastri," potong Harjono dingin.

Harjono menyentuh dagu Dimas, memaksanya mendongak. Di bawah sorot lampu petromaks, ia melihat lingkaran hitam di bawah mata anaknya.

Rasa bersalah mendadak menusuk dada Harjono. Selama ini ia terlalu sibuk mengurus pabrik rokoknya di Kudus.

Ia mengira Dimas hidup berkecukupan. Namun, penampilan Dimas malam ini justru seperti anak yang terlantar dan kurus.

"Bapak," bisik Dimas lirih. Air mata bocah itu mengalir membasahi pipinya yang tirus. "Ibu Marni tidak bersalah. Ibu tidak mengambil perhiasan itu."

Harjono berdiri tegak kembali, lalu menatap tajam ke arah Ningsih yang masih bersujud di tanah.

"Bawa Ningsih ke pos penjagaan depan," perintah Harjono kepada dua pelayan pria. "Besok pagi, serahkan dia ke kantor polisi kota."

"Mas Har! Tolong pikirkan nama baik kita!" Sulastri memohon dengan wajah pucat pasi.

"Nama baik siapa yang kamu maksud, Sulastri?" Harjono menatap istrinya tajam. "Nama baikmu yang memfitnah, atau namaku yang membiarkan anak kandungku kelaparan?"

Sulastri membeku di tempatnya. Ia tahu jika Harjono sudah menggunakan nada suara seperti itu, tidak ada satu orang pun yang bisa membantah.

"Masuk ke rumah sekarang," ucap Harjono mutlak. "Para tamu sekalian, pertunjukan selesai. Sopir saya akan mengantar Anda pulang."

Para nyonya arisan segera berpamitan tergesa-gesa. Mereka tidak ingin menjadi sasaran amarah pria itu.

Dalam beberapa menit pelataran paviliun menjadi sepi. Hanya menyisakan lampu petromaks yang berdesis dan angin malam.

Harjono membalikkan tubuh menghadap Sumarni. Ia menatap gaun yang melekat pas di tubuh istrinya.

"Dari mana kamu mendapatkan gaun itu, Marni?" tanya Harjono, matanya menyipit penuh selidik.

[Peringatan Sistem: Deteksi kecurigaan target utama meningkat 15 persen.]

[Saran Jawaban: Gunakan pesona tenang dan alihkan perhatian pada kebutuhan Dimas.]

Sumarni tersenyum tipis. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun di wajahnya.

"Saya menjahitnya sendiri dari kain sisa di gudang belakang, Mas," jawab Sumarni lancar. Suaranya terdengar merdu namun memiliki ketegasan yang baru.

"Daripada memikirkan gaun saya, bukankah lebih baik Mas Harjono melihat kondisi kamar Dimas?"

Harjono mengerutkan kening. Ia melangkah melewati Sumarni dan masuk ke dalam paviliun kecil yang menjadi kamar istri keduanya.

Bau apek langsung menyengat hidung Harjono. Kamar itu sempit, hanya berisi ranjang kayu tua dengan kasur kapuk tipis yang keras.

Di sudut ruangan, sebuah meja kayu kecil dipenuhi dengan buku-buku sekolah Dimas yang rapi.

Harjono menekan kasur kapuk dengan tangannya. Kasur itu keras, tidak layak untuk anak seorang pemilik pabrik kretek.

Dada Harjono bergemuruh hebat. Kemarahan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu menciptakan sesak di tenggorokannya.

Sumarni masuk ke dalam kamar, menuntun Dimas yang sudah mulai tenang. Ia bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah suaminya.

Insting editor masa depannya tahu persis kapan harus menekan dan kapan harus melepaskan umpan.

"Dimas sering terbangun di malam hari karena kedinginan," ucap Sumarni lirih. "Lantai tegel ini sangat dingin saat musim hujan datang."

Harjono berbalik menatap Sumarni. Ada kilat ketertarikan dan kekaguman yang mulai tumbuh di balik matanya yang dingin.

Pria itu melangkah mendekati Sumarni hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Bau tembakau dan minyak rambut pria itu mengunci indra penciuman Sumarni.

"Mulai besok, kamu dan Dimas pindah ke paviliun timur di rumah utama," ucap Harjono dengan suara rendah yang dalam.

Sumarni menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya lebih suka di sini, Mas. Di sini tenang. Kecuali jika Mas Harjono bisa menjamin tidak akan ada lagi fitnah yang mengancam nyawa Dimas."

Harjono terdiam. Sumarni yang dulu akan langsung menangis menerima perintah, kini justru berani bernegosiasi dengannya.

"Aku yang menjamin keamanan kalian," jawab Harjono tegas. Tangannya terulur, mengusap kepala Dimas dengan canggung namun lembut. "Anakku tidak boleh hidup di tempat seperti ini lagi."

[Misi Utama Diperbarui: Pindah ke Paviliun Timur.]

[Hadiah Berhasil: 100 Poin Reputasi dan Resep Jamu Kesehatan Dimas.]

Sumarni tersenyum dalam hati. Langkah pertamanya untuk menguasai rumah ini berjalan dengan sangat mulus.

"Baiklah jika itu keputusan Mas Harjono," kata Sumarni sambil menundukkan kepalanya sedikit, memberikan kesan hormat yang elegan.

Harjono menatap bibir Sumarni yang tersenyum tipis. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, sensasi yang sudah lama hilang.

"Istirahatlah," ucap Harjono perlahan sebelum membalikkan badan untuk keluar dari paviliun.

Namun saat Harjono melangkah keluar, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa. Seorang pria muda dengan kemeja kusut berlari mendekat.

Itu adalah Handoyo, adik kandung Harjono yang mengurus distribusi rokok di wilayah timur.

Wajah Handoyo tampak sangat panik di bawah cahaya lampu luar. Tangannya memegang sebuah telegraf dengan gemetar.

"Mas Har! Gawat!" teriak Handoyo, suaranya memecah keheningan malam paviliun dengan getaran ketakutan yang hebat.

"Gudang distribusi kita di Surabaya dibakar orang!"

Mendengar ucapan itu, jantung Sumarni mendadak berdesir kencang. Rasa pening yang tajam kembali menghantam pelipisnya dengan seketika.

[Peringatan Sistem: Krisis Bisnis 1984 Dimulai. Deteksi peluang aliansi baru bersama Handoyo.]

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!