NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

---

BAB 9: PANGGUNG YANG SEMPURNA

Selama itu, kehidupan di keluarga Wijaya berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan. Tidak ada pertengkaran besar, tapi juga tidak ada kehangatan.

Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Arka masih bolak-balik luar kota. Tuan Wijaya tenggelam di kantor pusat. Nyonya Darmi sibuk dengan arisan dan acara sosialnya. Rumah besar itu hanya ramai oleh suara pelayan dan denting piring, bukan suara keluarga.

Suatu siang, Nyonya Darmi ada di rumah. Ia duduk di ruang keluarga, membaca majalah sambil menyeruput teh. Liana juga ada. Ia baru saja turun dari kamar setelah menata ulang dokumen milik Pak Dimas.

Mereka berdua berada di ruangan yang sama. Jaraknya tidak lebih dari lima meter.

Tapi tidak ada tegur sapa. Tidak ada “Selamat siang, Bu.” Tidak ada “Kamu sudah makan, Liana?”

Seolah kehadiran satu sama lain hanya dianggap angin lalu.

Suasana canggung itu pecah ketika bel pintu berbunyi.

Seorang wanita masuk—Rina, asisten pribadi Arka. Wajahnya rapi, membawa map coklat di tangan. Ia membungkuk sopan pada Nyonya Darmi, lalu menoleh ke Liana.

“Permisi, Bu Liana. Saya dapat pesan dari Mas Arka,” katanya pelan.

Liana menatapnya, sedikit terkejut. Ini pertama kalinya Arka mengirim pesan lewat asistennya secara langsung.

“Malam nanti ada acara ulang tahun perusahaan teman bisnis Mas Arka di Hotel Grand Wijaya,” lanjut Rina.

“Mas Arka minta Ibu hadir sebagai pendampingnya. Mobil akan menjemput Ibu jam tujuh malam.”

Nyonya Darmi mengangkat wajah dari majalahnya, menatap Liana sekilas. Tatapannya datar, tanpa emosi.

Liana hanya mengangguk pelan.

“Baik, sampaikan terima kasih saya ke Mas Arka.”

Rina membungkuk lagi lalu pergi.

Begitu pintu tertutup, Nyonya Darmi menutup majalahnya dengan suara pelan.

“Jaga sikapmu malam nanti,” katanya singkat, tanpa menoleh.

“Kamu mewakili nama Wijaya di luar sana. Jangan buat kami malu.”

Liana tidak membalas. Ia hanya berdiri, merapikan dokumen di tangannya, lalu berjalan kembali ke kamar.

Di dalam hati, ia bertanya-tanya.

Ini undangan… atau sekadar formalitas lain?

Dan apakah malam nanti, Arka akan tetap memperlakukannya seperti orang asing di depan semua orang?

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Jam 18.30 tepat, mobil hitam Wijaya Group sudah berhenti di depan pintu utama.

Sang sopir turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Liana.

“Silakan, Nona,” ucapnya sopan, menunduk sedikit.

“Makasih, Pak,” jawab Liana singkat sambil merapikan gaun hitam sederhana yang ia pakai malam ini. Tidak mencolok, tapi cukup elegan untuk mewakili nama Wijaya.

Perjalanan ke Hotel Grand Wijaya hanya memakan waktu dua puluh menit. Sepanjang jalan, Liana menatap luar jendela. Lampu kota berkedip-kedip, tapi pikirannya ada di tempat lain. Ia tahu malam ini bukan tentang bersenang-senang. Ini tentang citra. Tentang menjaga nama.

Sesampainya di lobi hotel, Arka sudah menunggu.

Ia berdiri tegak di depan pintu masuk ballroom, mengenakan jas hitam tanpa satu lipatan pun. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Saat melihat Liana mendekat, ia tidak tersenyum. Tidak ada kata “Kamu cantik malam ini.” Tidak ada basa-basi suami istri.

Arka melangkah mendekat, menatap Liana dari atas ke bawah sekali, lalu berkata datar:

“Jaga sikapmu sampai di dalam, dan di depan relasi bisnis aku. Supaya nama Wijaya tidak tercoreng karena sikapmu.”

Liana hanya memutar bola matanya malas.

Ia sudah hafal kalimat itu. Setiap acara, kalimat itu selalu keluar dari mulut Arka. Seolah ia takut Liana akan tiba-tiba menari di atas meja atau memaki tamu undangan.

“Baik,” jawab Liana pendek. Suaranya datar, tanpa emosi.

Tanpa menunggu lebih lama, Arka meraih tangannya. Bukan dengan lembut, tapi dengan cara profesional—menggam sekadar untuk terlihat serasi di depan publik. Mereka masuk ke ballroom bersama, bergandengan tangan seperti pasangan sempurna di brosur pernikahan.

Di dalam, suasana sudah ramai. Musik klasik pelan mengalun, cahaya lampu gantung kristal memantulkan warna keemasan ke seluruh ruangan. Rekan-rekan bisnis Arka langsung menyapa begitu melihat mereka.

“Mas Arka, selamat malam! Dan ini pasti Nyonya Liana, cantik sekali malam ini.”

Arka hanya mengangguk sopan, sementara Liana membalas dengan senyum tipis yang sudah ia latih selama setahun terakhir.

Mereka berjabatan tangan dengan beberapa orang penting dari Lorenzo Group, perusahaan yang sedang merayakan ulang tahunnya malam ini. Obrolan singkat, basa-basi bisnis, pujian formal. Tidak ada yang benar-benar peduli pada mereka secara pribadi. Yang penting, nama Wijaya hadir di sana.

Setelah selesai menyapa tamu, Arka menarik Liana pelan menuju podium utama.

Tuan pesta, Pak Lorenzo, berdiri di sana dengan setelan putih gading dan senyum lebar.

“Selamat ulang tahun, Pak Lorenzo. Semoga kerja sama kita semakin erat ke depannya,” ucap Arka dengan suara yang terdengar percaya diri.

Liana mengikuti di sampingnya, mengangguk dan tersenyum secukupnya.

Pak Lorenzo tertawa ramah, menepuk bahu Arka.

“Terima kasih, Mas Arka. Dan Nyonya, terima kasih sudah hadir. Pasangan serasi.”

Liana hanya mengangguk lagi.

Pasangan serasi.

Kata itu terasa hambar di telinganya.

Di atas panggung, semua terlihat sempurna. Kamera wartawan berkedip-kedip, mengabadikan momen dua keluarga besar yang bersahabat.

Tapi di balik senyum itu, Liana tahu—ini hanya panggung.

Dan ia dan Arka hanyalah dua pemain yang diwajibkan membaca naskah yang sama, tanpa pernah benar-benar saling mengenal.

Malam masih panjang.

Dan Liana sudah bisa menebak, setelah foto selesai, mereka akan kembali menjadi orang asing di mobil yang sama.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!