NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.21

Di tengah ketidakberdayaan yang melumpuhkan itu, saat bayangan maut sudah berada tepat di atas kepala mereka, Wu-Yuan bergerak. Di detik-detik kritis itu, ia mengerahkan segala sesuatu yang ia miliki, membuang batasan dan cadangan tenaga yang biasanya ia simpan. Aura di sekelilingnya berubah drastis, membelah ruang dan waktu di sekitar mereka.

“DOMAIN: SIKLUS HITAM PUTIH — HIDUP DAN MATI!”

Dua warna besar langsung meledak keluar dari tubuhnya: putih bersih yang memancarkan cahaya kehidupan, dan hitam pekat yang menyelimuti hawa kematian. Keduanya berputar berlawanan arah, membentuk lingkaran raksasa yang seketika menekan balik kekuatan menakutkan Dewa Iblis Darah itu. Tekanan yang mengunci tubuh mereka seolah terpotong sejenak oleh benturan dua kekuatan alam itu. Udara bergetar hebat, tanah di bawah kaki Wu-Yuan retak hingga ke lapisan terdalam, keringat darah mulai menetes dari sudut matanya. Menggunakan kekuatan tingkat Domain di hadapan makhluk sekuat ini adalah tindakan gila yang langsung menguras separuh nyawanya.

Wu-Yuan berbalik menatap mereka semua dengan mata yang memerah namun tajam, suaranya parau namun memerintah sekeras-kerasnya di sela-sela benturan kekuatan yang saling mematikan itu.

“SEGERA PERGI DARI SINI! SEKARANG JUGA!!” serunya, urat-urat di lehernya menonjol menahan beban yang luar biasa berat. “Biarkan aku saja yang menahannya! Kekuatanku ini hanya bisa bertahan sebentar saja, aku hanya bisa menundanya sesaat! Manfaatkan celah ini dan lari sejauh mungkin! Kalian harus hidup dan menyampaikan apa yang terjadi di sini! PERGIII!!”

Namun, jawaban yang ia harapkan—perintah untuk mereka selamatkan diri sendiri—tidak datang dari mereka.

Fredrin adalah yang pertama melangkah maju, mencabut kembali pedangnya yang sempat hampir lepas dari genggamannya karena ketakutan. Matanya yang tadinya penuh kepanikan kini berubah menjadi nyala api kemarahan dan kesetiaan. Ia berdiri tegak di samping Wu-Yuan, bahunya naik turun menahan rasa sakit akibat tekanan udara, tapi kakinya sama sekali tidak bergerak mundur selangkah pun.

“Kami tidak mungkin meninggalkan Senior sendirian di sini!” ucap Fredrin tegas dan lantang, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. “Apakah menurutmu kami adalah orang-orang yang pengecut? Kami tidak akan pernah pergi meninggalkan gurunya, pemimpinnya, dan orang yang kami hormati untuk mati sendirian menghadapi monster sebesar ini!”

Di sisi lain, bayangan bergerak cepat, dan Floyen sudah berdiri di sisi kiri Wu-Yuan, belatinya berkilat dingin meski ia tahu senjata itu mungkin takkan berarti apa-apa. Wajah tenangnya yang biasa kini tampak serius dan keras kepala.

“Benar kata Fredrin,” sahut Floyen dingin namun tegas. “Kami tidak mau dan tidak akan meninggalkan Senior kami. Kita datang bersama, kita bertarung bersama, dan jika memang harus mati... kita akan menghadapinya bersama-sama. Kami tidak selemah dan tidak sehina itu untuk lari membiarkan orang yang melindungi kami dikorbankan begitu saja. Kami tetap di sini, Senior.”

Carl tertawa keras meski napasnya tersengal, ia menghentakkan kapaknya ke tanah sebagai tanda tantangan. Ji-na dan xioyan mengangguk mantap, mata mereka berkilat penuh tekad. xioyan, sang benteng, menempatkan tubuh besarnya di barisan paling depan seolah siap menerima serangan Dewa Iblis itu dengan dada terbuka, meski ia tahu tubuhnya mungkin akan hancur seketika.

“Kata-kata mereka adalah kata-kata kami juga!” seru Shoyan bergemuruh. “Kami bertahan di sini! Bersama kami, Senior!”

Dan di antara mereka semua, Lisa berdiri diam, hatinya bergemuruh hebat. Ia menatap Wu-Yuan, lalu menatap ke arah Dewa Iblis Darah yang melayang tinggi di atas sana. Di dalam dirinya, ada rahasia besar yang hanya ia ketahui seorang diri. Lisa bukanlah manusia biasa, ia adalah seorang Dewa yang diturunkan ke bumi untuk menjalani ujian. Kekuatan sejatinya bisa saja meratakan tempat ini dalam sekejap.

