“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terserah Pak Arga Saja..
Beberapa menit kemudian, Arga dan Rhea akhirnya sampai di depan ruangan dosen milik pria itu. Lorong fakultas siang itu sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Hanya sesekali terdengar suara langkah mahasiswa dari ujung koridor dan bunyi pendingin ruangan yang berdengung samar di langit-langit gedung.
Arga membuka pintu ruangannya menggunakan kartu akses lalu masuk lebih dulu ke dalam. Udara dingin langsung menyambut begitu pintu tertutup kembali di belakang mereka.
Ruangan itu masih serapi biasanya. Meja kerja besar di dekat jendela dipenuhi beberapa map dokumen dan laptop hitam milik Arga, sementara sofa panjang di sisi ruangan terlihat jauh lebih nyaman dibanding kursi-kursi kelas yang sejak pagi dipakai Rhea.
Tanpa banyak bicara, Arga berjalan menuju meja kerjanya lalu meletakkan tas dan buku-buku yang tadi dibawanya ke atas meja. Setelah itu ia membuka lemari es kecil di sudut ruangan dan mengambil satu kaleng minuman dingin dari dalamnya.
Sementara itu Rhea langsung menjatuhkan tubuhnya santai ke sofa.
Punggungnya bersandar nyaman sambil kedua tangannya direntangkan kecil di atas sandaran sofa seperti orang yang baru saja lolos dari penderitaan panjang.
“Hah…” Ia mengembuskan napas panjang sebelum menoleh mengitari ruangan. “Enak banget di sini. Dingin…”
Arga hanya melirik sekilas ke arahnya tanpa komentar sebelum akhirnya duduk di kursi kerjanya.
Suara kecil kaleng minuman terdengar ketika ia membukanya pelan lalu meneguk beberapa kali dengan tenang.
Namun setelah itu, pria itu terlihat diam cukup lama sambil menatap telapak tangannya sendiri. Alisnya mengernyit tipis seperti memperhatikan sesuatu yang mengganggu.
Rhea yang sejak tadi bersandar santai langsung menangkap perubahan kecil itu.
“Pak Arga kenapa?”
“Hanya terkena serpihan kayu meja saat di kelas tadi.”
Rhea langsung bangkit sedikit dari sofa.
“Mau saya bantu keluarkan?”
“Tidak perlu.”
Jawabannya cepat seperti biasa.
Dan itu sukses membuat Rhea langsung memutar bola matanya malas.
Tanpa peduli, gadis itu merogoh tasnya sendiri lalu membuka kotak pensil kecil di dalam sana. Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan sebuah pinset kecil berwarna silver sebelum akhirnya berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Arga.
Pria itu mengangkat pandangan ketika melihat Rhea berhenti tepat di samping kursinya.
“Mau apa kamu?”
“Sini tangannya,” ujar Rhea santai sambil mengulurkan tangan. “Saya bantu.”
“Saya bilang tidak perlu.”
“Bapak jangan ngeyel.” Rhea menghela napas kecil sambil mengerutkan hidungnya pelan. “Nanti malah makin sakit kalau tidak segera diambil.”
Arga langsung menatapnya datar.
“Kamu bilang saya ngeyel?”
Namun Rhea sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Tanpa izin lagi, gadis itu mendekati Arga lalu langsung meraih tangan Arga pelan lalu menarik telapak tangan pria itu mendekat ke arahnya supaya terlihat lebih jelas.
Posisinya kini sedikit membungkuk di depan Arga. Rambut panjangnya jatuh pelan di sisi wajah sementara matanya fokus memperhatikan telapak tangan pria itu dengan serius.
“Sebelah mana, Pak?”
“Ini.” jawab Arga sambil menunjuk telapak tangannya.
“Oh…” Rhea langsung mendekat lagi. “Yang ini ya?”
“Hmm.”
Ujung pinset kecil itu mulai bergerak hati-hati menyentuh kulit Arga.
Suasana ruangan perlahan berubah jauh lebih hening dibanding tadi. Pendingin ruangan terdengar samar di sudut atas, sementara cahaya matahari siang masuk tipis dari jendela besar di sisi ruangan.
Rhea terlihat benar-benar fokus.
Alisnya sedikit berkerut kecil, bibirnya terkatup pelan sambil sesekali mendekatkan wajahnya agar serpihan kecil itu terlihat lebih jelas.
Dan entah kenapa, perhatian Arga perlahan justru berpindah dari rasa sakit di telapak tangannya ke wajah gadis yang ada begitu dekat di depannya saat itu.
"Cantik."
Kata itu keluar begitu saja.
Pelan sekali.
Nyaris seperti gumaman tanpa sadar.
Rhea langsung mengangkat kepalanya sedikit sambil masih memegang tangan Arga.
