NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Rahasia di Balik Sudut Kaki Kepiting

"Pencuri! Tangkap dia! Gadis berbaju biru itu mencuri perhiasanku!" teriakan Kim Yeon-Hong menggema di seluruh area Rumah Mawar.

Nara berlari menyusuri koridor luar yang gelap. Namun, saat mulai mendekati area utama, ia melambatkan langkah. Ia mengatur napas, berusaha kembali ke akting gadis buta agar tidak memancing kecurigaan penjaga.

"Di mana dia? Cari gadis yang mengenakan hanbok biru!" teriak pengawal.

Terpojok, Nara melihat pintu kayu jati yang sedikit terbuka di ujung koridor sunyi. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap masuk dan segera mengunci pintu dari dalam. Ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup kencang.

Namun, saat ia membalikkan badan, seluruh darahnya seolah membeku. Ruangan itu sunyi, hanya diterangi satu lilin besar. Aroma pinus dan wangi cendana yang tajam menyeruak.

Dan di sana, duduk tenang di tepi tempat tidur sambil membaca gulungan kertas kuno, adalah pemuda misterius itu. Han-Seol. Ia tidak terkejut. Ia perlahan menurunkan gulungannya, menatap Nara dengan sorot mata yang gelap dan tenang.

Tatapannya jatuh pada perhiasan yang menyembul dari saku Nara, lalu beralih ke wajah pucat gadis itu.

"Jadi, penyanyi yang memikat di panggung tadi... ternyata adalah seorang pencuri di malam hari?" suara Han-Seol rendah dan dingin, persis seperti es yang retak.

Nara terpaku. Han-Seol berdiri, langkah kakinya tak terdengar saat ia mendekat. Ia jauh lebih tinggi, membuat Nara harus mendongak.

Han-Seol mengulurkan tangan, mengambil satu cincin giok yang terjatuh dari saku Nara ke lantai. "Cincin ini milik Nyonya Kim," ucap Han-Seol sambil mengamati giok itu di bawah cahaya lilin.

"Dan kau... kau tidak terlihat buta sekarang. Matamu menatapku seolah ingin menebas leherku."

"Tuan Muda Han-Seol..." Nara mencoba mengatur suaranya, mencari celah untuk lari.

"Tolong, hamba hanya ingin pergi dari sini. Hamba tidak punya pilihan."

"Pilihan?" Han-Seol menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak hampa.

"Kau baru saja masuk ke kamar seorang pria yang dianggap aib oleh Niskala. Kau pikir kau bisa meminta bantuan padaku?"

Di luar, suara langkah kaki penjaga terdengar mendekati pintu tersebut.

TOK! TOK! TOK!

"Tuan Muda Han-Seol? Maaf mengganggu, kami mencari pelayan pencuri yang lari ke arah sini. Apa Anda melihatnya?" teriak pengawal dari luar.

Nara menahan napas, matanya menatap Han-Seol dengan tatapan memohon sekaligus mengancam.

Han-Seol menatap pintu, lalu kembali menatap Nara. Ia melangkah maju, sangat dekat hingga Nara bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya.

"Jika aku menyerahkanmu, Nyonya Kim mungkin akan memotong tanganmu," bisik Han-Seol di dekat telinga Nara.

"Tapi jika aku menyembunyikanmu... apa yang bisa kau berikan padaku, Pencuri?"

Nara mengepalkan tangannya. "Apapun. Aku akan melakukan apapun."

Han-Seol terdiam sejenak, lalu berteriak ke arah pintu. "Tidak ada siapa pun di sini kecuali aku. Pergi cari ke taman belakang!"

Langkah kaki di luar menjauh. Nara menghela napas lega, namun ketegangannya belum berakhir.

Han-Seol masih memegang cincin itu, dan kini ia mencengkeram pergelangan tangan Nara dengan kuat.

"Kau bilang 'apapun'," ucap Han-Seol, matanya berkilat tajam.

"Mulai sekarang, kau adalah milikku. Kau akan membantuku membuka gerbang energiku yang tersegel, karena aku tahu... kau bukan pelayan biasa. Tidak ada pelayan buta yang memiliki aura membunuh setajam milikmu."

Nara terperangah. Bagaimana mungkin pemuda yang tidak punya sihir ini bisa merasakan auranya?

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Han-Seol, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Nara.