Namun, ada larangan mutlak yang diberikan kepadanya: Jangan pernah menggunakan kekuatan Dewa di dunia manusia. Konsekuensinya tidak diketahui oleh siapa pun selain penguasa alam atas. Dulu, saat melawan Iblis Darah biasa, ia pernah sedikit mengerahkan kekuatan itu, dan belum ada dampak buruk yang datang. Tapi kali ini... jika ia mengerahkan seluruh kekuatan dewanya untuk melawan makhluk sekuat ini... ia tidak tahu hukuman apa yang akan menantinya. Apakah ia akan hilang? Apakah ia akan dikutuk? Atau apakah ia akan kehilangan segalanya?

Namun, melihat keteguhan hati teman-temannya, melihat bagaimana mereka rela mati demi satu sama lain demi kebenaran dan kesetiaan, keraguan di hati Lisa perlahan-lahan hilang. Emosi yang ia rasakan saat ini begitu kuat, begitu murni, dan begitu menyayat hati: Keteguhan dan Pengorbanan.

Lisa mengangkat wajahnya, matanya yang indah perlahan berubah berkilauan dengan cahaya samar yang tak terlihat oleh manusia biasa. Ia mengangguk mantap, air mata keputusasaan di pipinya kini berganti dengan tekad baja.

“Mereka benar, Guru,” ucap Lisa pelan namun tegas. “Kita menghadapinya bersama. Aku... aku juga akan bertarung dengan sekuat tenagaku, apa pun yang akan terjadi nanti.”

Di atas sana, Dewa Iblis Darah menyaksikan adegan itu, lalu ia melepaskan tawa yang menggelegar langit, penuh dengan penghinaan dan keangkuhan yang tak terbatas.

“Hahahahahaha!! Dasar semut-semut kecil yang bodoh dan lucu!” suaranya bergema, membuat tanah berguncang lagi. “Kalian pikir dengan berdiri berjejer dan mengerahkan sedikit keberanian itu bisa mengubah kenyataan? Percuma saja! Kalian hanya makhluk kecil yang menentang langit! Melawanku sama saja dengan mencari kematian yang jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan! Kalian semua akan hancur menjadi debu, dan darah kalian akan menjadi minuman kesukaanku!”

Wu-Yuan menatap murid-muridnya, menatap wajah-wajah muda yang penuh semangat itu. Di dalam hatinya, ia tahu... ia tahu betul bahwa tidak ada harapan. Bahkan jika mereka semua bersatu, bahkan jika mereka mengerahkan seluruh nyawa mereka, perbedaan kekuatan antara mereka dan makhluk dewa iblis itu bagaikan perbedaan antara laut yang tak berdasar dan setetes air. Tidak ada kemungkinan menang. Tidak ada jalan untuk keluar hidup-hidup.

Namun, melihat keteguhan mereka, melihat bahwa mereka lebih memilih bertarung mati-matian daripada hidup dalam pengecutan, hati Wu-Yuan yang tadinya penuh keputusasaan perlahan dipenuhi api semangat yang membara.

'Apa gunanya kekuatan jika kita tidak bisa melindungi harga diri dan keberanian anak-anak ini?' batin Wu-Yuan. 'Memang kita takkan sanggup mengalahkannya. Memang kita semua pasti akan mati di sini. Tapi... setidaknya, kita harus berusaha melukainya sedikit saja! Biar dia tahu bahwa manusia bukanlah makhluk yang bisa diinjak-injak sesuka hati tanpa perlawanan! Biar dia tahu bahwa ada hal yang lebih tajam dari senjata apa pun: tekad manusia!'

Wu-Yuan mengertakkan gigi, memaksakan Domain Hitam Putih-nya semakin melebar, meski darah kini mulai mengalir dari hidung dan telinganya. Ia menatap mereka semua dengan senyum bangga dan gagah.

"BAIKLAH!!" seru Wu-Yuan sekeras-kerasnya. "Kalau begitu kita lakukan! Kalian benar! Kita tidak akan lari seperti pengecut! Walaupun kita hanya semut di hadapannya, kita akan gigit kakinya sampai berdarah! Walaupun kita pasti kalah dan mati, kita akan membuat makhluk ini mengingat rasa sakit yang kita berikan selamanya! Ingat! Kita bertarung bukan untuk menang, tapi untuk membuktikan harga diri kita! SERANGG HABIS-HABISAN!!"

Dengan teriakan serentak yang mengguncang jiwa, mereka berenam—tidak, mereka bertujuh termasuk Wu-Yuan—melesat maju ke atas, menantang langit, menabrak tembok kematian yang mustahil ditembus itu, menyerang Dewa Iblis Darah yang kekuatannya jauh di atas akal sehat.

Pertempuran yang tidak seimbang, pertempuran kematian, namun pertempuran yang paling gagah berani yang pernah terjadi di dunia ini pun dimulai.

Bersambung.....

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!