“Apa, Pak?”
Arga tersadar sepersekian detik kemudian.
Tatapannya langsung beralih ke tangannya sendiri sebelum akhirnya menjawab singkat.
“Hm? Sakit…”
“Oh…” Rhea kembali fokus pada serpihan kayu itu tanpa curiga sedikit pun. “Tahan sebentar ya, Pak. Sedikit lagi keluar.”
“Hmm…”
Namun kali ini Arga sama sekali tidak benar-benar memikirkan rasa sakit di tangannya.
Karena sejak tadi pandangannya justru terlalu lama berhenti pada wajah Rhea yang berada hanya beberapa senti di depannya.
...****************...
Beberapa detik kemudian, ujung pinset kecil di tangan Rhea akhirnya berhasil menjepit serpihan kayu tipis yang menancap di telapak tangan Arga.
“Nah…”
Rhea langsung menarik pinsetnya pelan lalu mengangkat serpihan kecil itu dengan wajah puas seperti baru memenangkan sesuatu.
“Dapat.” Bibirnya melengkung kecil. “Sudah, Pak.”
Arga menunduk melihat telapak tangannya sendiri sebentar. Bekas merah kecil masih terlihat samar di kulitnya, tetapi rasa mengganggunya memang sudah jauh berkurang.
“Hmm.” Ia menarik kembali tangannya perlahan. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
Rhea mundur beberapa langkah kecil dari depan kursi kerja Arga sebelum akhirnya kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai.
Kakinya ia tekuk naik salah satunya ke atas sofa sementara punggungnya kembali bersandar nyaman seperti tadi.
Di sisi lain, Arga kembali memusatkan perhatian ke pekerjaannya. Pria itu melirik telapak tangannya sekali lagi sebelum akhirnya membuka laptop dan mulai memeriksa absensi mahasiswa satu per satu.
Suasana ruangan perlahan kembali tenang.
Cahaya matahari masuk samar dari jendela besar, memantul tipis ke lantai ruangan yang mengilap. Pendingin ruangan berdengung pelan di pojok langit-langit ruangan, sementara suara klik mouse dari tangan Arga sesekali terdengar memecah hening.
Di sofa, Rhea ikut membuka laptopnya lagi, gerakannya santai, hampir tanpa beban. Namun baru saja layar laptopnya menyala tiba-tiba...
Ting.
Ting.
Ting.
Alis Rhea langsung berkerut ketika suara notifikasi dari ponselnya terus berbunyi tanpa henti dari dalam tas, cepat dan beruntun, seperti tidak memberi ruang untuk diabaikan.
“Apa sih…” gumamnya sambil meraih tas di samping tubuhnya, membuka resletingnya sedikit terburu-buru, kain tas terdengar bergesekan pelan.
“Rame banget…”
Ia mengeluarkan ponselnya, dan layar yang menyala langsung dipenuhi notifikasi grup angkatan yang bergerak cepat tanpa jeda, seolah percakapan di dalamnya tidak pernah benar-benar berhenti.
Jempol Rhea mulai menggulir layar dengan cepat, matanya menyipit berusaha menangkap kata-kata yang saling tumpang tindih, emoji tertawa, dan potongan kalimat yang melompat-lompat tanpa konteks jelas.
“Astaga…” Ia menggeser layar ke atas lagi, sedikit condong ke depan, fokusnya mulai tertarik penuh.
“Bahas apaan sih?”
Jempolnya terus bergerak tanpa pikir panjang, melewati puluhan pesan sampai akhirnya berhenti pada satu tautan yang dikirim salah satu teman laki-lakinya, muncul di antara banjir chat seperti sesuatu yang sengaja terselip dan mencolok di tengah kekacauan.
"Link apa ini coba sampai bikin rame…"
Di bawahnya langsung ada balasan lain, lebih singkat:
Coba lihat deh.
Rhea menatap layar itu beberapa detik. Ada jeda kecil di wajahnya, ragu yang tipis, tapi cepat kalah oleh rasa ingin tahu yang muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia menekan link itu.
Halaman browser terbuka perlahan, loading nya terasa sedikit lebih lama dari biasanya, membuat detik-detik kecil itu justru terasa lebih “diam” dari seharusnya.
Rhea masih duduk santai di sofa, satu tangan menahan ponsel, tubuhnya sedikit bersandar, seolah ini hanya hal sepele yang tidak akan berarti apa-apa.
Namun tepat ketika halaman itu selesai terbuka...
Waktu seperti tersangkut sepersekian detik.
Ekspresi Rhea langsung membeku.
Matanya membulat sempurna, tubuhnya menegang refleks seperti tersengat kejutan kecil yang tak terlihat. Napasnya tertahan di tenggorokan, tidak sempat naik maupun turun.
