Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Nggak Guna 34
"Ibu sayang sama kamu, Elio. Ibu mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Selamat jalan cintanya ibu. Tunggu Ibu di sana ya, Nak. Tunggu Ibu ya sayang."
Laras melabuhkan ciuman terakhirnya kepada Elio sebelum memberikan tubuh anaknya itu kepada Reza yang sudah ada di bawah, di lubang yang akan mengubur anak mereka.
Tubuh Laras limbung, namun secepat kilat di tangkap oleh Brigita. Hwan yang juga ada di sisi Laras pun ikut berjaga. Pasangan suami istri tersebut benar-benar berada di sisi Laras, menjaga Laras untuk tetap berada di dekat sang anak di detik terakhir. Mereka tak membiarkan Eva maupun Rini mengusik Laras.
Tatapan mata Hwan dan Brigita sudah menjelaskan sebuah peringatan, bahwa siapapun yang mengusik maka akan berurusan dengan keluarga mereka.
Eva dan Rini jelas menciut, bahkan Reza saja tak berkutik. Lalu para pelayat, mereka hanya bisa bertanya-tanya dan mengira-ira sendiri tentang kejadian yang tertampak jelas di mata.
Mereka berspekulasi sendiri. Namun mereka tak berani berbisik tentang Laras. Orang-orang yang ada di sekitar Laras dan penjagaan yang diberikan, menunjukkan bahwa Laras bukan orang yang bisa mereka jadikan objek gunjingan.
Hiks hiks
Tangis Laras kembali pecah. Setelah Elio selesai di kuburkan, Laras belum mau beranjak dari sana. Brigita tentu paham, dan dia pun juga ikut menemani Laras.
Reza yang duduk bersebrangan di depan Laras, menatap Laras dengan tatapan penasaran. Banyak sekali yang ingin ditanyakan kepada mantan istrinya itu. Namun tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Reza, "Maaf." Ya hanya itu saja.
"Maaf? Maaf mu nggak guna Reza Adiguna. Kamu adalah orang terjahat yang pernah ku kenal. Kamu adalah orang paling picik yang pernah ku temui. Dan kesalahan terbesarku dalam hidup adalah satu, yakni mengenal dirimu."
Jegleeer
Kata-kata Laras yang terlontar dari mulut Laras sangat mengejutkan Reza. Pria itu seketika merasakan nyeri di dadanya. Tatapan mata Laras yang penuh kebencian itu menusuk hingga ke relung hati. Seolah membuat tenggorokan Reza tercekat.
"Apa sekarang kamu puas Reza Adiguna? Kamu puas melihat aku hancur sepenuhnya? Entah apa salah ku padamu, tapi kamu sungguh berhasil menghancurkan seluruh hidupku. Apa kau tahu, atas ulahmu dan keluargamu, aku berkali-kali mencoba untuk mati? Mungkin aku tak pantas berkata demikian di atas pusara Elio, tapi kamu lah yang menghancurkan kami," imbuh Laras.
Laras tidak berteriak, tapi dia bicara cukup tenang. Dan ketenangan itu membuat Reza malah sama sekali tak bisa berkutik. Yang ada sekarang tubuhnya bergetar hebat.
"Laras, dia sangat berbeda. Gadis yang naif itu, sekarang udah jadi wanita yang benar-benar berbeda," batin Reza.
"Mas, ayo pulang," ajak Eva. Dia menarik tangan Reza. Wanita itu ingin cepat-cepat membawa pergi Reza dari pemakaman.
Eva tiba-tiba merasa sangat gelisah melihat Laras. Terlebih sedari tadi Reza mengamati mantan istrinya itu. Eva menjadi semakin tak karuan perasaanya.
Meski sebenarnya Eva bertanya-tanya, mengapa wanita itu bisa muncul bersama keluarga Brajamusti. Mau dipikir berkali-kali pun Eva jelas tidak menemukan hubungan antara Laras dan Brajamusti, terlebih dia tahu siapa Laras.
Wanita yang dia ijinkan untuk Reza nikahi hanyalah gadis desa yang sama sekali tak punya latar belakang yang hebat. Laras hanya gadis naif waktu itu yang percaya akan namanya cinta sejati. Sehingga terasa aneh dan mengejutkan saat Laras datang dengan keluarga terpandang sekelas Brajamusti.
"Sebentar aku harus menyapa Nyonya dan Tuan Brajamusti," ucap Reza lirih.
"Nggak perlu. Sekarang ayo pulang," sahut Eva dengan tatapan yang tajam.
Tak ingin ada keributan di pemakaman, Reza memilih untuk menuruti keinginan Eva. Reza berpikir, untuk bisa bicara dengan mereka, ia akan datang berkunjung.
"Ras~"
"Sebaiknya Anda segera pergi Saudara Reza. Itu akan lebih baik dari pada tindakan apapun."
Hwan berbicara tegas. Tatapan mata Reza kepada Laras bisa diketahui oleh Hwan dan entah mengapa dia tidak suka.
Keberadaan Laras di rumah sudah seperti putrinya sendiri. Sehingga Hwan pun ingin melindungi Laras seperti istrinya melindungi anak itu.
Reza menundukkan kepalanya, dia lalu melenggang pergi bersama Eva dan Rini.
Sedangkan Laras, wanita itu masih di sisi pusara Elio. Tangisnya belum reda. Alhasil tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Hwan dan Brigita bergegas membawa Laras ke mobil, melewati Reza yang tengah berjalan bersama Eva.
"Tuan Hwan, Laras kenapa?"
Diam, tak ada yang menjawab pertanyaan Reza. Karena bagi Brigita dan Hwan itu tidak penting saat ini.
TBC
Padahal udah berulang kali diberitahu klo laras gk mau, tapi tetep aja ngeyel
percaya bang... 😅