"Katakan padaku, atau aku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke Nyonya Kim."  

Di dalam kesunyian kamar Han-Seol yang hanya diterangi sebatang lilin, udara mendadak membeku. Nara merasa terpojok oleh tatapan tajam pemuda itu. Ia tidak memiliki pedang pusakanya, namun insting pemburunya tidak pernah tumpul meski berada dalam raga Seol-Ah yang rapuh.

Matanya bergerak liar ke seluruh penjuru ruangan. Pandangannya tertuju pada sisa hidangan makan malam di atas meja kayu.

Tanpa ragu, ia menyambar sebuah kaki kepiting raja yang besar dan memiliki ujung runcing yang tajam.

Dengan satu sentakan napas yang diatur, ia mengayunkannya tepat ke arah leher Han-Seol.

SRET!

Han-Seol mematung. Ujung tajam kaki kepiting itu hanya berjarak satu inci dari urat nadinya. Ia menatap Nara dengan tatapan takjub; sorot mata gadis ini tidak memiliki ketakutan pelayan, melainkan dinginnya seorang pemangsa yang telah melewati ribuan pertempuran.

"Jangan melangkah maju," ancam Nara. Meski tangannya gemetar karena otot Seol-Ah yang lemah, suaranya tetap seberat baja.

"Atau kau akan berakhir tragis seperti kepiting ini."

Han-Seol perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara—sebuah tanda menyerah yang tampak jenaka namun penuh maksud.

"Tenanglah. Aku sudah mengusir para penjaga itu, bukan? Aku tidak berniat menyerahkanmu."

Telinga Nara menangkap derap langkah kaki penjaga yang menjauh di koridor luar. Waktunya hampir habis.

"Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!" ucap Nara ketus. Ia melemparkan kaki kepiting itu tepat ke arah wajah Han-Seol sebagai pengalih perhatian.

Han-Seol menangkap benda itu dengan tangkas hanya dengan satu tangan, sementara Nara sudah berdiri di ambang jendela.

"Hei, tunggu! Siapa namamu?" seru Han-Seol.

Nara menoleh sejenak, separuh wajahnya tertutup bayangan malam. "Aku Seol-Ah," jawabnya singkat, memberikan nama pemilik raga itu sebelum melompat ke kegelapan.

"Seol-Ah..." gumam Han-Seol, seolah memahat nama itu di ingatannya.

Tiba-tiba, ia merogoh saku jubah sutranya dan mengeluarkan kantong beludru hitam berisi kepingan emas.

"Tangkap ini! Kau butuh modal untuk bertahan hidup di luar sana!"

Nara menangkap kantong itu di udara, namun karena lemparan Han-Seol yang terlalu bertenaga, ia kehilangan keseimbangan.

"Eh... eh...!"

Nara terjengkang ke belakang dan jatuh keluar jendela.

BRUK!

Ia mendarat di atas tumpukan jerami kering. Beruntung ini lantai bawah. Ia segera bangkit, memeluk kantong pemberian itu, dan menghilang ke dalam labirin gang sempit Rumah Mawar.

Tak lama kemudian, pintu kamar Han-Seol ditendang terbuka. Do-Hyun masuk dengan napas terengah-engah.

"Seol! Apa kau melihat pelayan buta lari ke sini? Dia merampok Nyonya Kim dan membuat kekacauan besar!" gerutu Do-Hyun sambil mengacak rambutnya frustrasi.

Han-Seol menyembunyikan kaki kepiting di balik punggungnya dengan tenang. "Tidak ada siapa pun di sini kecuali aku dan buku-bukuku. Mungkin dia sudah terbang melewati tembok."

"Sial! Jika aku menangkapnya, akan kupastikan dia membusuk di penjara!"

Do-Hyun hendak berbalik pergi, namun Han-Seol memanggilnya. "Do-Hyun... kau yang mengepung Nara, si Pembasmi Penyihir itu di danau es semalam, kan?" tanya Han-Seol dengan nada santai namun matanya berkilat penuh selidik.

Do-Hyun mengernyit, merasa aneh dengan pertanyaan itu. "Tentu saja. Kenapa kau bertanya tentang hantu?"

"Bagaimana teknik pedangnya?"

"Dia unik," jawab Do-Hyun sambil memperagakan gerakan dengan tangan kosong.