Di layar ponselnya, sebuah video mulai berputar... tanpa konteks yang sempat ia pahami lebih dulu, hanya gerak dan suara yang langsung memotong kesadarannya sebelum sempat memberi nama pada apa yang sedang ia lihat.
Dan sebelum otaknya sempat menyusun makna dari apa yang ia lihat...
“Aahh… ahhh… yes baby… yeahhh…”
BRAK!
“ASTAGA!”
Rhea langsung melempar ponselnya ke meja begitu saja. Gerakannya refleks, terlalu cepat untuk disebut terkontrol, seperti tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya sempat menyusul. Ponsel itu menghantam permukaan meja dengan suara keras.
Jantungnya berdegup kencang, tidak beraturan, seperti kehilangan ritme yang biasa ia kenal. Ada rasa panas yang langsung naik dari dada ke wajahnya, menjalar cepat tanpa sempat ia tahan, membuat pipinya terasa seperti terbakar perlahan.
Sementara itu, suara dari video masih terdengar dari ponselnya. Mengisi ruangan yang tadinya tenang dengan sesuatu yang terasa terlalu asing, terlalu salah untuk berada di tempat ini.
“Oohh… yes baby… faster…”
“Aahhh… Ahh… Ahh”
Di meja kerja, Arga yang sedari tadi menunduk membaca dokumen perlahan berhenti. Kertas di tangannya masih tergenggam, tapi tidak lagi dibaca.
Gerakan tangannya terhenti di udara sesaat, seperti ada jeda kecil antara kebiasaan dan kesadaran yang baru masuk.
Ia mengangkat pandangan pelan, tanpa tergesa, tapi cukup untuk langsung menangkap perubahan atmosfer ruangan...bukan sekadar suara, tapi juga “kekacauan” yang tidak terlihat.
Tatapannya bergerak ke arah sofa. Dan di sana, Rhea sudah duduk kaku. Bukan sekadar diam, tapi seperti tubuhnya kehilangan kemampuan untuk bereaksi secara normal. Punggungnya tegak, terlalu tegak, sementara bahunya sedikit menegang.
Kedua tangannya menggenggam ujung sweaternya sendiri, meremas kain itu tanpa sadar, seolah mencari sesuatu untuk menahan dirinya tetap “di tempat”.
Wajahnya benar-benar merah padam...bukan lagi sekadar malu ringan, tapi sudah sampai tahap di mana bahkan menatapnya saja terasa seperti kesalahan.
“Rhea.”
Suara Arga terdengar rendah, stabil, nyaris datar...tidak tinggi, tidak keras, tapi justru karena itu terasa lebih berat, seperti tekanan yang tidak perlu ditambah volume.
Rhea langsung menoleh cepat, hampir terlalu cepat, seperti seseorang yang baru saja dipanggil saat sedang mencoba menghilang.
“Y-Ya…?”
“Video apa yang kamu lihat.”
Bukan pertanyaan yang butuh waktu lama untuk dipikirkan, tapi juga bukan yang mudah untuk dijawab. Kalimat itu jatuh begitu saja, rapi, langsung, tanpa ruang untuk menghindar.
Rhea menelan ludah. Gerakan kecil di tenggorokannya terlihat jelas, seperti sesuatu yang susah sekali untuk diturunkan.
“Hah? Itu… saya t-tidak tahu, Pak…”
“Tidak tahu?”
Arga menatapnya lebih lama kali ini. Bukan tatapan marah. Tapi tatapan yang membuat ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya, seperti semua sudut di dalamnya tiba-tiba ikut memperhatikan.
Beberapa detik yang terasa terlalu panjang.
Lalu ia bangkit dari kursinya.
Gerakannya tetap tenang, tidak tergesa, tapi perubahan suasana langsung terasa. Kursi kerja di belakangnya bergeser pelan, dan langkah kakinya terdengar jelas di lantai ruangan yang mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Ia berjalan menuju sofa.
Suara video masih terdengar samar dari ponsel yang tergeletak, tapi justru itu yang membuat udara di ruangan terasa semakin “padat”, seperti tidak punya ruang untuk bernapas lega.
“Oohh… baby…yeah...ahh...ahh...”
Rhea refleks menunduk sedikit, seolah dengan menghindari pandangan bisa mengurangi situasi yang terjadi.
Arga berhenti tepat di sisi meja.
Ia membungkuk sedikit, mengambil ponsel Rhea yang masih menyala dengan gerakan singkat, pasti, tanpa ragu.
Layar itu masih bergerak, masih menampilkan potongan video yang belum selesai, seperti sesuatu yang tidak sempat dihentikan pada waktunya.
