🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5. Satu kamar.
Langit sore mulai menguning redup. Cahaya matahari terakhir jatuh miring di pekarangan rumah, menembus sela daun mangga dan pohon jambu air yang bergoyang pelan tertiup angin. Setelah Teh Mila pulang dijemput A Ridwan seusai asar tadi, rumah peninggalan Bu Rahman itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang berbeda.
Sepi yang benar-benar sepi.
Tidak ada lagi suara Teh Mila dari dapur. Tidak ada gelak kecil Faiz. Tidak ada bunyi sandal keluar masuk rumah atau percakapan samar dari ruang tengah.
Yang tersisa hanya angin sore...dan sesekali derit jendela kayu tua.
Sekar berdiri di depan jendela ruang tamu. Jemarinya mendorong daun jendela perlahan hingga tertutup rapat, lalu mengaitkan penguncinya. Bunyi "ceklek" kecil terdengar begitu jelas di rumah yang terlalu sunyi.
Ia berpindah ke ruang makan.
Langkahnya pelan, nyaris tak bersuara. Gamis cokelat mudanya bergerak lembut menyapu mata kaki. Rambut panjangnya masih di tutupi oleh kerudung instan yang di kirim beberapa hari lalu oleh sang ibu dari Bandung.
Dari kamar mandi terdengar suara air mengalir.
Galang mandi selepas ia berjam-jam di kamar ibunya.
Sekar menahan napas sesaat ketika suara lelaki itu terdengar samar dari balik pintu kamar mereka. Aneh sekali rasanya. Sudah beberapa hari tinggal serumah sebagai suami istri, tetapi setiap menyadari keberadaan Galang di dekatnya, dadanya tetap terasa canggung.
Ia melanjutkan pekerjaannya menutup jendela-jendela rumah sebelum magrib datang.
Begitu memasuki ruang tengah, langkah Sekar melambat.
Matanya jatuh pada kursi kayu tempat dimana tadi Galang duduk tertidur sebari memeluk foto kedua orang tuanya.
Ada rasa nyeri kecil yang kembali mengetuk dadanya.
Sekar buru-buru memalingkan wajah, lalu menutup jendela terakhir. Angin sore yang tadi masuk perlahan terhalang, menyisakan aroma kayu rumah tua bercampur samar minyak kayu putih.
Dari luar terdengar suara motor lewat di jalan kampung.
Lalu sunyi lagi.
Sekar berdiri diam beberapa detik di tengah ruang tamu yang mulai remang. Ia baru sadar rumah sebesar ini kini hanya dihuni dirinya dan Galang.
Hanya mereka berdua.
Entah kenapa kesadaran itu membuat tengkuknya terasa kaku.
Suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari arah belakang.
Sekar refleks menoleh.
Galang keluar sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Lelaki itu hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana training panjang. Wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi, meski gurat sedih masih samar terlihat di matanya.
Saat melihat Sekar berdiri di ruang tengah, langkah Galang sempat terhenti sebentar.
Canggung.
Selalu begitu akhir-akhir ini.
"Teh Mila udah pulang?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah.
Sekar mengangguk kecil. "Tadi di jemput A Ridwan."
Galang mengangguk pelan lagi.
Lalu hening.
Sekar menunduk, meremas ujung lengan gamisnya sendiri. Sedangkan Galang berdiri beberapa langkah darinya sambil masih mengusap rambut.
Tidak ada yang tahu harus melanjutkan percakapan apa.
Padahal mereka tinggal serumah.
Padahal mereka suami istri.
Namun rasanya seperti dua orang asing yang kebetulan berada di rumah yang sama.
Dari masjid ujung gang mulai terdengar suara murattal menjelang magrib. Samar-samar memenuhi udara sore.
Sekar buru-buru berdeham kecil. "Aku...nyalain lampu dulu."
"Ya."
Perempuan itu segera berjalan menuju sakelar dekat lemari panjang. Lampu ruang tamu menyala kuning hangat, menerangi dinding rumah yang sejak kepergian Bu Rahman terasa semakin lenggang.
Galang memperhatikan punggung Sekar beberapa detik.
Tubuh kecil itu terlihat sibuk sendiri sejak tadi. Menutup jendela. Merapikan taplak meja yang sebenarnya sudah rapi. Membetulkan posisi sandal di dekat pintu.
Seolah mencari kesibukan agar tidak perlu terlalu lama berhadapan dengannya.
Dan anehnya...Galang melakukan hal yang sama.
.
.
.
Malam turun pelan menyelimuti rumah itu dengan kesunyian yang panjang.