"Dia tidak menebas dari depan. Dia selalu memutar pergelangan tangan seperti ini... mengincar titik buta dari sudut bawah yang mustahil. Sangat mematikan."

Han-Seol tertegun. Gerakan yang diperagakan Do-Hyun—sudut putaran tangan dan cara kaki menumpu—sangat identik dengan cara "Seol-Ah" mengincar lehernya dengan kaki kepiting tadi.

Senyuman tipis muncul di bibir Han-Seol. Sebuah dugaan yang gila namun masuk akal terbentuk di kepalanya.

Gadis itu bukan Seol-Ah. Pelayan buta itu... adalah sang Pembasmi yang jiwanya menolak mati.

"Ada apa, Seol? Kenapa kau tersenyum seperti orang gila?" tanya Do-Hyun heran.

"Bukan apa-apa," jawab Han-Seol, kembali ke wajah datarnya.

"Hanya saja, aku rasa Niskala akan menjadi jauh lebih menarik mulai besok pagi."

****  

Nara merasa sedikit tenang saat kerumunan pasar malam menyamarkannya. Ia menukar satu koin emas pemberian Han-Seol dengan sepiring makanan hangat.

Namun, saat sendok pertama hampir menyentuh bibirnya, dunia seolah berhenti berputar. Iring-iringan pasukan penyihir lewat dengan gagah.

Di barisan depan, Baek Seo-Jun berjalan dengan wibawa yang tak tertandingi.

Nara terpaku. Ingatannya terseret ke belasan tahun silam—saat ia masih seorang gadis kecil yang hanya tahu cara meniup peluit burung dari giok hitam, bukan cara memegang pedang.

Seo-Jun adalah teman masa kecil yang memberinya hadiah itu. Namun kini, pria di depannya adalah simbol institusi yang paling ia benci.

Seo-Jun melintas tanpa menoleh, menganggapnya tak lebih dari sekadar debu jalanan.

‘Kau benar-benar sudah melupakanku, Seo-Jun,’ batinnya perih. Lubang di hatinya semakin menganga.

Selesai makan, Nara segera mendatangi sudut paling gelap di pasar gelap. Ia harus menjual sisa perhiasan dan kantong beludru itu sebelum fajar.

"Berapa kau hargai ini?" tanya Nara, menyodorkan kantong tersebut pada seorang pedagang perhiasan licik.

Pedagang itu menerima kantong tersebut, namun wajahnya seketika pucat pasi saat melihat ukiran lambang keluarga Han.

"D-dari mana kau mendapatkan ini, Nona?"

"Bukan urusanmu. Cepat tukar dengan uang tunai!" gertak Nara.

"Giok ini..." si pedagang menelan ludah, "hanya dimiliki oleh garis keturunan langsung keluarga Han. Tidak mungkin seorang pelayan sepertimu—"

BUGHH!

Sebuah pukulan keras mendarat di tengkuk Nara. Pandangannya gelap. Ia tersungkur, merintih saat leher Seol-Ah yang rapuh terasa hampir patah.

Sebelum ia sempat bangkit, beberapa pria kekar sudah menekan bahunya ke tanah.

Seorang wanita cantik berpakaian mewah masuk ke toko tersebut dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Oh Myung-Ja, pengasuh setia keluarga Han.

"Beraninya seorang pelayan rendahan sepertimu menyentuh pusaka milik Tuan Muda kami," ucap Madam Oh, suaranya setajam mata pedang.

Nara menatapnya dengan sisa kesadaran. "Aku tidak mencurinya... Tuan Muda kalian yang melemparkannya padaku!"

Madam Oh terkekeh dingin. "Kebohongan yang sangat kreatif. Namun sayangnya, Tuan Muda Han-Seol sendiri yang mengirimkan pesan darurat. Beliau memberitahu kami bahwa ada seorang gadis pencuri yang merampok kantong emasnya. Beliau memberikan deskripsi wajahmu dengan sangat detail, bahkan letak tahi lalat di lehermu pun beliau tahu."

Nara tersentak. Seluruh badannya mendadak dingin. Ia menyadari kenyataan yang menghancurkan: Han-Seol tidak membantunya. Kantong itu bukan bantuan, melainkan umpan.

Han-Seol sengaja memberikan barang yang memiliki identitas kuat agar Nara tidak bisa menjualnya ke mana pun tanpa langsung tertangkap.

"Han-Seol... kau iblis licik,"

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!