Arga menatapnya sebentar.
Hanya sebentar.
Lalu ia mematikan layar ponsel itu dengan satu sentuhan tegas.
Ruangan langsung jatuh ke dalam keheningan yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya sendiri sebentar...gerakan kecil, terkendali, seperti seseorang yang sedang menahan diri agar situasi tetap berada di batas yang wajar.
Dan di sofa, Rhea masih duduk kaku. Tidak bergerak, seolah satu gerakan kecil saja bisa membuat suasana yang sudah retak ini pecah sepenuhnya.
Suasana ruangan benar-benar berubah...bukan hanya canggung, tapi seperti ada sesuatu yang menggantung di antara mereka, tidak selesai, tidak diberi nama, tapi terlalu jelas untuk diabaikan.
Udara di ruangan itu terasa mendadak lebih berat, seperti ikut menekan dadanya tanpa ampun, membuat setiap tarikan napas terasa tidak cukup.
...****************...
Beberapa detik setelah itu, ruangan jatuh ke dalam hening yang benar-benar pekat. Bahkan suara pendingin udara yang biasanya tidak diperhatikan kini terasa jelas, seolah ikut menekan suasana di antara mereka.
Arga mengangkat pandangan perlahan, dan begitu matanya jatuh ke arah Rhea, udara di ruangan itu seperti ikut mengeras.
Tatapannya tajam, lurus, tidak memberi celah.
“Apa mahasiswa seperti kamu senang melihat video seperti ini?”
“Hah?!” Rhea langsung tersentak, tubuhnya menegang seketika. “Pak… saya benar-benar tidakk tahu kalau link tadi isinya video seperti itu. Saya berani sumpah.”
“Link?”
“Iya…” Rhea buru-buru mengangkat ponselnya sendiri, jari-jarinya gemetar kecil. “Tadi di grup rame banget bahas link itu, Pak. Saya cuma… penasaran, jadi saya buka. Saya tidak berpikir apapun, tapi ternyata isinya…” suaranya pecah sendiri, kata-katanya berhenti di tengah karena rasa malunya mulai menelan logikanya.
Arga masih diam memperhatikannya, tidak menyela, tidak mengalihkan pandangan, hanya membiarkan Rhea terus berada di bawah tatapan itu sampai kalimatnya benar-benar kehilangan bentuk.
Lalu ia bergerak sedikit lebih dekat, membungkuk hingga jarak di antara mereka menyusut tanpa benar-benar menyisakan ruang aman.
“Jangan bohong, Rhea.” Suaranya rendah, pelan, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih berat. “Kamu pikir saya bisa dibohongi?”
Rhea langsung membelalak panik. “Pak Arga, sumpah…”
Ia menggeleng cepat sampai rambutnya berantakan.
“Saya tidak bohong. Bapak boleh cek isi ponsel saya, bapak boleh lihat grupnya, saya tidak tahu sama sekali kalau isinya begitu.”
Arga menatapnya beberapa detik, cukup lama sampai Rhea sendiri mulai kehilangan tenaga untuk meyakinkan.
“Begitu?”
“I-Iya…” jawabnya cepat, hampir putus asa. “Silakan saja.”
Hening kembali jatuh, tapi kali ini terasa lebih menekan.
“Kalau begitu…” Arga akhirnya mengangkat ponsel itu pelan. “Saya bawa dulu ponsel kamu.”
Rhea langsung terdiam, wajahnya berubah seketika antara malu, panik, dan seperti ingin menghilang dari dunia.
“T-Terserah Pak Arga saja…” gumamnya pelan, lalu buru-buru bangkit. “Saya mau pulang.”
“Silakan.”
Rhea langsung meraih tasnya, memasukkan laptop dan barang-barangnya dengan gerakan terburu-buru. Resleting tasnya sempat tersangkut, membuatnya mendecak pelan karena semakin gugup dengan dirinya sendiri.
Sementara Arga berdiri di sisi sofa tanpa menghalangi, tetap memberi ruang.
Tanpa berani menatap lagi, Rhea langsung berjalan cepat menuju pintu, langkahnya terburu-buru seperti ingin segera keluar dari tekanan yang baru saja menumpuk di ruangan itu.
Brak.
Pintu tertutup.
Dan ruangan kembali hening sepenuhnya.
Arga masih berdiri di tempatnya beberapa saat, menatap pintu yang baru saja tertutup seolah mengulang kejadian yang baru saja terjadi di kepalanya sendiri. Lalu perlahan pandangannya turun ke ponsel di tangannya, rahangnya mengencang tipis.
Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak benar-benar selesai di wajahnya...hal kecil yang hampir tidak tertangkap, seperti sisa reaksi yang tidak ia biarkan keluar sepenuhnya.