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara detiknya terdengar samar menembus dinding kamar, berpadu dengan desir angin malam dari sela ventilasi.
Sekar perlahan membuka mata.
Pandangan perempuan itu masih buram beberapa detik sebelum akhirnya sadar. Ruangan kamar remang-remang, hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut meja.
Ia diam sesaat.
Lalu refleks melirik ke sisi sebelahnya.
Kosong.
Bantal di sampingnya masih rapi seperti tadi. Tidak ada bekas kepala. Tidak ada aroma minyak rambut atau tubuh seseorang yang baru berbaring.
Galang belum tidur di kamar.
Sekar mengerjapkan mata pelan. Dadanya terasa aneh. Sejak selesai isya tadi, Galang memang belum pulang ke rumah. Lelaki itu pergi magrib ke masjid kampung, lalu tidak terlihat lagi setelahnya.
Awalnya Sekar pikir Galang mungkin mampir ke rumah tetangga atau berbincang dengan warga. Namun sampai ia tertidur tadi...lelaki itu belum juga kembali ke kamar.
Sekar perlahan bangkit duduk.
Suasana rumah terasa begitu sunyi hingga suara kain selimut bergesekan saja terdengar jelas.
Lalu samar-samar terdengar suara seseorang berbicara dari arah ruang tengah. Sekar menoleh ke pintu kamar, suara laki-laki.
"A Galang?" gumamnya.
Entah kenapa perempuan itu langsung turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Kakinya menyentuh lantai dingin, membuat tubuhnya sedikit meremang. Ia berjalan pelan mendekati pintu kamar, lalu berhenti di dekat celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
suara Galang terdengar lebih jelas sekarang.
"...iya, besok saya masuk lagi."
Nada bicaranya rendah dan tenang. Nada profesional yang biasa ia gunakan saat membahas rumah sakit.
Sekar diam mendengarkan.
"...kemarin saya izin karena masih ada urusan keluarga."
Hening sebentar.
"... pasien ruang ICU yang kemarin tolong diobservasi lagi malam ini."
Sekar menunduk pelan.
Ternyata sedari tadi Galang membicarakan pekerjaannya.
Ada rasa asing yang kembali menyentuh hatinya. Lelaki itu berada begitu dekat namun hidupnya terasa jauh sekali dari jangkauan Sekar.
Dunia rumah sakit.
Dunia yang belum pernah benar-benar dipahami Sekar.
Beberapa detik kemudian, suara langkah terdengar mendekat.
Sekar tersentak kecil.
Cepat-cepat ia berbalik menuju ranjang. Jantungnya berdetak tidak karuan seperti anak kecil ketahuan menguping. Ia segera menarik selimut, lalu membaringkan tubuhnya serapi mungkin sambil memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian...
Pintu kamar terbuka perlahan.
Suasana kembali sunyi.
Sekar bisa mendengar langkah Galang masuk ke dalam kamar. Lambat. Berat. Seolah lelaki itu sama lelahnya dengan rumah ini.
Walau matanya tertutup, Sekar tahu Galang pasti sedang melihat ke arah ranjang.
Ke arahnya.
Dan benar saja--
Langkah itu berhenti.
Galang berdiri diam beberapa saat menatap perempuan yang kini tidur di ranjangnya. Perempuan asing yang tiba-tiba hadir di hidupnya beberapa Minggu terakhir...lalu kini menyandang status sebagai istrinya.
Sekar menahan napas pelan dibalik mata yang terpejam. Ia mendengar helaan napas panjang lelaki itu.
Lelah.
Entah karena pekerjaan.
Entah karena hidupnya sendiri.
Tak lama kemudian langkah Galang kembali bergerak mendekat. Kasur di sisi sebelah perlahan turun ketika pria itu naik ke atas ranjang.
Aroma sabun dan udara malam samar tercium.
Sekar tetap memejamkan mata, tubuhnya kaku dibalik selimut. Sedangkan Galang merebahkan tubuhnya perlahan disisi perempuan itu. Tidak terlalu dekat hanya menyisakan jarak kecil di antara mereka.
Namun tetap cukup untuk membuat Sekar sadar. Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka benar-benar tidur bersebelahan dalam sunyi yang utuh.
Tanpa Teh Indah.
Tanpa Teh Mila.
Dan tanpa siapa pun.
Hanya ada suara detak jarum jam dinding, dan dua orang asing yang sedang mencoba tinggal dalam satu kehidupan yang sama.
.
.
.
Hai👋👋👋👋
Kira-kira mereka bakal jatuh cinta gak ya?
Aku tunggu jawabnya di kolom komentar 🫶
Bersambung...